
Dicko melangkah panjang dan terburu - buru memasuki kediaman Papa Danu. Dia mencari keberadaan Aruna di setiap ruangan. Hingga Bi Surti pun keheranan saat Dicko mencari keberadaan Aruna di dapur.
"Ada apa Den? Aden cari siapa?" tanya Bi Surti.
"Aruna."
"Non masih di kamar. Tadi Non baru sa__"
Tanpa menunggu Bi Surti menyelesaikan kalimatnya, Dicko langsung beranjak ke kamar Aruna. Tepat saat Aruna baru saja keluar dari kamarnya, Dicko sudah berdiri di hadapannya. Menatapnya sendu dan penuh rasa iba. Dari raut wajahnya, dan dari matanya yang terlihat sembab, Dicko bisa menebak apa yang baru saja terjadi.
"Kamu mau pergi?" tanya Dicko yang melihat Aruna sudah dengan pakaian rapinya.
Aruna mengangguk pelan. Dengan wajah sendu.
"Aku antar?"
Aruna menggelengkan kepalanya. Wajahnya terlihat semakin sendu. Tampak bulir - bulir air bening mulai menggenang di pelupuk matanya.
Dicko bisa mengerti perasaannya saat ini. Dicko pun melangkah lebih mendekat. Dan tanpa permisi di rengkuhnya tubuh ramping Aruna ke dalam pelukannya. Memeluknya erat, memberinya tempat untuk menyandarkan kesedihannya saat ini.
"Hiks ... hiks ... hiks ..."
Tangis Aruna pun pecah dalam dekapan Dicko. Isak tangisnya terdengar pilu. Begitu pilu. Hingga tanpa sadar Dicko pun ikut menitikkan air matanya. Wanita yang dicintainya dalam keadaan terluka.
Di seberang, Papa Danu tanpa sengaja melihat mereka berdua yang tengah berpelukan. Papa Danu pun menghampirinya dan mengagetkan keduanya.
"Dicko ..." seru Papa Danu.
Serentak Dicko dan Aruna saling melepaskan pelukannya. Dan buru - buru menghapus air matanya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Papa Danu dengan tatapan menyelidik.
"Bukan apa - apa Pa." Sahut Dicko asal.
"Aruna ... kamu kenapa?" tanya Papa Danu lagi. Tidak mungkin Aruna memberitahu Papa Danu kalau Bram tidak mengakui anak yang ada dalam kandungannya itu.
"Papa tidak mau melihat hal seperti ini terjadi lagi di rumah ini. Kalian sadar kan dengan status kalian saat ini? Dicko, dia ini istri adik kamu. Dia ipar ka__"
Dengan cepat Dicko meraih pergelangan tangan Aruna dan membawanya pergi dari tempat itu.
Papa Danu mendesah sembari menggelengkan kepalanya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikan matanya. Tidak disangka, Dicko sudah sangat berubah. Dia semakin di butakan oleh cintanya yang salah. Mencintai istri adiknya sendiri, sungguh suatu kesalahan yang besar. Sebuah kekeliruan.
.
.
Mobil yang Dicko kendarai telah sampai di depan minimarketnya Tante Novi.
Aruna ingin memberitahu kabar gembira ini secara langsung kepada Om dan Tantenya, adik dan juga sepupunya. Walau bagaimanapun mereka juga berhak tahu tentang kehamilannya.
"Kalau mau pulang, kamu hubungi aku ya? Aku akan menjemputmu." Kata Dicko.
"Tidak perlu. Terima kasih atas perhatian kamu."
__ADS_1
"Bram tidak mengakui anak yang kamu kandung kan?" tanya Dicko tiba - tiba.
Aruna menundukkan wajahnya. Air matanya hampir saja tertumpah lagi. Namun kemudian Aruna memalingkan wajahnya. Menatap keluar jendela mobil. Dan berusaha menghalau air mata itu.
