
"Aku sangat merindukanmu ... Aku sangat merindukanmu ..." ucap Dicko di sela isak tangisnya sembari mempererat pelukannya.
"Maaf, aku pergi tanpa memberitahumu."
"Jangan pernah tinggalkan aku lagi. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu."
Perlahan Dicko mulai melepaskan pelukannya. Lalu merangkum wajah mungil Aruna. Menatapnya dalam - dalam dengan air mata yang masih bercucuran.
"Please, jangan lakukan ini lagi. Jangan pernah pergi lagi dariku. Jangan menyiksaku seperti ini. Aku sangat mencintaimu."
Senyum manis pun tersungging di wajahnya. Aruna begitu bahagia bisa bertemu lagi dengan pria yang dicintainya itu. Sebuah kecupan hangat dengan cepat mendarat di keningnya. Aruna memejamkan matanya. Merasakan kecupan itu.
Di ambang pintu rumah itu, Oma Windi dan Cika tengah memperhatikan mereka dengan perasaan haru. Sebelumnya, Oma Windi pernah mendengar cerita hidup Aruna dari Tante Novi. Sungguh tidak menyangka, pria itu adalah pria dari masa lalunya.
Kecupan itu perlahan mulai turun. Hendak menyentuh bibir Aruna. Tapi tiba - tiba saja ...
"Ehem ... Ehem ..."
Suara deheman Oma Windi mengagetkan keduanya. Wanita tua itu berjalan menghampiri keduanya. Yang terlihat gugup dan salah tingkah.
"Oma ..." Aruna terlihat malu - malu.
"Oma sudah tau. Nak Dicko ini adalah pria yang kamu cintai kan? Oma ikut senang akhirnya kalian bisa bertemu lagi. Oh ya, diluar dingin. Kalian bisa mengobrol di dalam."
"Terima kasih Oma. Kalau bisa, saya ingin mengajak Aruna keluar sebentar." Ijin Dicko
"Boleh ... Tapi jangan lama - lama ya. Kalian tau kan, ini sudah hampir tengah malam."
"Iya Oma. Tidak akan lama."
Oma Windi tersenyum. Kemudian kembali ke dalam rumah. Sedangkan Dicko dan Aruna berjalan menuju mobil yang menunggu di depan gerbang.
.
.
"Makasih ya Bim." Ucap Dicko sembari menepuk pelan pundak Bimo.
"Sama - sama Pak. Kalau Bapak sudah mau pulang, Bapak hubungi saya lagi. Saya akan berada di sekitar sini."
"Oke. Sekali lagi, makasih ya?"
"Kalau gitu, saya permisi Pak." Kemudian Bimo meninggalkan Dicko dan Aruna di pinggiran pantai yang tampak sepi pengunjung itu.
Kini Dicko menghampiri Aruna yang sedang duduk di bagian depan mobil sembari menikmati semilir angin malam yang menerpa wajahnya. Dan pemandangan hamparan lautan luas di depan matanya.
"Kamu kedinginan?" tanya Dicko sembari mengambil duduk di samping Aruna.
Aruna menggeleng sambil kedua tangannya menyilang di depan dada. Dan mengusap - usap lembut kedua lengannya. Seperti orang yang sedang kedinginan. Dan sialnya, Dicko malah tidak membawa jacket.
"Sini ..." Dicko menarik lengan Aruna agar lebih mendekat padanya. Aruna pun turun dan mendekat. Lalu Dicko merengkuhnya, memeluknya erat dari arah belakang.
"Sudah lebih hangat?"
__ADS_1
Aruna mengangguk pelan. Sambil tersenyum menahan malu. Semilir angin yang berhembus menerbangkan helaian rambutnya hingga menyentuh wajah pria yang tengah memeluknya.
Perlahan tangan Dicko menyelipkan helaian rambut itu di telinga Aruna. Dan menyibak rambutnya kesamping. Aruna bisa merasakan napas hangat Dicko menyapu permukaan kulitnya. Dengan lembut Dicko menciumi ceruk leher jenjangnya. Membuatnya jadi merinding.
