
Setelah dari salon Dinda, Aruna memilih pergi ke mall sekaligus melihat-lihat perlengkapan untuk bayinya. Aruna jadi teringat saat dulu ia bersama Arya pergi mall untuk membeli keperluan Zidane. Tapi sayang, saat ini Aruna harus pergi seorang diri. Aruna kemudian masuk ke salah satu toko perlengkapan bayi. Senyum Aruna tersungging kala melihat baju-baju yang sangat lucu dan menggemaskan itu.
Disisi lain, Daniel dikejar oleh fans fanatiknya, lebih tepatnya seorang wanita yang begitu menggilainya.
''Daniel, berhenti! Kamu jangan kabur.''
''Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, Manda. Kamu sendiri kan yang meminta putus, lalu sekarang kenapa kamu memohon kembali?''
''Aku tidak masalah jika kamu duakan. Aku tidak bisa berpisah dengan kamu.'' Manda terus memaksa sambil bergelayut di lengan Daniel. Daniel sendiri datang ke mall untuk bertemu kliennya karena mall itu adalah milik perusahaan Daniel. Namun naas ia bertemu Manda, wanita yang menggilainya karena kekayaannya serta ketampanannya. Daniel menghentikan langkahnya tepat di toko perlengkapan bayi. Dengan kesal Daniel melepaskan tangan Manda yang bergelayut di lengannya.
''Pantang bagiku menjilat ludah, Manda. Cari pria lain saja sana. Aku tahu kamu mengejarku kembali karena uang, iya kan?''
''Tidak, Daniel. Aku tulus!"
''Bullshit! Stop mengejarku karena aku sudah punya orang lain di hatiku. Jadi minggir sana!"
''Aku tidak percaya! Aku akan berhenti mengejarmu kalau kamu sudah punya istri.''
''Fero, elo dimana sih? Ke toilet lama banget. Malah ketemu nih uler keket disini,'' gerutu Daniel dalam hati. Pandangan Daniel mengedar, ia melihat Aruna sedang berada di dalam toko tersebut.
''Aha, aku bisa memanfaatkannya.'' Gumam Daniel dalam hati.
''Sekarang kamu lihat wanita hamil di dalam toko bayi itu. Itu adalah istriku.''
''Hah? Kamu serius? Kamu benar-benar sudah menikah?''
''Iya sudah. Memangnya kenapa?''
''Sejak kapan kamu menikah?''
''Sejak tiga bulan yang lalu.'' Jawab Daniel asal.
''Itu kenapa perutnya sudah besar?'' selidik Manda.
''Iya, aku menghamilinya duluan, memang apa urusanmu? Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sejak beberapa bulan lalu. Kalau kamu ingin uang sebutkan saja.''
''Aku tidak mau uangmu, aku cuma mau kamu.''
''Terserah!"
__ADS_1
''Ya sudah, pergi sana. Aku ingin lihat itu istrimu apa bukan. Jangan-jangan kamu hanya mengaku karena aku mengejarmu.''
DEG! Daniel terdiam, ia tidak tahu apa yang harus di lakukannya.
''Baiklah, aku akan membuktikannya.'' Daniel kemudian masuk ke dalam, sementara Manda mengekor dari belakang.
''Sayang, kamu sudah selesai belanjanya? Maaf ya aku lama di toilet.''
Aruna sangat terkejut, matanya membulat sempurna, melihat sosok daniel yang tiba menghampirinya serta merangkul bahunya.
''Nyonya aku mohon, bantulah aku untuk menghindari wanita ini, dia terus mengejarku.'' Bisik Daniel tepat di telinga Aruna. Aruna menaikkan alisnya, mendengar ucapan Daniel yang mengejutkan. Namun Aruna tetap diam tak bergeming.
''Manda, ini istriku. Sekarang kamu berhenti mengejarku.'' Kata Daniel sambil terus merangkul bahu Aruna.
''Memang dia siapa? Oh pasti kamu selingkuh ya?'' tanya Aruna pada Daniel. Daniel terkejut dengan respon Aruna yang di luar dugaannya.
''Tidak-tidak, aku tidak selingkuh. Dia yang mengejarku sayang. Mana mungkin aku selingkuh, aku sudah insyaf, beneran deh.'' Kata Daniel. Dan munculah ide untuk mengerjai Daniel. Aruna lalu menjewer telinga Daniel dengan sangat keras.
