
Aruna kini tengah disibukkan di dapur membantu Bi Tuti dan Mbak Lasmi menyiapkan makan malam. Setelah kedua orang tuanya pulang, begitu juga dengan Tuan Hutama, Daniel kembali ke kantor.
''Nyonya yakin mau pindah? Kami bagaimana Nyonya?'' tanya Bi Tuti.
''Bibi sama Mbak Lasmi disini saja. Kalian kan sudah bekerja dengan Tuan Daniel.''
''Tapi kalau tidak ada Nyonya dan Den Zidane, rumah ini terasa sepi.'' Sahut Mbak Lasmi.
''Nanti kalian juga sudah terbiasa kok.''
''Memangnya Nyonya mau pindah kemana?'' tanya Bi Tuti.
''Belum tahu Bi. Yang jelas nyari di tengah-tengah saja. Yang tidak jauh dari kantor atau sekolah Zidane. Tapi beberapa hari ini nyari semuanya penuh. Susah juga ya ternyata nyari kontrakan.''
''Makanya Nyonya disini saja. Anggap saja Nyonya disini ngontrak sama Tuan. Ada saya dan juga Lasmi jadi Nyonya jangan khawatir. Kalau Tuan berani macam-macam kita yang akan menghajarnya.'' Kekeh Bi Tuti.
''Bibi ini bisa saja.'' Aruna pun ikut terkekeh.
''Nya, kenapa sih tidak menerima cintanya Tuan tampan? Tuan tampan bukan cuma ganteng tapi baik banget. Sama kita juga ramah dan bersahabat. Tidak membedakan antara pembantu dan majikan.'' Ucap Mbak Lasmi.
''Nya, semua orang masa lalu. Kalau dari terawangan saya nih, Tuan Daniel ini cinta mati sama Nyonya. Ibarat kata Nyonya ini pawangnya. Kami mendukung 100% Nya. Lupakan Tuan Arya dan tunjukkan kalau Nyonya juga bisa bahagia tanpa Tuan. Apalagi kedua keluarga sudah saling memberikan lampu hijau.'' Bi Tuti ikut menimpali.
''Sebaiknya kita segera menata makanan di meja ya Bi. Keburu Tuan Daniel datang. Aku makan bersama Zidane saja di kamar.''
''I-iya Nya.'' Kata Bi Tuti. Aruna lebih menanggapi ucapan mereka dengan senyuman. Tentu saja bagi Aruna bukan pekara mudah untuk memulai kehidupan rumah tangga yang baru. Apalagi bayang-bayang masa lalu selalu menghantuinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tapi Daniel tidak kunjung pulang. Sementara Zidane pun sudah tidur setelah makan malam dan minum obat. Aruna tampak santai duduk di ruang tengah sembari menonton televisi. Sambil sesekali melihat makanan yang masih utuh di atas meja. Ia kemudian beranjak dan menutupkan tudung saji ke atas makanan Daniel. Setelah itu ia kembali ke ruang tengah.
''Tuan Daniel kok belum pulang? Kenapa juga tidak memberi kabar? Ahhh untuk apa aku peduli. Paling juga dugem sama cewek-ceweknya.'' Gumam Aruna dalam hati. Di dalam hatinya ada rasa khawatir dan juga gelisah. Sesekali ia melihat ponselnya, berharap Daniel mengirimkan pesan untuknya.
''Apa aku coba telepon ya? Eh tapi untuk apa, nanti dia bisa ge-er.'' Gumamnya lagi. Akhirnya Aruna memutuskan untuk fokus menonton televisi saja. Satu jam sudah berlalu namun Daniel tidak kunjung pulang. Rasa cemasnya kian memuncak. Aruna beranjak dari duduknya menuju ruang tamu. Di lihatnya kearah luar jendela namun tidak ada tanda-tanda suara mobil. Ia mondar-mandir di depan pintu sambil mengecek ponselnya berkali-kali.