"Aku ingin kita selalu seperti ini. Aku tidak ingin lagi terpisah darimu ... Aruna ..." Dicko memutar tubuh Aruna agar berhadapan dengannya.
"Mungkin aku tidak seromantis Bram saat melamarmu. Tapi aku bersungguh - sungguh. Maukah kamu menikah denganku?"
Aruna tertegun mendengar kalimat itu. Tatapan Dicko yang begitu dalam membuat darahnya berdesir. Hati pun berdebar - debar.
"Maaf, aku melamarmu dengan cara seperti ini. Aku mau kita menikah secepatnya."
Aruna harus jawab apa sekarang? Jujur, dia sangat mencintai Dicko. Tapi, apa akan semudah itu jalan untuk mereka bersatu. Aruna hanya kurang yakin kalau mantan mertua dan mantan suaminya akan setuju. Masalahnya, Dicko bukan orang lain. Dicko adalah kakak dari mantan suaminya. Sungguh lucu bukan?
"Aku ..." Aruna masih bingung harus menjawab apa.
"Aku tau apa yang kamu cemaskan. Jangan takut, aku akan bicara dengan Papa dan Bram. Aku akan mencoba meyakinkan mereka. Jadi kamu tidak usah cemas."
"Aku tidak mau menjadi penyebab keretakan hubungan kalian lagi. Kamu dan Bram, adalah kakak dan adik yang saling menyayangi. Aku tidak ingin merusak itu."
"Aku akan memperjuangkan cinta kita. Tidak ada satu orang pun yang bisa memisahkan kita. Aku ingin selamanya kamu jadi milikku. Aku tidak peduli siapa kamu, statusmu, apa kata orang nanti. Aku tidak peduli semua itu. Yang aku inginkan hanyalah agar kita bisa bersama, selamanya. Aku sangat mencintaimu."
Aruna tampak berpikir sejenak.
"Tapi ..."
"Tapi apa?"
"Kita akan tinggal disini, bila perlu. Kita akan memulai hidup kita di kota ini. Hm?" sembari mengulurkan tangannya menyentuh sebelah wajah Aruna.
Aruna masih tampak berpikir. Entah apa yang membuat hatinya kurang yakin.
"Percaya padaku. Semua akan baik - baik saja."
Akhirnya Aruna pun tersenyum. Kemudian menghambur kedalam pelukan Dicko. Menyandarkan kepalanya di dada bidang Dicko.
"Iya, aku mau."
Dicko pun mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan Aruna. Memeluknya erat dengan penuh rasa haru.
Aruna lalu mendongak, menatap Dicko. Dan Dicko pun menurunkan pandangannya, menatap Aruna. Untuk beberapa saat keduanya saling menatap. Sampai akhirnya Aruna memberanikan diri mengecup bibir Dicko singkat. Kemudian mengulas senyum manisnya, seakan tengah menggoda prianya.
"Sudah mulai berani ya? sejak kapan jadi genit begini?" goda Dicko.
"Sejak sama kamu. Oh ya, terima kasih atas kado ulang tahunnya."
"Kado itu tidak seberapa. Hanya sebuah barang yang sederhana. Saat membeli itu, aku membayangkan kamu. Padahal saat itu, aku tidak tau kalau kamu yang berulang tahun."
"Buat aku, kamu adalah kado terindah. Kado yang paling berharga untukku. Aku janji, aku akan selalu menjaga kado itu. Aku sangat mencintaimu."
"Berjanjilah. Apapun yang terjadi, kamu akan slalu ada disisiku. Apapun yang terjadi, kamu akan slalu mencintaiku. Seperti aku mencintaimu. Jangan pernah pergi lagi dariku. Aku bisa mati kalau kamu sampai melakukan itu lagi."
"Iya, aku janji."
