Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 60


__ADS_3

Kena kamu. Tau rasa aku kerjain. Bisik Clara dalam hati.


Bram mengerjap - ngerjapkan matanya, kemudian mengucek matanya berkali - kali. Lalu menggeleng - gelengkan kepalanya setelah itu. Berharap dia akan mengingat sesuatu walau secuil. Tapi hasilnya, malah nihil.


Sementara Clara semakin tersenyum puas karena sudah berhasil mengerjai atasannya itu. Semalam, memang Bram sendiri yang datang ke kamar Clara dalam keadaan tidak sadar. Saat Clara membuka pintu kamarnya, Bram langsung memeluk Clara. Sambil menyebut - nyebut nama Aruna. Setelah itu Bram pun tak sadarkan diri. Karena kondisi Clara juga setengah sadar, Clara pun membaringkan Bram di ranjangnya. Setelah itu, Clara pun tak sadarkan diri karena efek minuman keras itu. Alhasil mereka berdua tertidur di ranjang yang sama.


"Heh, gadis aneh. Jangan coba - coba menipuku ya? Aku bisa melaporkan kamu atas kasus penipuan." Ancam Bram. Tetapi Clara malah tertawa.


"Ha ha ha ... Penipuan apa? Mana ada polisi yang mau mendengarkan laporan aneh Bapak. Dimana - mana ya Pak, kaum lelaki yang selalu melecehkan kaum wanita. Bukan sebaliknya."


"Haaah ... Terserah kamu. Dasar cerewet." Kemudian bergegas turun dari ranjang itu. Lalu berjalan keluar dari kamar Clara.


Clara pun tertawa seiring dengan menutupnya pintu kamarnya. Dia begitu puas bisa mengerjai Bram. Sejujurnya, Clara sedikit kesal dengan sikap dingin Bram. Sehingga timbul ide di kepalanya untuk mengerjai atasannya yang stress itu.


"Belum kenal Clara siiiiih ..." Clara tertawa puas.


.


.


Sementara itu, di lain kota. Papa Danu akhir - akhir ini merasa kesehatannya mulai agak terganggu. Ketiadaan kedua puteranya di sisinya saat ini membuatnya merasa kesepian.


Pagi ini Papa Danu memutuskan untuk pergi sendiri menemui dokter di sebuah rumah sakit terdekat. Karena dokter yang ditemuinya adalah dokter keluarganya, hingga tidak membutuhkan waktu lama untuk Papa Danu menemui dokter itu.


Tidak ada masalah dengan kesehatannya. Disarankan hanya membutuhkan banyak istirahat. Jangan terlalu capek dan jangan terlalu banyak pikiran. Tidak ada masalah yang serius dengan kesehatannya. Hanya butuh istirahat yang cukup dan makan yang teratur.


Tidak membutuhkan waktu lama, Papa Danu pun telah selesai memeriksakan kesehatannya. Dokter sudah memberinya resep obat. Dan nanti dia akan meminta tolong supirnya untuk menebusnya di apotik.


Kini Papa Danu tengah berjalan menuju tempat parkir. Mungkin karena kurang memperhatikan jalan hingga tanpa sengaja dia menabrak seseorang.


"Maaf, maafkan saya. Anda tidak apa - apa?" Papa Danu memusatkan pandangannya pada seorang pria paruh baya yabg tanpa sengaja ditabraknya itu. Tetapi sejurus kemudian, Papa Danu tersenyum senang saat melihat mengenali pria paruh baya itu.


"Burhan?" Papa Danu menebak. Jika dia tidak salah mengenali.


Pria yang bernama Burhan itu pun tersenyum saat melihat Papa Danu.


"Danu? Kamu Danu kan? Teman lamaku?" Pria yang bernama Burhan itu pun memastikan jika tidak salah mengenali.


"Iya, aku Danu."


"Astaga. Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya?"


Mereka pun saling berpelukan melepas rindu sesama teman lama yang sudah bertahun - tahun lamanya tidak saling bertemu.