''Aruna, apa yang kamu lakukan? Sebaiknya kamu tidur. Untuk apa menunggunya? Playboy tetap playboy Aruna. Dia pasti sedang minum, karaoke dan bisa jadi bermalam di rumah para wanitanya. Untuk apa kamu mengkhawatirkannya.'' Aruna bermonolog dengan dirinya sendiri. Berusaha mengusir rasa cemas yang tidak ia mengerti. Akhirnya Aruna memutuskan kembali ke kamar menemani Zidane. Zidane tampak terlelap dalam tidurnya. Tentu saja di karena pengaruh obat dari dokter. Ya, Aruna bersyukur karena kondisi Zidane berangsur pulih tanpa harus rawat inap di rumah sakit. Tentu semua ini berkat Daniel. Ia masih hidup sampai detik ini juga karena Daniel. Daniel selalu datang disaat yang tepat. Disaat ia sedang jatuh dan butuh uluran tangan.
Dan akhirnya terdengar suara deru mobil memasuki garasi rumah. Aruna beranjak dari kamarnya dan segera menuju dapur untuk pura-pura haus. Padahal ia sedari tadi sedang menunggu Daniel.
__ADS_1
CEKLEK! Terdengar suara Daniel membuka pintu utama.
''Aruna, belum tidur?'' tanya Daniel yang melintas menuju dapur.
''Kebangun Tuan, haus. Baru pulang? Apa banyak pekerjaan?'' tanya Aruna basa-basi. Padahal ia sedang mencari informasi.
''Iya. Kamu kan ijin libur jadi aku menghandle semuanya sendiri. Fero juga sibuk dengan tim bazarnya. Aku ke atas dulu ya mau mandi.''
''Mmm Tuan sudah makan? Bibi sudah menyiapkan makan malam.''
''Kebetulan belum. Tolong hangatkan ya.'' Pinta Daniel seraya berlalu. Aruna hanya mengangguk. Selepas Daniel berlalu, ia mengendus. Mengendus apakah ada parfum wanita atau bau alkohol. Namun ia tidak mencium kedua aroma itu.
''Aruna, untuk apa mengendusnya? Dasar bodoh!". Gumamnya dalam hati. Ia kemudian segera menghangatkan makanan untuk Daniel. Tak lupa Aruna menyiapkan minuman hangat campuran teh, jahe dan madu. Dua puluh menit kemudian, Daniel turun lalu menuju ruang makan.
''Aku ke kamar dulu ya, Tuan.''
''Duduklah! Temani aku makan.'' Pinta Daniel.
''Baiklah.'' Kata Aruna. Kini keduanya duduk saling berhadapan, membuat Daniel dengan leluasa memandangi wajah cantik alami Aruna.
''Apa kamu menungguku? Atau mengkhawatirkan aku?'' tebak Daniel.
Daniel tersenyum melihat gelagat Aruna yang seperti gugup. ''Tapi bagaimana Zidane?''
''Kondisi Zidane semakin membaik. Sepertinya dia besok juga sudah bisa sekolah.''
''Syukurlah kalau dia sudah membaik. Besok kita ke pabrik karena barang baru akan datang. Aku ingin memastikan kalau kali ini tidak ada yang bermain curang lagi.''
''Iya Tuan.'' Jawab Aruna yang semakin salah tingkah karena sejak tadi Daniel terus menatapnya.
''Begini ya rasanya pulang kerja kalau sudah ada istri. Ada yang mengkhawatirkan, ada yang menunggu dan makan pun ada yang menemani. Rasa lelah hilang seketika.''
''Sudahlah Tuan jangan mengarang cerita. Aku mau tidur.'' Aruna beranjak dari duduknya karena ucapan Daniel sudah membuat wajahnya memerah.
