Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 31 Gadis Masa Lalu


__ADS_3

''Aruna, syukurlah kamu sudah sadar, Nak. Mama bahagia sekali." Kata Nyonya Galuh sembari memeluk putrinya.


"Mama juga bahagia sekali, Nak. Alhamdulillah akhirnya kamu sadar." Sahut Nyonya Ratih.


"Tapi Mah, untuk apa Aruna sadar tapi Zio sudah pergi meninggalkan Aruna. Saat Aruna bangun, Zio sudah tidak ada." Aruna kembali meneteskan air mata jika mengingat Zio.


''Kami juga sangat terpukul karena Zio tidak bisa di selamatkan. Kami semua memilih keputusan itu karena Zidane masih sangat membutuhkan kamu begitu juga dengan Arya.'' Ucap Nyonya Ratih.


''Iya Nak, kami semua merasa kehilangan. Mama tahu ini sangat berat untuk kamu tapi perlahan kamu harus belajar mengikhlaskannya ya, begitu juga dengan kami. Kamu harus kuat dan semangat untuk Zidane dan Arya.'' Sambung Nyonya Galuh.


''Iya Mah, aku pasti akan kuat dan semangat untuk Zidane tapi kalau untuk Mas Arya, aku tidak bisa menjanjikan itu.'' Gumam Aruna dalam hati. Nyonya Ratih lalu menyeka air mata menantunya dengan lembut.


''Aruna, kami disini ada bersama kamu, sayang. Kami disini semua menyayangi kamu.'' Kata Nyonya Ratih.


''Terima kasih ya, Mah.''


''Sama-sama sayang.'' Ucap Nyonya Ratih. Malam itu Aruna cukup terhibur dengan kedatangan orang tua dan menantunya. Setidaknya ia bisa sedikit melupakan rasa sakitnya karena sikap Arya. Apalagi Zidane juga ikut bersama mereka dan itu semakin menambah semangat Aruna. Namun ada hal lagi yang menganggu pikiran Aruna. Aruna mendengar percakapan Arya dan Papanya, tentang biaya rumah sakit yang sudah lunas.


''Lunas? Siapa yang melunasi biaya rumah sakit ku? Papa Jodi bukan, bahkan Papaku sendiri juga bukan.'' Gumam Aruna dalam hati. Aruna kembali mengingat kejadian kecelakaan waktu itu. Aruna akhirnya mengingat sebuah kejadian, dimana Daniel yang terakhir kali ia lihat menyelamatkannnya. Aruna juga ingat, ia meminta pada Daniel untuk menjemput Zidane di sekolah.


''Daniel si playboy itu? Dia? Dia menyelamatkan aku. Apa dia yang membayarnya? Tapi rasanya tidak mungkin. Mas Arya juga tidak bertanya apa-apa denganku apalagi menyinggung soal Daniel. Apa setelah membawaku ke rumah sakit Daniel pergi?'' gumam Aruna dalam hati dengan segudang tanda tanya.


''Biar aku cari tahu nanti. Yang jelas setelah aku pulih, aku akan langsung mencari kerja dan segera mengurus perceraianku. Aku memang masih mencintai Mas Arya. Bahkan tidak mudah untuk melupakan Mas Arya tetapi aku hanyalah manusia biasa. Aku tidak sanggup jika harus di madu. Keputusan ini memang sangat berat tapi jika aku tetap bertahan, itu akan lebih menyakitkan. Disaat seperti ini saja Mas Arya masih memikirkan wanita itu tanpa menjaga perasaanku. Bagaimana jika aku kembali sehat? Tentu sudah pasti kamu akan lebih mengabaikan aku dan Zidane.'' Ucap Aruna dalam hati.


Dan setelah hampir dua minggu di rawat di rumah sakit, akhirnya Aruna di perbolehkan pulang. Tempat yang pertama kali Aruna kunjungi adalah pemakaman Zio. Aruna pergi ke pemakaman dengan di temani oleh Arya. Menatap pusara putra keduanya itu, membuat air mata Aruna tidak bisa berhenti mengalir.


''Maafkan Mami, sayang. Maafkan Mami yang tidak bisa menjaga kamu. Seandainya waktu bisa Mami putar kembali, lebih baik Mami berada di rumah saja. Maafkan Mami, Zio.'' Isak tangis Aruna sambil memeluk batu nisan Zio. Arya hanya bisa menatap Aruna yang terus menangis tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata sedikitpun.

__ADS_1


''Sayang, sudah ya jangan berlarut-larut. Kita sudah lama disini. Sebaiknya kita pulang. Apalagi kamu baru saja keluar dari rumah sakit, kamu butuh waktu istirahat.''


''Semua ini karena kamu, Mas. Apa kamu tidak sadar sudah mengoyak pikiran batinku?''


''Kenapa kamu menyalahkan aku? Aku sudah menawarkan diri untuk menjemput kamu. Tapi kamu sendiri kan yang menolak?''


''Seharusnya kamu tahu apa alasan ku menolak? Kamu pikir hati aku tidak sakit akan berhadapan dengan wanita yang sudah merebut suamiku.''


''Tidak ada yang di rebut, Aruna. Aku masih tetap suami mu.'' Kata Arya. Aruna lalu berdiri dengan kesal, ia mendorong Arya. Aruna lalu memilih pergi meninggalkan pemakaman Zio.


