
Ini adalah hari terberat yang tidak ingin Aruna lalui. Dimana dirinya, Arya dan Shella duduk bertiga di sebuah meja. Arya sengaja memesan restoran dengan ruangan yang lebih privat. Aruna tetap tegas mengangkat dagunya, menatap Arya dan Shella secara bergantian. Hari itupun Aruna bahkan menolak untuk di jemput Arya. Ia memilih membawa mobil sendiri, menunjukkan dirinya begitu kuat dan tangguh. Duduk berhadapan dengan kedua orang yang menyakitinya, sungguh membuat Aruna ingin melayangkan tinju ke wajah keduanya. Duduk berhadapan dengan mereka seperti duduk di kursi pesakitan. Namun Aruna sama sekali tidak ingin menunjukkan kelemahannya di hadapan Arya dan Shella. Ia dengan tegap mengangkat dagunya.
''Aruna, ini adalah Shella. Shella, ini adalah Aruna, istri aku.'' Ucap Arya yang memperkenalkan keduanya. Shella dengan senyum ramahnya mengulurkan tangannya pada Aruna. Aruna pun menyambutnya dengan senyum yang tak kalah ramah pula. Menunjukkan kesedihan di depan mereka, sama saja seperti menunjukkan kelemahannya. Sekalipun saat itu Aruna ingin berteriak dan menangis.
''Hai, Aruna. Senang sekali bertemu dengamu. Ternyata kamu sangat cantik ya. Arya pintar sekali mencari seorang istri.''
''Hai juga Shella. Terima kasih untuk pujiannya. Kamu juga sangat cantik, pantas saja Mas Arya sangat sulit melupakan kamu.'' Ucap Aruna dengan penuh penekanan. Dua wanita itu saling menetup dan saling melempar senyum sinis.
''Jadi apa mau kamu Mas?'' tanya Aruna.
''Sesuai yang pernah aku katakan sama kamu kalau aku dan Shella sudah menikah. Dan kami duduk disini untuk meminta ijin sama kamu kalau kami ingin meresmikan pernikahan kami.'' Kata Arya dengan begitu entengnya tanpa ada beban atau rasa bersalah pada Aruna.
Aruna menghela. ''Silahkan saja. Tapi Mas ceraikan aku dulu.''
''Maksud kamu? Aku tidak mau kita bercerai sayang,'' ucap Arya.
''Mas, aku tidak sanggup dan tidak mau di madu. Aku sudah memberi kalian kesempatan untuk bersatu kembali. Memberikan kesempatan untuk cinta pertama yang telah terlewatkan dan kini bersatu kembali.''
''Tapi aku tidak mau kita berpisah, sayang.'' Kata Arya sembari menggenggam tangan Aruna dengan erat. Shella merasa cemburu dengan sikap Arya pada Aruna.
''Kamu tidak mau berpisah denganku tapi kamu juga tidak mau meninggalkan dia. Kamu tidak boleh serakah dan egois, Mas. Aku ikhlas melepaskanmu dengan cinta pertamamu. Aku akan segera mengurusnya ke pengadilan. Dan untuk kamu Shella, selamat dan terima kasih kamu sudah berhasil membuat rumah tangga kami hancur. Aku harap kamu tidak pernah berada di posisiku.'' Ucap Aruna dengan seluruh kekuatannya untuk tidak menjatuhkan setetes air mata di hadapan mereka.
''Tapi sayang, aku....,''
''Stop Mas! Aku tidak mau mendengar apapun dari kamu.'' Sela Aruna sambil mengangkat telapak tangannya. Aruna kemudian keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Aruna berjalan menunduk untuk menyembunyikan air matanya, sampai tidak tahu jika ia berpapasan dengan Daniel. Daniel yang melihat itupun bertanya-tanya.
''Hah si Nyonya galak itu, kenapa dia? Sepertinya sedang menangis. Dia tidak menyapaku lho? Eh tapi bodoh amatlah.'' Gumam Daniel sambil melanjutkan kembali langkahnya. Daniel sendiri baru saja selesai meeting bersama kliennya. Bukan Daniel namanya kalau tidak menggoda pelayan disana. Itulah yang Daniel lakukan sebelum ia pergi dari restoran itu.
Sementara Arya hendak berusaha mengejar Aruna tapi Shella mencegahnya.
