
''Maafkan aku Aruna kalau aku harus mengatakan tadi.''
''Om tidak perlu meminta maaf. Aku senang Om mengatakan itu,'' sahut Zidane yang duduk di bangku belakang.
''Zidane, kamu masih kecil jadi kamu tidak boleh ikut campur.'' Ucap Aruna.
''Maaf Mi.''
''Tidak apa-apa Tuan. Mungkin anda terlanjur kesal karena selalu di tuduh seperti itu.''
''Iya kamu benar.'' Jawab Daniel singkat. Ada rasa kecewa di sudut hati ini. Sepertinya akan membutuhkan perjuangan untuk meluluhkan hati Aruna.
''Aruna memang berbeda. Begini rasanya diabaikan.'' Gumam Daniel dalam hati.
Akhirnya setelah perjalanan hampir satu jam, mereka sampai juga di tempat camping dan outbond.
''Tuan, sebaiknya anda mengaku sebagai sepupuku saja jika ada yang bertanya.''
''Oke, tidak masalah.''
''Om, terima kasih ya sudah menemani aku.''
''Sama-sama Zidane.''
Semua orang terpukau melihat ketampanan Daniel.
''Wah, ini pasti calon Papanya Zidane ya Nyonya Aruna? Baguslah Nyonya, sebaiknya anda segera move on daripada berlarut dalam kesedihan.'' Ucap salah satu ibu wali murid pada Aruna. Ya, tentu saja kabar perceraian dan perselingkuhan suami Aruna sudah menyebar di sekolah apalagi di kalangan Ibu-Ibu yang haus akan gosip. Belum sempat menjelaskan apapun, para Ibu-Ibu sudah mendukung keputusan Aruna.
''Lebih tampan yang ini Nyonya. Tidak usah malu-malu Nyonya. Kami kaum wanita, mendukung penuh keputusan anda untuk segera mencari pengganti. Anda masih muda dan sangat cantik pasti mantan suami anda akan menyesal.'' Ucap Ibu-ibu yang lain. Sungguh, Aruna merasa tidak nyaman dengan semua ucapan Ibu-Ibu itu. Ini bisa menjadi salah paham berkepanjangan.
''Ibu-Ibu kalian semua salah sangka. Ini bukan cal...on...,''
''Sudah Nyonya, jangan malu-malu. Kami akan pura-pura tidak tahu. Lihat saja tangan Zidane sedari tadi menggandeng erat tangan calon Papa barunya. Siapa nama anda Tuan?''
''Panggil saja Daniel, Nyonya.''
''Baiklah Tuan Daniel, salam kenal ya. Kami mendukung hubungan kalian. Kasihan Zidane juga kalau selalu murung di sekolah.'' Sahut yang lain.
''Tuan, maafkan mereka semua ya. Mereka malah mengira seperti itu.'' Bisik Aruna pada Daniel.
''Tidak apa-apa, santai saja. Aku tidak masalah.''
Acara hari itu di mulai dengan upacara pembukaan.
__ADS_1
''Muali hari ini kekompakan antar keluarga akan kami nilai. Dan penilaian serta hadiah akan diberikan saat acara ini selesai. Karena akan ada hadiah spesial dari pihak sekolah untuk penilaian kekompakan antara orang tua dan anak. Jadi.....,'' itulah sebait sambutan dari kepala sekolah. Setelah upacara pembukaan, para orang tua dan anak di uji kekompakannya dengan mendirikan sebuah tenda.
''Om bisa kan mendirikan tenda?''
''Tentu saja bisa. Om dulu saat masih sekolah paling senang mendaki gunung.''
''Wah asyik dong, Om.''
''Tentu saja. Nanti saat kamu sudah besar kita pergi bersama tapi mungkin Om juga sudah tua sih,'' ucap Daniel terkekeh.
''Tuan, aku buatkan minuman dulu ya.''
''Iya Aruna.''
Aruna lalu membuatkan minuman segar untuk mereka. Aruna melihat bagaimana dekatnya Zidane dengan Daniel. Selesai membuat minuman, Aruna membaginya pada Daniel dan Zidane.
''Zidane, Tuan Daniel, sebaiknya minum dulu setelah ini kita lanjutkan mendirikan tenda.'' Seru Aruna seraya memberikan es sirup pada keduanya.
''Mmmm segar, Mi. Makasih ya Mi.''
''Sama-sama sayang.''
''Terima kasih Aruna.''
''Mami, sebaiknya Mami juga bersikap romantis pada Om Daniel. Mami tahu kan, semua orang mengira Om Daniel adalah calon Papaku. Aku ingin kita menang, Mi.''
