Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 77 Kesempatan dalam Kesempitan


__ADS_3


''Aruna, sebaiknya sekarang cepat masak untukku ya. Aku sudah lapar. Ini DP untukmu.'' Kata Daniel seraya memberikan satu bandel uang seratus ribuan senilai lima juta. Aruna terperangah tidak percaya, melihat Daniel mengeluarkan uang itu dalam saku jasnya.


''Tu-tuan, ini serius? Ini banyak sekali.''


''Iya lah serius. Masa aku bercanda.''


''Ya ampun Tuan, ini banyak sekali. Tuan sudah membelikan semua bahan makanannya dan sekarang malah memberiku DP gaji seperti ini.''


''Ah sudahlah, ibu-ibu sepertimu, matanya pasti hijau kalau dikasih uang. Iya kan? Tidak usah pura-pura kaget, padahal kamu saja senang sekali.'' Ledek Daniel.


''Bukan ibu-ibu saja tapi semua wanita di muka bumi ini, wajahnya akan berubah ketika melihat uang, Tuan. Itu pemikiran yang realistis, apalagi untukku seorang single mother. Kalau upahnya besar, aku mau memasak untuk Tuan seumur hidup.'' Kata Aruna dengan senyum sumringahnya.


''Ya sudah buat masakan yang enak ya. Dengan uang segitu, kamu harus menyajikan makanan yang lezat.''


''Tentu saja Tuan. Aku akan memasak dengan semangat. Dan memberikan sajian yang sangat lezat. Terima kasih ya Tuan.''


''Tidak usah berterima kasih. Baiklah, aku mau berenang. Sepertinya segar sekali jam segini renang.''


''Silahkan Tuan. Anda boleh renang sepuasnya, sambil menunggu masakannya matang.'' Kata Aruna dengan wajah cerianya.


''Tolong ambilkan aku handuk ya Aruna.''


''Siap Tuan! Dengan senang hati, aku akan mengambilkannya.''


''Dasar wanita! Uang memang bisa menyelesaikan semuanya. Biasany jutek, eh di kasih uang langsung deh senyum-senyum," gumam Daniel dalam hati. Meksipun sikap Aruna itu konyol tapi Daniel menyukainya karena Daniel tahu Aruna sedang membutuhkan uang.


''Syukurlah, aku mendapat uang ini. Meskipun gaji ini tidak masuk akal juga padahal ini baru DP. Tapi tidak apalah, Tuan Daniel kan uangnya banyak.'' Gumam Aruna dalam hati.


Zidane yang berada di kamarnya, mendengar suara orang berenang, menyusul ke kolam renang.


''Hai Zidane.''


''Om, Zidane ikutan ya? Kita main tangkap bola di air, mau kan?''


''Tentu saja. Ayo kita bermain.''


''Baiklah, aku akan melepas bajuku dulu.'' Tentu saja Zidan sangat merindukan bermain dengan Papanya. Dulu, mereka sering sekli berenang sambil bermain bola. Setidaknya kehadiran Daniel, mampu menghibur hati Zidane.


Sementara itu, Aruna begitu sibuk di dapur. Ia benar-benar memasak dengan sepenuh hati karena uang yang diberikan oleh Daniel menurutnya itu sangat banyak. Rasa stresnya pun mereda, saat melihat uang itu. Setidaknya ia sekarang bisa mulai menabung lagi.


''Nyonya, mau saya bantu?'' tanya Bi Tuti.

__ADS_1


''Tidak usah, Bi. Tuan Daniel sudah membayarku untuk membuat masakan ini.''


''Baiklah Nyonya, kalau memamg butuh bantuan, Nyonya langsung panggil ya? Saya mau membersihkan halaman belakang.''


''Iya Bi.''


Satu jam sudah Aruna berkutat di dapur. Aruna mulai memindahkan nasi, lauk dan sayur di atas meja. Tak lupa minuman dan buah segar sebagai pencuci mulut sudah tersedia diatas meja.


''Ah sudah siap! Saatnya memanggil Tuan Daniel.''


Aruna kemudian menuju kolam renang yang berada di teras samping rumahya. Aruna terkejut melihat Zidane yang ikut berenang juga. Aruna melihat Zidane dan Daniel sangat akrab. Mereka terlihat seperti seorang Ayah dan anak.


''Zidane, kamu berenang juga? Perasaan tadi di kamar.''


''Hehe iya Mami. Tadi Zidane mendengar seseorang mencebur ke kolam, eh pas Zidane lihatin ternyata Om Daniel. Ya udah deh Zidane ikutan nyebur.''


''Ya sudah, cepat naik ya sayang, mandi sekalian.''


''Iya Mami.''


''Tuan, masakannya sudah siap.''


''Iya Aruna, tunggu sebentar lagi.''


''Nanti keburu dingin Tuan. Aku tidak mau mendengar komplain masakanku berubah dingin.'' Kesal Aruna.


''Zidane, ayo kita sudahi. Kapan-kapan kita main lagi. Kamu makan lagi ya? Mami kamu sudah masak yang sangat lezat.''


