
''Kamu dari saja mana, Mas? Kenapa jam segini baru pulang? Sudah puas bernostalgia dengan mantan istrimu?'' Shella menyambut kepulangan Arya dengan ucapan pedas dan tatapan sinis. Arya bergeming dan berlalu begitu saja menuju kamarnya.
''Mas, kenapa diam saja? Aku sedang mengajakmu bicara. Kamu bahkan tidak memberiku kabar. Apa kamu lupa kalau aku ini istrimu? Kamu lupa juga kalau aku sedang mengandung anakmu? Dan susu hamil yang aku minta apa sudah kamu belikan?'' cerocos Shella sembari mengikuti langkah Arya.
''Maaf, aku lupa. Tadi uangnya aku pakai untuk makan siang bersama Zidane dan membelikan Zidane mainan.'' Ucap Arya sembari melepaskan jaketnya.
''Apa? Bisa-bisanya kamu lupa, Mas. Pasti uangnya kamu habiskan untuk bersenang-senang dengan mantan istri kamu juga kan?'' gemuruh api cemburu menyelimuti hati Shella.
''Aku hanya pergi bersama Zidane saja. Aruna di kantornya dan dia sibuk.'' Arya lalu berbalik menatap Shella. Arya membelai wajah Shella dengan lembut. Arya lalu tersenyum. Menganggap bahwa Shella adalah Aruna. Arya lalu memeluk Shella yang di anggap Aruna.
''Aku sangat merindukanmu, sayang. Sangat merindukanmu. Maafkan aku ya.'' Ucap Arya. Shella tentu saja senang bukan kepalang mendapat untaian kata romantis pada Arya.
''Mas, jangan seperti ini ya. Aku tidak mau kehilangan kamu.''
''Iya, aku tidak akan seperti ini lagi. Dan aku janji tidak akan meninggalkanmu, Aruna.''
DEG! Shella terkejut mendengar nama yang di sebut oleh Arya. Shella langsung melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Arya.
''Mas! Aku Shella, bukan Aruna." Ucap Shella dengan suara meninggi.
''Maaf Shella, maaf. Pikiranku kacau sekali. Aku pikir kamu Aruna. Maafkan aku.'' Arya berlalu begitu saja menuju kamar mandi. Ia memilih mandi untuk menyegarkan pikirannya. Semua kenangannya bersama Aruna terlintas dalam benaknya. Mulai dari awal pertemuan, pacaran sampai akhirnya menikah dan memiliki Zidane. Tak terasa air mata Arya jatuh membahasi wajahnya bercampur dengan guyuran air shower.
''Aruna, aku masih mencintaimu. Aku tidak rela kamu bersama yang lain.'' Batin Arya. Sementara Shella hanya bisa menangis ditepian ranjang, mengingat pelukan dan semua untaian kata romantis itu untuk Aruna.
''Aruna, awas kamu!" batin Shella penuh dengan dendam. Selesai mandi, Arya melihat Shella meringkuk di atas tempat tidur. Ia menghela, mengingat bahwa istrinya kini adalah Shella.
''Ya Tuhan, aku lupa kalau ada Shella. Aku sudah memutuskan untuk memilihnya. Bahkan sekarang dia sedang mengandung anakku. Aku sudah menyakiti Aruna dan menduakannya. Setidaknya aku tidak menyakiti Shella. Tapi bagaimana lagi, perpisahan dengan Aruna bukanlah keinginanku. Aku yang tidak bisa memilih satu diantara mereka, sampai membuat Aruna mundur dari hidupku. Aku pikir, aku akan baik-baik saja tanpa Aruna tapi nyatanya Aruna semakin menganggu pikiranku. Tapi Shella juga butuh aku, aku tidak mau kehilangan bayiku seperti aku kehilangan anak kedua ku.'' Gumam Arya dalam hati dengan segala kegundahannya. Arya lalu naik keatas tempat tidur dan memeluk Shella dari belakang. Shella terkejut sekaligus merasakan sesak, ia baru saja selesai menangis dan pura-pura tidur.
__ADS_1
''Shella sayang, maafkan aku. Kamu tahu kan sejak awal aku menikahimu, aku juga masih mencintai Aruna. Ini semua karena kesalahanku yang tidak bisa memilih dan ingin memiliki keduanya. Maaf kalau apa yang aku lakukan menyakitimu.'' Ucap Arya dengan lembut. Shella kemudian berbalik menghadap Arya.
