
Keesokan harinya, suasana pagi itu canggug. Sekalipun satu ruangan, Aruna dan Arya tidak bertegur sapa. Arya melihat betul, mata Aruna tampak sembab dan bengkak.
''Sayang, dasiku mana?'' tanya Arya yang sudah terbiasa di layani oleh Aruna.
''Di almari,'' singkat Aruna seraya berlalu membereskan pakain kotor. Arya berusaha mengerti kemarahan Aruna. Ia lalu mengambil dasinya dan memakainya. Namun Arya merasa kesulitan, ia sama sekali tidak bisa memakai dasi. Sebelum menikah, Mamanya lah yang memakaian dasi untuknya. Dan setelah menikah, Aruna lah yang melayaninya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
''Kaos kaki aku yang baru sudah kamu siapkan sayang?'' tanya Arya lagi tanpa rasa bersalah. Arya lupa, ia melakukan semua kebiasaannya seperti sebelumnya.
''Kenapa harus tanya padaku? Cari saja sendiri. Kenapa tidak istri keduamu yang melayanimu?'' ketus Aruna.
''Aruna, aku mohon. Ini masih pagi, jangan mulai lagi. Aku sudah menelepon Shella, aku akan mengajak kalian bertemu untuk membicarakan masalah ini. Sekaligus aku meminta ijin untuk menikahi resmi Shella karena aku menikahinya secara siri.''
Sungguh ucapan Arya, semakin mengoyak batin Aruna. Air matanya baru saja mengering, Arya justru menambahnya dengan meminta ijin menikahi resmi Shella. Aruna tidak menghiraukan ucapan Arya, ia memilih berlalu meninggalkan kamarnya. Aruna lalu melangkahkan kakinya ke kamar Zidane.
''Zidane, sudah siap sayang?'' sapa Aruna saat melihat Zidane sedang menyisir rambutnya.
''Sudah Mami.''
''Sini, Mami bantu rapikan pakaian kamu ya.'' Kata Aruna. Zidane melihat mata Maminya sembab dan bengkak. Tangan kecil Zidane membelai wajah Aruna yang tampak sayu pada pagi itu.
''Mami matanya kenapa? Kok bengkak?'' tanya Zidane dengan kepolosannya padahal Zidane sudah tahu pertengkaran kedua orang tuanya semalam.
''Tidak apa-apa Nak. Mami semalam kurang tidur saja, habis dedek bayinya semakin aktif di perut Mami. Dia nendang-nendang terus, sampai Mami susah tidur.'' Jawab Aruna dengan segala senyum kepalsuannya.
''Mami, Zidane sayang Mami. Zidane tidak akan meninggalkan Mami dan Zidane akan selalu menjaga Mami.''
Aruna benar-benar terharu dengan apa yang di ucapkan oleh Zidane. Dengan mata berkaca-kaca, Aruna lalu memeluk erat Zidane.
''Maafkan Mami, Nak.'' Gumam Aruna dalam hati.
Pagi itu suasana sarapan di ruang makan terasa hampa, tidak ada keceriaan sama sekali.
''Zidane, hari ini Papi antar kamu ya? Biar Mami istirahat di rumah.''
''Iya Papi.'' Singkat Zidane dengan wajah masamnya. Bi Tuti dan Mbak Lasmi, tentu saja mendengar pertengkaran heboh semalam. Mereka menatap sedih kearah Aruna dan Zidane. Bi Tuti lalu segera mengajak Mbak Lasmi ke belakang.
__ADS_1
''Lasmi, aku semalam benar-benar takut mendengar pertengkaran Tuan dan Nyonya. Kasihan sekali Nyonya ya.''
''Iya Bi, aku tidak tega melihat Nyonya seperti itu. Pertengkaran itu terdengar jelas sampai ke kamar kita. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Nyonya. Lagi pula wanita itu murahan sekali, seperti tidak ada laki-laki lain saja.'' Kata Lasmi.
