Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 67 Second Kiss


__ADS_3

Selesai menyanyi, tangis Aruna pun menjadi, ia sesenggukan. Melihat itu, Daniel beranjak dari duduknya dan mendekati Aruna.


''Aruna? Kamu menangis?''


Aruna hanya mengangguk sambil menutup wajahnya.


''Astaga Aruna, makanya jangan memilih lagu yang melow dong. Aku kesini untuk membuatmu melepaskan stres bukan malah menangis.'' Ucap Daniel sambil menurunkan tangan Aruna dari wajahnya. Daniel mengangkat wajah Aruna yang sudah basah itu.


''Lebih baik kita bersenang-senang. Jangan sampai Zidane melihat matamu sembab.'' Ucap Daniel sambil menyeka air mata Aruna. Aruna terkejut dengan sikap Daniel. Daniel tahu perasaan Aruna tapi ia memilih bersikap menyebalkan seperti biasanya.


''Hei, aku sudah mentraktirmu makan, mengajakmu karaoke di tempat mahal, dan sekarang kamu menangis? Oh, sungguh mengacaukan suasana.'' Ucap Daniel lagi.


''Ladies! Mainkan musiknya.'' Perintah Daniel pada wanita-wanita itu. Daniel kembali menyanyi dan menari dengan lagu yang ceria. Namun ternyata itu tidak bisa membuat tangis Aruna berhenti. Daniel lalu menghentikan nyanyiannya dan meminta para ladies itu pergi meninggalkan ruangannya. Daniel lalu memegang kedua lengan Aruna.


''Aruna, berhentilah menangis. Pasti kamu teringat mantan suami kan? Ah sudahlah jangan di ingat-ingat lagi. Kalau kamu sedih, bagaimana kamu bisa bekerja?'' tangan Daniel kemudian tergerak untuk memeluk Aruna. Daniel menepuk pelan punggung Aruna.


''Aruna, lepaskan semua bebanmu. Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih lega. Disini tidak ada yang mendengarmu. Anggap saja aku adalah temanmu. Ya, kita teman. Bukan lagi bos dan sekretaris.'' Ucap Daniel.


Namun momen sedih itu berubah menjadi amarah, saat Aruna tanpa sadar menggunakan dasi Daniel untuk menyeka ingusnya.


''Aruna, apa yang kamu lakukan?'' tanya Daniel sambil mengangkat tangannya. Aruna mendongak, melihat yang memeluknya adalah Daniel. Aruna yang terbawa perasaan sampai tidak menyadari jika orang yang memeluknya adalah Daniel. Aruna melihat dasi milik Daniel yang penuh ingusnya. Aruna menganga terkejut, melihat apa yang baru saja ia lakukan.


''Tu-tuan ma-maaf." Ucapnya tergagap. Aruna lalu menyambar tisu di meja untuk menyeka ingus dan air matanya. Wajah Daniel berubah marah seketika. Ia kemudian melepas paksa dasi Daniel.


''Biar aku cuci Tuan.''


''Tidak usah! Aku mau membuangnya.'' Kata Daniel sambil menarik dasinya.


''Jangan Tuan! Sayang kalau di buang, aku akan membawanya dan mencucinya dirumah.''

__ADS_1


''Tidak usah!" ucap Daniel. Dan akhirnya terjadilah tarik-menarik dasi. Tenaga Daniel yang terlalu kuat justru membuat Aruna terjatuh menimpa tubuhnya. Keduanya terjatuh diatas sofa dan lagi-lagi bibir keduanya saling bersentuhan. Kali ini Daniel merasakan bibirnya menyentuh bibir Aruna dengan sadar, bukan lagi sedang mabuk. Menyadari posisinya, Aruna segera bangkit dari tubuh Daniel.


''Ma-maaf Tuan.'' Kata Aruna dengan gagap. Daniel terpaku bahkan ia masih terlentang di atas tempat tidur. Ia berkali-kali mengedipkan matanya, mencoba mentelaah apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Aruna.


''Tu-tuan? Apa anda baik-baik saja?'' tanya Aruna sambil menjulurkan kepalanya melihat Daniel yang masih terlentang diatas sofa. Perlahan Daniel bangkir dari sofa itu.


