
''Tuan, ini semua informasi yang anda minta tentang Nona Aruna.'' Ucap Gino seraya memberikan foto-foto dan juga data pribadi suami Aruna. Tuan Hutama mengernyitkan dahinya melihat suami Aruna bersama wanita lain dalam foto itu, yang mana wanita itu adalah Shella.
''Siapa wanita ini, Gino?''
''Jadi sebenarnya hubungan Nona Aruna dan suaminya sedang tidak baik-baik saja. Karena ternyata suaminya telah berhianat. Suaminya selingkuh dan menikah siri dengan wanita bernama Nona Shella, seorang model sekaligus cinta pertama suami Nona Aruna yaitu Tuan Arya. Bahkan Nona Aruna berniat berpisah dengan suaminya karena menolak untuk di poligami. Itulah informasi yang saya dapat seharian ini dengan mengerahkan beberapa anak buah.'' Jelas Gino.
''Kasihan Aruna. Bisa-bisanya suaminya tega menghianatinya.'' Gumam Tuan Hutama dalam hati.
''Baiklah Gino, terima kasih. Kamu boleh kembali.''
''Iya Tuan, saya permisi.'' Gino kemudian undur diri meninggalkan ruang kerja Tuan Hutama.
''Aruna, kenapa nasib mu seperti ini? Apa ini alasanmu mencari kerja, Aruna? Kamu sudah aku anggap seperti anakku sendiri, saat kamu pertama kali bekerja denganku. Kalau memang Aruna memiliki niat berpisah dengan suaminya, aku akan menerimanya sebagai menantuku dan akan menjodohkannya dengan Daniel. Sepertinya aku tahu apa yang harus aku lakukan.''
-
Malam harinya Aruna dan Zidane sedang menikmati makan malam berdua di rumah. Mereka sama sekali tidak menunggu Arya pulang.
''Halo, selamat malam semuanya.'' Suara Arya menyapa Zidane dan Aruna. Zidane dan Aruna kompak melempar senyum tipis pada Papanya. Namun senyum itu seketika pudar, saat terdengar suara langkah kaki orang lain dan ternyata itu adalah Shella.
''Selamat malam Aruna, Zidane.'' Sapa Shella dengan senyum ramahnya.
''Mas, apa maksud kamu membawa dia kemari?'' Aruna pun langsung menunjukkan reaksi tidak sukanya pada Shella.
''Aruna, kamu tenang dulu sayang. Aku sengaja membawa Shella kemari untuk makan malam bersama kita. Kamu juga sudah tahu semuanya jadi tidak ada lagi yang akan aku sembunyikan. Aku melakukan ini supaya kalian berdua semakin akrab.'' Jelas Arya tanpa memikirkan perasaan Aruna.
''Papi, siapa ini?'' tanya Zidane. Arya tersenyum lalu mendekat kearah Zidane.
''Zidane, ini Tante Shella. Dia ini juga Maminya Zidane.''
''Hai Zidane, senang bertemu denganmu. Kamu sangat tampan dan menggemaskan ya. Aku harap kita bisa berteman baik.'' Ucap Shella.
''Tidak! Aku tidak mau Mami lagi. Mami ku hanya Mami Aruna.'' Zidane turun dari kursinya lalu memeluk Aruna.
''Kamu keterlaluan sekali, Mas. Kamu egois! Kamu sama sekali tidak memikirkan perasaan Zidane.''
''Aku melakukan ini justru ingin menjaga perasaan Zidane. Supaya Zidane tahu kalau dia punya Ibu baru.''
''Ibu baru? Aku masih hidup, Mas. Atau kamu ingin aku secepatnya mati? Sampai kamu mencari Ibu baru untuk Zidane.'' Aruna benar-benar kecewa dengan apa yang di lakukan oleh Arya. Aruna lalu mengajak Zidane menuju kamarnya.
''Sepertinya Zidane sulit menerimaku,'' kata Shella dengan sedih.
''Sudahlah tidak usah di pikirkan. Aku sudah lapar, jadi sebaiknya kita makan saja dulu.'' Kata Arya.
''Iya Mas. Oh ya rumah kamu bagus sekali, aku langsung nyaman disini. Aku juga ingin memiliki rumah seperti ini.''
''Iya, aku nabung dulu dan akan membelikanmu rumah seperti ini.''
''Terima kasih ya, Mas.''
__ADS_1
''Iya sama-sama. Kamu kan juga istri aku, Shella.'' Kata Arya.
''Bi Tuti-Mbak Lasmi!" Suara Arya memanggil keduanya. Bi Tuti dan Mbak Lasmi dengan kompak menghadap tuannya.
''I-iya Tuan. Ada yang bisa kami bantu?'' ucap Bi Tuti.
''Oh ya Bi, aku ingin memperkenalkan Shella pada kalian. Kalian panggil dia Nyonya Shella. Nyonya Shella ini adalah istri kedua ku dan cinta pertamaku yang dulu sempat menghilang.'' Jelas Arya.
''Senang bertemu dengan anda Nyonya. Saya Bi Tuti.''
''Dan saya Lasmi, Nyonya. Saya baby sitter disini.''
''Iya, senang bertemu juga dengan kalian.''
''Kami permisi ya, Tuan.'' Kata Bi Tuti.
''Iya Bi, silahkan.'' Kata Arya. Bi Tuti dan Mbak Lasmi pun pergi ke belakang.
''Ya ampun, Tuan benar-benar dua istri. Tega sekali Tuan menduakan Nyonya,'' kata Bi Tuti.
