Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 88 Lebih Agresif


__ADS_3

Selama perjalanan, suasana tampak hening. Aruna kesal sekali dengan apa yang Daniel ucapkan. Sesampainya di kantor, Aruna keluar terlebih dahulu tanpa sepatah kata apapun.


"Daniel, sepertinya kamu harus lebih agresif untuk mendekati Aruna. Seribu wanita bisa kamu taklukkan dengan mudah, masa iya seorang Aruna saja sangat sulit untuk kamu taklukkan." Daniel bermonolog dengan dirinya sendiri. Ia kemudian segera turun dari mobil dan segera menuju ruangannya.


Aruna melakukan aktivitasnya seperti biasa layaknya sebagai seorang sekretaris pada umumnya. Tiba-tiba terdengar sebuah notifikasi pesan masuk.


Gita : Aruna, elo dimana? Gue sama Dinda mampir ke rumah elo niatnya mau ngasih bubur ayam. Eh tapi ada makhluk astral nempatin rumah elo.


Dinda : Aruna, kenapa elo nggak berbagi kabar sama kita? Kenapa elo pendem semuanya sendiri.


Gita : JAWAB GPL


Aruna : Nanti jam makan siang kita ketemu di cafe biasa ya.


Dinda : OK!


Gita : OK


Aruna tidak banyak bicara. Karena untuk membicarakan masalahnya melalui chat hanya akan memakan waktu aja. Akhir-akhir ini mereka memang jarang bertemu, bahkan grup chat yang hanya terdiri tiga orang saja sangat sepi. Ya, Aruna juga memahami kesibukan masing-masing sahabatnya. Dinda sibuk dengan bisnisnya, sementara Gita disibukkan dengan para pasien dan beberapa seminar. Itu terpantau dari story whatsapp keduanya. Aruna selalu melihat story akun media sosial sahabatnya, memastikan bahka kedua sahabatnya baik-baik saja. Dulu saat masih bersama Arya, Aruna sering sekali ia menggunggah aktivitasnya. Namun pasca bercerai akun media sosial Aruna tampak sepi. Aruna kembali meletakkan ponselnya dan kembali fokus pda pekerjaannya.


"Aruna, buatkan aku cappucino panas no sugar." Pinta Daniel saat ia melintasi meja Aruna seraya menuju ruangannya. Ruagan Aruna memang terbuka dan berada tepat di hadapan ruangan Daniel.


"Iya Tuan." Aruna tetap berusaha bersikap profesional di hadapan Daniel. Ia kemudian segera menuju pantry.


"Apa aku keluar saja dari perusahaan ini ya? Aku takut kalau ada gosip tentang diriku dan Tuan Daniel. Apalagi kata-katanya tadi sangat menyebalkan. Bicara suka asal." Gerutunya. Terdengar bunyi teko tanda air sudah mendidih. Aruna menuangkan cappucino instan kedalam cangkir dan segera menambahkan air panasnya. Ia segera menuju ruangan Daniel.


"Tuan!"


"Masuk saja, Aruna." Sahutnya dari dalam. Aruna mendekat kearah meja Daniel dan meletakkan secangkir cappucino panas dihadapannya.


"Silahkan, Tuan."


"Terima kasih."


"Hari ini apa ada pertemuan atau rapat di luar?" tanya Daniel.


"Ada vendor baru ingin mengajak kerja sama Tuan. Kerja sama furniture, dari Tuan Daisuke klien dari Jepang. Satu jam lagi, sebaiknya kita segera bersiap. Hanya itu saja, Tuan. Dan besok kita pembukaan bazar furniture."


"Oke. Sebaiknya nanti kamu pulang normal saja ya. Aku nanti pulang agak malam jadi kamu tidak usah menungguku ya istriku." Daniel mulai menggoda lagi.


"Berhenti memanggil ku seperti itu, Tuan. Aku akan pergi segera dari rumah anda setelah mendapat tempat tinggal baru. Permisi." Ucapnya seraya meninggalkan ruangan Daniel. Daniel mendengus kesal, Aruna sangat sulit di taklukkan.

__ADS_1


Satu jam kemudian mereka menuju sebuah restoran hotel untuk bertemu dengan klien. Seperti biasa, Aruna dalah sekretaris yang cakap dan bisa diandalkan. Rasa kagum Daniel pada Aruna kian bertambah. Selain cantik, Aruna adalah sosok wanita yang cerda, mandiri dan tangguh. Di tambah ia adalah sosok Ibu yang luar biasa pula. Setidaknya itulah deretan kekaguman Danel pada Aruna. Rapat berakhir dengan dealnya kerja sama yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Tuan Daisuke bersama sekretaris dan asistennya segera meninggalkan kamar hotel VIP itu. Dan kini tinggalah mereka berdua disana.


"Mmmm bagaimana kalau kita check ini?" celetuka Daniel.


"AP-APA? Tuan gila ya?" Aruna yang kesal memukul Daniel dengan tasnya Daniel pun tertawa.


