Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 21 Mengikuti Alur


__ADS_3

Tepat sore hari, akhirnya Arya sampai juga di rumah.


''Mami-Zidane, Papi pulang nih!" suara Arya membuat Zidane berlari dari ruang menuju ruang tamu. Aruna memilih diam dan tetap menikmati tontonan kartun di layar televisi.


''Papi, i miss you.'' Zidane melompat ke dalam pelukan Arya.


''I miss you too, jagoan Papi. Mami mana?''


''Mami nonton televisi.''


''Kenapa Aruna tidak menyambutku?'' gumam Arya dalam hati.


''Baiklah, ayo kita susul Mami.'' Arya dan Zidane lalu berjalan menuju ruang tengah.


''Sayang, masa suami pulang nggak di sambut.'' Protes Arya.


''Eh Mas maaf ya kartunnya lagi seru,'' jawab Aruna dengan entengnya. Arya lalu memeluk Aruna dan mengecup keningnya.


''Bahkan aroma tubuhmu, adalah aroma wanita itu Mas.'' Gerutu Aruna dalam hati.


''Bagaimana kabarmu sayang? Baby kita baik-baik saja kan?''


''Iya Mas, semuanya baik kok.'' Ucap Aruna berbohong.


''Kamu kenapa sih? Kok jutek gitu.''


''Ah tidak apa-apa kok, Mas. Mungkin efek kandungan makin tua ya jadinya capek.''


''Oh ya aku ada sesuatu untuk kamu dan Zidane.'' Arya memberikan empat paper bag.


''Papi membelikan sepatu dan tas sekolah untuk kamu. Dan untuk Mami ada sepatu dan juga tas.''


''Hore, makasih Papi.''


''Sama-sama Nak.''


''Terima kasih ya Mas, untuk hadiahnya. Sebaiknya kamu segera mandi dan kita makan malam.''


''Oke sayang.'' Dengan wajah cerianya, Arya menuju lantai atas kamarnya.


''Aku tidak menyangka di balik sikap manismu ternyata mengandung racun yang begitu mematikan,'' gumam Aruna dalam hati. Ingin rasanya Aruna segera melampiaskan amarahnya namun ini bukan saat yang tepat. Apalagi Arya baru saja sampai, terlalu mengejutkan jika Aruna membeberkan fakta itu sekarang. Aruna ingin menikmati permainan demi permainan yang sedang Arya lakukan.


Selesai makan malam dan menidurkan Zidane, Arya kembali ke kamarnya. Ia melihat Aruna sedang duduk di depan cermin meja riasnya. Tiba-tiba saja Arya memeluk Aruna dari belakang.


''Sayang, aku sangat merindukanmu. Satu minggu kita tidak bertemu, rasanya aku tidak tenang sekali. Apalagi dengan insiden ponselku hilang. Apa kamu juga merindukan aku?''


''Iya Mas, aku juga merindukanmu.'' Jawab Aruna. Arya lalu memberikan kecupan lembut di leher Aruna dengan merata. Sebagai seorang istri, tentu saja Aruna sangat merindukan belaian suaminya. Namun jika mengingat kebohongan Arya, yang ada dalam benak Aruna hanyalah rasa kecewa.


''Sayang, aku menginginkanmu.'' Ucap Arya.

__ADS_1


''Mas, maafkan aku ya. Aku rasanya lelah sekali. Aku mau istirahat dulu.'' Kata Aruna. Aruna lalu beranjak dari duduknya dan segera berbaring di atas tempat tidur. Arya kemudian naik ke atas tempat tidur menyusul Aruna. Di peluknya Aruna dari belakang sembari mengusap perut Aruna.


''Sayang, kamu kenapa? Apa kamu masih marah dengan ku? Atau ada sesuatu yang kamu pikirkan? Apa baby di dalam perut kamu rewel?''


''Tidak ada Mas. Mungkin efek hamil tua jadi rasanya capek gitu saja, Mas. Kamu istirahat ya, Mas. Aku sudah sangat mengantuk.''


''Oke baiklah sayang. Aku akan meminta jatahku sampai kamu mood melakukannya.''


''Iya Mas, sekali lagi maafkan aku ya, Mas.''


''Iya sayang tidak apa.''


Dalam diamnya, Aruna mencoba menahan air matanya. Perhatian dan kata manis dari bibir Arya justru membuatnya semakin merasa sakit. Tidak ada lagi perasaan bahagia ketika suaminya memberinya perhatian.


...****************...


Keesokan harinya, Aruna sedang membantu Arya bersiap ke kantor.


''Oh ya Mas, ada yang ingin aku tanyakan.''


''Apa sayang? Tanyakan saja.''


''Aku menemukan struk pembelian perhiasan. Lebih tepatnya cincin dan kalung.'' Aruna lalu menunjukkan struk itu pada Arya. Arya kemudian melihatnya, Arya terhenyak.


