
Daniel terperangah melihat nilai akademik Aruna.
''Wah, kamu hebat juga ya ternyata. Masuk kelas akselerasi dan jadi sarjana muda. Bahkan usia kita juga tidak beda jauh, hanya selisih tiga tahun saja. Tapi kenapa wanita sepintar kamu bisa terkecoh dengan pria bodoh.'' Kata Daniel.
''Maksud Tuan?'' Aruna menaikkan alisnya mendengar apa yang Daniel ucapkan.
''Oh, maaf-maaf. Maksudnya kamu bodoh sekali mengorbankan karir demi untuk menikah muda. Begitu maksudku,'' jelas Daniel dengan gelagapan. Tentu saja Aruna tidak tahu jika Daniel mengetahui semua masalahnya.
''Namanya juga jodoh, Tuan.'' Kata Aruna.
''Jodoh apanya? Kamu memang bodoh, memilih pria brengsek. Ya, meskipun aku juga brengsek tapi kan aku belum menikah.'' Gumam Aruna dalam hati.
''Oh ya, kamu salin semua schedule di ipad baru ini. Aku memberikanmu ini khusus untuk mengurus semua jadwal dan pekerjaanku. Jadi Fero punya, kamu juga punya.'' Kata Daniel sambil menyodorkan sebuah ipad baru untuk Aruna.
''Fero, elo urus dia ya.'' Perintah Daniel pada Fero.
''Siap Tuan muda.'' Jawab Fero.
''Mmmm Nyo...''
''Panggil Aruna saja.'' Sela Aruna yang melihat Fero bingung harus memanggilnya apa.
''Dan panggil aku Fero saja ya.'' Kata Fero.
''Iya Fero.''
''Baiklah ayo ikut keruanganku. Aku akan menjelaskan kebiasaan baik sampai kebiasaan buruk Tuan muda ini,'' bisik Fero pada Aruna. Aruna hanya tersenyum sambil mengangguk.
''Sudah Fer, jangan banyak bergosip. Sekarang elo pasti seneng punya temen ghibah,'' sahut Daniel dengan tatapan kesalnya. Fero dan Aruna mengabaikan ucapan Daniel, mereka memilih berlalu begitu saja meninggalkan ruangan Daniel. Fero sendiri belum tahu tentang masalah Aruna, bahkan Daniel belum menceritakan apapun tentang Aruna. Karena Daniel selalu mengelak ketika Fero mencoba mencari tahu hubungan keduanya. Namun Fero tetap berpikir positif apalagi yang Fero tahu kalau Aruna sudah bersuami.
''Oh ya Aruna, aku ingin bertanya sesuatu. Ada hubungan apa kamu dan Daniel? Apa sebelumnya kalian sudah pernah bertemu?'' selidik Fero. Bukannya menjelaskan masalah pekerjaan, Fero justru penasaran dengan hubungan keduanya.
''Maaf Fero, kita disini mau bekerja bukan untuk membicarakan ini. Aku kenal Tuan Daniel juga saat di supermarket itu saja. Jadi tolong ya kita tidak usah membicarakan itu lagi. Niat ku kemari untuk bekerja.''
''Oke-oke baiklah. Oh ya lalu anakmu bagaimana kalau kamu bekerja? Suami mu kan sudah mapan dalam pekerjaannya?''
''Aku sudah bilang kalau aku bekerja untuk mengisi waktu karena aku kehilangan anak keduaku. Meskipun begitu, aku tetap akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Jadi cepat beritahu aku, apa saja tugasku.''
__ADS_1
''Baiklah kalau begitu, semoga kamu betah kerja disini.'' Ucap Fero. Setelah hampir satu jam Fero menjelaskan, Aruna lalu kembali ke ruangan Daniel. Fero merasa lega karena sangat mudah mengajari Aruna.
''Permisi Tuan Daniel,'' sapa Aruna saat memasuki ruangan Daniel.
''Iya ada apa?'' tanya Daniel sembari bermain game di ponselnya. Aruna menghela melihat sikap bosnya yang begitu santai.
