Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 - Bab 35


__ADS_3

"Hamil? Apa aku harus percaya?"


"Apa maksud kamu Bram."


Bram tersenyum sinis. Sembari menghapus air matanya.


Tunggu dulu. Jangan bilang kalau Bram ...


Dicko kini menghampiri Bram. Menatapnya tajam dengan kilatan amarah. Dicko harus tahu apa maksud ucapan Bram yang baru saja terlontar dari mulutnya itu.


"Apa maksud kamu berkata seperti itu?" tanya Dicko ingin tahu.


Bram membuang muka. Kemudian membuang napasnya kasar.


"Kamu yakin anak yang ada dalam kandungannya itu anakku?"


Dicko tercengang mendengar kalimat itu. Ternyata dugaannya benar. Bram meragukan anak yang ada dalam kandungan Aruna. Apa Bram sudah kehilangan akal? Bagaimana bisa dia berpikiran seperti itu. Kalau anak itu bukan anaknya, lantas Bram berpikir anak itu anak siapa?


"Keterlaluan kamu. Itu sama artinya kamu menuduh Aruna tidur dengan pria lain."


"Pria lain?" Bram menaikkan kedua alisnya.


"Pria lain yang mana? Kamu tidak merasa jadi pria lain itu? Bukankah kalian sudah melakukannya? Seperti apa rasanya meniduri istri orang?"


"Bram ..." Amarah Dicko tersulut seketika. Sekuat tenaga di cengkeramnya kerah Bram. Hampir saja tinjunya melayang di wajah Bram. Tetapi masih terhenti di udara.


"Kenapa berhenti? Ayo pukul aku, Kakak ..." Bram seakan mengejek dan menuduh kakaknya sendiri. Bahkan berani menantangnya.


Dicko pun akhirnya melepaskan cengkeramannya.


"Kamu bertanya padaku seperti apa rasanya?" Dicko benar - benar geram dibuatnya.


"Rasanya menyenangkan. Sangat menyenangkan. Dan aku akan melakukannya lagi." sambung Dicko.


"Sudah aku duga." Kemudian Bram berlalu. Namun sebelum menjauh dari Dicko, Bram terlebih dulu membisikkan sesuatu, hingga membuat Dicko kembali geram.


"Buktikan padaku, kalau anak itu bukan anakmu. Baru aku akan percaya." Bram pun akhirnya berlalu. Meninggalkan Dicko yang masih berdiri menahan geram dengan mengepalkan kedua tangannya kuat.


"Kamu keterlaluan Bram. Baiklah, jika kamu tidak mau mengakui anak itu. Maka kamu tidak berhak atas anak itu." Gumam Dicko geram.


Di mobilnya, Bram berdiam diri. Mobilnya masih terparkir di basement apartemen. Bram masih berusaha mencerna ucapan Dicko tadi.


Bukan Bram tidak bahagia mendengar kabar itu. Akan tetapi, apa yang disaksikannya dengan mata kepalanya sendiri waktu itu, tanpa sengaja menimbulkan keraguan dalam dirinya.


Benarkah anak yang di kandung Aruna itu adalah anaknya?


Jika benar itu anaknya, haruskah Bram berbahagia? Sementara luka hatinya masih begitu menganga dan masih terasa perih.


Tetapi jika itu bukan anaknya, apa yang harus Bram lakukan?


Haruskah dia mengambil jalan pintas yang bodoh? Ataukah dia mengambil pilihan yang konyol? Bertahan ditengah luka hati yang masih teramat perih.


Manakah jalan yang harus Bram ambil?


.


.


Bram melangkah lesu memasuki rumahnya. Di ruang tengah, Bram mendapati Papa Danu sedang membaca sebuah majalah. Begitu melihat kedatangan Bram, Papa Danu menghentikan kegiatannya. Kemudian berdiri dan menghampiri Bram.


"Bram ..."


Bram menghentikan langkahnya. Lalu menoleh. Menatap dingin Papa Danu.