Meski Aruna tidak mengatakannya, tapi Dicko mengetahuinya.
"Kalau begitu, aku turun dulu. Terima kasih ya sudah mengantarkan aku sampai kesini. Kamu hati - hati pulangnya." Aruna berupaya menghindari pertanyaan Dicko yang terasa menyayat hati.
Tangan Aruna sudah bersiap membuka pintu mobil. Namun tiba - tiba Dicko menghentikannya. Aruna kini menoleh, menatap Dicko yang juga menatapnya dalam jarak yang begitu dekat.
Untuk sesaat mereka saling menatap. Tatapan Dicko terasa begitu dalam. Hingga membuat jantung Aruna berdebar - debar.
"Jangan sungkan untuk berbagi apapun denganku. Aku akan selalu ada untukmu." Ucap Dicko lirih.
Aruna hanya tersenyum tipis. Sembari menatap lekat sorot mata Dicko yang memancarkan ketulusan hatinya.
Aruna kembali memalingkan wajahnya, lalu bersiap hendak keluar. Namun sekali lagi Dicko mencegahnya. Dan tiba - tiba saja Aruna merasakan sapuan hangat nan lembut bibir Dicko menyapu permukaan bibirnya. Semakin lama Dicko semakin memagutnya lebih dalam. Sebelah tangannya menekan lembut tengkuk Aruna dan semakin memperdalam ciumannya.
Dan Dicko pun mengakhiri ciumannya saat Aruna mendorongnya pelan.
"Entah kenapa, semakin Bram menyakitimu semakin aku menginginkanmu."
Ucapan Dicko membuat dada Aruna terasa sesak. Kini Aruna menyadari betapa besar dan tulus perasaan Dicko untuknya.
"Aku ingin kamu jadi milikku, seutuhnya." Ucap Dicko sungguh - sungguh.
"Itu tidak akan mungkin terjadi."
"Kenapa tidak? Bukankah kita saling mencintai?"
Dicko terdiam. Memang benar apa yang dikatakan Aruna. Hal itu mustahil terwujud. Impian gilanya, harapan konyolnya, sangat - sangat tidak mungkin terwujud.
"Aku hanya berharap, akan ada keajaiban suatu hari nanti."
Entah seperti apa perasaan Aruna kini. Dalam hidupnya ada Bram. Akan tetapi tidak bisa di pungkiri, dalam hatinya pun kini ada Dicko. Pria yang sangat tulus mencintainya. Sejak dulu hingga detik ini.
"Aruna, aku sangat mencintaimu." Ucap Dicko lirih.
Akh, ya ampun. Seakan dia kembali ke masa lalu. Terjebak di antara dua cinta. Namun kini dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Jelas Aruna tidak bisa memilih. Dan tidak akan pernah bisa memilih. Karena dalam hidupnya sudah ada Bram. Suaminya.
Lantas hubungannya dengan Dicko? Bagaimana? Hubungan terlarangnya. Lalu perasaannya bagaimana? Perasaannya yang keliru. Perasaannya yang membawanya dalam situasi yang rumit.
"Aku tau ini salah. Tapi aku tidak bisa menahan perasaanku. Seandainya bisa, aku ingin mengubur perasaan ini dalam - dalam. Aku ingin melupakan perasaan ini. Tapi anehnya, hal itu justru membuatku semakin tersiksa." Tambah Dicko lagi.
"Lebih baik kita berhenti sampai disini, sebelum kita melangkah semakin jauh."
"Bagaimana jika aku tidak mau."
Kini giliran Aruna yang terdiam. Sampai seperti ini perasaan Dicko terhadapnya. Tanpa menghiraukan lagi status dan latar belakang mereka.
"Jika Bram tidak mau mengakui anak yang kamu kandung, biar aku yang bertanggung jawab atas anak itu."
"Apa maksud kamu?"
__ADS_1
"Ceraikan Bram. Dan menikahlah denganku."
