Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 46


__ADS_3

"Apa???" Tante Novi, Om Heru, Teddy, dan Alika terperanjat kaget saat mendengar penuturan Aruna. Bahwa dia ingin bercerai dari Bram.


Malam itu, akhirnya Aruna memutuskan untuk menginap di rumah Om dan Tantenya. Sekaligus ingin mengutarakan niatnya untuk bercerai dengan Bram.


"Tapi kenapa Run? Padahal kamu baru saja keguguran, eh skarang kamu malah ingin bercerai. Tante tidak habis pikir dengan kamu Run. Apa yang kurang dari Nak Bram. Dia begitu baik dan sangat mencintai kamu." Tante Novi terlihat lesu dan kecewa dengan keputusan Aruna yang tanpa tahu apa sebabnya.


"Maaf Tante, Om. Aku belum bisa cerita sekarang apa alasan aku ingin bercerai dari Bram. Tapi ini sudah keputusan terbaikku. Aku hanya tidak ingin kami saling menyakiti lebih jauh lagi." Aruna tertunduk lesu.


"Saling menyakiti gimana? Bukannya kalian saling mencintai?" giliran Om Danu yang benar - benar kecewa.


"Maaf, aku mengecewakan kalian."


"Kak ... Apa tidak bisa Kakak pikirkan sekali lagi? Kasihan Kak Bram loh Kak. Sayang, rumah tangga Kakak baru aja seumur jagung. Masa udah mau cerai? Apa ini karna gosip - gosip itu ya Kak?" tanya Alika.


"Gosip? Gosip apa?" tanya Tante Novi penasaran.


"Kak Bram pernah kesandung gosip sebagai pacar rahasianya Mona. Si artis muda yang selalu di gosipin pacaran sama Om - Om itu loh Tan." Terang Alika. Karena memang gosip waktu itu sempat viral.


"Beneran itu Run?"


"Bukan. Bukan karna itu." Disertai gelengan kepala pelan.


"Trus? Karna apa? Run, tolong dipikirin sekali lagi."


"Jangan bilang kalau ini karna Boss Dicko kan?" tanya Teddy ikut penasaran. Teddy mengetahui kebenaran Dicko dari Shanti. Bahkan seisi kantor sudah mengetahui bahwa sebenarnya yang mereka kenal sebagai Rama itu adalah Dicko. Dan seketika kabar itu menggemparkan TRF.


"Apa? Siapa?" Tante Novi memasang tampang penasaran tingkat dewa.


"Boss Dicko. Ternyata dia masih hidup."


"Astaga. Jadi pria yang waktu itu sering mampir di minimarket Tante itu adalah Dicko ... Pantesan, masih sama seperti dulu."


"Sama apanya Ma?"


"Sama cakepnya." Kambuh lagi nih bucinnya Tante Novi ke Dicko.


"Ehem ... ehem ..." Om Heru berdehem sembari melirik Tante Novi dengan lirikan mematikan. Tante Novi malah nyengir lebar.


"Aruna, tolong kamu pertimbangkan lagi keputusan kamu ini. Jangan sampai kamu menyesal nanti. Sudah hal yang lumrah, jika dalam rumah tangga akan selalu ada pasang surutnya. Perjalanan rumah tangga itu tidak selalu semulus angan kita. Akan selalu ada ujian untuk menguji cinta kalian. Jadi Om harap, kamu tidak akan salah mengambil keputusan. Karna ini menyangkut kehidupan kamu. Kebahagiaan kamu." Nasehat Om Heru.


Aruna masih tertunduk lesu. Mencerna setiap kalimat yang di ucapkan Om Heru. Apa dia terlalu tergesa - gesa dalam mengambil keputusan?


"Kalau kamu cerai dari Boss Bram lalu pergi ke pelukan Boss Dicko, aku yakin Pak Danu tidak akan setuju." Kata Teddy mengingatkan Aruna bahwa ada aral yang melintang antara hubungannya dengan Dicko.


Bukan hanya Papa Danu saja, tetapi juga Bram yang akan menjadi aral terbesar yang akan menghalangi hubungan mereka.


Aruna tampak menarik napas panjang.


"Setelah aku bercerai dari Bram nanti ..." Aruna mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk,


"Aku ingin pergi dari kota ini."


Semuanya kembali terperanjat mendengar keinginan Aruna yang makin aneh itu.


"Aku ingin melupakan semuanya. Aku ingin memulai hidupku yang baru di kota yang baru." Tambahnya lagi.

__ADS_1


"Terserah kamu deh Run." Tante Novi pasrah.


"Ya sudah. Terserah kamu. Om dan Tantemu punya saudara di satu kota yang cukup jauh. Dia hidup sebatang kara sambil mengelola toko pakaiannya. Barangkali kamu cocok disana. Nanti akan Om kabari."


Aruna kembali menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sembari menguatkan hati akan keputusannya kali ini.


.


.


Sementara itu, di malam yang sama, di kediaman Anggara.


Bram tampak terduduk lesu di sofa ruang tengah rumah itu. Sementara Papa Danu mondar - mandir di depan Bram dengan raut wajah penuh kecemasan.


Kabar keputusan Aruna ingin bercerai dari Bram benar - benar membuat Papa Danu kecewa, sedih, sakit hati, berbaur jadi satu.


Padahal, baru beberapa saat yang lalu Papa Danu memberi mereka kesempatan untuk menyelesaikan masalah di antara mereka. Tapi malah seperti ini jadinya.


