
Dan malam itu tiba-tiba hujan turun begitu saja. Tiba-tiba Arya datang ke kamar Aruna. Ya, sudah beberapa hari ini mereka pisah ranjang dan itu atas kemauan Aruna sendiri.
''Aruna, aku ingin bicara denganmu. ''
''Zidane, sebaiknya kamu segera tidur ya. Ini sudah malam juga. ''
''Iya Mami. '' Zidane kemudian keluar dari kamar Maminya.
''Ada apa Mas?''
''Mmmm di luar sedang hujan deras, Shella ingin menginap disini. Apa kamu mengijinkannya?''
''Iya silahkan saja. Dia bisa tidur di kamar ini. ''
''Lalu kamu?''
''Aku tidur di kamar kita. '' Jawab Aruna.
Arya senyum sumringah, akhirnya Aruna bisa kembali ke kamarnya. Aruna kemudian segera pergi meninggalkan kamar itu dan menuju kamarnya bersama Arya. Setelah mendapat ijin dari Aruna, Arya kembali ke ruang tengah menghampiri Shella.
''Shella, ayo aku antar kamu ke kamar kamu. ''
''Baik Mas. ''
Shella kemudian mengikuti Arya menuju kamar tamu.
''Kamu tidur disini ya. ''
''Iya Mas. Terus kamu tidur dimana?''
''Aku tidur di kamarku bersama Aruna. ''
''Jadi aku harus tidur sendiri? Mas ini hujan deras, kamu tahu kan kalau aku takut petir. Aku mana bisa tidur sendirian disini? Aku mohon temani aku ya. ''
''Tapi kan..., ''
''Mas, kamu sudah menghabiskan malam mu bersama Aruna bertahun-tahun, setidaknya temani aku malam ini. Toh aku cuma semalam saja disini. ''
''Ya sudah, aku minta ijin sama Aruna dulu ya.''
__ADS_1
''Apa-apa minta ijun,'' protes Shella.
''Shella, walau bagaimanapun Aruna istri pertamaku. Aku menyembunyikan hubungan ini sudah salah, jadi aku harus meminta ijin untuk menghargainya.''
''Iya-iya,'' kesal Shella. Arya lalu segera pergi ke kamarnya.
Saat masuk ke kamarnya, Arya melihat Aruna sedang sibuk memilih pakaian.
''Kamu sedang apa Aruna?''
''Aku sedang memilih pakaian untuk kerja besok, Mas.''
''Kerja? Kamu kerja dimana? Kenapa tidak membicarakan dulu padaku? Aku belum tentu mengijinkanmu bekerja.''
''Untuk apa aku meminta ijin padamu, Mas. Kamu sendiri selingkuh dan menikah diam-diam saja tanpa meminta ijin padaku.'' Sinis Aruna.
''Apa sebenarnya yang kamu inginkan Aruna? Kamu bersikap dingin dan tidak mau tidur seranjang denganku. Aku ini masih suamimu, Aruna.''
''Mas, sekarang aku balik bertanya padamu. Kalau posisi kita di balik bagaimana?''
''Maksud kamu?''
''Iya, posisi kita dibalik. Seandainya aku yang selingkuh dan menikah diam-diam di belakangmu, apa kamu masih sanggup tidur satu ranjang denganku dan menatap wajah ku ini? Apa kamu masih sanggup? Tidakkah kamu merasa jijik, risih dan sakit, Mas? Coba kamu pikir!'' ucap Aruna sambil menekan telunjuknya di dada Arya. Arya hanya bisa terdiam dengan apa yang di ucapkan oleh Aruna.
''Aku tidak mau berdebat denganmu. Aku sudah menelepon orang tua kita. Jadi besok aku akan mengakui semuanya pada mereka. Dan malam ini aku akan menemani Shella tidur, dia sangat takut dengan petir jadi aku akan menemaninya. Aku juga meminjam piyama mu yang ada di almari kamar tamu, supaya Shella bisa mengganti pakaiannya.'' Arya lalu mengecup pucuk kepala Aruna sekilas, setelah itu Arya kembali ke kamar tamy untuk menemani Shella tidur.