''Mas, kamu bisa kan belajar melupakannya. Disini ada aku dan anak kita. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu, Mas.''
''Iya Shella, maafkan aku.''
''Mas, bagaimana kalau kita jual rumah ini dan kita beli yang baru. Aku tidak mau tinggal di rumah, dimana terlalu banyak kenangan antara kamu dan Aruna disini. Aku ingin menikmati kehamilan pertamaku dengan tenang.''
''Iya sayang, aku setuju.'' Jawab Arya. Memang seharusnya seperti itu. Shella sangat senang mendengar jawaban dari Arya.
''Terima kasih, Mas.''
''Iya sama-sama.''
''Semoga ini menjadi keputusan terbaik meskipun keputusan ini sangatlah berat.'' Gumam Arya dalam hati. Sesaat setelah Shella terlelap dalam dekapannya. Arya membuka laptop dan memposting rumahnya di situs marketplace.
Sementara itu Daniel masih sibuk di ruang kerjanya. Sejak mengenal dan jatuh cinta dengan Aruna, Daniel lebih serius mengurus perusahaan dan semakin rajin. Tentu saja itu membuat Tuan Hutama bangga kepada Daniel. Semua itu berkat Aruna. Daniel kemudian membuka situs marketplace untuk mengecek langsung penjualan propertinya. Namun ada hal yang membuat Daniel menaikkan alisnya.
''Ini kan rumah Aruna. Dijual? Mau bikin ulah apalagi mantan suami Aruna ini.'' Gumamnya. Daniel kemudian meraih ponselnya, lalu menekan nama Fero.
''Halo, siapa sih ganggu saja?'' kata Fero diseberang sana. Fero sendiri sudah tertidur pulas dan tidak melihat siapa yang meneleponnya selarut ini.
''Bangun Fer!" seru Daniel. Mendengar suara Daniel, mata Fero terbelalak.
''Eh si bos. Ada apa Niel?''
''Disitus marketplace rumah Aruna di jual. Sepertinya itu ulah mantan suaminya. Gue pingin rumah itu beli sekarang juga.''
__ADS_1
''Hah? Serius lo. Udah siap nggak serumah sama Aruna?''
''Aruna pasti senang kalau rumahnya balik lagi. Jadi cepet elo keep dan transaksinya besok pagi di restoran. Mantan suaminya belum tahu wajah elo jadi besok gue mantau dari jauh.''
''Niel, elo seserius ini sama Aruna? Bahkan elo rela beli lagi rumah Aruna yang udah di ambil alih sama mantan suami Aruna?''
''Menurut elo, gue main-main? Jangan cerewet. Besok pagi gue ke rumah elo.''
''Oke-oke bos, siap.'' Jawab Fero. Daniel lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.
Keesokan harinya seperti biasa Aruna membantu menyiapkan sarapan.
''Bi, Tuan Daniel sudah bangun?'' tanya Aruna.
''Tuan sudah sejak pagi tadi pergi, Nya.''
''Kemana Bi?''
''Tidak tahu, Nya. Soalnya tanpa pamit, kebetulan tadi saya juga di belakang.''
''Oh begitu,'' singkat Aruna.
''Kemana dia, pagi-pagi sudah pergi? Pasti menemui pacarnya. Apanya yang berubah? Seorang Daniel bisa berubah itu mustahil.'' Gumam Aruna dalam hati dengan segala prasangkanya.
''Eh-eh, memangnya kenapa kalau dia bertemu dengan pacaranya? Bukan menjadi urusanku juga kan? Sadar Aruna, apa yang kamu pikirkan?'' batin Aruna kembali meronta.
Hari itu Aruna pergi ke kantor dengan naik taksi, sekalian mengantar Zidane ke sekolah. Setelah mengantar Zidane ke sekolah, Aruna segera menuju kantor dan memasuki ruangannya. Seperti biasa merapikan mejanya, setelah itu merapikan ruangan Daniel. Namun ruangan Daniel kosong. Tidak ada tanda-tanda ruangan berantakan seperti biasanya. Aruna lalu mengecek ponselnya, berharap Daniel mengirim pesan atau memberinya perintah untuk melakukan sesuatu. Namun nyatanya tidak ada.
__ADS_1
''Aruna, fokus saja pada pekerjaanmu. Oke.'' Aruna berusaha menenangkan hati dan pikirannya yang mulai berkecamuk tidak jelas.