''Aruna, kamu mau kemana? Kamu baru sembuh.'' Teriak Arya, namun Aruna tidak peduli. Arya kemudian mengejar Aruna. Aruna terus berlari sampai ia mendapatkan taksi. Dan Arya tidak berhasil mengejar Aruna. Di dalam taksi, Aruna hanya bisa menangis. Arya lalu kembali menuju mobilnya dan segera mengejar Aruna.


''Nona, kita mau kemana?'' tanya supir taksi.


''Jalan saja, Pak.'' Jawab Aruna yang menangis dalam diamnya. Akhirnya Aruna memutuskan pergi ke sebuah taman bermain. Taman hibura tempat dimana dirinya, Arya dan Zidane menghabiskan waktu bersama. Aruna segera turun dari taksi dan memasuki arena taman hiburan itu. Aruna berjalan sendirian di tengah keramaian. Ia lalu memilih duduk di dekat danau buatan yang terhampar luas. Aruna memejamkan matanya, teringat jelas semua kenangan indah itu. Namun semua itu hanya akan menjadi sebuah kenangan yang tidak akan pernah terulang kembali.


''Iya Fer, ada apa? Gue capek kerja.'' Jawab Daniel dengan santainya.


''Elo dimana sih? Akhir-akhir ini sering banget ngilang dan nggak kasih kabar. Nih bokap elo, nyariin elo.''


''Bilang aja sama Papa kalau gue pergi ke makam Mama, Papa pasti nggak bakal marah lagi. Oke, jadi jangan ganggu gue dulu.'' Daniel lalu mengakhiri panggilannya. Fero hanya bisa menghela nafas kasar karena sahabatnya itu selalu menjadi beban untuknya. Beban untuk terus mencari akal dengan sebuah narasi yang harus ia berikan pada Tuan Hutama, demi kepentingan pribadi Daniel.


Daniel lalu melanjutkan langkahnya menuju sebuah danau. Ia menatap hamparan danau yang begitu luas. Daniel tersenyum saat melihat sebuah keluarga yang menaiki perahu angsa di danau tersebut. Satu keluarga itu terlihat bahagia dengan senyum yang merekah. Dan itu mengingatkan Daniel akan kenangannya bersama Mamanya. Masa kecil Daniel lebih banyak ia habiskan dengan Mamanya karena tentu saja Papanya sibuk dengan mengurus perusahaan.


Saat pandangan Daniel mutar 90 derajat, dari kejauhan ia melihat sosok yang tidak asing baginya.


''Bukannya itu Nyonya Aruna? Untuk apa dia disini?'' gumam Daniel. Saat Daniel hendak menyapanya, tiba-tiba langkahnya terhenti.

__ADS_1


''Jangan Daniel. Saat ini dia butuh waktu untuk sendiri.'' Ucap Daniel dalam hati. Daniel lalu mengabaikan Aruna dan tetap fokus pada keindahan danau itu. Namun Daniel tiba-tiba teringat sebuah kejadian. Kejadian saat ia berusia 9 tahun. Kejadian di taman hiburan ini, saat itu Daniel menangis karena terpisah dari Mamanya di tengah keramaian. Saat itu Daniel benar-benar kebingungan mencari Mamanya. Sampai akhirnya ada seorang gadis yang menyapanya. Gadis kecil yang usianya tiga tahun lebih tua dari Daniel itu, lalu membantu Daniel untuk mencari Mamanya.


*Flashback On*


''Kamu tenang ya, jangan menangis lagi. Aku akan membantumu untuk menemukan Mama kamu. Dimana terkahir kali kamu terpisah dengannya?'' ucap Gadis itu. Daniel saat itu tidak banyak bicara, ia hanya menunjukkan tangannya ke arah wahana baling-baling. Gadis itu lalu menggandeng erat tangan Daniel, menerobos keramaian untuk mencari Mamanya. Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya Daniel berhasi menemukan Mamanya.


''Itu Mamaku!" seru Daniel pada gadis itu.


''Panggilah Mama kamu. Mama kamu pasti juga sedang khawatir.'' Ucap gadis itu.


Daniel mengangguk lalu memanggil Mamanya. ''Mama!" teriak Daniel dengan sekuat tenaganya. Daniel lalu berlari memeluk Mamanya.


''Daniel, kamu kemana saja Nak?''


''Daniel mencari Mama. Maafkan Daniel ya Mah. Untung saja ada yang membantu Daniel mencari Mama.''


''Siapa nak?'' tanya Nyonya Diana.


''Itu Mah!" Daniel menoleh seraya menunjuk kearah gadis itu, namun gadis itu sudah tidak ada disana.


''Mana Daniel? Mama harus berterima kasih padanya.''


''Sepertinya dia sudah pergi, Mah.'' Kata Daniel. Daniel lalu menarik tangan Mamanya, mengajak ke tempat dimana gadis itu berdiri. Dan Daniel hanya menemukan sebuah jepit rambut kupu-kupu disana. Mata Daniel terus berusaha mencari gadis itu namun ia mendapati gadis itu berlari kearah jalan keluar. Kemudian gadis itu naik kesebuah mobil dan akhirnya menghilang dari pandangannya.


''Aku harap suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali, setidaknya aku ingin mengucapkan terima kasih. Sekaligus aku ingin mengenalkan Mama padamu.'' Gumam Daniel dalam hati sembari menggenggam jepit kupu-kupu itu.


*Flashback End*

__ADS_1


Bersambung.... Yukkk like, komen dan vote yg banyak yaaa makasih 🙏❤️


__ADS_2