''Eh-eh duduk! Enak saja mau tidur. Setidaknya temani aku makan. Aku tidak suka makan sendirian.'' Ketus Daniel. Aruna akhirnya duduk lagi dan lagi ia teringat cerita Daniel kalau sejak Mamanya meninggal. Ia sama sekali tidak pernah makan di ruang makannya. Bahkan hampir tidak pernah makan di rumah. Suasana kembali hening sampai akhirnya Daniel menyelesaikan makan malamnya. Setelah Daniel selesai makan, Aruna segera membereskannya dan mencucinya sekalian. Bagi Aruna melihat rumah bersih terutama dapur, sangat membuatnya lega. Melihat Aruna yang tampak sibuk, membuat Daniel ingin menggodanya.
__ADS_1
''Butuh bantuan?''
''Tidak usah. Tuan tidur saja.''
''Aku mau tidur denganmu saja.'' Celetuk Daniel.
''APA? Katakan sekali lagi, piring ini melayang ke kepala Tuan.'' Ancam Aruna dengan tatapan menahan kesal. Daniel hanya terkekeh mendengar ancaman Aruna. Ia lalu beranjak dari duduknya dan mendekat kearah.
''Aku sudah disini. Jadi, pukul saja aku.'' Kata Daniel yang sudah berdiri tepat di belakang Aruna. Aruna mengeratkan rahangnya dan berbalik. DEG! Wajah Daniel tepat di hadapannya. Hidung keduanya bahkan sampai bersentuhan. Aruna membeku.
''Apa masih berani memukulku?''
Aruna lalu mendorong tubuh Daniel. ''Tuan jangan macam-macam ya. Aku tidak segan-segan memukul anda.''
''Aku suka sekali melihatmu marah. Menakutkan sekaligus menggemaskan.'' Daniel terus berusaha menggoda Aruna.
''Sebaiknya anda keatas dan tidur.''
''Ini kan rumahku jadi suka-suka aku.''
''Ya sudah, kalau begitu besok aku pindah.''
''Silahkan saja. Aku pastikan kamu tidak akan bisa pergi kemana-kemana apalagi meninggalkan rumah ini. Jadi istriku saja bagaimana? Kamu cukup di rumah, melayani aku saja.'' Ucap Daniel sambil menyondongkan tubuhnya ke depan. Membuat Aruna mundur namun sudah mentok pada wastafel tempat cuci piring.
''Jangan kurang ajar ya Tuan.'' Ucap Aruna seraya mengangkat tangan yang sudah memegang piring. Namun Daniel berusaha mencegahnya.
''Aruna, sayang tanganmu kalau terluka.'' Daniel mengambil piring itu dari tangan Aruna dan meletakkannya kembali. Daniel kemudian meraih pinggang Aruna, merapatkan tubuh Aruna pada tubuhnya. Kedua mata saling bertemu dengan tubuh yang saling bersentuhan dengan Daniel, membuat Aruna merasa gugup.
''Kamu pasti curiga ya kalau aku bersama wanita lain, iya kan?'' lagi-lagi Daniel bisa menebak pikiran Aruna.
''Tidak. Siapa yang curiga? Tuan, lepaskan aku.'' Aruna tergagap sambil berusaha memberontak namun tangan Daniel terlalu kuat.
''Mmmm bagaimana kalau ciuman selamat malam?'' Daniel semakin menjadi.
''Tuan, lepaskan aku! Tuan jangan aneh-aneh ya.'' Ancam Aruna. Jantung Aruna berdebar kencang. Tidak tahu lagi perasaan apa yang berkecamuk dalam batin Aruna. Ingin rasanya Daniel melahap bibir milik Aruna namun ia harus menahannya. Akhirnya Daniel melepaskan tangannya. Dan membiarkan Aruna melanjutkan kembali pekerjannya
__ADS_1
''Baiklah, selamat malam.'' Daniel yang iseng, meniup lembut telinga Aruna. Membuat Aruna terkejut sekaligus merasakan sesuatu yang aneh. Daniel kemudian menuju kamarnya meninggalkan Aruna dengan segala rasa yang berkecamuk dalam dadanya.
''Huft sungguh godaan berat bersama Aruna. Mana susah lagi di taklukin. Dia bilang iya saja, aku langsung melu...mat habis bibirnya.'' Gumam Daniel hati.