''Ma-maaf Aruna. Kali ini aku juga tidak sengaja.'' Daniel kemudian melepas dasinya dan memberikannya pada Aruna.


''Sebaiknya kamu memang mencucinya. Ayo, aku akan mengantarmu pulang. Besok pagi supir kantor akan membawakan mobilmu. Ini juga sudah larut.'' Ucap Daniel tanpa bereskpresi. Daniel kemudian berlalu dari ruang karaoke itu, di ikuti Aruna dari belakang.


''Kenapa aku jadi gugup? Bukankah ciuman itu hal biasa yang pernah aku lakukan? Masa iya hanya bersentuhan bibir dengan Aruna, aku segugup ini?'' gumam Daniel dalam hati. Daniel tampak syok setelah adegan tadi.


''Ya Tuhan, apa yang aku lakukan? Dua kali sudah bibirku di jamah pria lain. Bahkan itu belum genap satu bulan perceraian ku. Seharusnya aku bisa menjaga martabatku sebagai seorang janda.'' Gumam Aruna dalam hati.


Selama perjalanan pulang, suasana di dalam mobil menjadi hening.


Hening...


Hening...


Hening...


''Terima kasih untuk makan malam dan hiburannya, Tuan. Maaf untuk kelancanganku. Aku akan mencuci dasi ini.''


''Iya. Besok jangan terlambat.''


''Pasti Tuan.'' Aruna kemudian turun dari mobil dan segera masuk ke pelataran rumahnya dan Daniel pun melajukan mobilnya.


''Oh aku pasti gila! Dua kali aku mencium bibir Aruna. Tapi yang pertama aku tidak sadar dan tadi aku sepenuhnya sadar. Kenapa aku malah jadi gugup?'' gumam Daniel sambil mengelus dadanya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Daniel segera mandi. Namun ia terus terbayang-bayang adegan di tempat karaoke tadi. Selesai mandi, Daniel membuka almari, ia melihat sebuah kotak kecil berwarna merah. Daniel lalu membukanya.


''Jepit kupu-kupu ini, kemana ya gadis yang pernah menolongku ini?'' gumam Daniel.


...****************...


''Papa-Mama,'' sapa Aruna saat melihat kedua orang tuanya berada di ruang tengah. Aruna lalu mengecup punggung tangan kedua orang tuanya bergantian.


''Papa dan Mama kok belum tidur?''


''Bagaimana kami bisa tidur kalau kamu belum pulang Aruna?'' kata Tuan Wira.


''Apa kamu sering lembur dan pulang jam segini, Aruna?'' tanya Nyonya Galuh.


''Tidak Mah. Tadi kebetulan atasan Aruna mengajak Aruna makan malam sekalian. Karena atasan Aruna juga lembur. Zidane sudah tidur Mah?''


''Sudah Nak. Ya sudah kamu mandi dan istirahat ya.''


''Iya Mah. Maaf ya Mah-Pah, sudah membuat kalian menunggu. Maaf juga karena Aruna merepotkan kalian.''


''Kami tidak merasa direpotkan, nak. Kamu adalah putri kami satu-satunya dan Zidane juga cucu kami satu-satunya. Jadi tidak ada yang direpotkan. Sudah, kamu ke kamar sana, mandi terus istirahat.'' Kata Nyonya Galuh.


''Iya Mah.'' Aruna kemudian meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.


Tuan Wira menghela. ''Mah, kenapa nasib Aruna seperti ini? Dia harus kerja keras banting tulang sendiri, belum lagi mengurus Marvel. Arya memang keterlaluan. Mana mobilnya juga diambil Arya lagi. Papa menyesal sekali dulu menyetujui hubungan mereka. Padahal dulu Papa sempat tidai memberikan mereka restu.''


''Mama berharap, Aruna segera menemukan pendamping hidup lagi, Pah. Supaya dia tidak menderita seperti ini. Mama ingin Aruna bahagia.''


''Begitu juga dengan Papa, Mah. Tapi sepertinya Aruna tidak akan mudah membuka hati setelah melewati semua ini, Mah.''

__ADS_1


''Iya Papa benar. Tapi kita doakan saja semua yang terbaik untuk Aruna dan Zidane.''


Bersambung.....


__ADS_2