Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 50 Maafkan Papi


__ADS_3

Aruna terkejut begitu membuka pintu melihat Arya datang bersama Shella. Aruna tertegun sesaat melihat kehadiran keduanya.


''Apa aku boleh masuk?'' tanya Arya.


''Silahkan masuk, Mas.'' Aruna lalu mengajak Arya dan Shella menuju ruang tengah. Disana Zidane sedang asyik menonton televisi.


''Zidane,'' sapa Arya seraya memeluk putranya.


''Papi sangat merindukan kamu, Nak.'' Arya mengecup pucuk kepala Zidane. Zidane hanya tersenyum kecil sambil memeluk Papinya.


''Hai Zidane, ini Tante Shella.'' Sapa Shella sambil mengulurkan tangannya. Namun Zidane enggan membalas uluran tangan Shella.


''Zidane, ayo salim sama Tante Shella." Bujuk Arya. Zidane melihat kearah Maminya. Maminya hanya mengangguk.


''Maaf, Zidane mengantuk.'' Zidane kemudian berlalu, berlari kecil menuju kamarnya.


''Sepertinya Zidane tidak menyukai ku, Mas.'' Ucap Shella dengan suara memelas.


''Tidak apa-apa dia belum mengenalmu.''


''Oh ya kalian berdua ada apa datang kemari?'' tanya Aruna.


''Sebelum bicara, aku mau minta minum. Aku haus sekali, aku maunya yang dingin.'' Kata Shella.


Aruna mendengus, berusaha menahan kesalnya. ''Bi Tuti, tolong buatkan minuman segar ya untuk Tuan Arya dan istrinya.'' Teriak Aruna dengan suaranya yang keras. Tentu saja Bi Tuti mendengarnya dari belakang.


''Iya Nyonya!" sahut Bi Tuti.


''Tunggi sebentar ya. Jadi untuk apa kamu datang kemari, Mas? Oh ya, lusa sidang perdana kita.''


''Aku nanti pasti akan datang. Aku kemarin datang menemui Tuan Danie untuk membayar hutang lima puluh juta itu.''


''Jadi kemarin kamu menemuinya Mas?''


''Iya, aku menemuinya.''

__ADS_1


''Kamu tidak lagi menuduhnya kan?''


''Memangnya kenapa Aruna? Sepertinya kamu cemas sekali? Apa kamu ada affair dengannya? Kenapa dia bisa baik sekali denganmu? Uang lima puluh juta untuk orang yang baru dikenal itu bukanlah jumlah yang sedikit.'' Kata Shella dengan tatapan penuh selidik.


Aruna tersenyum tipis. ''Aku tahu kemana jalan pikiranmu, Shella. Tapi aku bukan wanita murahan yang suka menggoda laki-laki orang lain.'' Ucap Aruna penuh dengan penekanan.


''Shella, kamu disini saja. Aku tidak mau kamu memperkeruh suasana. Aku akan bicara dengan Aruna saja.'' Aruna didepan mata Shella, menggandeng tangan Aruna. Arya mengajak Aruna bicara empat mata di teras samping rumah. Shella hanya bisa mengeratkan rahangnya, menahan kesal melihat sikap Arya yang begitu membela Aruna.


Kini Aruna dan Arya duduk berdua saja.


''Aruna, bagaimana kamu bisa mengenal Tuan Daniel? Bahkan dia mau membiayai perawatan rumah sakit mu. Dugaan Shella itu salah kan?''


''Kamu bahkan lebih percaya ucapan Shella daripada aku, Mas.''


''Bukan begitu, aku hanya ingin mendengar cerita dari kamu langsung Aruna.''


''Aku tidak sengaja bertemu dengannya disebuah supermarket. Zidane yang pertama kali bertemu dengannya. Disana Tuan Daniel berusaha merebut makanan kesukaan Zidane. Zidane dibuat kesal oleh Tuan Daniel. Awal pertemuan yang tidak menyenangkan.''


''Jadi Zidane sudah mengenalnya juga?''


''Lalu apa hanya pertemuan itu saja?''


''Kami dipertemukan lagi saat aku mengalami kontraksi palsu. Dimana, saat itu kamu sedang bersenang-senang dengan Shella. Aku kontraksi saat membeli bingkai foto, kebetulan aku bertemu dengannya lagi. Setelah itu dia mengantarkan aku kerumah sakit dan mengantarku pulang ke rumah dengan selamat. Disaat suamiku aku butuhkan, dia malah menghilang bersenang-senang dengan wanita lain. Lebih tepatnya Tuan Daniel adalah putra kandung Tuan Hutama, mantan bos aku dulu. Kamu lupa kalau Sky Group adalah tempatku bekerja dulu, Mas?''


''Maafkan aku Aruna, aku tidak ada disampingmu tapi justru pria yang lain yang membantumu. Iya sekarang aku ingat, kalau kamu kembali lagi kesana.''