''Oke Om. Habis renang memang mudah lapar.'' Kata Zidane. Aruna masih berdiri di dekat kolam, memastikan dua lelaki itu naik ke atas dan menyudahi berenangnya. Aruna tersenyum saat Zidane belari kecil masuk ke dalam kamarnya. Kali ini katanya melotot menatap Daniel.


Saat Daniel naik keatas, Aruna dibuat terkejut dengan perut six pack Daniel. Daniel justru dengan sengaja berlagak cool sambil menyugar rambutnya yang basah dengan kedua tangannya, yang membuat otot tangannya terlihat jelas. Melihat itu Aruna malu sendiri dan berbalik menuju dapur dengan langkah terburu.


Daniel tertawa kecil melihat sikap Aruna. ''Pasti dia malu dan terpesona melihat bentuk tubuhku yang seksi ini. Sepertinya aku harus semakin olahraga, biar ototku semakin besar. Dan membuat Aruna malu-malu seperti tadi.'' Gumam Daniel dengan pikiran konyolnya. Ia kemudian memakai handuk kimono dan berjalan dengan pedenya menuju dapur.


''Aku mau makan.''


''Tuan, setidaknya mandilah dulu. Masa iya makan pakai handuk.'' Gerutu Aruna.


''Oke tapi aku mandi dimana?''


''Dikamar atas.''


''Maksudnya kamarmu?''

__ADS_1


''I-iya.''


''Oke baiklah, aku akan menuju kamarmu. Tapi aku kan tamu, masa iya tidak di antar ke kamar. Nanti aku dianggap lancang.'' Ucap. Daniel.


''Ba-baiklah, aku antar sebentar.'' Daniel kemudian mengikuti langka Aruna menuju kamar. Sebuah kamar yang penuh dengan kenangan indah bersama Arya. Sejak berpisah dengan Arya, Aruna memilih untuk tidak tidur di kamar itu. Aruna hanya menggunakannya untuk mandi dan beeganti pakaian saja. Karena hanya di kamar itu dan di kamar Zidane yang memiliki kamar mandi di dalam.


''Silahkan Tuan.''


''Apa, kamu ada baju ganti? Milik mantan suamimu juga tidak masalah.'' Kata Daniel saat keduanya sudah berada di dalam kamar.


''Merepotkan sekali manusia satu ini,'' gerutu Aruna dalam hati. Untung saja masih ada beberapa setelan Arya yang tertinggal di kamarnya.


''Ini Tuan.''


''Wah, sepertinya kamu masih mencintai suamimu ya? Bajunya sampai masih kamu simpan.''


''Hanya beberapa potong saja. Buktinya juha berguna untuk anda kan?''


''Iya juga sih. Jadi kalau aku menginap, bisa aku pakai.''


''Ya sudah, silahkan Tuan mandi dulu. Aku membantu Zidane dulu.''


''Oke.''


Namun saat hendak keluar, tiba-tiba Aruna terpleset. Reflek, Aruna menarik tali handuk Daniel, sampai membuat Daniel terjatuh menimpa tubuh Aruna. Aruna melihat jelas perut six pack itu menimpa tubuhnya. Lagi-lagi membuat bibir keduanya bersentuhan. Namun kali ini Daniel yang licik, ia sengaja menempelkan bibirnya pada Aruna. Jantung Daniel berdetak sangat cepat seperti ingin melompat.


Aruna lalu mendorong tubuh Daniel sampai Daniel terguling ke samping.


''Tuan sengaja ya?''


''Sengaja apanya?''


''Kenapa tidak mengeringkan kakimu dulu sebelum masuk? Lihat lantainya basah sampai aku terpleset seperti tadi. Tuan juga sengaja menciumku lagi kan?''


''Apa? Mencium? Oh tidak Aruna. Untuk apa aku menciummu? Namanya jatuh, tidak sengaja. Kamu menarikku, membuat tali handukku terlepas, sampai tubuh indahky ini terlihat. Pasti kamu juga sengaja iya kan? Supaya kamu bisa melihat pertuku yang seksi ini? Iya kan?''


''Aku lama-lama bisa gila bicara denganmu Tuan. Anda pikir aku ini wanita murahan apa? Sudah ketiga kalinya bibir kita bersentuhan. Ini bukan hal yang wajar, pasti di sengaja. Ini pelecehan seksual.''


''Kamu juga melecehkan aku? Kamu melihat tubuhku? Kalau memang mau jatuh, kenapa tidak memegang tanganku? Kenapa menarik tali handukku? Pasti sengaja kan?'' Daniel terus berusaha menyudutkan Aruna.


''Aku tidak mau berdebat lagi, Tuan. Awas saja sampai seperti ini lagi, aku akan melapor pada Tuan Hutama.''


''Aku juga tidak sengaja Aruna. Untuk apa aku sengaja? Sementara aku bisa mencium jutaan gadis di luar sana tanpa aku meminta sekalipun. Sungguh tidak masuk akal bukan?''

__ADS_1


Aruna sangat kesal pada Daniel. Ia kemudian pergi berlalu meninggalkan Daniel. Sementara Daniel tersenyum puas karena berhasil mengambil kesempatan dalam kesempitan.


''Sepertinya aku sudah jatuh cinta pada Aruna.'' Gumamnya sembaru senyum-senyum sendiri.


__ADS_2