
Setelah basa-basi dengan sang empunya acara, Daniel mengajak Aruna untuk mencicipi makanan. Dan Aruna kembali teringat awal pertemuannya dengan Arya. Aruna melamun sambil membawa piring yang masih kosong. Daniel menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Aruna.
''Aruna, nikmatilah pesta dan makanannya. Apa yang sedang kamu pikirkan? Lihatlah piringmu masih kosong.''
''I-iya Tuan. Saya tidak sedang memikirkan apa-apa kok.'' Kata Aruna.
Arya sendiri baru saja sampai. Arya juga menghadiri acara yang sama dengan Aruna. Sesampainya di pesta itu, Arya terlebih dahulu menyapa sang empunya pesta. Setelah menyapa dan memberi tahu jika bosnya tidak bisa datang, Arya menuju meja yang sudah di penuhi deretan makanan.
Namun tiba-tiba pandangan Arya di alihkan dengan sosok Aruna yang berdiri disamping Daniel. Arya menatapnya penuh rasa cemburu.
''Aku yakin dia bukan sekedar atasan. Pasti Aruna main dengan pria itu.'' Gumam Arya. Arya kemudian berjalan mendekati Aruna dan Daniel.
''Aruna!"
''Mmm-Mas Arya. Kamu disini juga?''
''Iya. Aku mewakili atasan aku. Kamu sendiri untuk apa disini? Bukannya jagain anak tapi malah bersama pria lain.''
''Mas, aku disini mendampingi Tuan Daniel. Ini hari pertama kerja aku, masa iya aku nolak.''
''Kamu beneran atasan atau memang selingkuhan istriku?'' tanya Arya dengan tatapan penuh rasa cemburu kearah Daniel.
Daniel tersenyum miring mendengar ucapan Arya.
''Perkenalkan, Daniello Alexander Hutama CEO Sky Group.'' Ucap Daniel seraya mengulurkan tangannya pada Arya. Arya pun membalas uluran tangan Daniel, ditatapnya Daniel dengan penuh rasa cemburu.
''Tentu Sky Group sudah tidak asing ditelinga anda bukan? Perusahaan tempat anda bekerja beberapa tahun lalu hampir saja bangkrut, kalau perusahaanku tidak memberikan suntikan dana.'' Sambung Daniel dengan tatapan meremehkan.
__ADS_1
''Aku bisa saja mencabut dan mengambil semua uangku, lalu membuatnya bangkrut dalam sekejap. Jadi jaga ucapan anda, jangan sembarangan menuduhku. Aruna bekerja denganku karena kemampuannya bukan karena ada hal lain seperti pikiran anda.'' Lanjut Daniel. Mulut Arya terkunci mendengar apa yang Daniel ucapkan. Ia hanya bisa menelan ludah.
''Huft, berpura-pura angkuh bukanlah diriku. Pasti Papa akan mentertawakan aku kalau mendengar apa yang aku ucapkan tadi,'' batin Daniel yang berusaha menahan tawanya. Menahan tawa karena malu dengan kenyataan yang sebenarnya.
''Aku menemui temanku dulu, Aruna. Urus suamimu ini.'' Ketus Daniel seraya berlalu meninggalkan Arya dan Aruna berdua.
''Asal kamu tahu Mas, Zidane yang mengijinkan aku pergi. Aku bekerja juga atas kesepakatan Zidane. Jadi stop berpikiran buruk tentangku. Aku sudah cukup di buat malu dengan sikapmu beberapa waktu lalu. Dan asal kamu tahu, aku bekerja untuk membayar hutangku.''
''Hutang? Hutang apa maksudmu?''
Aruna menghela. ''Saat aku kecelakaan, Tuan Daniel yang menolong dan membawaku kerumah sakit, Mas. Dia juga yang membayar semua biaya rumah sakit. Biaya rumah sakit itu 50 juta. Karena saat aku butuh kamu, kamu tidak ada. Kamu sedang bersama wanitamu yang lain. Aku berhutang budi dan nyawa dengannya. Suamiku kemana? Kamu bahkan sama sekali tidak mengejarku. Sampai akhirnya aku harus kehilangan Zio. Dan semua itu karena kamu! Kamu bukan hanya merusak hati aku tapi kamu juga merusak mentalku, Mas. Oh, bukan hanya aku tapi juga Zidane.''
Arya terdiam, ia menunduk sejenak. ''Kenapa kamu tidak bilang kalau dia menolongmu? Aku bisa mengganti uangnya tanpa kamu harus bekerja. Aku sendiri selama ini sedang mencari siapa yang membayar biaya rumah sakit kamu.''
