
Daniel yang kebetulan melewati jalan tersebut, segera turun saat melihat mobil Aruna terbalik karena berusaha membanting stir. Semua orang sudah berkerumun di tempat itu. Daniel tentu masih ingat plat nomor mobil Aruna karena kejadian kontraksi Aruna beberapa waktu lalu, membuat Daniel tahu mobil bahkan plat nomor mobil Aruna. Daniel segera menepi menghentikan mobilnya.
''Nyonya Aruna!" gumam Daniel. Daniel segera turun dari mobilnya. Daniel menyibak kerumunan, ia sangat terkejut melihat kondisi Aruna yang masih berada di dalam mobil dengan posisi terbalik.
''Apa sudah ada yang menelepon ambulan?'' tanya Daniel dengan panik.
''Ambulan dan petugas medis segera datang, Tuan.'' Kata Daniel. Daniel lalu meminta bantuan beberapa warga untuk mengeluarkan Aruna dari dalam mobil. Daniel masih bisa melihat tangan Aruna bergerak, namun terlihat darah dari kaki Aruna juga. Setelah penuh perjuangan akhirnya Aruna bisa di keluarkan. Aruna kini dalam pangkuan Daniel.
''Nyonya, bertahanlah! Sebentar lagi ambulan datang.'' Kata Daniel. Aruna dengan setengah sadar masih bisa melihat wajah Daniel.
''Tolong, jemput Zidane di sekolah.'' Kata Aruna dengan terbata hingga akhirnya Aruna tidak sadarkan diri. Aruna sendiri memang sedang menuju ke arah sekolah untuk menjemput Zidane. Namun musibah ini tidak bisa di hindarkan. Semua ini karena beban hati dan pikiran yang menganggu Aruna.
''Nyonya Aruna, bertahanlah!" ucap Daniel sekali lagi. Mobil Ambulan akhirnya pun datang. Daniel ikut masuk ke dalam mobil bersama Aruna. Daniel lalu menelepon Fero.
''Fero, elo dimana?''
''Gue baru aja selesai meeting di kantor. Kan elo yang nyuruh wakilin tadi karena elo ada meeting di luar.''
''Gue minta, elo jemput Zidane.''
''Zidane? Siapa dia?''
''Anak kecil yang berantem sama gue di supermarket. Gue di dalam ambulan, Maminya kecelakaan. Please jemput Zidane.''
''Apa? Kecelakaan?I-iya tapi sekolahnya dimana?'' tanya Fero ikut gugup.
''Sekolah Tunas Bangsa di Jalan Merdeka. Coba elo cari disana. Karena lokasi kecelakaan tidak jauh dari sana. Mobil gue juga masih ada disana.''
''Oke-oke, gue berangkat sekarang.'' Panggilan pun berakhir.
Daniel menatap Aruna yang tengah berjuang di hadapannya. Melihat kecalakaan tadi mengingatkan Daniel pada kecelakaan Mamanya dulu. Jika dulu ia tidak bisa menyelamatkan nyawa Mamanya, setidaknya sekarang ia bisa membantu Zidane untuk menyelamatkan Maminya.
''Nyonya, bertahanlah! Aku sudah meminta sekretarisku untuk menjemput putramu.'' Kata Daniel.
Sesampainya di rumah sakit, Aruna pun segera di tangani. Daniel kembali menelepon Fero.
''Fer, elo dimana?''
''Gue udah di jalan, Niel. Ada apa?''
__ADS_1
''Setelah jemput Zidane, langsung ke rumah Nyonya galak, maksudku Nyonya Aruna. Beritahu keluarganya.''
''Iya Niel, siap laksanakan!" Fero pun mengakhiri panggilannya. Terlihat dokter keluar dari ruangan IGD dengan membawa sebuah berkas.
''Dokter bagaimana keadaan pasien?'' tanya Daniel dengan cemas.
''Pasien masih dalam kondisi kritis Tuan, kondisi bayi di dalam kandungan pasien pun ikut melemah. Kita harus menyelematkan salah satunya. Karena kalau kita biarkan, keduanya tidak tertolong.''
Mendengar ucapan dokter, Daniel semakin panik. Ia tidak bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Daniel frustasi mengacak rambutnya.
''Dokter, apa kita bisa menunggu keluarganya? Saya hanya teman yang kebetulan melintas di lokasi kecelakaan. Tolong usahakan setidaknya sampai keluarganya datang.''
''Baiklah Tuan, kami akan mengusahakan yang terbaik.'' Ucap Dokter. Dokter pun kembali lagi keruangan untuk menyiapkan operasi.