''Bodoh, kenapa aku tidak membuangnya saja waktu itu. Apa yang harus aku jawab sekarang?'' batin Arya.


''Mmmm maaf sayang. Ini perhiasan pesanan bos aku. Dia ingin memberikan kejutan untuk istrinya yang sedang ulang tahun. Kebetulan kan aku sedang di Singapura, sedangkan perhiasan ini belum di pasarkan di Indonesia. Namanya suami pasti ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya.'' Jelas Arya dengan tergagap namun ia tetap berusaha tenang.


''Oh begitu, aku pikir kamu menyiapkan kejutan untuk aku.''


''Kalau kamu mau, aku juga akan membelikan kamu sayang. Atau aku pesankan dsri Singapura juga?''


''Tidak usah Mas. Lebih baik uangnya di tabung untuk masa depan anak-anak kita nanti.''


''Tabungan anak-anak sudah aku siapkan sayang. Nanti aku akan pesankan satu set untuk kamu ya.''


''Oke baiklah kalau kamu memaksa.'' Ucap Aruna dengan senyum kecilnya.


''Kalau begitu aku berangkat ke kantor ya.''


''Mas, aku mohon luangkan waktu untuk Zidane ya. Kamu jangan pulang malam lagi, kasihan dia.''


''Oke sayang. Nanti biar aku yang menjemputnya ke sekolah dan aku akan makan siang di rumah.''


''Iya Mas.'' Arya kemudian memberikan kecupan di kening istrinya sebelum ia berangkat ke kantor.


-


Sesampainya di kantor, tentu saja Arya di sibukkan dengan segudang pekerjaan yang menantinya. Pagi yang begitu sibuk bagi Arya, mempersentasikan hasil kerjanya selama di Singapura, sekaligus tumpukan dokumen yang menggunung yang harus ia selesaikan secepat mungkin. Sebuah panggilan masuk membuat fokus Arya terpecah.

__ADS_1


''Halo suamiku, sedang sibuk ya?'' sapa Shella di seberang sana.


''Hei sayang, iya aku sangat sibuk. Bagaimana pemotretanmu? Dan berapa hari kamu di Bali?''


''Semuanya lancar saja. Maaf ya kalau aku kemarin langsung terbang ke Bali dan meninggalkanmu, aku sudah terlanjur tanda tangan kontrak. Aku bisa tiga hari atau satu minggu lebih.''


''Its okay sayang, tidak apa-apa.''


''Kamu pasti senang ya karena aku tidak ada bersamamu. Kamu pasti bebas bersama dengan istri dan anakmu.''


''Kita kemarin kan juga sudah satu minggu full. Aku bahkan mengajakmu honeymoon. Sudah sangat adil bukan?''


''Tapi nanti kamu jemput aku ya. Aku sangat merindukanmu, sayang.''


''Aku pun juga sama. Ya sudah ya, aku harus kembali bekerja. Pekerjaanku banyak sekali apalagi setelah aku tinggal satu minggu.''


''Iya Mas. Ingat aku selalu ya, have a nice day.''


''Pasti sayang. Kamu juga ingat aku selalu ya dan jangan lupa selalu kirim aku kabar.''


''Pasti Mas. Aku akan mengirim fotoku setiap saat dan setiap waktu kepadamu. I love you and i miss you.''


''Love you too and miss you too sayang, muah.'' Panggilan pun berakhir dan Arya kembali menyelesaikan pekerjaannya.


-


''Bagaimana Mas Arya, Run?'' tanya Dinda melalui sambungan telepon.


''Dia bersikap manis dan perhatian seperti biasa, Din. Sama seperti biasanya. Tapi aku menemukan struk pembelian perhiasan di Singapura. Dan Mas Arya bilang, dia membelikan itu atas pesanan bosnya.''


''Aruna, elo yang sabar dan kuat ya.''


''Iya Dinda. Elo tenang aja, gue baik-baik aja dan gue bisa lewati semua ini kok.''


''Gue yakin semua ini pasti segera berakhir, Run. Setidaknya tenang dulu, sampai bukti yang kita punya cukup. Setelah semuanya cukup, baru kita ledakkan bom waktu itu.''


''Iya, Din. Thanks banget ya, untuk ada elo sama Dinda. Lalu detektif itu bagaimana?''


''Detektif itu masih menyelidiki siapa Shella itu. Nanti kalau bukti udah ke kumpul, gue pasti kabarin elo. Yang jelas, elo cukup duduk di rumah, biar kita yang kerja buat nyari bukti itu. Gue nggak tega kalau lihat bumil harus nyari bukti sendiri.''


''Iya-iya kalian memang the best. Ya udah, gue mau siapin makan siang dulu ya. Rencananya Mas Arya mau pulang makan siang.''


''Oh gitu, ya udah deh selamat memasak ya. Ingat ya untuk jaga kesehatan, Run.''


''Iya Dinda bawel. Bye.''


''Bye Aruna sayang.'' Panggilan berakhir.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2