__ADS_1


"Kamu dari mana saja. Kenapa kamu tidak pulang semalam? Apa yang kamu lakukan di luar sana? Apa kamu tidak kasihan dengan istrimu yang menunggumu pulang hingga larut malam? Apa kamu tau seperti apa kondisi istrimu saat ini? Hah?" cerca Papa Danu. Hingga membuat Bram memutar kedua bola matanya jengah.


"Papa tidak mau kamu membuat kesalahan lagi. Kalau sampai itu terjadi, Papa tidak akan memaafkan kamu." Tambahnya lagi.


"Sudah? Skarang aku boleh ke kamarku? Aku capek Pa. Aku mau istrahat." Kemudian Bram berlalu begitu saja.


"Bram ... Bram ... Papa masih ingin bicara sama kamu." Papa Danu mengikuti Bram di belakangnya.


Namun, Bram tidak menghiraukan ayahnya. Dia terus berjalan ke kamarnya. Begitu sampai, Bram langsung masuk dan membanting pintunya keras. Hingga Papa Danu terlonjak kaget.


"Ada apa denganmu Bram ..." Papa Danu hanya bisa menggerutu sendiri. Kemudian kembali ke riang tengah.


Di dalam kamar itu, Bram mendapati Aruna baru saja selesai berganti pakaian. Tanpa menghiraukan Aruna, Bram berjalan ke arah lemari dan mengambil kemeja miliknya. Kemudian mulai mengganti pakaiannya. Bram tidak ingin beristirahat. Dia harus segera ke kantor.


"Bram ..." panggil Aruna lirih sembari menghampiri Bram perlahan.


"Hmm ..." gumam Bram tanpa menoleh sedikitpun.


"Semalam kenapa kamu tidak pulang? Kamu tidur di mana?" Aruna memberanikan diri bertanya.


"Bukan urusan kamu." Bram menyahuti datar. Sembari memasang kancing kemejanya.


"Semalam, aku menunggu kamu pulang. Sampai aku ketiduran di luar."


"Baguslah. Setidaknya kamu masih punya sedikit kepedulian." Kemudian mengambil dasi dan mulai memakainya.


Dengan cepat Aruna meraih dasi itu, bermaksud memasangnya untuk Bram. Tetapi Bram menepis tangan Aruna kasar.


"Biar aku bantu." Aruna menawarkan bantuannya. Namun Bram menolaknya mentah - mentah.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Sembari mulai memasang dasi itu.


Setelah selesai, Bram kemudian berjalan ke arah pintu, hendak keluar kamar.


Aruna memeluk Bram erat dari belakang, dan menyandarkan kepalanya di punggung Bram. Bram pun tertegun. Tetapi masih belum merubah raut wajahnya yang dingin dan kaku itu.


"Aku rindu kamu Bram." Lirih Aruna dari balik punggung Bram.


"Aruna, lepaskan. Aku harus ke kantor."


"Bram, aku punya kabar gembira untukmu." Kemudian melepaskan rangkulannya dan memutar tubuh Bram. Memaksanya agar berhadapan dengannya.


Aruna memasang senyum manisnya, menatap Bram. Tetapi Bram malah menatapnya dingin.


"Bram ... Kamu akan segera jadi ayah." Ucap Aruna dengan bahagia.


Bram tidak terkejut. Karena dia sudah mengetahuinya. Jadi baginya ini bukan kabar gembira. Apalagi kejutan. Karena ini benar - benar bukan kabar yang baik untuknya.


"Aku hamil." Sambung Aruna cepat.


Bram masih menatap dingin Aruna. Tidak menanggapi ucapan Aruna. Hingga senyum di wajah Aruna itu pun memudar seketika.


"Kamu tidak senang aku hamil?" tanya Aruna sedikit kecewa dengan ekspresi Bram kali ini.


Bram menyunggingkan senyumnya. Tangannya mulai terulur hendak menyentuh wajah Aruna. Bram mengusap lembut sebelah wajah Aruna.


Namun tiba - tiba saja, Bram mencengkeram wajah Aruna hingga membuat Aruna kesakitan.


"Kamu hamil? Dan kamu mau aku percaya kalau itu anakku?" Kemudian melepaskan cengkeramannya.


Aruna mengusap - usap pipinya yang kesakitan akibat cengkeraman Bram.


