
''Ada kabar apa diperusahaan Gino? Sepertinya sudah lama aku istirahat dirumah.''
''Yang saya dengar, Tuan muda memecat menejer produksi dan pemasaran, Tuan.''
''Memecat? Dia membuat ulah lagi rupanya?''
''Tidak Tuan. Justru Tuan muda menyelesaikan masalah diperusahaan. Penjualan furniture kita menurun drastis ternyata ada kecurangan yang di lakukan oleh manajer produksi dan pemasaran. Info yang saya dapat, mereka mencampur bahan mentah yang bagus dengan yang buruk. Jadi selama ini mereka bersekongkol. Produk kita bukan tidak laku tapi memang kualitas bahannya yang berbeda. Perusahaan mengeluarkan biaya produksi dengan kualitas terbaik tapi mereka malah memanipulasinya. Tuan muda sendiri yang menyidak pabriknya, bahkan menemukan stok overload furniture kita. Tadinya Tuan muda ingin menghentikan produksi namun akhirnya tercetus ide untuk membuat bazar dengan harga yang lebih murah. Karena para pekerja juga sudah diatur mereka untuk mencampur bahan mentahnya itu, Tuan. Para pekerja juga mengikuti saja karena mereka pikir itu perintah dari anda langsung. Dan ide bazar itu datang dari Nona Aruna, Tuan. Saya akui Nona Aruna hebat, cerdas dan sangat detail.'' Jelas Gino.
Tuan Hutama pun tersenyum. ''Akhirnya aku mendengar kabar baik tentang perubahan Daniel. Bukankah keputusanku sudah tepat dengan menjadikan Aruna sebagai sekretarisnya Gino?''
''Tentu saja, Tuan. Tuan muda perlahan berubah dan semakin bertanggung jawab. Bukan hanya itu, Tuan muda juga melaporkan kedua manajer itu ke kantor polisi. Kemarin Tuan muda juga lembur sampai tidur di kantor untuk mendapatkan bukti yang akurat tentang kecurangan dua manajer itu. Bahkan malam ini Tuan muda juga mengambil lembur lagi untuk menggarap bazar pekan depan.''
''Gino, aku senang sekali mendengarnya. Perkembangan Daniel pesat sekali. Akhirnya dia mau juga mengurus perusahaan. Gino, kalau suatu saat nanti Tuhan memanggilku, aku ingin kamu tetap bekerja untukku. Setidaknya bantulah Daniel.''
''Jangan bicara seperti itu, Tuan. Saya ingin Tuan sehat dan panjang umur. Bukankah anda begitu menantikan seorang cucu?''
''Hahaha iya benar sekali kamu, Gino. Baiklah aku akan lebih semangat menjalani hidupku.''
''Harus Tuan! Anda harus semangat.''
...****************...
Aruna melihat kearah jam tangannya dan jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.
''Sudah waktunya makan malam. Tuan Daniel sepertinya juga masih diruangannya.'' Gumam Aruna. Aruna beranjak dari tempat duduknya menuju ruangan Daniel.
''Permisi Tuan, sudah waktunya makan malam.'' Ucap Aruna.
''Kamu masih disini, Aruna?''
''Iya Tuan. Ada yang bisa aku bantu untuk menyiapkan makan malam anda?''
''Bagaimana kalau kita makan malam di luar? Aku suntuk sekali seharian ini bekerja, aku butuh refreshing.''
''Baiklah kalau begitu.''
''Oh ya kamu tidak pulang? Bagaimana dengan Zidane?''
''Aku meminta Papa dan Mama untuk menginap dirumah menemani Zidane.''
__ADS_1
''Oh begitu. Baiklah ayo kita pergi makan malam.''
''Iya Tuan.''
Daniel kemudian mengajak Aruna menuju sebuah restoran. Sesampainya di restoran, keduanya segera memesan makanan.
''Terima kasih Tuan sudah mengajak ku makan malam.''
''Sama-sama. Oh ya Aruna ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.''
''Apa itu Tuan?''
''Sebenarnya beberapa waktu lalu mantan suamimu datang menemui ku. Dia membawa uang untuk membayar biaya rumah sakitmu. Dia melunasi semuanya. Maaf aku baru bilang sekarang. Jadi aku anggap hutangmu lunas.''
''Kenapa Tuan menerimanya?''
''Dia sepertinya marah karena ada seseorang yang memperhatikan istrinya jadi dia melakukan itu. Dan sebelum kamu kecelekaan, aku juga ada di restoran itu. Aku juga tidak sengaja mendengar obrolan dan melihat suamimu dengan wanita itu. Aku juga melihatmu keluar dari ruangan itu bahkan kamu saat itu menabrakku. Tapi kamu tidak melihatku. Maaf kalau aku tahu masalah pribadimu.''