"Apa kabar Burhan?" Tanya Papa Danu saat melepaskan pelukannya.


"Alhamdulillah, aku baik - baik saja. Kamu sendiri apa kabarmu?"


"Seperti yang kamu lihat. Aku baik - baik saja."


"Oh ya, sedang apa kamu di rumah sakit ini? Katamu, kamu baik - baik saja."


"Hanya pemeriksaan rutin. Biasalah, usia kita kan sudah tidak muda lagi. Jadi harus sering - sering kontrol. Oh ya, kalau kamu sendiri? Sedang apa di rumah sakit ini?"


"Aku datang untuk menemui puteriku. Dia bekerja di rumah sakit ini. Dia seorang dokter."


"Oh ya? Waaah ... Pasti putrimu itu anak yang cerdas sampai bisa menjadi seorang dokter." Papa Danu terlihat sumringah.

__ADS_1


"Kamu sendiri, kenapa malah datang sendiri. Kenapa tidak datang bersama putrimu."


Papa Danu terkekeh. "Aku tidak punya seorang putri. Aku hanya punya dua orang putra. Dan sekarang mereka lagi ada di luar kota."


"Oooh ..." Pak Burhan mengangguk paham.


"Papa ..." Tiba - tiba terdengar suara lembut menyapa Pak Burhan. Pemilik suara lembut itu tengah berjalan menghampiri Pak Burhan.


"Hai Nak ... Oh ya, Danu. Kenalkan, ini putriku." Pak Burhan memperkenalkan putrinya. Yang kini telah mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Papa Danu sambil tersenyum ramah.


"Waaah ... Putrimu sangat cantik ya?" Puji Papa Danu sembari menerima uluran tangan wanita cantik itu. Kemudian kembali menarik uluran tangannya setelah bersalaman.


"Namanya Sarah. Dia seorang dokter kandungan." Terang Pak Burhan. Papa Danu pun tiba - tiba mengernyit, seakan telah mengenali Sarah.


"Sepertinya kita pernah bertemu." Papa Danu mencoba menebak. Sarah pun tersenyum manis.


"Sudah Pak. Kita sudah pernah bertemu. Waktu saya datang ke rumah Bapak untuk memeriksa kandungan menantu Bapak." Terang Sarah malu - malu.


"Ooooh ... Ya, ya, benar. Kamu temannya Randa kan?"


"Iya, benar Pak."


"Jangan panggil Pak, dong. Panggil saja Om."


Sarah tertawa kecil sembari menyelipkan surai panjangnya ke telinga.


"Jadi kalian ini sudah pernah bertemu ya. Oh ya, putramu sudah menikah?" Tanya Pak Burhan penasaran.


"Yang bungsu. Tapi skarang, dia sudah lama bercerai. Kalau yang sulung masih singgel. Dia belum menikah, bahkan belum punya pacar."


"Oh ya?"


"Oh ya, kapan - kapan kita ketemu lagi ya? Kalau sempat, mampirlah ke rumahku. Bawa putrimu ini. Siapa tau putrimu ini bisa berteman dengan putraku." Pinta Papa Danu.


"Pasti. Kebetulan, putriku ini juga masih sendiri."


"Oh ya?" Papa Danu pun terkejut. Kemudian memandangi Sarah dengan senyum lebarnya.


.


.


Siang hari, di lain kota. Bram dan Dicko berkunjung ke outlet mereka di Mall itu untuk terakhir kali. Sebab esok pagi mereka akan kembali ke kotanya.


Kehadiran Bram dan Dicko cukup membuat karyawati dan pelanggan yang mampir cukup heboh. Karena sebagian besar pelanggan yang datang adalah kaum hawa. Kehadiran dua pria tampan itu cukup menyita perhatian. Hingga hari itu mendadak banyak pelanggan yang datang. Entah untuk membeli atau hanya untuk sekedar mencuri - curi pandang pada dua pria rupawan itu.


Setelah itu, keduanya memutuskan untuk makan siang di restoran yang tersedia di dalam Mall itu sendiri.