__ADS_1
Dicko pun tersenyum. Dan perlahan mulai mendekatkan wajahnya. Sapuan hangat bibirnya kini mendarat di bibir Aruna. Memagutnya mesra. Aruna pun memejamkan matanya, merasakan ciuman lembut itu. Bahkan Aruna mulai berani membalas ciuman itu. Memagut mesra bibir atas dan bibir bawah prianya bergantian.
Tak ingin wanitanya yang mendominasi, Dicko pun mengambil alih ciuman itu. Satu tangannya mengunci pinggang ramping Aruna dan satu tangan lainnya menekan tengkuk Aruna. Memberinya ciuman lebih dalam. Dan perlahan Dicko mulai menurunkan ciumannya menyusuri leher jenjang wanitanya. Bahkan mulai berani meninggalkan satu tanda merah disana.
Di bawah sinar rembulan malam itu, di iringi suara deburan ombak. Dua insan yang saling mencintai itu tengah memadu kasih. Meleburkan hasrat kerinduan yang telah sangat menyiksa.
Akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali di saat - saat yang tidak terduga. Di hari spesial Aruna. Dan Dicko adalah kado terindah yang dikirim Tuhan untuknya dihari ulang tahunnya.
.
.
Sementara itu, di malam yang sama, di lain kota.
Bram tengah duduk termenung seorang diri di pinggiran kolam renang, di taman belakang rumahnya. Entah kenapa, rumah besar itu kini terasa begitu sepi. Meski kini Dicko sudah kembali ke rumah itu, akan tetapi semuanya terasa berbeda.
Selama dua tahun ini, setiap malam Bram habiskan dengan merenung. Lamunannya selalu kembali ke masa lalu. Di saat - saat bahagianya bersama Aruna. Meski kini mereka sudah berpisah, tetapi Bram masih belum bisa menerimanya.
Dari yang tampak, sekilas, orang mungkin mengira Bram sudah merelakan perpisahan mereka. Tapi sesungguhnya, Bram belum rela. Bram belum bisa menerima kenyataan pahit itu. Kenyataan bahwa rumah tangganya dengan Aruna sudah berakhir. Semua itu masih terasa bagai mimpi buruk bagi Bram. Dia masih berharap Aruna akan datang dan membangunkannya dari mimpi buruk itu.
"Bram ..."
"Aruna ..." seru Bram tersentak dari lamunannya.
"Bukan. Ini Papa." Sembari mengambil duduk di samping Bram, di bangku panjang itu.
Bram mendesah kasar. Entah kenapa dia seakan mendengar suara Aruna tengah memanggil namanya.
"Kamu harus bisa menerima kenyataan Nak. Sudah dua tahun berlalu. Tapi kamu masih seperti ini terus. Papa jadi sedih melihat keadaan kamu. Tolong Nak, lupakanlah semua. Jalanilah hidupmu yang baru. Papa kasihan sama kamu. Orang - orang jadi mengira kamu stress." Ucap Papa Danu sembari menepuk lembut pundak puteranya.
"Biarkan saja orang - orang menganggapku seperti itu. Aku tidak peduli."
"Lupakanlah masa lalu. Sekarang pikirkanlah masa depan kamu."
"Aku tidak tau dimana dia sekarang. Aku hanya ingin melihatnya sekali lagi. Aku hanya ingin bertemu dengannya. Untuk terakhir kalinya."
Papa Danu terhenyak. Jangan - jangan Bram sedang berpikiran konyol saat ini. Untuk terakhir kalinya? Apa maksudnya itu? Papa Danu pun mulai cemas. Dia hanya tidak ingin puteranya itu berpikiran bodoh hingga akhirnya berbuat nekat.
"Bram ... apa maksudmu. Papa mohon, kendalikan perasaanmu. Jangan seperti ini."
"Apa gunanya aku hidup, jika tidak ada dia di sampingku. Hidupku terasa sia - sia. Aku sudah kehilangan semuanya. Bayiku ... istriku ... Jadi untuk apa lagi aku hidup."
"Bram ..."
Bram pun bangun dari duduknya. Kemudian berlalu meninggalkan Papa Danu yang memandanginya penuh kecemasan.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
__ADS_1