Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 9 Pertemuan Kedua


__ADS_3

Tepat jam 9 malam Arya baru saja tiba dirumah. Sedari tadi Aruna menunggu kedatangan Arya. Arya mengendap perlahan masuk ke dalam kamar. Arya sangat terkejut, mendapati Aruna terduduk di bibir ranjang.


''Sa-sayang, kamu belum tidur.'' Ucap Arya tergagap.


''Belum Mas, aku masih menunggu kamu. Habisnya dari tadi siang, kamu sulit sekali di hubungi.''


''Maaf ya sayang, aku sibuk sekali. Pekerjaanku sangatlah banyak. Memang ada yang penting ya?''


''Setidaknya kamu bisa mengirim pesan kalau memang kamu tidak bisa mengangkat teleponku, Mas. Apa aku sudah bukan menjadi prioritas utama kamu ya?''


''Sayang, kamu jangan salah paham gitu dong. Kamu tetap proritas utama aku tapi tadi beneran deh aku sibuk sekalu hari ini. Maaf ya sayang, sudah membuatmu khawatir. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Sesibuk apapun aku, aku akan berusaha membalasnya.'' Arya kemudian mendekap erat Aruna. Namun Aruna mencium aroma parfum beda, bukan parfum yang biasa ia pakai atau Arya pakai. Tetapi Aruna berusaha menyingkirkan pikiran buruk itu.


''Sayang, maaf ya? Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?'' tanya Arya seraya melepaskan pelukannya.


''Besok kita makan siang di luar sama-sama ya?''


''Oke siap!'' jawab Arya. Aruna lalu membantu melepaskan jas suaminya. Saat Aruna melepaskan dasi milik Arya, Aruna melihat kancing kemeja Arya hilang.


''Lho Mas, kancing kemeja kamu kemana?'' tanya Arya. Arya terdiam, ia tahu kancing kemejanya lepas, saat Shella menyerangnya dengan brutal tadi.


''Eee ini tadi, aku juga tidak tahu sayang. Apa tidak sengaja nyangkut sesuatu ya? Soalnya aku hari ini berinteraksi dengan banyak orang.'' Kata Arya mencoba menjelaskan setenang mungkin pada Aruna.


''Oh begitu, oke fine.'' Ucap Aruna dengan senyum penuh arti.


''Ya sudah, aku mandi dulu ya?''


''Iya Mas.'' Jawab Aruna. Aruna lalu mencium kembali aroma parfum di kemeja Arya, Aruna berharap besok ia tidak mencium aroma parfum yang sama lagi. Kalaupun berinterkasi dengan banyak orang, tidak mungkin hanya satu aroma parfum saja yang aromanya sangat kuat.


-


Keesokan harinya di meja makan saat sarapan, Zidane menceritakan kekesalannya saat berebut snack dengan Daniel.


''Om-Om itu sungguh menyebalkan, Pi. Masa iya dia tega berbuat curang.'' Zidane mengadu pada papinya.


''Wah, Papi penasaran sekali dengan Om-Om itu. Kalau saja Papi ikut bersama kalian, pasti Papi akan lawan Om itu demi kamu.'' Ucap Arya seraya tertawa.

__ADS_1


''Tapi Mami berhasil melawan Om itu, Pi. Mami memelintir tangan Om itu sampai kesakitan.'' Cerita Zidane dengan begitu antusias.


''Kamu sungguh melakukannya sayang?'' tanya Arya seraya memgalihkan pandangannya pada Aruna.


''Iya Mas. Aku kesal saja, masa iya sama anak kecil tega berbuat curang.'' Jawab Aruna.


''Sayang, kamu sedang hamil lho. Bagaimana kalau orang itu jahat dan dia berbalik mencelakai kamu? Aku harap kamu jangan bersikap sembrono seperti itu lagi ya. Panggil saja security kalau ada apa-apa. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa."


"Iya Mas, aku mengerti kok. Aku cuma reflek saja. Oh ya kamu tidak lupa dengan janji kita nanti kan?"


"Tidak sayang. Nanti kamu tunggu di restoran yang kamu pilih saja ya. Biar aku yang menjemput Zidane."


"Iya Mas."


-


Akhirnya Aruna sampai juga di restoran yang ia pilih. Ia lalu menuju ke meja yang sudah ia pesan, sembari menunggu suami dan anaknya.


"Maaf Nyonya, ini meja saya." Suara seseorang yang tidak asing di telinga Aruna. Aruna kemudian menoleh dan mendongak. Daniel!


