
''Aruna, kamu disini?'' suara Daniel sungguh mengejutkan Aruna.
''I-iya Tuan. Memastikan kalau anda tidak meracuni Zidane dengan sikap ke playboyan anda.''
''Kamu selalu berburuk sangka padaku, Aruna. Memang cerita apa yang kamu dengar?''
''Tidak tahu, aku lupa. Sebaiknya anda pulang!" ucap Aruna seraya berlalu namun tiba-tiba Daniel menarik tangan Aruna. Membuat langkah Aruna terhenti.
''Aruna,'' lirih Daniel.
''Apa Tuan? Awas ya jangan macam-macam.'' Ucap Aruna dengan gugup.
''Lagi-lagi kamu berburuk sangka padaku.'' Ucap Daniel. Daniel lalu memegang kedua bahu Aruna dan membuat Aruna untuk menghadapnya. Daniel menatap wajah cantik dihadapannya itu. Dan jantung Daniel kali ini berdebar begitu cepat. Daniel kemudian mengeluarkan sebuah jepit kupu-kupu dari sakunya.
''Gadis kupu-kupu,'' ucap Daniel sambil menunjukkan jepit kupu-kupu itu pada Aruna.
''Jepit ini?'' Aruna teringat bahwa itu adalah jepit kupu-kupu miliknya. Daniel tersenyum, ia kemudian memakaian jepit kupu-kupu di rambut Aruna.
''Aku sudah mengembalikan pada pemiliknya. Maaf, jika aku terlambat mengembalikannya. Karena aku baru bertemu dengan pemiliknya. Aku permisi.'' Ucap Daniel. Daniel kemudian pergi meninggalkan rumah Aruna. Aruna hanya bisa terdiam mematung dengan apa yang baru saja di lakukan oleh Daniel.
''Jadi, dia anak laki-laki itu? Anak laki-laki yang menangis mencari Ibunya? Ya Tuhan, dunia ini sempit sekali. Dan kenyataannya Ibu Tuan Daniel sudah meninggal. Rupanya dia masih mengingatku, bahkan dia menyimpan jepit rambut ini. Aku tidak percaya seorang casanova seperti dia, mengingat hal bodoh seperti ini.'' Gumam Aruna dalam hati.
-
''Arya!" Nyonya Ratih begitu terkejut melihat kedatangan putranya malam itu. Apalagi ada Shella yang berdiri di samping Arya.
''Mah!" peluk Arya. Nyonya Ratih buru-buru melepaskan pelukan putranya.
''Ada apa kamu kemari?''
''Mah, kami mau menumpang.''
''Menumpang? Bukankah kamu sudah membeli rumah mewah ya? Bahkan kamu melupakan Papa dan Mama hanya untuk sekedar syukuran.''
''Maafkan Arya, Mah. Arya di tipu. Semua uang dan tabungan Arya juga Shella habis. Apalagi Arya juga di pecat.''
''APA? Di pecat?'' Nyonya Ratih semakin terkejut.
''Apa apa Mah?'' sahut Tuan Jodi dari dalam. Tuan Jodi yang penasaran segera menyusul menuju pintu ruang tamu.
''Arya? Untuk apa kamu datang kemari?''
''Pah, tolong ijinkan kami tinggal disini.''
''Kenapa membutuhkan kami? Kamu sudah memilih wanita itu dibandingkan keluargamu sendiri. Jadi urus saja sendiri urusanmu, Arya.''
__ADS_1
''Pah, Arya mohon. Kasihani kami, terutama Shella. Shella sedang mengandung anak Arya, cucu Papa dan Mama juga.''
''Tapi kami tidak menghendaki memiliki cucu dari wanita itu.'' Ketus Nyonya Ratih.
''Mah, jangan bicara seperti itu. Mama dan Papa juga sudah mengenal Shella dengan baik. Mama dan Papa juga dulu berharap Shella menjadi menantu kalian kan?''
''Iya tapi cara kalian salah. Itu hukuman untuk kamu, Arya. Kamu sudah menelantarkan anak dan istrimu. Jadi sekarang tanggung semua resikonya. Kamu yang berbuat, kamu yang bertanggung. Kami tidak mau dengan memberikanmu tempat tinggal, akan semakin membuat hati Aruna terluka.'' Tegas Tuan Jodi. Tuan Jodi kemudian menutup dan mengunci pintu rumahnya. Tuan Jodi dan Nyonya Ratih masih marah, sekaligus kecewa dengan sikap Arya.
''Sungguh tidak tahu malu mereka berdua.'' Ucap Tuan Jodi.
''Biarkan saja Arya menjalani hukumannya, Pah. Dia sudah terlalu jahat pada Aruna dan Zidane.''
''Iya Mah.''
Arya dan Shella kembali melanjutkan perjalanan mereka.
''Mas, kita mau tidur dimana?''
''Kita cari kontrakan yang sederhana saja ya?''