''Jadi aku harap, kamu dan istrimu itu berhenti berspekulasi buruk. Aku saja baru mengenalnya, sekalipun dia adalah putra Tuan Hutama. Pertemuanku dengan Tuan Hutama juga tidak ada unsur sengaja. Kami bertemu saat aku sedang mendatangi sebuah perusahan untuk melamar pekerjaan. Beliau lalu menawariku pekerjaan. Sesuai dengan ucapannya dulu, kapanpun aku ingin kembali, Tuan Hutama akan menerimaku dengan tangan terbuka. Aku harap kamu datang ke pengadilan lusa, Mas. Aku ingin semuanya cepat selesai. Terima kasih kamu masih peduli denganku.''


''Aruna, percayalah aku masih sangat mencintai kamu. Aku tidak mau kita berpisah.''


''Tapi kamu tidak bisa memiliki keduanya, Mas. Kamu harus memilih salah satu dan kamu sudah memilih Shella. Simpan saja cintamu itu, Mas.''


''Aruna, aku memang serakah karena ingin memiliki keduanya. Kalau memang ini jalan yang kamu pilih, aku akan menerimanya. Kamu juga tidak perlu pusing memikirkan biaya sekolah Zidane. Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu. Gaji Bi Tuti dan Mbak Lasmi, biar aku yang membayarnya. Aku tidak mau kamu terlalu banyak pikiran apalagi memikirkan semuanya sendiri. Aku akan tetap bertanggung jawab untuk semuanya.''


''Semoga kamu suatu saat tidak melupakan ucapanmu ini, Mas.'' Kata Aruna.

__ADS_1


''Aku, mau menemui Zidane dulu.''


''Mas, menginaplah dan temani Zidane. Dia seperti ini karena kita.''


''Iya aku tahu. Dia sepertinya sangat membenciku. Aku akan menemuinya, aku ingin bisa akur seperti dulu. Aku memang Ayah yang jahat.'' Arya kemudian pergi menuju kamar Zidane.


Arya melihat Zidane sedang sibuk menggambar di meja belajarnya.


''Katanya mengantuk, kenapa belum tidur?'' suara Arya cukup mengagetkan Zidane.


''Papi? Kenapa kesini?'' ketus Zidane yang hanya menoleh sekilas kearah Papinya. Arya tersenyum, ia melihat gambar yang dibuat oleh Zidane.


''Oh ya kamu sedang menggambar apa?''


''Ini gambar super hero Zidane.''


''Bagus sekali gambaran kamu, Nak. Kamu semakin pintar saja. Imajinasi kamu bagus sekali.'' Ucap Arya sambil mengelus kepala Zidane.


''Papi kalau sudah selesai bicara, sebaiknya Papi pergi.'' Zidane sama sekali tidak merespon Arya. Arya merasa sakit dengan sikap Zidane yang acuh. Arya kemudian duduk berlutut, di genggamnya kedua tangan Zidane.


''Zidane, maafkan Papi. Papi sudah menyakiti perasaan kamu dan membuat kamu seperti ini. Sampai kapan pun, Papi adalah Papi kamu. Papi ingin semuanya seperti dulu. Papi sangat sayang Zidane. Kamu jangan bersikap acuh pada Papi ya. Papi tidak sanggup kalau harus menghadapi sikap kamu ini.''


''Kalau memang Papi sayang Zidane, kenapa Papi meninggalkan Mami dan Zidane?''


''Papi tidak pernah ingin meninggalkan kamu dan Mami. Tetapi Mami yang ingin berpisah dengan Papi. Papi berusaha mempertahankan semuanya tapi Mami memilih menyerah.''


''Mami menyerah karena Papi mempunyai wanita lain. Tentu saja Mami sedih karena sikap Papi itu. Zidane juga akan marah, kalau mainan kesayangan Zidane direbut oleh orang lain. Daripada saling berebut, lebih baik Zidane memberikannya saja. Kalau memang Papi tidak mau meninggalkan Zidan dan Mami, seharusnya Papi juga bisa menjaga Mami. Jangan buat Mami sedih dan menangis. Hampir setiap malam Mami selalu menangis dan itu karena Papi.''


''Iya, semua ini memang salah Papi. Tapi jangan hukum Papi seperti ini Zidane. Papi sayang sekali kamu, Nak. Percayalah, sekalipun Papi sudah tidak bersama Mami, Papi tetap Papinya Zidane. Kapanpun Zidane butuh Papi, Papi akan datang. Papi akan selalu ada untuk Zidane. Maafkan Papi ya, Nak. Papi harap kamu juga bisa bersikap ramah dengan Tante Shella. Tante Shella itu baik kok, dia juga kasihan tidak punya siapa-siapa. Jadi Papi harus menjaganya, apalagi sekarang Tante Shella sedang hamil. Dan itu sama dengan itu adik kamu. Kamu akan punya adik.''


''Adik Zidane cuma Zio dan sekarang Zio sudah bahagia di surga.''


Mendengar ucapan Zidane, Arya hanya bisa memeluk putranya. Ada rasa penyesalan disudut hatinya. Namun tetap saja sulit untuk memilih keduanya, apalagi meninggalkan Shella.


''Maafkan Papi Zidane, maafkan Papi.''

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2