
Di lain tempat, di malam yang sama.
Bram tengah mencari keberadaan Aruna. Saat Bram pulang dari kantor, dia tidak mendapati keberadaan isterinya itu. Bahkan ponsel Aruna nonaktif. Kata Bi Surti Aruna pergi dengan seorang wanita muda. Dan Bram langsung bisa menebak, kalau bukan Alika pasti Shanti.
Dan kini Bram tengah berada di minimarketnya Tante Novi. Yang kebetulan juga malam itu mereka sedang berkumpul. Karena kebetulan ini malam minggu. Keluarga sederhana itu lebih memilih kumpul keluarga di temani cemilan ala kadarnya dan candaan renyah meski terdengar kurang lucu.
"Maaf Boss, Aruna tidak berada di sini." Kata Teddy menyahuti pertanyaan Bram tentang Aruna.
"Kira - kira ada yang tau dia ke mana?" tanya Bram lagi.
"Kita semua tidak ada yang tau Boss."
Melihat Bram sedang mencari Aruna, seketika menimbulkan kekhawatiran bagi keluarganya. Apalagi saat ini Aruna sedang hamil.
"Maaf ya Nak Bram ... apa ada masalah di antara kalian? Tidak biasanya Aruna pergi dari rumah tanpa pamit seperti ini. Tante jadi khawatir. Apalagi Aruna sedang hamil." Cemas Tante Novi.
"Hanya sedikit kesalahpahaman saja Tante. Mungkin Aruna sedang kesal." Kilah Bram untuk menutupi pertengkaran hebat diantara mereka. Agar tidak membuat keluarga Aruna cemas.
"Itu biasa terjadi pada wanita hamil. Emosinya suka naik turun. Dan perasaannya jadi lebih sensitif."
"Sudah coba tanya Shanti? Mungkin saat ini dia sedang bersama Shanti." Usul Om Heru.
"Belum sih Om."
"Sebentar, biar aku hubungi Shanti dulu." Teddy kemudian mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Shanti.
"Shan, tolong kamu ke sini sebentar. Penting. Ke tempat Mama ya?" seru Teddy. Kemudian memutus sambungan teleponnya.
Beberapa menit kemudian, Shanti pun datang. Dan terkejut bukan main saat melihat kehadiran Bram. Shanti bahkan susah payah menelan salivanya yang tiba - tiba terasa bagai bongkahan batu yang melewati tenggorokannya.
"Shan, kesini sebentar." Teddy menarik lengan Shanti.
Shanti mendadak gugup. Mulai berkeringat dingin. Secara sengaja dia membantu sahabatnya bersama pria lain. Bahkan ikut merahasiakan hal ini. Waduh, gawat nih. Bagaimana kalau Shanti di pecat? Harus cari pekerjaan kemana lagi? Shanti sudah merasa nyaman dengan pekerjaannya saat ini.
"Ada apa sih Kak Teddy?" tanya Shanti ketus demi menutupi kegugupannya.
"Aruna ada sama kamu tidak? Si Boss nyariin tuh."
"Eum ... Eum ... Aruna ... Aruna tidak bersamaku Kak."
"Haaah ... Trus dia kemana? Coba kamu tanya Desti. Mungkin saja dia di rumah Desti. Sama seperti setahun lalu."
"Eum ... itu dia Kak. Aruna juga tidak ada di rumah Desti."
"Lah, trus? Aruna kemana?"
"Shan, coba deh kamu jujur. Kamu tau Aruna di mana sekarang?" Tante Novi kurang yakin dengan jawaban Shanti.
"Kok, Kak Shanti jadi gugup begitu sih?" Alika ikut menimpali.
"Shanti ... katakan, Aruna ada di mana? Kasihan suaminya sedang mencarinya." Om Heru pun jadi ikut - ikutan mencurigai Shanti.
"Tolong katakan Aruna ada dimana? Kamu sahabatnya kan? Jadi kamu pasti tau ada dimana dia skarang." Bram hampir putus asa.
