
Saat ini Aruna hanya ingin menenangkan pikirannya. Tanpa meminta ijin Bram terlebih dahulu, Aruna berniat pergi menemui Tante Novi di minimarketnya. Barangkali bertemu dengan keluarganya bisa sedikit mengurangi beban pikirannya.
Dengan menggunakan jasa taksi online, Aruna kini dalam perjalanan ke tempat tujuan. Setelah memesan taksi dari aplikasi, Aruna lantas menonaktifkan ponselnya. Sengaja, agar tidak ada yang berusaha menghubunginya. Termasuk Bram.
Entah kenapa Aruna merasa kesal. Hingga kini, Bram masih belum bisa bersikap tegas. Selalu menganggap remeh segala sesuatunya.
Memikirkan kejadian tadi, membuat Aruna kesal. Meski itu bukan kesalahan Bram, namun Aruna tetap saja merasa jengkel dengan sikapnya.
Kini Aruna telah sampai di tempat tujuan. Tante Novi sedang berada di balik meja kasir. Begitu melihat Aruna datang, dia lantas mengambil satu kursi lagi untuk Aruna duduk.
"Duduk dulu Run." Tante Novi mempersilahkan.
Aruna pun langsung duduk. Menemani Tante Novi di meja kasir itu.
"Om Heru kemana Tan?" tanya Aruna.
"Lagi beres - beres di gudang. Sejak Bram merenovasi warung Tante, Om mu langsung berhenti narik ojek. Dia lebih sering bantu - bantu Tante disini."
"Alika?"
"Alika lagi di kampus. Kamu kenapa ke sini? Sudah ijin sama suami kamu belum?"
Aruna menggeleng lemah.
"Aduh, Tante tidak akan bertanggung jawab ya kalau sampe suami kamu marah. Kamu sendiri kan tau seperti apa suami kamu itu."
"Aku lagi agak kesal dengan Bram."
"Loh, kenapa? Memangnya kalian bertengkar lagi?"
Aruna kembali menggeleng lemah. Tante Novi ini kurang update atau gimana. Masa ada berita yang lagi viral dia malah ketinggalan info begini.
Sebagian pelanggan minimarket itu ada yang bergosip. Suaranya sangat terdengar jelas.
"Ini kan Mona, Si artis populer itu? Dia lagi ciuman sama siapa sih?" kata seorang pelanggan.
"Katanya itu pacarnya. Ganteng ya? kayaknya mereka cocok deh." Kata pelanggan yang lain.
Rasanya Aruna ingin menyumpal mulut mereka saat itu juga. Sungguh meresahkan. Namun apalah daya, Aruna hanya bisa mendengarkan saja hingga membuat kuping ini panas.
Aruna masih enggan beranjak dari tempatnya hingga hari menjelang sore. Dia membantu Tante Novi menjaga kasir, selama Tante Novi keluar sebentar.
___
Tibalah jam pulang kantor. Rama melangkah panjang keluar dari gedung itu menuju ke tempat parkir. Sejurus kemudian, mobilnya pun melaju membelah jalanan ibukota yang mulai ramai dipadati berbagai jenis kendaraan.
Entah kenapa, tiba - tiba Rama ingin sekali mendengar lebih banyak tentang Dicko dan Aruna. Untuk itu, sepulang kantor dia berniat hendak menemui Tante Novi. Karena Tante Novi bisa diajak ngobrol. Dan dia bisa mencaritahu banyak hal dari Tante Novi. Semoga saja.
Begitu sampai di minimarketnya Tante Novi, Rama berpura - pura hendak membeli air mineral. Saat di meja kasir, dia malah tidak menemukan Tante Novi. Meja kasirnya kosong.
Kenapa kosong? Sebab Aruna berjongkok sebentar hendak mengambil sesuatu yang terjatuh.
Rama tampak mengerutkan dahinya. Membalikkan badannya, lalu menyapukan pandangannya mencari orang lain yang mungkin bisa mengisi kasir. Saat tiba - tiba terdengar suara yang familiar.
__ADS_1
"Pak, hanya ini saja belanjaan anda?"
Sontak Rama pun langsung berbalik menghadap si penjaga kasir. Senyumnya mengembang seketika saat melihat siapa yang berada di belakang meja kasir itu.
Aruna.
Sementara Aruna begitu terkejut saat melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya. Menatapnya dengan senyuman yang terukir di wajahnya.
"Kita bertemu lagi. Kebetulan." Seraya menatap lekat sorot mata Aruna.
Dan aksi saling menatap pun tak bisa di hindari.
Satu menit, dua menit, tiga menit ...
Membisu. Dengan tatapan yang masih saling bertautan. Saling menatap lekat dan dalam. Menghadirkan getaran aneh di hati keduanya.
Tatapan Rama menelisik setiap lekuk paras manis yang selalu hadir dalam mimpinya itu. Yang selalu datang tiba - tiba dalam ingatannya. Membuat hatinya berdebar dan membuat jantungnya bertalu - talu.
"Run, maaf ya Tante kelamaan perginya." Seru Tante Novi yang baru saja tiba. Dan begitu terkejut saat melihat Rama sedang saling memandang dengan Aruna.
"Aruna ..." seraya menepuk lembut pundak Aruna.
Aruna pun terkaget. Lalu buru - buru mengalihkan pandangannya. Begitu pula dengan Rama.
Tante Novi bisa memaklumi kenapa Aruna menatap Rama seperti itu. Karena sampai detik ini, Aruna belum bisa melupakan sosok Dicko.