Aruna tercengang mendengarnya. Hingga tak bisa berkata - kata lagi. Sungguh berani Dicko berkata seperti itu.
"Mungkin terdengar konyol, tapi aku serius. Aku janji aku akan membahagiakan kamu. Dalam hidupku, hanya ada kamu. Aku sangat menginginkanmu jadi milikku."
"Tapi, bagaimana bisa? Aku ... aku ..." Aruna tak kuasa lagi menahan air matanya. Lelehan air mata itu berderaian dari pelupuk matanya.
"Aku mengatakan ini agar kamu mempertimbangkannya. Jika suatu hari nanti terjadi hal yang buruk. Dan Bram masih belum mau mengakui anak yang kamu kandung."
Perlahan Aruna meraih tangan Dicko dan menggenggamnya erat. Disertai bulir - bulir air mata yang semakin berderai. Aruna begitu terharu mendengar kesungguhan Dicko. Akan tetapi, hal itu tidak semudah yang Dicko pikirkan. Akan ada banyak batu sandungan yang akan ditemuinya nanti untuk mewujudkan keinginan konyolnya itu.
"Terima kasih untuk cinta yang sebesar ini untukku." Ucap Aruna lirih diiringi deraian air mata. Dan Dicko menghapus air mata itu dengan sebelah tangannya. Lalu mengecup lembut keningnya.
"Dengarkan aku. Kamu adalah pria yang baik. Dan kamu berhak hidup bahagia. Tapi aku bukan orang yang tepat untukmu. Kamu berhak mendapatkan yang lebih. Di luar sana, ada banyak wanita cantik yang lebih pantas mendampingimu. Yang lebih pantas mendapatkan cintamu. Bukan aku."
Dicko menggeleng pelan, "aku tidak ingin siapapun, kecuali kamu. Hanya kamu." Dicko semakin kehilangan akal sehatnya. Bagaimana bisa dia menginginkan isteri adiknya sendiri.
Dan Aruna, apa yang bisa dia lakukan. Dicko begitu keras kepala. Meski dia pun mencintainya, tapi dia sadar ini salah. Dicko pantas mendapatkan wanita yang lebih baik darinya. Wanita yang bisa membahagiakannya.
.
.
Dalam perjalanan kembali ke kantor, Dicko terus memikirkan perkataan Aruna. Wanita mana yang lebih pantas untuknya selain Aruna. Dicko tidak bisa mencintai wanita lain selain Aruna. Cinta pertama dan terakhirnya.
Andai waktu bisa diputar kembali. Andai dia bisa kembali ke masa lalu. Mungkin dia akan mendahului Bram untuk mengutarakan perasaannya saat itu. Tapi semua itu sudah berlalu. Tiada guna lagi mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
Dicko semakin tenggelam dalam pikirannya. Hingga dia sedikit kehilangan konsentrasinya akan jalanan yang semakin ramai oleh kendaraan. Sampai tiba - tiba, ada seseorang yang menyeberang jalan. Dan hampir saja Dicko menabrak orang itu. Beruntung, dengan cepat kakinya menginjak pedal rem. Hingga mobilnya pun terhenti tepat di depan orang itu.
Buru - buru Dicko turun dari mobilnya untuk memastikan keadaan orang itu.
"Maaf, maafkan saya. Apa anda baik - baik saja?" tanya Dicko panik sembari mengamati penyeberang itu dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Penyeberang itu terkejut saat melihat Dicko. Matanya berbinar - binar menatap Dicko hingga tak peduli lagi keadaannya.
"Maaf, apa anda baik - baik saja?" tanya Dicko lagi pada si penyeberang yang tertegun sambil menatapnya.
"Sarah?" ucap Dicko lirih begitu mengenali penyeberang itu.
Sarah Natania, mengulum senyum tanpa melepaskan tatapannya sedikitpun.
"Hai ..."
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
Thankyou for your like and comment.
__ADS_1
Saranghae ❤️❤️
Otor Kawe