"Apa maksud kamu Bram. Tentu saja anak ini anak kamu."

__ADS_1


"Oh ya? Kamu yakin?"


"Bram ..." Aruna tidak percaya melihat reaksi Bram saat mengetahui kehamilannya. Padahal Aruna sempat berpikir, Bram pasti sangat bahagia mendengarnya. Namun yang terjadi, justru kebalikannya.


"Kalau kamu ingin aku percaya anak itu adalah anakku, maka buktikan. Buktikan padaku."


Astaga. Apa yang terjadi padamu Bram?


Tanpa terasa, air mata Aruna jatuh berderai begitu saja. Ucapan Bram begitu menyakitkan hatinya. Bagaimana bisa Bram meragukannya seperti ini?


"Kamu mau bukti? Kita bisa melakukan tes DNA."


Bram tersenyum kecut, "sudahlah Aruna. Tanpa bukti pun, sudah jelas itu anak siapa."


Deg ... Deg ... Deg ..


Jantung Aruna berpacu. Bukan karena deg degan, ataupun gugup. Tetapi ucapan Bram itu membuatnya syok. Tidak percaya Bram bisa berkata seperti itu. Hingga dadanya pun terasa begitu sesak.


Aruna meremas dadanya yang terasa sesak sambil berderai air mata. Dan isak tangisnya pun mulai terdengar.


"Hiks ... hiks ... hiks ..."


Namun Bram, justru pergi meninggalkannya begitu saja. Tanpa menaruh rasa iba sedikitpun saat melihat Aruna menangis.


Hal itu membuat Aruna semakin sakit hati. Dan air matanya pun kian deras mengalir. Perlahan tubuhnya mulai merosot. Hingga akhirnya terduduk lesu di lantai yang dingin itu. Sambil terus menangis.


Ini terasa seperti mimpi. Dia sudah membayangkan wajah bahagia Bram sebelumnya. Namun yang terjadi, Bram justru menyakiti hatinya. Teramat sakit.


Di nakas kecil itu, ponsel Aruna terus berdering dengan menampilkan nama Dicko di layarnya yang menyala terang. Tetapi Aruna tidak menghiraukannya. Hingga beberapa kali berakhir dengan panggilan tak terjawab.


..


Di tempat berbeda, Dicko melangkah memasuki gedung TRF sambil berusaha menghubungi Aruna kembali. Namun beberapa kali selalu berakhir dengan panggilan tak terjawab.


Mendadak perasaannya pun jadi tak enak. Reaksi Bram saat mengetahui kehamilan Aruna tadi terus mengusik pikirannya. Bram sudah sangat keterlaluan. Bagaimana kalau dia menyakiti Aruna. Bagaimana kalau dia memperlihatkan reaksi yang sama di depan Aruna.


Hah. Dicko benar - benar mencemaskan Aruna. Bagaimana kalau Aruna saat ini sedang menangis. Siapa yang akan menghiburnya. Dicko sungguh tidak tenang dibuatnya.


Namun langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Bram. Bram pun demikian, menghentikan langkahnya.


Keduanya saling menatap tajam.


"Kenapa? Kamu mencemaskan keadaannya?" tanya Bram sinis.


Dari mana Bram tahu kalau Dicko sedang menghubungi Aruna. Tapi ekspresinya itu membuat Dicko sedikit kesal.


"Apa yang kamu lakukan padanya?"


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Tapi reaksinya terlalu berlebihan."


Dicko mengerutkan dahinya. Jangan bilang kalau Bram juga mengatakan hal yang sama pada Aruna. Bahwa dia meragukan anak yang di kandung Aruna.


Oh astaga. Bram keterlaluan. Dengan cepat Dicko memutar tubuhnya dan setengah berlari menuju mobilnya yang terparkir. Sejurus kemudian mobil Dicko melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan pelataran parkir.


Bram menatap kepergian Dicko dengan hati geram. Kemana lagi pria itu pergi kalau bukan untuk menemui Aruna. Tingkahnya seakan dialah suaminya, bukan Bram. Dan Bram sungguh geram dibuatnya.


.......


.......


.......


...-Bersambung-...

__ADS_1


__ADS_2