"Astaga, sungguh musibah bertemu denganmu kembali Tuan." Keluh Aruna.


"Begitu juga dengan ku. Maaf ya Nyonya, ini mejaku. Aku sudah reservasi tempat disini." Ucap Daniel dengan tegas.


"Tapi aku duluan disini. Dan disini tidak ada tulisah reservasi. Rupaya anda keras kepala sekali ya? Bukan hanya tidak mau mengalah pada anak kecil tapi anda juga tega sekali menghardik ibu hamil."


"Astaga, menghardik bagaimana? Aku sudah pesan meja ini. Memangnya yang namanya emak-emak itu memang rempong dan sangat menyebalkan." Gerutu Daniel.


"Jaga ucapanmu, Tuan. Anda juga terlahir dari emak-emak." Kata Aruna sambil menunjuk wajah Daniel.


"Iya tapi emak ku tidak sebar-bar dan segalak dirimu, Nyonya. Jadi tolong sebaiknya anda pindah," kata Daniel.


"Aku tidak mau! Kata pelayan ini, meja nomor 69 ini kosong." Ketus Aruna.


Daniel mengehela nafas besar. "Ngotot sekali ya anda ini. Baiklah, aku akan memanggil pelayan untuk memastikan."

__ADS_1


"Silahkan saja," ketus Aruna. Daniel kemudian memanggil salah satu pelayan. Dan datanglah salah seorang pelayan pria.


"Tolong katakan padaku, meja mana yang kosong?" tanya Daniel pada pelayan.


"Saat ini yang kosong hanya meja nomor 96 Tuan karen hari ini full boked." Jelas pelayan itu.


"Lalu meja nomor 69 ini dipesan atas nama siapa?" tanya Daniel.


''Untuk meja 69 sudah dipesan atas nama Tuan Daniello Alexander.'' Jelas pelayan itu.


''Oke baiklah, terima kasih. Silahkan kembali.''


''Sama-sama Tuan, permisi.'' Ucap pelayan itu seraya undur diri.


''Bagaimana Nyonya? Sudah jelas bukan? Daniello Alexander itu namaku. Anda salah meja, jadi silahkan menuju meja 96. Anda pasti sedang banyak pikiran ya? Makanya tidak fokus.'' Ledek Daniel. Aruna tak bisa berkutik karena ia memang tidak fokus, memikirkan parfum yang menempel di pakaian suaminya. Aruna mengepalkan kedua tangannya dan mengeratkan rahangnya, menatap kesal pada Daniel. Sementara Daniel tersenyum penuh kemenangan. Aruna lalu beranjak dari duduknya dan pindah ke meja nomor 96 di ujung pojokan.


Daniel menoleh kebelakang, melambaikan tangannya sembari tersenyum meledek kearah Aruna. Aruna hanya bisa menatap kesal dan membuang muka melihat wajah Daniel yang begitu memuakkan.


Tak lama kemudian, Aruna melihat seorang wanita seksi menghampiri Daniel. Keduanya saling berpelukan dan menyapa dengan kecupan di pipi. Aruna mendecih melihat Daniel bersama dengan wanita yang tampak bergelayut manja dengannya.


Aruna kemudian memanggil pelayan dan segera memesan makanan kesukaan suami dan anaknya. Setelah selesai memesan, terlihat Arya dan Zidane datang.


''Mommy!" seru Zidane seraya berlari kecil begitu melihat Aruna. Daniel terkejut melihat Zidane. Daniel lalu melambaikan kecil tangannya saat melihat Zidane. Namun Zidane tentu saja membuang muka saat Daniel berusaha menyapanya. Zidane tentu saja masih ingat dengan sosok Daniel, yang sudah merebut snacknya. Daniel juga melihat sosok Arya, suami Aruna.


''Oh itu suaminya. Anak kecil itu sama menyebalkannya dengan Ibunya,'' gumam Arya dalam hati.


Aruna kemudian memberikan pelukan pada Zidane. Arya lalu memeluk istrinya dan memberikan kecupan di kening istrinya.


''Sudah lama menunggu, sayang?'' tanya Arya.


''Tidak juga, Mas. Aku sudah memesan makanan untuk kita.'' Ucap Aruna seraya melepaskan pelukannya.


''Iya sayang.''


''Tidak ada aroma parfum seperti kemarin. Jadi aku pasti salah sangka,'' gumam Aruna dalam hati.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2