''Zidane, kita tidak bisa melakukn itu. Kamu tahu kan Om Daniel itu atasan Mami?''
''Mi, aku ingin mendapatkan hadiah itu.''
''Memang hadiahnya apa Zidane?'' tanya Daniel.
''Selain ada alat tulis lengkap, ada hadiah sepeda gunungnya juga.'' Kata Zidane.
''Mami bisa membelikannya untukmu, Zidane.''
''Tapi Mami, hadiah dari hasil usaha dan dibelikan rasanya berbeda, Mi.''
''Zidane, kamu jangan berlebihan. Mami tidak suka ya kamu seperti itu.'' Kesal Aruna.
''Mami lihat semua teman-teman Zidane. Mereka semua bersama kedua orang tuanya. Mereka semua bahagia masih memiliki orang tua yang lengkap. Setidaknya mereka disini ditemani oleh Papa dan Mamanya. Aku ingin seperti mereka, Mi.'' Ucap Zidane dengan mata berkaca-kaca. Aruna hanya bisa menghela. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin dirinya bersikap mesra pada Daniel.
''Aruna, lakukan saja. Lagi pula hanya akting kan? Aku tidak masalah.'' Kata Daniel.
__ADS_1
''Tapi Tuan? Ini permintaan yang berlebihan.'' Ucap Aruna.
''Menurutku tidak berlebihan. Kamu harus bisa memahami perasaan Zidane saat ini. Setidaknya mengalah lah untuk Zidane.'' Bujuk Daniel.
''Baiklah tapi awas kalau sampai Tuan mengambil kesempatan dalam kesempitan?''
''Tidak akan terjadi apa-apa Aruna. Aku akan membayar aktingmu selama dua hari disini.'' Kata Daniel.
''Mami, aku ingin menunjukkan pada mereka kalau kita bahagia meskipun tanpa Papi.'' Sambung Zidane. Ucapan Zidane membuat Aruna terenyuh.
''Baiklah Nak, demi kamu. Semua ini demi kamu.''
''Terima kasih ya, Mi. Terima kasih ya Om Daniel.''
''Iya sama-sama.'' Ucap Daniel seraya mengusap kepala Zidane.
''Maafkan aku Tuan.''
''Santai Aruna. Hanya akting saja, itu mudah bagiku. Jadi tenanglah! Sebaiknya kita selesaikan mendirikan tenda ini.''
''Iya.''
Aruna tidak menyangka jika Daniel bisa berbaur dengan alam juga. Disini Aruna bisa merasakan kehangatan sikap Daniel. Apalagi saat Aruna melihat wajah ceria Zidane saat bersama Daniel. Setelah tenda berdiri untuk selanjutnya adalah makan siang. Setiap keluarga bebas memasak apapun. Ya, tentu saja Daniel sudah menyiapkan semuanya. Mulai dari ikan, daging, kompor dan alat pemanggang. Aruna tidak menyangka jika Daniel menyiapkan sedetail itu.
''Kamu tidak usah capek mencari kayu bakar Aruna.''
''Tapi memakai kayu bakar lebih menyenangkan Tuan.''
''Kita baru saja sampai jadi tidak mungkin mencari kayu bakar. Sebaiknya kita menggunakan kompor yang aku bawa. Aku akan membantumu memasak. Nanti saat matahari sudah mulai turun, aku akan mencari kayu bakar untukmu.''
''Baiklah kalau begitu Tuan.''
''Bisa baik dan lembut juga nih di playboy. Dia benar-benar insyaf apa tidak ya? Tapi melihat wajahnya masih biru-biru begini dan melihat bukti vidio itu, pasti Tuan Daniel serius bertobat.'' Gumam Aruna dalam hati.
''Kita masak apa Tuan?''
''Yang mudah saja, Aruna. Kita bikin sosis asam manis saja untuk makan siang. Kamu potong sosisnya, aku akan membuat bumbunya.''
''Iya Tuan.''
''Aku menata piringnya ya Mi?'' sahut Zidane.
''Oke sayang.'' Ucap Aruna. Dan siang itu mereka memasak bersama dengan alam. Daniel merasa bahagia baru kali ini ia merasa waktu yang ia lewati sangat berharga. Daniel seperti mempunyai keluarga baru.
__ADS_1
''Sepertinya perasaanku ini mulai tidak karuan pada Aruna. Akupun semakin menyayangi Zidnane. Ini namanya mantan playboy terjebak cinta janda.'' Gumam Daniel dalam hati.