''Sudah tahu istri hamil, malah selingkuh. Kamu juga wanita murahan, tidak punya harga diri. Aku bisa menuntutmu ke kantor polisi, atau bahkan kalian berdua bisa aku pidanakan atas tuduhan perselingkuhan dan perzinahan,'' terang Aruna dengan akting marahnya sambil terus menjewer telinga Daniel tanpa ampun.
''Tidak Nyonya, maaf. Aku pergi dulu. Aku bukan pelakor tapi dia yang mengejarku,'' kata Manda dengan tergagap.
''Saya permisi,'' ucap Manda seraya berlalu.
''Kenapa anda menampar dan menjewrku, Nyonya?'' kesal Daniel.
''Kamu pantas mendapatkan itu. Dasar pria hidung belang! Kamu pikir tindakanmu sopan apa? Merangkul wanita hamil seenak jidat, ditambah mengaku kalau aku ini istrimu. Bagaimana kalau ada yang melihat semua ini? Dan justru namaku yang menjadi buruk.'' Aruna pun marah sambil menunjuk wajah Daniel.
''Aku kan sudah bilang kalau aku meminta bantuan Nyonya. Tapi Nyonya malah menampar dan menjewer telingaku. Lihat ini pipi dan telingaku memerah karena ulah anda.''
''Rasakan! Memangnya anak? Kalau punya masalah selesaikan, jangan malah melibatkan orang lain untuk menyelesaikan masalahmu. Makanya jangan jadi playboy kalau tidak bisa mengatasi satu gadis.''
''Boleh berkenalan Nyonya? Namaku Daniel. Berikan alamat rumahmu padaku, aku akan mengirim hadiah sebagai penebus rasa bersalahku.''
''Tidak perlu dan tidak usah! Ini terakhir kalinya aku bertemu dengan pria tak bermoral sepertimu.''
''Astaga Nyonya, mulut anda pedas sekali. Memang ya emak-emak itu kalau ngomong tanpa disaring.''
''Karena kamu pantas mendapatkan itu, permisi!" Aruna kemudian pergi meninggalkan toko tersebut. Mood belanjanya pun hilang sudah.
__ADS_1
''Sumpah tuh emak-emak galak banget. Telinga sama pipi gue panas banget.'' Gumam Daniel sambil bergantian mengelus pipi dan telinganya. Daniel kemudian pergi meninggalkan toko bayi tersebut.
''Daniel!" teriak Fero memanggil Daniel.
''Nah, tuh bocah darimana aja.'' Gerutunya dalam hati.
''Elo darimana? Hah? Ke toilet lama banget? Ngocok ya lo?'' celetuk Daniel.
''Sialan! Jaga tuh mulut. Gue sakit perut beneran tahu. Eh kenapa pipi elo merah?''
''Kena gampar, bukan cuma pipi nih telinga gue juga,'' kata Daniel sambil menunjukkan telinganya. Fero pun tertawa terbahak melihat sahabat sekaligus bosnya yang menderita itu.
''Emangnya elo kenapa? Gue tinggal sebentar udah merah-merah gitu.''
''Elo inget ibu muda yang di supermarket waktu itu kan?''
''Oh yang sama anaknya cowok itu?''
''Iya. Itu dia pelakunya.''
''Pasti elo macam-macam makanya sampai di gampar. Iya kan?''
''Tadi ada si Manda ngejar-ngejar gue. Terus gue lihat ibu hamil itu di toko bayi, terus gue masuk, ngrangkul dia dan kenalin dia sama Manda kalau dia istri gue.''
Mendengar apa yang dikatakan oleh Daniel, Fero pun kembali tertawa. ''Wajar lah dia marah. Istri orang elo goda, di tambah elo ngaku di hadapan Manda kalau dia itu istri elo dan dia hamil anak elo. Kalau gue jadi ibu-ibu itu, gue juga bakal gampar elo.''
''Udah-udah jangan ketawa. Ini sumpah panas banget, kayaknya dia itu atlet pencak silat, pukulannya kuat banget. Sekarang lanjut meeting, sebelum giliran bokap gue yang ngamuk.''
''Makanya Daniel, taubat. Sekarang elo kena dampaknya kan? Cewek yang elo deketin cuma mau uang elo doang.''
''Elo juga taubat. Cewek elo juga banyak.''
''Gue masih tahap wajar ya. Ah sudahlah, pusing gue mikirin elo. Sekarang kita cabut, urusin ini mall.''
''Nanti malam ke bar ya?''
''Iya tapi selesain dulu tugas elo, kasihan Om Hutama.''
''Iya-iya bawel.''
__ADS_1
Bersambung...