Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 97 Kamu Yang Pertama


__ADS_3

''Zidane!" seru Arya saat melihat Zidane keluar dari halaman sekolah. Zidane terkejut dengan kedatangan sang Ayah.


''Papi,'' gumamnya. Arya segera berlari memeluk Zidane.


''Zidane, Papi merindukan kamu. Maafkan Papi ya nak.''


''Untuk apa Papi menemui ku? Papi jahat!" Zidane berusaha meronta, melepaskan diri dari pelukan Papinya.


''Papi kangen sayang. Kamu pulang sama Papi ya.''


''Tidak mau! Itu aku sudah di jemput sama Mbak Lasmi.'' Kata Zidane sambil menunjuk kearah Mbak Lasmi yang turun dari taksi.


''Zidane, ijinkan Papi sebentar saja untuk bersama kamu. Kita bisa makan ice cream di dekat sini.'' Bujuk Arya. Mbak Lasmi juga terkejut dengan kedatangan Arya.


''Tuan Arya, anda disini?''


''Iya Lasmi. Aku merindukan Zidane. Ijinkan aku untuk mengajaknya keluar sebentar. Kamu juga boleh ikut.''


''Apa Tuan sudah meminta ijin pada Nyonya Aruna?''


''Belum. Sepertinya dia memblokir nomorku karena aku tidak bisa menghubunginya. Tolong kamu telepon Aruna biar aku yang bicara.''


''Baik Tuan.'' Mbak Lasmi pun segera menelepon Aruna.


''Halo Nyonya,''


''Iya Mbak, ada apa?''


''Sebentar Nyonya...,'' Mbak Lasmi lalu memberikan ponselnya pada Arya.


''Halo Aruna, ini aku Arya.'' Aruna sangat terkejut mendengar suara Arya. Pasti Arya sedang di sekolah Zidane.


''Mas, kamu di sekolah Zidane?''


''Iya. Aku juga merindukan Zidane, Aruna. Aku ingin mengajak Zidane keluar sebentar saja untuk makan ice cream di dekat sini. Aku mohon padamu, Aruna.''


''Baiklah tapi Mbak Lasmi ikut.''


''Iya tidak apa-apa. Terima kasih Aruna.'' Arya langsung mengakhiri panggilannya.


''Zidane, Mami sudah mengijinkan. Jadi sekarang kita keluar yuk. Papi mohon, Zidane.''


''Baiklah. Aku mau karena Mami.''


''Terima kasih ya nak.'' Arya senang sekali karena akhirnya berhasil membujuk Zidane.

__ADS_1


Kini Ayah dan anak itu sedang makan bersama di restoran fast food.


''Zidane, Papi dengar kamu habis sakit. Maafkan Papi ya.''


''Aku sudah baik-baik saja kok, Pi.''


''Oh ya Zidane, Opa dan Oma akan membelikan rumah baru untuk kamu dan Mami jadi kamu harus segera kembali ya. Maafkan Papi yang tidak bisa menolak permintaan Tante Shella. Tante Shella selalu mengancam Papi inging menyakiti adik bayi yang ada di dalam perutnya Tante Shella. Papi merasa bersalah sekali sama kamu dan Mami.''


''Tante Shella kan jahat kenapa Papi mau sama dia?''


''Ini memang salah Papi. Jadi biarkan saja Papi yang menanggung semua ini. Papi minta maaf karena harus membuat kamu dan Mami pergi dari rumah. Sekarang kamu tinggal dimana?''


''Aku dan Mami tinggal di rumah Om Daniel. Bi Tuti dan Mbak Lasmi juga ikut tinggal disana.''


''Kamu senang tinggal disana?''


''Iya senang sekali. Selain rumahnya lebih besar, Om Daniel juga sangat baik sama aku dan Mami. Om Daniel juga sering membacakan aku cerita sebelum tidur. Kemarin saat aku sakit, Om Daniel juga merawat dan menyuapi aku makan.'' Cerita Zidane tiba-tiba membuat dada Arya menjadi sesak. Hal yang biasa ia lakukan, kini sudah di gantikan oleh orang lain. Tapi bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.


''Berarti benar kata Shella kalau Aruna tinggal bersama Daniel. Pantas saja dia betah dan terlihat tenang. Kumpul kebo rupanya.'' Gumam Arya dalam hati dengan di selimuti rasa cemburu.


''Bilang sama Mami ya kalau Opa Jodi akan membelikan kalian rumah. Jadi kalian tidak akan tinggal di rumah Om Daniel lagi. Maafkan Papi juga karena Papi belum bisa menggantikan rumah dan mobil untuk kamu. Papi masih belum mendapat pekerjaan. Maafkan Papi Zidane.''


''Aku dan Mami sudah bahagia tanpa Papi. Apalagi sejak ada Om Daniel.'' Celetuk Zidane. Ucapan Zidane semakin menambah rasa sesak di dada Arya.


Setelah mengajak Zidane makan siang, Arya mengajak Zidane ke toko mainan. Sebagai anak kecil, tentu sangat senang saat melihat mainan.


''Tidak usah, Pi. Aku pulang sama Mbak Lasmi saja. Itu Mbak Lasmi sudah menunggu di dalam taksi. Papi hati-hati dan terima kasih untuk waktunya.'' Zidane memeluk Papinya sekilas, setelah itu ia berlari keluar toko mainan menuju taksi. Arya kecewa karena tidak bisa mengantar Zidane. Namun Arya tidak kehilangan akal, ia kemudian mengikuti taksi yang di tumpangi oleh Zidane. Arya di buat penasaran dengan rumah Daniel tempat Zidane dan Aruna tinggal disana.