"Aku bercanda, Aruna. Baiklah, ayo kita makan siang." Ajaknya seraya bangkit dari sofa. Jantung Aruna hampir saja copot mendengar ucapan Daniel yang semakin berani.


"Maaf Tuan, aku ada janji dengan Gita dan Dinda, Jadi aku tidak bisa menemani anda."


"Ada janji dimana? Aku antar sekalian," tawar Daniel.


"Tidak perlu, Tuan. Aku sudah memesan taksi online."


"Batalkan pesananmu. Aku antar atau aku kurung kamu diatas ranjang sana." Ucapnya dengan tatapan mata seolah ingin menerkam. Mendengar ucapan Daniel, Aruna menelan ludahnya. Jantungnya berdebar. Kali ini ia takut jika Daniel melecehkannya atau bahkan memper...kosanya. Tubuhnya masih membeku.


"Bagimana Aruna?"


"Tuan tidak ada pekerjaan lain apa? Untuk apa ikut denganku?" ucap Aruna tergagap.


"Kamu sendiri yang bilang kalau hari ini hanya meeting dengan Tuan Daisuke. Aku hanya akan mengantarmu saja. Memastikan bahwa kamu sampai dengan selamat." Ucap Daniel. Kalimat terakhir Daniel seperti semilir angin yang menembus gersangnya sudut hati Aruna. Merasa di khawatirkan dan di perhatikan. Akhirnya Aruna menurut. Begitu sampai di tempat parkir, Daniel langsung meminta Aruna duduk di depan.


"Duduk di depan karena tidak ada supir dan aku juga bukan supirmu."


"Kalian bertiga sudah lama bersahabat?"


"Sudah, sejak SMP malah."


"Wah, awet sekali. Mereka juga sudah menikah?"


"Belum."


"Jadi diantara mereka bertiga hanya kamu yang sudah menikah?"


"Iya. Sudah menikah dan sekarang menjadi janda, puas?"


"Jangan tersinggung dulu, Aruna. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Apakah Arya pacar sekaligus cinta pertamamu?"


"Iya. Aku tidak lama berpacaran dengannya dan dia langsung meminangku."


"Hmmm gentle juga ya dia. Apa tidak pernah berhubungan dengan pria lain?"

__ADS_1


"Tidak pernah. Dia yang pertama dan satu-satunya."


"Beruntung sekali Arya bisa menjadi yang pertama untukmu tapi sayang dia juga bodoh."


"Ah sudahlah, Tuan. Aku tidak mau membahasnya lagi."


"Apa yang ingin kamu lakukan setelah ini Aruna? Apa kamu tidak berniat menuntut harta gono-gini?"


Aruna menggeleng pelan. "Untuk apa Tuan? Aku menikah bukan untuk mencari itu. Saat ini dan sampai kapan pun Zidane adalah harta ku yang paling berharga. Aku tidak masalah kehilangan semuanya asal jangan Zidane."


"Kamu memang istri idaman." Ucap Daniel seraya mengelus lembut kepala Aruna. Aruna mendengus melotot kearah Daniel.


"Maaf, aku terbawa perasaan." Jawab Daniel dengan entengnya. Namun di sudut hati Aruna, ia merasakan kenyamanan saat Daniel menyentuh kepalanya.


"Come on, Aruna! Apa yang kamu pikirkan?" gumamnya dalam batin.


Sepuluh menit kemudian, mereka sampai juga dicafe.


"Nanti kalau sudah selesai telepon aku, biar aku jemput."


"Tidak perlu, Tuan, Aku tidak mau mereka bergosip tentang kita. Aku akan kembali ke kantor bersama Gita dan Dinda saja."


"Oke baiklah kalau begitu."


"Teima kasih sudah mengantarku. Hati-hati Tuan dan jangan lupa makan siang." Ucap Aruna. Daniel hanya mengangguk. Ia melajukan kembali mobilnya setelah memastikan Aruna masuk ke dalam cafe.


Ternyata dua sahabatnya sudah menunggu disana. Mereka asyik selfie berdua.


"Hai girls! Sudah lama menunggu?" sapa Aruna. Begitu melihat Aruna, mereka berdua langsung histeris seperti bertemu dengan artis idola.


"I miss you Aruna." Ucap Gita sambil memeluk dan cipika-cipika.


"Gue juga miss you," timpal Dinda melakukan hal yang sama pada Aruna.


"Hmmm gue juga kangen kalian. Sudah pesan makanan?"


"Sudah. Kita udah pesen makanan kesukaan elo." Sambung Gita.


"Eh, selfie dulu yuk! Udah lama nih nggak narsis kita bertiga." Timpal Dinda.


"Boleh," jawab Aruna. Mereka bertiga kompak selfie dengan berbagai pose yang super kocak. Berkumpul bersama para sahabatnya, seketika membuat beban hidup Aruna sirna sesaat.

__ADS_1


Lanjut nggak nih???? Komen, like dan vote yang banyak yaaa, makasih....


__ADS_2