Aruna tersenyum. ''Aku juga tidak mengerti kenapa anda harus mengetahui ini semua? Bahkan anda juga ada saat aku mengalami kecelakaan. Entah karena kebetulan atau memang kenapa, aku sendiri juga tidak mengerti Tuan. Apapun itu, terima kasih untuk semua kebaikan anda. Sejujurnya tidak menyangka saja seorang casanova seperti anda bisa bersikap baik juga.''
''Hei, memang kamu pikir aku tidak punya perasaan apa? Sebaiknya, makan-makananmu itu.''
''Wah, Aruna! Kamu keterlaluan sekali. Aku ini atasanmu.''
''Bagaimana ya Tuan? Apalagi mengingat saat pertama kali kita bertemu dan di tambah anda yang mengaku sebagai suamiku saat itu. Sungguh sangat menyebalkan. Aku bahkan tidak peduli sekalipun anda atasanku karena aku berbicara apa adanya.''
''Ya, ya, ya, terserah apa katamu. Yang jelas aku mau makan.'' Ucapnya dengan mulut penuh makanan.
Setelah selesai makan malam, Arthur membelokkan mobilnya menuju tempat karaoke.
''Tuan, kita dimana?''
''Ketempat karaoke lah. Memangnya kamu tidak pusing apa beberapa hari bekerja keras sampai lembur-lembur.''
''Tuan tidak akan macam-macam kan?''
''Aku mana berani! Tendanganmu saja sangat kuat. Ayolah sekali-sekali kembali menjadi muda, Aruna.'' Daniel lalu turun dari mobil dan memaksa Aruna untuk keluar. Daniel lalu menggandeng tangan Aruna dan mengajaknya masuk ke dalam. Untuk pertama kalinya Aruna datang ke tempat seperti itu.
''Apa Tuan sering datang kemari?''
__ADS_1
''Sering sekali, apalagi saat suntuk seperti ini.'' Ucapnya sambil terus menggandeng Aruna menuju ruangan VIP yang biasa ia pesan.
''Nah, lebih baik kita bernyanyi disini. Aku akan memanggil para penari latarku.'' Kata Daniel.
''Ladies! Masuklah!" seru Daniel. Dan masuklah enam wanita seksi ke dalam ruangan itu.
''Astaga, dia benar-benar gila!" gumak Aruna dalam hati. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan Daniel.
''Ladies, mari kita hibur wanita yang sedang patah hati itu.'' Ucap Daniel sambil menunjuk kearah Aruna. Aruna hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Daniel. Daniel pun mulai bernyanyi dengan ditemani para gadis itu. Salah satu dari mereka juga menuangkan wine untuk Aruna.
''Silahkan Nona. Ini kadar alkoholnya sangat kecil jadi tidak akan membuat anda mabuk.'' Ucao wanita pemandu karaoke itu.
''Iya terima kasih.'' Ucap Aruna. Aruna dibuat tertawa dengan kekonyolan Daniel bersama enam wanita itu. Melihat Aruna yang hanya duduk saja, Daniel lalu menarik Aruna dan merangkulnya seperti seorang teman. Daniel mengajak Aruna menari dan melompat apalagi lagi yang dibawakan Daniel sangat ceria.
''Ayo sekarang giliranmu!"
''Aku tidak bisa, Tuan.''
''Tinggal menyanyi saja, ini bukan kompetisi. Luapkan perasaanmu.'' Kata Daniel sambil memberikan mic pada Aruna. Daniel kemudian membantu Aruna memilih lagu. Ya, akhirnya Aruna menjatuhkan pilihannya pada sebuah lagu dari salah satu band ternama Indonesia Element (Cinta Tak Bersyarat).
Daniel lalu duduk di temani oleh wanita-wanita seksi itu, sembari menikmati wine. Membiarkan Aruna menyanyi sendiri, menumpahkan segala isi hatinya. Aruna menyanyi hingga tak sadar ia larut dengan perasaannya, bahkan air matanya mengalir begitu saja. Mengingat semua kenangannya bersama Arya dan keluarga kecil mereka yang begitu bahagia. Tanpa sadar, Daniel mersakan betapa sakit hatinya Aruna selama ini. Apalagi disetiap lirik lagu itu, seolah mewakili perasaan Aruna yang tersakiti.
🎶Oh-oh, demi nama cinta
Telah kupersembahkan hatiku hanya untukmu
T'lah kujaga kejujuran dalam setiap nafasku
Kar'na demi cinta
Telah kurelakan kecewaku atas ingkarmu
Sebab ku mengerti cinta itu tak mesti memiliki
Dirimu
Ternyata tak mampu kau melihat
Dalamnya cintaku yang hebat
__ADS_1
Bait terakhir lirik, yang seolah mampu mengetuk hati Daniel tentang penderitaan yang dirasakan Aruna.