''Iya ya, aku juga penasaran siapa wanita yang sudah berani merusak rumah tangga Tuan dan Nyonya. Padahal selama ini mereka selalu mesra, rukun dan romantis. Aku senang sekali melihat kebersamaan Tuan dan Nyonya. Tapi pagi ini suasana rumah tampak beda.'' Ucap Bi Tuti.
''Kira-kita Den Zidane tahu apa tidak ya Bi? Yang menjadi pikiran ku bagaimana kalau sampai Den Zidane tahu? Pasti dia sangat hancur sekali.''
''Iya, dia masih kecil tapi orang tuanya sedang tidak baik-baik saja. Aku akan mendukung semua keputusan Nyonya. Dan aku akan tetap ikut Nyonya apapun yang terjadi. Aku tidak mau di rumah ini punya Nyonya baru.''
''Begitu juga dengan ku, Bi. Nyonya di rumah ini hanya Nyonya Aruna.'' Tegas Lasmi.
''Betul! Kita doakan yang terbaik untuk semuanya, Las. Dan lebih baik kita pura-pura tidak tahu mengenai ini semua ya, Las. Karena kita tidak berhak ikut campur urusan Tuan dan Nyonya.''
''Iya Bi.''
Setelah sarapan, Arya dan Zidane berpamitan pada Aruna. Arya menyodorkan tangannya pada Aruna. Demi Zidane, Aruna mengecup punggung tangan Arya seperti biasanya dan Arya memberikan kecupan di kening Aruna. Aruna melihat, pagi itu Arya pergi tanpa mengenakan dasi.
''Aku pergi dulu. Nanti kita makan siang di luar ya.'' Kata Arya. Aruna hanya mengangguk saja.
''Mami, Zidane ke sekolah dulu ya.''
''Iya Mami.'' Zidane lalu memeluk dan memberikan kecupan juga di kening Maminya.
''Take care, sayang.'' Ucap Aruna.
''Kamu mengajakku makan siang, hanya karena istri keduamu berada di luar kota. Licik sekali kamu Mas,'' Aruna merutuk dalam hati. Hari itu Aruna menemui Dinda dan Gita di sebuah cafe tempat biasa mereka nongkrong.
''Oh ya Dinda-Gita, penyilidikanya udah ya.'' Kata Aruna membuka obrolan hari itu.
''Kenapa Run?'' tanya Gita.
''Gue udah tahu semuanya. Bahkan dari mulut Mas Arya sendiri.''
''Maksudnya?'' sambung Dinda.
__ADS_1
''Iya, semalam bom waktu itu aku lepaskan. Mar Arya diam-diam sudah menikahi wanita itu saat mereka sedang di Singapura.''
''Apa? Gila banget!" kata Gita yang reflek menggebrak meja.
''Git, seharusnya yang gebrak meja itu Aruna, bukan elo.'' Timpal Dinda.
''Habisnya gue gedek sama suaminya Aruna, gue banyak banget nanganin konseling kayak gini, Din. Di hadapan pasien gue bisa tenang, tapi setelah pasien gue pergi, gue maki-maki suami pasien gue. Lama-lama gue sendiri yang jadi gila.'' Kesal Gita sudah di ubun-ubun.
''Terus gimana Run?'' tanya Dinda.
''Ya akhirnya Mas Arya mengakui sendiri kalau Shella adalah cinta pertamanya. Dia mencintai Shella dan nggak mau ninggalin Shella. Dia juga nggak mau ninggalin gue, sekalipun gue minta cerai.''
''Mas Arya kenapa jadi serakah gini ya? Terus apa yang bakal elo lakuin selanjutnya, Run?'' tanya Dinda.
''Menurut elo, gue harus apa Git? Gue disini tanya sebagai seorang pasien.''