...****************...


Malam harinya, Aruna, Daniel dan Zidane tengah makan malam bersama. Keduanya persis seperti sebuah keluarga.


''Zidane, apa tadi Papi lama menemui mu?''


''Iya. Kenapa Mami mengijinkan aku bersama Papi? Padahal aku tidak ingin bersama Papi.''


''Jadi tadi mantan suamimu menemui Zidane?'' sela Daniel.


''Iya Tuan.'' Jawab Aruna. Daniel hanya manggut-manggut saja sambil meneruskan makannya. Namun sebenarnya ada sesuatu yang Daniel pikirkan.


''Zidane, Papi memang salah, Papi memang menyakiti kita tapi dia tetaplah Papi kamu, Ayah kandung kamu. Kamu boleh marah dan kecewa tapi kamu tetap harus menghargainya.''


''Tapi aku masih tidak ingin bertemu dengannya, Mi. Aku tidak suka jadi Mami tolong mengerti aku.''


Aruna menghela. ''Iya, maafkan Mami. Lain kali Mami akan bilang sama Papi kalau kamu belum ingin bertemu dengannya.''

__ADS_1


''Iya Mi, terima kasih.''


''Sekarang lanjutkan dulu makannya.'' Ucap Aruna. Zidane hanya mengangguk.


''Oh ya Mi, ada yang ingin aku sampaikan kalau Opa Jodi akan membelikan kita rumah.''


''Opa Jodi? Apa Opa Jodi tahu semuanya?''


''Sepertinya begitu, Mi.''


Aruna terdiam sejenak. Memikirkan apa yang sebenarnya terjadi sebelum Arya menemuinya.


Selesai makan malam, Aruna memilih duduk bersantai di tepian kolam renang. Sembari mencelupkan tangan dan memainkan air itu. Membiarkan Daniel menemani Zidane untuk tidur.


''Apa Papa Jodi sudah tahu semuanya dan marah? Sampai membuat Papa Jodi ingin membelikan aku dan Zidane rumah? Apa mereka bertengkar? Aku sendiri bingung kenapa aku tidak bisa mendapatkan rumah kontrakan baru. Masa iya di kota sebesar ini mencari kontrakan semuanya penuh. Mencari di iklan banyak yang kosong begitu di kroscek langsung penuh. Masa iya aku harus tinggal disini terus. Apa kata orang nanti? Meskipun aku dan Tuan Daniel tidak berbuat sesuatu.'' Batin Aruna berkecamuk tidak karuan.


''Aruna!" suara Daniel mengagetkannya.


''Eh Tuan. Zidane sudah tidur?''


''Sudah, baru saja. Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu.'' Daniel kemudian duduk disamping Aruna.


''Ya, aku memikirkan kenapa aku tidak kunjung mendapat rumah kontrakan. Heran saja.''


''Kamu sungguh ingin meninggalkan rumah ini?''


''Iyalah. Nanti apa kata orang? Nanti di sangkanya kita kumpul kebo.''


''Makanya ayo kita nikah saja.'' Celetuk Daniel. Aruna langsung melirik tajam kearah Daniel.


''Aku tidak yakin kalau Tuan bisa berkomitmen.''


''Kamu kan belum mencobanya. Bagaimana kalau kita pacaran dulu?''


''Maksudnya? Jangan aneh-aneh ya Tuan.'' Kesal Aruna.


''Aruna, kamu jangan pergi dari rumah ini. Aku ingin kamu tetap di rumah ini. Biarkan aku yang keluar dari rumah ini.''


''Ini kan rumah Tuan. Masa iya Tuan yang harus pergi.''


''Aku merasa tenang saat rumah ini di jaga olehmu. Aku akan tinggal di apartemen. Dengan begitu kamu bisa tenang. Asal kamu tahu Aruna, sekalipun aku brengsek dan banyal wanita, tidak ada satupun wanita yang aku bawa ke rumah ini. Kamu lah yang pertama dan satu-satunya. Karena aku tidak senang saja privasi ku di ganggu apalagi kalau mereka merengek minta sesuatu. Bisa jadi setiap hari rumahku selalu penuh dengan tamu wanita.'' Ucap Daniel dengan senyum kecilnya.


''Lalu dimana para wanita itu mencari Tuan?''


''Aku selalu berpindah-pindah. Dari apartemen satu ke apartemen yang lain. Setelah mereka tahu alamat apartemenku, aku akan pindah dan menyewakannya. Dengan begitu mereka tidak akan tahu aku tinggal dimana. Karena aku selalu mengaku bekerja di luar negeri.''

__ADS_1


''Wah-wah, pemikiran yang sangat jenius dan sangat busuk.'' Sindir Aruna dengan senyum sinisnya.


''Ya memang begitu adanya. Aku terima mendengar pujian sekaligus hinaan itu. Aku tidak akan marah. Yang jelas wanita yang pertama kali aku bawa ke rumah adalah kamu. Kamu lah yang layak menjadi pendamping hidupku. Sedangkan wanita-wanita itu tidak ada artinya dalam hidupku. Sepertinya Tuhan sengaja mengirimkan mu untukku. Kamu adalah bidadari yang di kirim Tuhan untuk menjagaku.'' Untaian kalimat Daniel menyentuh relung hati Aruna. Wanita mana yang tidak tersentuh dengan ucapan itu. Meskipun Aruna tahu yang mengatakan itu adalah Daniel, Sang Cassanova. Aruna hanya terdiam sembari menyelami apa saja yang di katakan Daniel. Sedikit ada rasa beruntung karena dirinya menjadi yang pertama.


__ADS_2