"Kakak mau pesan apa?" Tanya Bram sambil membuka lembaran buku menu di tangannya itu.


"Terserah kamu." Jawab Dicko singkat sambil sibuk dengan ponselnya. Apalagi yang dilakukannya saat ini kalau bukan saling mengirim pesan chat dengan kekasih hatinya.


Di saat Bram tengah sibuk memilih menu, tiba - tiba seseorang datang dan langsung mengambil duduk di sebelah Bram.


Clara.


Wanita itu tersenyum lebar. Dia terlihat santai seakan sudah sangat akrab dengan Bram dan Dicko. Kehadirannya membuat Bram sangat terganggu.

__ADS_1


"Heh, gadis aneh. Sedang apa kamu disini?" Tanya Bram ketus.


"Mau makan. Aku juga lapar dong. By the way, makasih ya sudah mau mentraktirku hari ini."


"Siapa yang mau mentraktirmu? Bayar sendiri. Enak saja." Desis Bram sambil menatap tak suka pada Clara.


Namun Clara malah tersenyum lebar. "He he he, jangan gitu dong Pak. Apa perlu aku cerita ke orang - orang apa yang Bapak lakukan semalam? Hem?" Clara mencoba menakut - nakuti Bram.


Bram pun terlihat salah tingkah. Dan hanya bisa menelan salivanya kasar.


"Dasar gadis aneh. Ya sudah, nih, pesan sendiri punyamu." Bram melemparkan buku menu itu pada Clara.


Dicko tampak tidak terusik dengan perdebatan keduanya. Dia semakin asik dengan ponselnya. Sampai tiba - tiba, Dicko bangkit dari duduknya. Dan hendak pergi.


"Kalian makan saja berdua. Aku ada urusan sebentar." Ucap Dicko sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Bram dan Clara berdua di restoran itu.


Bram tau kakaknya itu hendak kemana. Dan Bram hanya bisa kembali menguatkan hatinya.


.


.


Karena esok hari mereka akan kembali terpisah oleh jarak dan waktu, Dicko dan Aruna pun memilih menghabiskan waktu berdua. Hari ini, Dicko memilih mengendari sendiri mobil yang di pinjamnya dari Bimo. Mereka menghabiskan waktu dengan berkeliling kota. Hingga hari menjelang malam.


Dan malam ini, mereka memilih memarkirkan mobil di pesisir pantai. Sembari menikmati suasana di pantai itu sambil bercumbu mesra di dalam mobil.


"Jika aku memintamu kembali, apa kamu akan datang padaku?" Tanya Aruna saat mereka mengakhiri ciumannya. Aruna menyandarkan kepalanya di dada bidang Dicko sembari merangkul pinggang pria itu dengan erat.


"Tentu saja aku akan datang. Dan secepatnya, aku akan menjadikanmu milikku. Aku tidak sanggup harus terpisah lagi darimu." Ucap Dicko sambil mengusap lembut puncak kepala Aruna. Dan sesekali mengecupnya.


"Bagaimana jika seandainya ayahmu tidak setuju."


"Jangan pesimis begitu. Aku yakin Papa akan setuju."


"Aku sangat takut jika nanti terjadi sesuatu. Entah kenapa, perasaanku mendadak tidak enak."


"Jangan terlalu cemas berlebihan. Yakinlah, semua akan baik - baik saja."


Entah kenapa, perasaan Aruna mendadak cemas. Apa penyebabnya, Aruna bingung. Dia terlalu khawatir jika ada hal buruk yang akan terjadi. Atau mungkin saja, apa yang dikatakan Dicko itu benar. Dia hanya merasakan kecemasan yang berlebihan dan tanpa alasan.


Tetapi semoga, semua akan baik - baik saja. Seperti yang mereka harapkan.


.......


.......


.......


...-Bersambung-...


Semoga saja Papa Danu tidak merencanakan sesuatu ya guys 🤧


Saranghae readers ❤️❤️


Salam hangat


Otor Kawe

__ADS_1


__ADS_2