''Kalau aku tidak bekerja, apa kamu yakin dan bisa menjamin bahwa kamu akan memenuhi kebutuhanku dan Zidane? Belum lagi ada dua pembantu dirumah. Biaya listrik dan air, apa kamu bisa? Yakin, istri keduamu akan mengijinkannya? Kartu yang biasa kamu berikan padaku saja, kamu ambil Mas. Apa aku harus duduk saja dirumah, meratapi nasib karena di madu? Aku bisa gila, Mas.'' Kata Aruna dengan mata berkaca-kaca. Arya hanya bisa diam dan tidak menjawab apapun.
''Maafkan aku, Aruna. Tapi kamu masih tetap istriku, Aruna. Bagaimana kalau kita batalkan saja perceraian kita? Aku sendiri juga belum menjatuhkan talakku.''
''Batal? Kamu sudah tahu jawabannya, Mas. Kita bisa kembali bersama tapi kamu tinggalkan wanita itu. Dia hanya masa lalu yang kedatangannya kamu sambut dengan tangan terbuka. Apa kamu bisa meninggalkan wanita itu?''
''Maaf Aruna. Shella sedang hamil dan aku tidak bisa meninggalkannya.''
''Hhh, lalu saat aku hamil besar kamu tega bermain api di belakangku? Bukankah kamu waktu itu kamu juga tega denganku. Lalu kenapa kamu tidak tega meninggalkannya?'' Aruna kemudian berlalu meninggalkan Arya. Arya hanya diam mematung menatap punggung Aruna yang menghulang dikerumunan para tamu undangan yang datang.
Aruna melipir diteras ballroom, mencari tempat sepi dan air mata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya tumpah juga. Aruna hanya bisa menangis dalam diamnya. Tidak mungkin ia meraung-raung disana. Bukan hanya mempermalukan dirinya tapi juga mempermalukan Daniel.
''Tuhan, kenapa rasanya berat sekali? Bukan sekedar berat tapi sangat sakit.'' Batin Aruna. Aruna memukul dadanya karena rasanya begitu sesak.
__ADS_1
''Minum Nona!" seorang pelayan melintas didepan Aruna menawarkan minuman. Setidaknya ada 8 gelas minuman beralkohol yang dibawa oleh pelayan itu. Aruna menganggap itu adalah minuman sari buah apel karena warnanya kecokalatan seperti teh. Tanpa pikir panjang, Aruna meminum semuanya. Meskipun diujungnya ia merasakan pahit. Suasana hati yang kacau membuat Aruna tidak bisa berpikir jernih. Pelayan itu hanya bisa melongo melihat 8 gelas habis dalam waktu sekejap.
''Terima kasih, Mas.''
''Sama-sama Nona.'' Pelayan itu kemudian berlalu.
''Aduh, bisa mabuk dia.'' Gumam Daniel. Karena sebenarnya sejak tadi Daniel memperhatikan Aruna. Daniel sendiri juga tahu perdebatan antara Aruna dan Arya. Daniel merasa tanggung jawab pada Aruna, terlebih janjinya pada Zidane.
''Kenapa kepalaku rasaku pusing dan berat begini ya?'' gumam Aruna. Melihat Aruna yang tampak sempoyongan, Daniel segera menghampirinya.
''Aruna, aku mencarimu. Kemana saja kamu?''
''Tuan Daniel, aku sedang mencari angin.'' Kata Aruna yang mulai menunjukkan tanda-tanda mabuk.
''Kamu minum alkohol ya?''
''Mmmm tidak! Tadi sari buah apel kan? Tapi rasanya aneh sih, ada paitnya.'' Kata Aruna dengan senyum lebarnya. Aruna kini benar-benar sudah mabuk.
''Ayo, sebaiknya kita pulang.''
''Tapi pestanya belum selesai, Tuan. Aku masih ingin pesta. Aku sudah lama tidak pesta. Ayolah Tuan kita pesta dan menari di lantai dansa.'' Ucap Aruna sambil menarik kerah baju Daniel.
''Bukanlah playboy seperti anda menyukai pesta, iya kan?''
Daniel hanya bisa menghela nafas melihat Aruna yang mulai melantur.
''Tuan, ajak aku pergi ketempat yang bisa membuatku bahagia. Membuatku lupa dengan semua kesedihan ini. Bawa aku pergi Tuan!" kali ini Aruna menangis dan tersenyum samar sambil terus mencengkeram erat kerah baju Daniel.
__ADS_1