"Eum ... sebenarnya Aruna ... Aruna ada di ..." Shanti semakin gugup dan tak enak hati pada atasannya itu. Duh Aruna, kamu sedang bermain api saat ini.
"Ada dimana?" Bram semakin tak sabar. Sebenarnya dia sudah punya firasat, tapi mungkin firasatnya itu keliru.
__ADS_1
"Tapi Bapak janji dulu tidak akan memecat saya."
"Saya tidak akan memecat kamu. Cepat katakan."
"Aruna ada di apartemennya__" Shanti tidak menyelesaikan kalimatnya karena Bram langsung bergegas menuju mobilnya. Dan sejurus kemudian mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi.
Inilah firasatnya yang sebenarnya. Dan ternyata tidak keliru. Bram sudah menduga sebelumnya. Dan kilatan amarah terlihat jelas dari sorot matanya.
.
.
Sementara itu, Dicko dan Aruna yang tengah saling menatap dengan posisi tubuh Dicko berada di atas tubuh Aruna. Keringat mengucur di tubuh keduanya yang polos dan hanya tertutupi selimut tebal. Sementara pakaian keduanya berserakan tak karuan di lantai kamar apartemen itu.
Keduanya saling menatap penuh cinta.
"Maafkan aku. Tidak seharusnya aku melakukan ini padamu. Bagaimana jika Bram tau." Ucap Dicko di tengah deru napasnya yang masih memburu akibat pergumulan tadi yang baru mendapatkan pelepasannya di puncak kenikmatan.
Tampak buliran air mata mulai menetes dari sudut mata Aruna. Entah setan apa yang merasuki keduanya, hingga hubungan layaknya suami istri itu pun terjadi diantara mereka.
"Aku sangat mencintaimu." Ucap Aruna lirih sambil mengusap lembut wajah Dicko.
Satu kecupan hangat mendarat di kening Aruna. Cukup lama Dicko mengecupnya. Lalu satu kecupan singkat mendarat di bibirnya kemudian.
"Aku lebih mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku rela jadi apapun untukmu. Aku rela meski hubungan kita seperti ini. Yang aku inginkan hanya selalu bersamamu." Balas Dicko lirih.
Aruna tersenyum haru. Dan sekali lagi Dicko memagut mesra bibirnya. Singkat.
"Aku bersih - bersih dulu. Kamu juga bersihkan dirimu." Ucap Dicko setelah melepaskan ciumannya.
"Setelah ini aku beli makanan dulu di luar. Kamu pasti lapar kan?" tanya Dicko.
Dicko pun akhirnya turun dari ranjang itu dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak berapa lama dia sudah keluar dari kamar mandi dan mulai mengenakan pakaiannya.
Kini giliran Aruna yang harus membersihkan dirinya. Aruna pun turun dari ranjang itu dan bergegas ke kamar mandi. Tidak lupa dibawanya serta pakaian gantinya.
Saat Aruna sedang berada di kamar mandi, Dicko sedang bersiap keluar sebentar untuk membeli makanan. Mereka hanya makan sejak sore tadi. Wajar jika sekarang merasa lapar. Apalagi tenaga mereka terkuras setelah percintaan tadi.
Dicko membuka pintu apartemennya. Bersiap melangkahkan kakinya keluar. Namun matanya terbelalak seketika. Di depan pintu apartemennya sudah berdiri Bram. Yang menatapnya tajam dengan kilatan api amarah yang siap menyerangnya.
"Bram? Sedang apa kamu disini?" tanya Dicko canggung.
Tanpa menjawab pertanyaan Dicko, Bram langsung masuk ke dalam. Dan mulai mencari - cari keberadaan Aruna.
"Bram, apa yang kamu lakukan. Tolong pergilah dari sini." Titah Dicko.
Namun Bram tidak menghiraukannya. Dia terus mencari Aruna di setiap sudut ruangan. Dengan gejolak amarah yang berapi - api.