''Apa? Kontrakan sederhana? Aku tidak mau, Mas. Mas, lusa aku ada wawancara dengan majalah. Mereka ingin datang kerumah meliputku secara langsung. Aku tidak mau dianggap miskin ya, Mas. Aku sudah merelakan semuanya untuk kamu.''
''Tapi ini salahmu juga kan, Shel? Kamu sendiri yang gegabah tanpa meminta persetujuan dari aku. Dan bodohnya aku percaya begitu saja denganmu.''
''Untuk apa?''
''Kita numpang disana lah? Setidaknya saat di liput media, rumah itu terlihat bagus. Kamu tega membiarkan aku kedinginan dan kelaparan. Apalagi ada anak kamu di rahim aku. Atau aku gugurkan saja dia.''
''Shella! Jaga ucapanmu ya. Dia ini tidak berdosa kenapa kamu libatkan?''
''Makanya kita sekarang ke rumah, Aruna. Aku ingin segera istirahat, Mas. Aku capek! Kamu tolong mengerti kondisi aku yang berbadan dua ini.'' Ucap Shella sambil menangis.
Arya menghela. ''Baiklah, akan aku coba.''
Aruna yang baru saja ingin memejamkan mata, mendengar deru mobil masuk ke dalam rumahnya. Aruna beranjak dari tempat tidur dan melihat siapa yang datang malam-malam begini.
''Mas Arya?'' Aruna sangat terkejut melihat kedatangan mantan suaminya bersama dengan Shella. Mendengar bel pintu berbunyi, Aruna segera turun untuk membuka pintu.
''Mas, ada apa?'' tanya Aruna begitu melihat mantan suaminya.
''Aruna, maafkan aku. Aku....''
''Kita mau numpang tidur disini. Kita sudah tidak punya rumah lagi.'' Sahut Shella tanpa rasa malu sedikitpun.
''Lho bukannya kalian sudah membeli rumah mewah senilai 70 milyar ya? Kenapa kok tiba-tibda malah mau numpang?''
__ADS_1
''Kami di tipu Aruna. Uang 50 milyar begitu saja. Dan aku juga di pecat.''
''Apa Mas? Kamu di pecat? Bagaimana bisa?''
''Sekarang kamu bisa tertawa, Aruna. Tertawakan kami sepuas hatimu.'' Kata Arya dengan penuh sesal.
''Aku ingin menumpang selama satu minggu. Tenang saja aku akan membayarnya sampai kami dapat rumah baru. Karena lusa aku ada wawancara jadi tidak mungkin aku harus tinggal di gubuk derita.'' Ketus Shella.
''Jaga sikapmu Shella! Ini rumah Aruna.'' Arya mengingatkan.
''Biarkan saja dia berbicara sesuka hatinya, Mas. Apa yang dia katakan menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Sudah merebut suami orang eh masih bisa datang kesini. Kalau kamu tidak sedang hamil, aku tidak sudi menerima mu disini, Shella.'' Tegas Aruna sambil menunjuk wajah Shella.
''Buktinya Mas Arya memilihku.'' Ucap Shella yang tidak mau mengalah.
''Tidur saja di kamarmu, Mas. Aku juga mau istriahat.'' Kata Aruna seraya berlalu.
''Terima kasih, Aruna.'' Kata Arya.
''Ingat ya Shel, kita ini menumpang. Jadi aku mohon jaga sikapmu.''
''Iya-iya. Aku hanya sedang kesal saja dengan keadaan ini.'' Ucap Shella.
Istirahat Aruna benar-benar terganggu karena kedatang dua orang yang sudah menggoreskan luka dihatinya. Aruna mengambil ponselnya, mengirim pesan untuk Daniel.
Aruna : Tuan, sebaiknya besok anda tidak usah ke rumah lagi. Aku akan membawakan sarapan dan makan siang untuk anda.
Daniel yang juga baru saja ingin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, terkejut membaca isi pesan dari Aruna. Daniel yang merasa tidak tenang segera menelepon Aruna.
''Halo Aruna, apa maksud pesanmu?''
''Tuan belum tidur?''
''Baru mau tidur. Maksud pesanmu apa? Aku sudah membayarmu ya?''
''Iya Tuan, aku ingat. Tapi untuk satu minggu ke depan Mas Arya dan istrinya akan menginap disini.''
''What? Sungguh tidak tahu malu sekali. Mereka mengganggumu?''
''Mereka di tipu dan tidak punya rumah lagi. Jadi mereka menginap selama satu minggu disini. Untuk menghindari masalah, sebaiknya Tuan tidak usah ke rumah dulu. Aku akan tetap menjalankan tugas tambahanku untuk anda, Tuan.''
''Baiklah kalau begitu. Aruna, kalau kamu membutuhkan bantuan, hubungi saja aku.''
''Iya Tuan terima kasih. Selamat malam.'' Panggilan berakhir.
''Kasihan Aruna. Firasatku mengatakan, cepat atau lambat, Aruna akan di usir dari rumah itu. Aku harus melakukan sesuatu untuknya terutama untuk Zidane. Aku sepertinya sudah menyayangi anak itu." Gumam Daniel dalam hati.
__ADS_1