''Satu jam lagi kita ada meeting bersama Universal Corporation di hotel X, lalu dua jam berikutnya menemani klien dari Singapura Tuan Vincent untuk membahas kerja sama. Jam tiga sore anda bertemu klien ditempat relokasi pembangunan hotel, sekaligus untuk meninjau pembangunan disana. Dan jam 7 malam, anda mendapa undangan gala dinner di acara pernikahan perak Tuan Christoper.'' Jelas Aruna panjang lebar, membuat Daniel hanya bisa melongo. Tentu saja jadwal yang di dapat Fero, sudah disusun oleh Tuan Hutama. Supaya Daniel tidak ada waktu untuk bermain-main.
''APA? Sebanyak itu?''
''Iya Tuan. Ini juga aku dapatkan dari Fero.'' Ucap Aruna.
''Pasti ini dari Papa. Kalau sama Fero, aku bisa lah membatalkan beberapa meeting itu. Tapi ini Aruna, pasti dia akan mengadu pada Papa. Aduh, aku bisa gila kalau disuruh kerja seharian. Ah tidak apa-apalah, aku tetap bisa mencuri waktu untuk bersenang-senang. Yang penting aku hadir sudah cukup.'' Gumam Daniel dalam hati.
''Baiklah, kita berangkat sekarang! Siapkan proposalnya.'' Perintah Daniel.
''Baik Tuan!" ucap Aruna.
Dan kini keduanya sudah berada di hotel X untuk meeting bersama klien pertama. Aruna dengan serius menyalin semua pembicaraan pada buku catatannya, bahkan Aruna merekam semua meeting hari itu. Begitulah cara Aruna bekerja sejak dulu, memastikan dia memiliki data yang benar-benar akurat, bukan sekedar tulisan belaka. Bolpoin kesayangannya itulah yang bisa merekam semua obrolan. Bolpoin yang akhirnya ia keluarkan kembali setelah bertahun-tahun ia simpan di dalam laci.
Dua jam kemudian, Daniel dan Aruna menuju restoran bintang lima untuk menemui klien kedua.
''Selamat siang juga Tuan Daniel. Ini sekretaris barumu?''
''Iya, sekretaris baruku, namanya Aruna.''
''Selamat siang Tuan. Saya Aruna.''
''Nama yang cantik seperti orangnya.'' Ucap Tuan Vincent sambil menjabat tangan Aruna. Namun saat Aruna berusaha melepaskan tangannya, Tuan Vincent enggan melepaskannya. Tuan Vincent terpesona dengan kecantikan Aruna. Namun Aruna merasa tidak nyaman dan merasa risih, Daniel bisa melihat itu. Tentu saja Daniel tahu kalau Tuan Vincent ini adalah pria baruy baya yang mata keranjang.
''Aruna, lengan bajumu ketempelan ulat sepertinya.'' Kata Daniel sambil menarik paksa tangan Aruna dari genggaman Tuan Vincent.
''Hah? Serius Tuan?'' tanya Aruna sambil membolak-balikkkan tangannya.
''Sepertinya ulat daun biasa, sudah duduklah!'' ucap Daniel. Tentu saja itu akal-akalan Daniel, supaya klien mata keranjangnya itu tidka menggoda Aruna. Itulah sebabnya Daniel malas bertemu klien seperti ini. Apalagi sekarang Tuan Hutama malah mengganti Fero dengan Aruna.
''Maaf Tuan, tadi benar-benar seperti ulat. Tentu saja saya tidak akan membiarkan ulat itu berjalan di tangan anda. Karena kebetulan, mobil saya terparkir di bawah pohon.'' Jelas Daniel yang melihat ekspresi kesal Tuan Vincent.
__ADS_1
''Ah iya tidak apa-apa, baiklah kita makan dulu sebelum dingin. Aruna, tidak usah sungkan-sungkan.'' Ucap Tuan Vincent.
''Iya Tuan, terima kasih.''
''Oh ya Aruna, kamu masih sendiri, memiliki kekasih atau sudah menikah?'' tanya Tuan Vincent seraya menyantap makanannya.
''Dia sudah menikah dan memiliki anak, Tuan.'' Sahut Daniel.
''Oh begitu. Karena wajah kamu masih terlihat seperti gadis.'' Kata Tuan Vincent dengan tawa kecilnya.