"Boleh minta waktunya sebentar?" pinta Rama tertuju pada Aruna.
Entah Aruna harus bilang apa. Karena sejujurnya, dia butuh teman saat ini. Teman yang bisa mendengarkan keluh kesahnya. Teman yang bisa untuk berbagi kesedihannya. Dan yang hadir saat ini hanyalah Rama.
Aruna tampak tertunduk lesu. Dengan tatapan kosong. Pikirannya mulai menerawang jauh. Meski kini ada Rama di sampingnya yang tengah memperhatikannya dengan seksama.
"Berita itu pasti membuat kamu kecewa dan sakit hati." Ucap Rama memulai.
Aruna hanya mendengarkan. Enggan menanggapi.
"Jangan terlalu dipikirkan apa kata orang. Percaya pada hatimu. Dan yakinkan diri kamu sendiri, bahwa semua akan baik - baik saja." Tambah Rama.
Berita yang lagi viral itu pun telah di ketahui oleh Rama. Dan entah kenapa, Rama seakan bisa merasakan apa yang Aruna rasakan saat ini.
Rama diam sejenak. Menunggu Aruna mengatakan sesuatu. Namun yang terdengar hanyalah isak tangis yang tertahan. Rama pun menoleh.
Air mata itu telah jatuh berderai membasahi wajah Aruna. Seketika membuat hatinya bergetar. Seakan Rama tak tega melihat Aruna menangis.
Perlahan tangan Rama mulai terulur. Mencoba menenangkannya dengan sentuhan lembut di pundaknya. Namun lagi - lagi, entah kenapa Rama merasakan pernah berada di posisi ini sebelumnya. Menenangkan hati wanita ini disaat dia sedang bersedih. Sekelebat bayangan - bayangan itu memutar kembali di memorinya. Namun samar.
"Kamu bisa menjadikan aku teman untuk berbagi kesedihanmu. Aku pastikan, aku akan selalu ada untukmu." Ucap Rama.
Namun air mata itu justru semakin deras dengan isak tangis yang tertahan.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..."
"Menangislah. Menangislah sepuas hatimu. Menangislah sampai hatimu merasa lega." Ucap Rama sambil mengelus lembut pundak Aruna.
__ADS_1
"Aku sangat merindukan dia." Ucap Aruna lirih di sela isak tangisnya. Setiap perkataan Rama sungguh mengingatkan Aruna pada Dicko. Sosok yang selalu ada untuknya disaat - saat seperti ini.
Yang membuat Aruna sedih, bukan berita viral itu. Melainkan di saat seperti ini dia justru merindukan Dicko. Sosok yang tak lagi ada untuknya.
"Dia?" lalu menarik kembali tangannya yang mengelus pundak Aruna.
Aruna mengangkat wajahnya. Lalu menoleh, menatap Rama. Dengan air mata yang masih berderai.
Seketika, perasaan Rama jadi tak karuan. Ada rasa iba namun hatinya pun berdebar - debar saat menatap sorot mata itu. Aruna menatapnya sendu.
"Siapa dia?" tanya Rama
"Orang yang mirip denganmu. Sangat mirip."
Rama tertegun. Semakin menatap dalam. Menatap Aruna dalam jarak sangat dekat seperti ini semakin membuat hatinya berdebar - debar.
Rasanya ingin sekali Rama memeluknya erat. Namun dia masih bisa menahan diri. Cukup dengan berada di dekatnya, menatapnya seperti ini sudah membuat rasa rindunya terobati. Rasa rindu yang entah bagaimana hadir begitu saja di hatinya.
.
Sementara itu, Bram berkali - kali menghubungi ponsel Aruna. Namun hasilnya sama saja. Nonaktif. Bram pun semakin cemas di buatnya.
Bram sudah mencari Aruna di ruangannya, tapi ruangan itu kosong. Bahkan Bram sudah bertanya pada Shanti dan Teddy. Mereka berdua tidak tahu Aruna kemana.
Kemudian Bram menghubungi Tante Novi. Mungkin saja Aruna ke tempat tantenya untuk menghilangkan kejenuhannya. Namun, hasilnya pun sama saja. Aruna tadi ke tempat tantenya, tapi sudah pulang sejak tadi.
Akhirnya Bram bermaksud menghubunginya kembali. Sampai tiba - tiba sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal itu membuat Bram tercengang. Sekaligus meradang.
Pesan itu berisi foto Aruna dan Rama yang sedang duduk berdua di taman. Dalam mode saling menatap. Pesan berikutnya berisi alamat tempat mereka sedang bersama saat ini.
Tanpa menunggu waktu lama, Bram langsung bergegas. Dengan berlari menuju mobilnya, lalu memacu mobil itu dengan kecepatan tinggi.
Begitu sampai di taman, Bram melihat Aruna masih bersama Rama. Masih dalam mode saling menatap. Seketika api amarah dalam dirinya pun kembali membara. Bram tidak bisa membiarkan hal ini terjadi.
Bram pun perlahan berjalan menghampiri.
"Aruna ..." panggil Bram lirih.
Sontak Aruna dan Rama pun memalingkan wajahnya. Menatap Bram yang berdiri di depan mereka dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"Sejak tadi aku mencarimu kemana - mana." Ucap Bram lirih seraya berusaha menahan amarahnya yang kian memuncak.
.......
.............
.......
...-Bersambung-...
Bakalan adu jotos gk ya 🤔🤔
Thankyou so much sudah meluangkan waktunya membaca cerita recehan ini 🤗
__ADS_1
Saranghae ❤️
Otor Kawe