Lagi-lagi air mata Aruna mengalir begitu saja di pelupuk matanya.
''Hanya karena dia takut petir, kamu meninggalkan aku, Mas. Kamu bahkan tidak mau memperjuangkan dan berusaha merebut hatiku kembali. Kamu justru seperti tidak memiliki dosa dengan membawanya ke rumah kita, bahkan memintaku untuk mengijinkannya menginap disini. Tuhan, semoga keputusan yang aku ambil sudah tepat, yaitu berpisah dengan Mas Arya. Membayangkan suamiku tidur dengan wanita lain, sungguh sangat menyakitkan.'' Gumam Aruna dalam hati sambil sesekali menyeka air mata yang begitu mudahnya mengalir. Malam itu, Aruna segera mengirim pesan pada Tuan Hutama.
Aruna : Selamat malam, Tuan. Maaf menganggu waktu istirahat anda. Sepertinya saya besok belum bisa menerima panggilan anda. Ada urusan yang harus saya selesaikan dahulu. Setelah semua urusan saya selesai, saya akan segera datang ke kantor anda, itu jika anda berkenan dan tidak keberatan. Maafkan saya jika saya terkesan egois. Terima kasih, Tuan. Aruna.
Tuan Hutama yang masih sibuk diruang kerjanya, lalu membaca pesan dari Aruna.
''Kasihan sekali Aruna. Apa terjadi sesuatu dengannya?'' gumam Tuan Hutama.
Tuan Hutama : Tentu saja, Aruna. Kesempatan itu selalu ada untukmu.
...****************...
__ADS_1
PLAK! Tamparan keras dari seorang wanita yang melahirkannya itu melayang di wajah Arya berkali-kali.
''Mah, tenang Mah.'' Aruna berusaha meredam amarah Nyonya Ratih.
''Aruna, dia ini sudah menyakiti kamu. Dia tidak pantas kamu bela.'' Ucap Nyonya Ratih dengan suara meninggi.
''Arya, kenapa kamu tega melakukan ini pada Aruna? Kalau memang kamu sudah tidak mencintai Aruna, kembalikan dia pada kami. Bukannya kamu malah mengkhianatinya seperti ini.'' Kata Nyonya Galuh. Nyonya Galuh sangat kecewa dan sakit hati dengan sikap Arya.
''Arya, apa kamu lupa janji kamu pada Papa? Kamu janji akan membahagiakan Aruna dan berjanji tidak akan menyakiti Aruna. Bahkan kamu sendiri berjanji tidak akan membiarkan setetes air mata Aruna jatuh, selain air mata bahagia.'' Sahut Tuan Wira, Papa Aruna.
''Arya, kamu sungguh memalukan! Papa tidak pernah mengajarkan hal buruk seperti ini padamu. Papa saja selalu menjaga cinta Mama sampai detik ini, kamu memalukan Arya! Tinggalkan Shella! " bentak Tuan Jodi dengan segala amarahnya.
''Shella, tidak seharusnya kamu hadir kembali di kehidupan Arya. Kamu tahu Arya beristri, kenapa kamu masih mendekatinya? Dulu kamu kemana saat Arya susah? Sekarang Arya sukses, kamu seenaknya kembali dan berusaha merebut semuanya.'' Marah Nyonya Ratih.
''Mah, jangan salahkan Shella. Shella berusaha berjuang sendiri, Mah. Orang tuanya sudah meninggal dan dia sebatang kara. Jadi Shella dulu meninggalkan Arya bukan karena Arya belum punya apa-apa. Justru Shella tidak ingin membagi dukanya dengan Arya.'' Arya berusaha membela Shella di hadapan Mamanya. Dan itu semakin membuat luka Aruna semakin dalam.