''Fero, kenapa lama banget sih.'' Gumam Daniel.
-
Akhirnya Fero sampai juga di sekolah itu. Ia melihat Zidane menunggu di pos satpam. Fero segera turun dari mobilnya dan menghampiri Zidane.
''Hai Zidane!" sapa Fero. Zidane menatap penuh selidik pada Fero. Tentu saja Zidane masih ingat siapa itu Fero.
''Oh temannya Om nakal itu ya. Ada apa disini?''
''Apa? Kecelakaan? Pasti Om bohong! Om ingin menculikku kan?'' bentak Zidane.
''Tidak Zidane. Mami kamu kecelakaan di ujung jalan sana sebelum menjemput kamu sekolah. Sebaiknya kita kerumah dan memberi kabar Papa kamu. Sungguh Om tidak bohong. Demi Tuhan, Om tidak bohong.''
Dan akhirnya air mata Zidane lolos juga. '' Mami!" tangis Zidane.
''Ayo Om, antar Zidane pada Mami.'' Tangis Zidane.
''Iya, ayo kita kerumah sakit. Tapi kita kerumah dulu ya untuk memberitahu semuanya.''
''Iya Om.''
Akhirnya Fero membawa Zidane ke rumah. Fero juga menunjukkan TKP Aruna kecelakaan. Zidane semakin menjadi saat melihat mobil Maminya di bawa oleh mobil derek. Sesampainya di rumah, Zidane berlari memanggil Bi Tuti dan Mbak Lasmi.
''Bi Tuti, Mbak Lasmi!" panggil Zidane sambil menangis. Bi Tuti dan Mbak Lasmi terkejut mendengar teriakan Zidane yang histeris itu. Bi Tuti lari meninggalkan dapur, Mbak Lasmi lari meninggalkan cucian di belakang.
__ADS_1
''Ada apa Den? Kenapa menangis?'' tanya Bi Tuti.
''Mami kecelakaan, Bi. Ayo kita ke rumah sakit. Telepon Oma-Opa, Papa dan semuanya.'' Ucap Zidane sambil terisak.
''Bi, Nyonya Aruna mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit.'' Sahut Fero.
''Tuan siapa?'' tanya Bi Tuti yang sudah menangis.
''Saya teman dari seseorang yang menyelamatkan Nyonya Aruna. Sebaiknya kita segera ke rumah sakit.'' Kata Fero yang sempat bingung bagaimana menjawabnya.
''Ba-baik Tuan.'' Jawab Bi Tuti.
''Lasmi, kamu telepon Tuan Arya ya. Biar aku yang telepon Oma dan Opa Zidane.'' Kata Bi Tuti.
''Iya Bi.''
Selama di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Lasmi sama sekali tidak bisa menghubungi Arya.
''Bagaimana Lasmi? Apa Tuan bisa di hubungi?'' tanya Bi Tuti.
''Tidak bisa Bi.''
''Tuan ini kemana sih? Keadaan genting begini, kenapa tidak bisa di hubungi.'' Kata Bi Tuti dengan cemasnya.
''Mbak Lasmi, tidak perlu menelepon Papi lagi. Papi tidak sayang Mami. Papi jahat!" Sahut Zidane yang duduk di depan bersama Fero. Bi Tuti dan Mbak Lasmi terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Zidane, begitu pula dengan Fero.
''Sebenarnya ada apa ini? Kenapa juga Daniel selalu kebetulan berada di posisi Nyonya Aruna tertimpa musibah.'' Gumam Fero dalam hati. Orang tua Aruna dan Arya, Gita dan Dinda, segera meluncur ke rumah sakit begitu mendapat kabar dari Bi Tuti. Mereka begitu panik dan khawatir dengan kondisi Aruna.
Sedangkan Daniel masih duduk sendiri dengan segala kecemasannya. Kemudian, datanglah dua orang polisi menghampiri Daniel.
''Tuan, ini semua barang milik Nyonya Aruna yang sudah kami evakuasi.''
''Terima kasih, Pak.''
''Sama-sama Tuan. Kalau begitu kami permisi. Kami juga sudah melakukan evakuasi di TKP dan dari rekaman CCTV, murni kelalaian Nyonya Aruna.''
''Iya terima kasih untuk kerja samanya.'' Kata Daniel yang benar-benar bingung harus bagaimana dan mengucapkan apa.
''Kalai begitu kami permisi.''
__ADS_1
''Iya Pak silahkan.''
Bersambung....