''Sudah Mas, biarkan saja Aruna pergi. Biarkan dia sendiri dan berpikir dulu. Dia sedang dalam emosi, Mas. Kamu mengejarnya dan bicara banyak padanya pun percuma. Lebih baik kita kembali ke apartemen ya, kamu tenangin diri kamu dulu.'' Ucap Shella sambil mengelus punggung Arya. Mereka berdua kemudian keluar dari ruangan itu.
Saat sedang iseng menggoda dan mengajak mengobrol pelayan wanita, Daniel di buat terkejut melihat suami Aruna keluar bersama dengan seorang wanita dari privat room.
''Mas, perasaan kita berdua juga tidak bisa di kendalikan. Yang terpenting kan Aruna sudah memberikan kita ijin untuk menikah. Dan dia sendiri yang meminta untuk cerai, bukan kamu. Bukankah ini kesempatan kita untuk bersatu.'' Kata Shella. Setidaknya itulah yang Daniel dengar saat Arya dan Shella berjalan melewati dirinya.
''Wah, ternyata suaminya lebih brengsek daripada aku.'' Gumam Daniel dalam hati.
...****************...
Sesampainya di apartemen, Shella segera membuatkan minuman dingin untuk Arya yang tampak murung.
''Ini Mas minumnya.'' Kata Shella.
''Terima kasih sayang.'' Arya menerimanya dan segera meminumnya.
''Kenapa kamu murung, Mas? Apa kamu menyesal dengan hubungan kita? Atau aku saja yang mundur, Mas. Aku juga tidak apa-apa. Seharusnya aku tidak menganggu kamu lagi. Seharusnya aku sadar diri kalau kehidupan kita sudah berbeda. Seharusnya aku juga sadar, tidak semestinya aku menerima kamu kembali. Dan seharusnya aku tidak usah kembali ke Indonesia.''
''Shella, apa yang kamu katakan? Kamu ingin meninggalkan aku juga? Kamu dulu sudah meninggalkan aku begitu saja dan sekarang mau meninggalkan aku lagi? Apa kamu sudah bosan denganku?''
__ADS_1
''Tapi melihatmu mencegah Aruna pergi, membuatku sadar seharusnya aku tidak kembali.''
''Sssttt jangan mengatakan apapun. Bahkan saat bersama Aruna, aku selalu memikirkan kamu. Aku mengejarnya karena aku khawatir dia sedang hamil. Butuh waktu bertahun-tahun untuk melupakan kamu tapi tetap saja tidak bisa, Shella. Kamu jangan pergi ya? Aruna sudah pergi meninggalkan aku jadi kamu juga jangan ikutan pergi. Kita akan membangun hubungan rumah tangga yang bahagia seperti mimpi kita dulu. Kamu mau kan?''
''Kamu yakin Mas?'' tanya Shella.
''Iya aku yakin.''
''Tapi kenapa aku ragu?''
''Lalu apa yang harus aku katakan untuk membuatmu percaya?'' tanya Arya.
''Aku menginginkamu, Mas. Sejak aku kembali dari Bali, kamu belum menyentuhku sama sekali. Tapi justru aku melihat hal yang membuatku cemburu hari ini.''
Arya tersenyum sambil membelai wajah Shella. ''Iya sayang, aku akan menyentuhmu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Karena aku juga sangat merindukanmu.'' Dan mereka berdua pun mulai bercumbu tanpa memikirkan sedikit pun perasaan Aruna.
...****************...
Aruna, menangis sekeras-kerasnya di dalam mobil. Ia berteriak seperti orang yang sudah tidak waras. Menahan luka batin yang begitu menghujam jantungnya. Ia hanya bisa menangis, menangis dan menangis bahwa pernikahannya yang telah berjalan bertahun-tahun akhirnya hancur begitu saja. Ingin bertahan, tapi Aruna tidak sanggup jika harus berbagi suami dan berbagi cinta. Meskipun menyakitkan tetapi mundur adalah jalan terbaik untuknya saat ini.
''Ya Tuhan!" gumam Aruna dalam isak tangisnya. Perasaannya kini benar-benar kalut. Sungguh amat sangat sakit di rasa. Aruna tidak tahu bagaimana ia harus mengatakan ini pada Zidane dan juga kedua orang tuanya.
''Kamu jahat Mas! Kamu jahat Mas Arya!" teriak Aruna membabi buta di dalam mobilnya. Hingga akhirnya konsentrasi Aruna menyetir pun hilang. Aruna tidak bisa menghindari sebuah mobil box yang belok di persimpangan jalan. BRUG! Kecelakaan pun tak terhindarkan.
Bersambung.... Yuk guyssss like, komen dan votenya ya, makasih 🙏❤️
__ADS_1