''Tante, maafkan aku. Aku tidak bisa membohongi perasaanku. Sampai detik ini, aku masih mencintai Fandi.'' Sahut Shella.
''Kamu masih bisa mengucapkan kata seperti itu? Sementara ada wanita lain yang perasaannya kamu lukai. Dasar murahan! "
''Cukup Mah! Jangan bicara seperti itu pada Shella. Papa dan Mama juga mengenal Shella dengan baik, apa salahnya Papa dan Mama memberikan restu kalian pada Arya dan Shella. Arya bisa bersikap adil pada Aruna dan Shella. Arya tidak mau kehilangan keduanya. Arya mencintai keduanya.''
''Tapi maaf, Mas. Aku sudah memutuskan untuk berakhir sampai disini. Aku sudah mengurus surat perceraian kita. Kamu tinggal menandatanganinya.'' Kata Aruna sambil menyodorkan amplop coklat itu pada Arya.
''Aruna, apa yang kamu lakukan nak?'' tanya Nyonya Galuh.
''Perpisahan Mah. Ini yang terbaik. Jika Mas Arya tetap ingin bersama Aruna, Mas Arya harus meninggalkan wanita itu. Tapi jika Mas Arya tetap ingin mempertahankan wanita itu, Aruna memilih mundur.''
''Aruna, kamu yakin nak? Kamu tidak memikirkan perasaan Zidane?'' tanya Tuan Wira.
''Pah, Zidane sudah tahu semuanya. Bahkan Zidane mendukung penuh keputusan Aruna. Pah, aku adalah putri Papa satu-satunya. Papa membesarkan aku penuh cinta dan kasih sayang, bahkan Papa tidak pernah membiarkan aku menangis ataupun bersedih. Apa Papa tega membiarkan putri Papa bersama dengan pria yang tidak punya hati? Aruna sudah cukup sakit memendamnya sendiri, Pah. Delapan bulan Mas Arya selingkuh sampai akhirnya, Mas Arya menikah diam-diam di belakang Aruna. Pah, dihianti saat sedang mengandung itu sangat menyakitkan.'' Aruna lalu menceritakan awal ia mengetahui perselingkuhan Arya dan Shella. Semua kebohongan Arya, Aruna bongkar di hadapan kedua orang tua mereka.
Tuan Jodi sangat geram dan melayangkan pukulan ke wajah Arya, sampai Arya tersungkur ke lantai. Bahkan bibir Arya sampai berdarah.
''Tinggalkan Shella, Arya! Kalau kamu masih ingin Papa dan Mama anggap sebagai anak. Tega sekali kamu menyakiti Aruna, Arya.'' Amarah Tuan Jodi sudah tidak bisa lagi ia kontrol.
''Pukul saja aku, Pah! Bunuh aku sekalian! Aku tidak akan meninggalkan Shella. Apalagi saat ini Shella sedang hamil anak Arya.''
Ucapan Arya, seperti pukulan telak bagi Aruna. Ia hanya bisa menangis dalam pelukan Papanya. Ya, semalam sebelum tidur, Shella memberikan hasil tespek kemarin pagi pada Arya. Arya tentu saja sangat bahagia mendengar Shella hamil, apalagi Arya baru saja kehilangan Zio.
__ADS_1
''Pah, bawa Aruna pergi dari sini. Aruna ingin pulang bersama Papa dan Mama.'' Isak tangis Aruna dalam pelukan Papanya.
''Iya Nak. Papa tidak akan membiarkanmu menderita, Nak. Kemasi semua barang-barangmu.'' Kata Tuan Wira. Ingin sekali Tuan Wira memukul bahkan kalau bisa membunuh Arya saat itu juga. Namun Tuan Wira masih berusaha menggunakan akal sehatnya. Sebagai orang tua apalagi sebagai seorang Ayah, tentu saja hati Tuan Wira sangat hancur melihat putrinya di sakiti oleh pria tak beradab.