''Iya Bi. Tuan bahkan tidak ragu lagi membawa istri keduanya kerumah. Ya Allah pasti Nyonya Aruna terluka sekali.'' Kata Mbak Lasmi.
''Tuan memang benar-benar tega sekali. Bahkan ini belum ada empat puluh harinya Den Zio tapi Tuan malah menambah luka untuk Nyonya.'' Ucap Bi Tuti.
''Semoga Nyonya Aruna bisa melewati ini semua ya, Bi.''
''Iya ya, Bi. Sepertinya Den Zidane kenal sama dua pria itu. Tapi ya sudahlah itu bukan urusan kita. Bisa jadi itu teman Nyonya, iya kan?''
''Iya Las.''
-
''Mami, are you okay?'' tanya Zidane yang masih dalam pelukan Maminya. Aruna hanya bisa mengangguk, sementara matanya telah basah.
''Mami, don't cry. Jangan buat Zidane sedih juga. Kalau Mami sedih, Zidane juga sedih.''
''Maafkan Mami ya, sayang. Mami tidak bisa menjaga Papi. Mami membuat kamu kehilangan Papi.''
''No Mami! Bukan Mami yang salah tapi Papi. Papi tidak bersyukur memiliki Mami dan Zidane. Kata Ibu guru di sekolah, kita harus menjaga, melindungi dan bersykur dengan apa yang Tuhan titipkan kepada kita, termasuk keluarga.''
Aruna terharu mendengar apa yang di ucapkan Zidane. Aruna merasa bersalah karena Zidane dipaksa dewasa oleh keadaan.
''Mami bahagia sekali memiliki kamu, sayang.''
''Begitu juga dengan Zidane. Zidane bahagia dan bangga memiliki Ibu seperti Mami.'' Mereka berdua kemudian saling berpelukan. Dering ponsel Aruna, membuatnya melepaskan pelukannya dengan Zidane. Ada panggilan masuk dari nomor tidak di kenal di layar ponsel Aruna.
''Halo, selamat malam Aruna.'' Suara Tuan Hutama diseberang sana.
''Tu-tuan Hutama.'' Aruna tentu masih mengenali suara Tuan Hutama.
__ADS_1
''Iya Aruna. Ternyata kamu masih mengenali suaraku. Oh ya Aruna, besok datanglah ke kantorku. Ada posisi yang pas untukmu di kantor.''
''Sungguh Tuan? Tenaga saya masih di butuhkan?''
''Tentu saja Aruna. Besok aku tunggu jam 8 ya, jangan sampai terlambat.''
''Pasti Tuan. Sekali lagi terima kasih.''
''Baiklah kalau begitu, sampai bertemu besok Aruna. Selamat malam.''
''Iya Tuan. Saya akan datang tepat waktu. Selamat malam.'' Panggilan pun berakhir. Wajah sendu dan sedih Aruna seketika berubah menjadi ceria.
''Ada apa Mami?''
''Mami diterima kerja, sayang.''
''Selamat ya, Mami. Zidane senang sekali mendengarnya.'' Zidane lalu memberikan untuk Maminya.
''Teriman kasih ya, sayang. Doakan Mami ya. Mami rasanya gugup.''
''Pasti Mami. Zidane pasti akan mendoakan Mami. Tapi Mami jangan gugup. Mami itu cantik dan hebat jadi Mami harus semangat ya.''
''Oh, terima kasih untuk semangatnya, sayang. Akhirnya Mami bisa kerja lagi.'' Aruna tidak bisa menutupi rasa bahagia dan syukurnya. Setidaknya kini ia punya pekerjaan untuk menyambung hidupnya bersama Zidane. Tiba-tiba ponsel Aruna berdering, sebuah notifikasi pesan masuk dan itu dari Gita.
Gita : Aruna, gue udah bantu mengurus surat perceraian elo dengan Mas Arya.
Mendapat pesan itu, Aruna tersenyum lebar.
Aruna : Thanks ya, Gita. Elo dan Dinda emang gercep banget. Besok pagi-pagi gue tunggu di gerbang ya. Gue nggak pingin Mas Arya tahu.
Gita : Kenapa sih harus pagi-pagi banget? Habis ngantar Zidane, kita bisa ketemuan kan?
Aruna : Gue besok mulai kerja, Gita. Gue keterima kerja di perusahaan tempat gue kerja dulu.
Gita : Serius elo mau kerja?
Aruna : Serius, Git. Gue udah nggak mau gantungin hidup sama Mas Arya lagi.
Gita : Elo beneran mau nyerah gitu saja sama pelakor itu? Elo yang nemenin Mas Arya sampai se-sukses sekarang lho, Run. Elo yakin mau lepasin itu semua?
Aruna : Iya, Gita. Gue mau lepasin semua itu. Disini harga diri lebih penting dari segalanya. Gue nggak mau terus-terusan di injek-injek apalagi di suruh memaklumi keadaan. Yang penting sekarang, gue mau memulai semuanya dari nol bersama Zidane. Harta masih bisa di cari, Git. Tapi ketulusan, kesetiaan dan komiten tidak bisa dicari ataupun dibeli.
Gita : Iya, elo bener. Ya udah besok biar supir gue yang antar ya. Semangat ya Aruna! Jangan lupa traktirannya, hehehehe.
Aruna : Pasti dong! Kasih kabar Dinda juga ya.
Gita : Oke.
Bersambung....
__ADS_1