Dan Bram tidak ingin memberitahu alasan yang sebenarnya kenapa Aruna ingin bercerai. Sampai detik ini, Papa Danu masih berpikir penyebab Aruna ingin berpisah dari Bram itu karna Dicko.


"Papa tidak habis pikir dengan kalian. Kalian begitu tergesa - gesa mengambil keputusan. Apa tidak bisa kalian pikirkan sekali lagi dengan matang keputusan kalian ini?"


"Maafkan aku Pa." Hanya itu yang mampu Bram ucapkan. Dia masih belum berani menceritakan masalahnya yang terjerat dalam jebakan Mona.


"Kalau ini karna Kakak kamu, Papa tidak akan bisa merestui hubungan mereka. Apa kata orang - orang nanti tentang keluarga Papa. Ini akan sangat memalukan. Sampai kapanpun Papa tidak akan merestui hubungan mereka. Sangat memalukan."


Ya. Apa kata orang nanti tentang hubungan mereka. Lepas dari pelukan sang adik dan jatuh ke pelukan sang kakak. Orang tua manapun akan sulit menerima kenyataan seperti itu. Dan tidak terkecuali Papa Danu.


.


.


"Kamu serius Mon mau mempertahankan kandungan kamu?" tanya Bianca sembari menyedot jus kemasan botol.


"Serius lah." Sahut Mona santai sembari sibuk menggeser - geser layar ponsel dengan jempolnya.


"Memang benar kalau pria yang bernama Bram itu adalah ayah dari bayi yang kamu kandung?"


Mona terlihat salah tingkah. Tapi kemudian kembali menyahuti pertanyaan Bianca.


"Ya iya lah. Masa aku bohong soal beginian."


"Trus, mau kamu apa? Dia kan sudah punya istri?"


"Tinggal cerai, apa susahnya."


"Tidak segampang itu Mon. Dari yang aku lihat, kayaknya dia itu sangat mencintai istrinya. Kamu akan susah mendapatkan dia."


"Tidak akan susah. Palingan juga mereka akan bercerai. Istrinya itu kan juga selingkuh."


"Masa sih? Tau dari mana kamu?"


"Pria yang tinggal di apartemen sebelah ku itu, adalah selingkuhan istrinya."


"Oh my God. Serius kamu?"

__ADS_1


Mona tidak menanggapi. Karena kini raut wajahnya terlihat menegang. Sebuah berita di situs online dan sepertinya akan kembali viral itu, membuatnya kini terbelalak.


"Kamu kenapa sih Mon? Kok muka kamu tegang begitu?"


"Siapa nih yang nyebarin berita ini?" Mona bangun dari berbaringnya.


"Berita apa? Coba liat." Bianca merebut ponsel dari tangan Mona. Dan seketika Bianca pun terbelalak saat membaca berita itu.


Mona Kartika di kabarkan hamil di luar nikah. Dan saat ini banyak netizen yang mempertanyakan bahkan tak jarang ada yang mencaritahu siapa ayah dari bayi yang di kandung Mona. Setelah kabar kehamilan Mona ini, maka bisa dipastikan karir Mona akan hancur.


"Waaah ... gawat Mon. Karir kamu bakalan jadi taruhan nih. Kira - kira siapa yang nyebarin berita kayak gini ya?"


"Siapa lagi kalau bukan bajingan itu. Sialan tuh orang." Mona menggeram sendiri.


"Siapa? Manager kamu?"


"Menurut kamu?" Mona memasang tampang serius.


Bersamaan dengan itu, tiba - tiba terdengar bunyi bel pintu. Bianca pun bergegas membukakan pintu untuk tamu mereka malam ini. Saat pintu terbuka, tampak seorang pria dengan tampang sinis tengah berdiri di depan pintu itu.


"Dimana Mona?" tanya pria itu sembari berjalan masuk tanpa dipersilahkan.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Mona sinis. Sembari berdiri.


"Aku rindu padamu. Kamu terlalu sibuk mengejar pria lain sampai kamu lupa padaku."


"Pasti kamu kan yang menyebarkan berita itu?"


"Menurut kamu?"


"Pasti kamu. Katakan apa maumu."


"Aku hanya ingin memastikan kalau bayiku yang ada dalam kandunganmu itu baik - baik saja."


Mona meradang. Sedangkan Bianca tercengang mendengar ucapan Gerry, bahwa bayi yang dikandung Mona itu adalah bayinya.


Gerry adalah manajer sekaligus pacar Mona. Selama mereka pacaran tidak pernah terendus media manapun. Mereka pacaran diam - diam. Saat Mona di gosipkan dengan Bram, Gerry tidak bisa terima. Sehingga Gerry terkadang sering mengganggu Bram dan Aruna dengan mengirimkan foto - foto waktu itu. Yang tidak jelas pengirimnya. Sejak saat itu Gerry mencaritahu tentang kehidupan Bram termasuk tentang rumah tangganya.


Dan kali ini, saat mengetahui Mona sedang hamil, jelas Gerry tidak bisa diam saja. Jika Mona ingin mengejar pria lain dan meminta pertanggung jawaban pria lain. Sementara bayi itu adalah darah dagingnya.


.......


.......


.......


...-Bersambung-...


Mohon maaf telat² update 🙏


Maklum, bu ibu rempong dengan buntut yang masih kecil dan lagi aktif²nya. Ditambah lagi dengan pekerjaan RT yang menuntut untuk di selesaikan. Jadi mohon pengertiannya.


But so thankyou udah mau baca cerita recehan ini.


Always saranghae readers ❤️

__ADS_1


Salam Hangat 🤗


🌺Otor Kawe🌺


__ADS_2