''Kenapa tidak mencari gadis saja Tuan Daniel? Bukankah kamu juga menyukai para gadis sepertiku?'' kata Tuan Vincent dengan tawanya.
''Tidak Tuan! Mencari yang lebih berpengalaman itu lebih penting. Kalau untuk urusan pekerjaan, bukankah kita harus mencari yang berkompeten dan berkualitas? Jadi bukan hanya sekedar penampilan saja. Nona Aruna ini, dulunya sudah pernah bekerja bersama Papa. Dia adalah sarjana muda dengan segudang prestasi. Tentu bukan modal cantik saja tapi juga otak. Kalau untuk bersenang-senang kita hanya membutuhkan penampilan fisik. Kalau untuk pekerjaan tentu saja otak yang lebih di utamakan. Dan kebetulan Nona Aruna mempunyai paket komplit, selain cantik dia juga cerdas.'' Jelas Daniel panjang lebar. Aruna tidak menyangka Daniel akan memujinya seperti itu.
''Iya benar sekali, anda sangat beruntung memiliki sekretaris seperti Nona Aruna. Bisa anda jadikan hiburan juga kan? Status menikah tidak masalah bukan? Sudah menjadi jamannya sekretaris menjadi hiburan tuannya. Tidak apa-apalah Nona Aruna, bermain-main sebentar dengan bos muda yang tampan ini.'' Ucap Tuan Vincent dengan tawanya.
Daniel sangat geram mendengar ucapan Tuan Vincent. Bukan membahas pekerjaan tapi malah membahas keluar jalur. Daniel sangat kesal mendengar ucapan Tuan Vincent.
''Sebaiknya kita sudah makan siang ini, Tuan. Karena saya harus pergi ke meeting selanjutnya.'' Ucap Daniel sambil menahan amarahnya.
''Tapi kita belum selesai membahas bisnis kita, Tuan.''
''Next time ya, Tuan. Yang pasti kerja sama kita tetap terjalin dengan norma dan attitude yang lebih terjaga.''
Tuan Vincent tersenyum sinis. ''Norma? Attitude? Sudahlah Tuan muda, kita sama-sama pemain tidak usah saling menjatuhkan. Siapa yang tidak tahu Tuan Daniel? Cassanova cinta. Kalau bukan karena kerja keras Tuan Hutama, tidak mungkin anda memiliki modal untuk menjadi cassanova. Saya tidak bisa membayangkan kalau perusahaan jatuh ketangan anda, mungkin perusahaan Tuan Hutama akan menjadi industri perfilman pronogragfi.'' Tukas Tuan Vincent. Daniel memang selalu diremehkan karena tentu saja kenakalan Daniel sudah menjadi rahasia umum di kalangan para klien.
Daniel mengepalkan tangannya dan mengeratkan rahangnya ingin melayangkan pukulan ke wajah Tuan Vincent. Aruna yang melihat itu, menepuk pelan lengan Daniel.
''Maaf Tuan, sepertinya obrolan kita sudah melenceng. Tuan Daniel mungkin diluar sana memiliki cerita seperti itu. Tapi beliau sama sekali tidak pernah kurang ajar terhadap saya. Bahkan ucapan yang jorok dan tidak sopan, tidak pernah beliau lontarkan kepada saya. Sekali lagi maafkan saya Tuan. Sepertinya kami harus pergi untuk menemui klien lagi. Maaf karena Tuan Daniel tidak mempunyai banyak waktu dengan anda. Mungkin lain kali anda dan Tuan Daniel bisa saling menjamu kembali. Sekali lagi maaf Tuan.'' Ucap Aruna dengan lembut dan tetap berusaha tenang.
''Bisakah nanti kita membuat janji bertemu di bar atau club Tuan Daniel?'' tanya Tuan Vincent.
''Tentu saja bisa, Tuan. Saya yang akan mengatur jadwal pertemuannya kembali. Jadi anda dan Tuan Daniel bisa bicara lebih santai. Kalau begitu kami permisi.''
''Ah baiklah Nona Aruna, maaf untuk ucapanku tadi.''
''Tidak apa-apa Tuan, permisi.''
__ADS_1
Daniel dan Aruna lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan restoran itu.