''Aruna, disini sudah jelas Mas Arya pingin poligami. Cuma caranya dia yang salah. Dia selingkuh dan menikah diam-diam tanpa sepengetahuan dan ijin elo. Kalau memang dari awal dia udah ada niat buat poligami, seharusnya dia ngomong sama elo. Bukan sama elo aja tapi sama orang tua elo dan juga orang tuanya. Karena poligami bukanlah sesuatu yang mudah di lakukan, terutama masalah perijinan dan restu istri pertama. Kalau yang Mas Arya lakuin sama aja dengan sebuah penghianatan. Coba kalau elo nggak tanya ke hotel Singapura terus elo nyelidikin, gue yakin Mas Arya nggak bakal ijin dan terus nyembunyiin pernikahan ini. Gue jamin, dia akan tetap bohong sama elo. Sekarang dia ngaku, karena bukti sudah kuat dan akurat. Tapi semuanya kembali sama elo, Run.''
''Aruna, kita sesama perempuan, kita tahu banget gimana sakit hatinya elo. Masih pacaran aja di selingkuhin sakit apalagi ini udah nikah, keterlaluan banget. Jujur, gue mending mundur. Kita sebagai perempuan, harus punya harga diri, Run. Gue yakin kok tanpa Mas Arya, elo bisa! Bukan maksud gue ngompor-ngomporin buat pisah tapi elo terlalu berharga untuk disakiti Aruna. Elo berhak bahagia, daripada bertahan tapi menyakitkan untuk apa? Lebih baik pisah.'' Sahut Dinda.
''Apa yang elo bilang bener, Din. Kita sebagai perempuan harus punya harga diri dan jangan mau di injak laki-laki seperti itu. Memang bener ya kalau ada yang bilang, mending nakal sebelum nikah daripada nakal setelah menikah. Tapi kalau bisa sebelum dan sesudah harus tetap sama.''
''Iya bener banget memang kayak gitu, mending badboy lalu taubat jadi goodboy daripada sebaliknya,'' timpal Dinda.
''Setelah anak ini lahir, gue bakal urus perceraian ini. Setelah itu gue akan memulai hidup baru dengan Zidane, saat ini Zidane kekuatan gue.''
''Aruna, elo yakin? Nggak mau coba perbaiku dulu?'' tanya Gita.
''Gita, apa yang mau di perbaiki? Nggak ada lagi yang bisa di perbaiki, Gita. Ibarat piring pecah, mau elo satuin kayak gimanapun dia tetap nggak bisa utuh. Di selingkuhi diam-diam, terus nikah diam-diam dan yang lebih nyakitin, Mas Arya mau nemuin gue sama Shella, sekaligus mau minta ijin untuk nikah secara resmi karena Mas Arya menikahi Shella masih secara siri. Gila nggak tuh? Gue nggak mau di madu atau di poligami, Git. Sakit! Berbagi suami dan berbagi cinta, gue nggak sanggup. Mending gue mundur!''
''Jujur gue nggak nyangka, kalau semuanya akan berakhir seperti ini. Gue ngomong gitu karena siapa tahu bisa membaik, Run. Tapi kalau memang itu keputusan elo, gue tetap dukung kok. Asalkan elo dan Zidane bahagia.'' Kata Gita.
''Terus gimana cara elo ngomong sama Zidane, Run? Zidane pasti akan terluka, apalagi dia masih kecil juga.'' Sambung Dinda.
''Itu juga yang sedang gue pikiran, Din. Gimana gue jelasin semuanya sama Zidane.''
__ADS_1
''Aruna, mending elo fokus sama baby yang ada di perut elo dulu deh. Setelah lahir, baru elo mikir semua ini.'' Kata Gita. Aruna hanya mengangguk pelan dengan senyum kecilnya. Dinda dan Gita dengan kompak memeluk sahabatnya yang tengah berduka karena sebuah penghianatan.
Bersambung.... Yukkkk like, komen dan votenya ya, makasih 🙏❤️