Sampai terdengar suara derik pintu terbuka. Aruna baru saja keluar dari kamar mandi saat tiba - tiba dia tersentak kaget melihat Bram sudah berdiri di hadapannya dengan raut wajah yang sulit di utarakan. Wajah tampan itu mendadak menjadi menakutkan. Seperti menampakkan aura mistisnya.
"Bram ..." seru Aruna lirih.
Bram menganggukkan kepalanya sambil terkekeh. Di iringi air mata yang mulai berjatuhan dari pelupuk matanya. Sekali lagi mata kepalanya menyaksikan sendiri penghianatan wanita yang dicintainya. Bukan dengan orang lain. Melainkan dengan kakaknya sendiri. Sungguh miris. Hati Bram terasa bagai tersayat - sayat. Perih tiada tara. Rasanya Bram seperti mati berdiri detik itu juga.
Ya Tuhan, sungguh hancur hati dan perasaan Bram. Remuk. Hancur berkeping - keping.
"Apa yang kamu lakukan?" Bram mengamati tampilan Aruna dari ujung rambut hingga ujung kaki yang hanya mengenakan celana pendek milik Dicko dan kaos oblong. Sementara di seberang, matanya sempat melihat tempat tidur yang acak - acakan.
__ADS_1
Bagai kesetanan, secepat kilat tangan Bram melayang di wajah Aruna.
Plakkk !!!
Sebuah tamparan keras mendarat cepat di pipi kiri Aruna. Kemudian disusul tamparan kedua.
Aruna meringis kesakitan memegangi pipinya sambil bercucuran air mata.
"Braaam ..." Dicko berteriak sekencangnya dan berlari menghampiri Bram. Kemudian secepat kilat Dicko melayangkan tinjunya di wajah Bram.
Bugh !!!
Bram tersungkur. Kemudian bangkit kembali dan membalas pukulan Dicko. Dan adu jotos pun tak dapat di hindari.
"Sudah aku katakan, jangan pernah menyakitinya. Aku tidak akan tinggal diam." Pekik Dicko di sela perkelahian itu.
"Kalian sungguh keterlaluan. Aku tidak akan pernah mengampuni kalian." Pekik Bram.
"Cukup!!!" Aruna berteriak sekencangnya.
Namun Bram maupun Dicko tidak menghiraukan teriakan Aruna. Mereka kembali saling melayangkan tinju. Tidak ada yang mau mengalah. Meski wajah mereka semakin di penuhi lebam. Dan darah segar mengalir dari hidung dan bibir keduanya. Hingga akhirnya, Dicko terjungkang ke belakang dan terjatuh akibat serangan bertubi - tubi dari Bram.
Bram hendak kembali melancarkan aksinya terhadap Dicko. Namun dengan cepat Aruna mencegahnya.
"Bram cukup !!!" pekik Aruna sambil berusaha menahan tangan Bram yang hendak melayangkan tinjunya.
Dan sekali lagi Bram tidak menghiraukan Aruna.
"Jangan mencegahku. Dasar biadab kalian berdua. Tega skali kamu melakukan ini padaku Aruna."
"Cukup Bram, cukup. Aku mohon."
Permohonan Aruna tidak berarti apa - apa bagi Bram. Dia tetap ingin kembali memukuli Dicko yang kini berusaha bangkit dengan sisa tenaganya.
Bram sudah bersiap hendak memukuli Dicko. Dan sekali lagi Aruna menahan lengannya. Namun Bram, dengan sekuat tenaga menghempaskan Aruna dan mendorongnya kuat. Hingga Aruna pun terpental jauh. Dan tiba - tiba ...
Bugh !!!
Terdengar suara benturan keras. Di iringi suara erangan keras Aruna menahan sakit.
"Aagh ..."
Serentak Bram dan Dicko pun mengalihkan perhatiannya.
"Aruna ..." pekik keduanya bersamaan.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
Always Saranghae readers ❤️❤️
Salam hangat 🤗
__ADS_1
Otor Kawe