
Apa boleh buat. Demi kamu, aku nekat datang kemari. Bram sudah sangat keterlaluan, menjadikanmu seperti burung dalam sangkar.
Rama hanya bisa membatin. Sambil menatap Aruna lekat.
"Aku mencarimu di kantor tapi tidak ketemu." Ucap Rama seraya mengulum senyum.
"Aku sudah berhenti."
"Berhenti atau tidak di ijinkan?" kini senyum itu memudar.
Aruna menjawabnya dengan tatapan. Untuk apa dia memberitahu Rama kalau Bram melarangnya ke kantor bahkan keluar rumah. Bram yang posesif. Perubahan Bram yang sangat drastis itu terkadang membuat Aruna kurang nyaman.
Rama pun tersenyum lembut. Tidak dijawab pun Rama sudah tahu apa jawabannya.
Melihat Rama tersenyum seperti itu, seketika itu juga darah Aruna terasa berdesir. Apa yang di katakan Bi Surti tadi membuatnya sedikit terganggu. Jangan - jangan benar apa yang dikatakan Bi Surti. Caranya tersenyum sama persis seperti Dicko.
Tapi bagaimana mungkin. Dicko sudah meninggal.
Aruna berusaha membantah kata hati kecilnya. Sebisa mungkin dia membuang jauh - jauh pikirannya. Yang berharap orang ini adalah Dicko.
"Rama?" terdengar sapaan dari seorang pria paruh baya. Papa Danu.
Serentak Rama dan Aruna pun menoleh ke arah suara. Tampak Papa Danu berdiri di ambang pintu. Dan Rama pun beranjak menghampiri Papa Danu yang menatapnya curiga. Ada rasa kurang nyaman yang terpancar dari raut wajah Papa Danu.
"Pagi Pa." Sapa Rama tanpa canggung.
"Kamu tidak ke kantor? Kenapa malah kemari?" Kemudian melirik Aruna.
"Aku ingin bicara dengan Papa."
"Kita bicara di dalam saja." Kemudian berjalan masuk dan diikuti oleh Rama.
Papa Danu mengajak Rama mengobrol di taman belakang.
"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan Papa. Sampai - sampai kamu datang sepagi ini?" tanya Papa Danu memulai.
Rama terlihat tenang sejenak. Kemudian tanpa ragu mengutarakan niatnya.
"Aku hanya mau meminta ijin Papa."
"Ijin? Ijin apa?"
"Kalau Papa mengijinkan, aku ingin tinggal di sini. Bersama kalian semua. Di apartemen aku kesepian."
Papa Danu pun tersentak kaget. Apa yang ada dalam pikiran Rama saat ini? Saat dia bertemu dengan Aruna saja sudah cukup membuatnya khawatir. Dan sekarang dia malah ingin tinggal disini? Bagaimana ini? Tidak mungkin dia mengijinkan orang yang akan menjadi duri dalam kehidupan rumah tangga Bram untuk tinggal bersama mereka.
"Apa apartemennya kurang mewah? Atau kurang besar? Kamu mau Papa carikan apartemen yang lain? yang lebih besar dan lebih mewah?"
"Tidak perlu. Akan lebih nyaman bagiku jika aku kembali ke rumah ini."
Kembali ke rumah ini?
Papa Danu mengerutkan dahinya. Apa ingatan Rama sudah kembali?
"Rama. Kamu bercanda kan?"
"Aku juga anak Papa. Kenapa aku tidak boleh tinggal disini?"
Papa Danu pun terdiam. Memang sudah seharusnya Rama tinggal di rumah itu. Tapi bagaimana bisa, dua pria yang mencintai wanita yang sama berada dalam satu atap. Entah apa yang akan terjadi.
.
.
Sementara itu, Bram di ruangannya di kagetkan dengan kedatangan seseorang. Seorang gadis cantik yang kini berdiri di depan meja kerjanya dengan tatapan berbinar ke arahnya.
Mona.
"Maaf, aku datang menemuimu tanpa membuat janji terlebih dahulu." Ucap Mona seraya tersenyum manis.
__ADS_1
"Aku rasa Roni sudah mendiskusikan masalah pembatalan kontrak kerjasama dengan kamu."
"Memang sudah. Tapi ada hal yang ingin aku katakan padamu. Apa aku tidak di persilahkan duduk?"
"Silahkan."
Mona langsung saja mengambil duduk di depan Bram. Yang menyibukkan diri dengan layar laptopnya.
"Ada perlu apa?" tanya Bram tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
"Aku hanya ingin bertanya, apa kamu kenal dengan pria yang tinggal di sebelah apartemenku?"
"Maksud kamu?"
"Sepertinya istri kamu mengenalnya."
Kali ini perhatian Bram teralih. Di tutupnya kembali layar laptopnya. Lalu menatap Mona dengan kening mengerut.
"Perjelas apa maksud kamu." Bram terlihat serius dan semakin ingin tahu.
"Kemarin aku melihat istri kamu berada di apartemen bersama pria itu."
Bram semakin mengernyit. Berusaha memahami arah ucapan Mona. Saat ini yang terlintas di benaknya adalah Rama. Dan baru - baru ini Bram mengetahui kalau Rama tinggal di apartemen yang sama dengan Mona.
"Apa kamu mencoba memfitnah istriku?" Bram ingin memastikan firasatnya.
"Tunggu sebentar," seraya membuka tas branded nya. Lalu mengambil ponsel dan mulai mencari sesuatu disana.
Beberapa detik kemudian, Mona menyodorkan ponselnya pada Bram yang memutar satu video rekaman CCTV yang diambilnya dari petugas keamanan apartemen.
Dengan cepat tangan Bram menyambar ponsel itu dari tangan Mona. Detik itu juga, guratan amarah tergambar jelas di wajah Bram saat melihat video itu. Yang memperlihatkan Aruna dan Rama berdiri di depan pintu apartemen Rama.
Dadanya terasa bergemuruh. Wajahnya semakin merah padam kini.
Sedangkan Mona tersenyum sinis melihat perubahan raut wajah Bram saat ini.
.
.
"Tidak usah Non. Biar Bibi saja. Non sebaiknya istrahat." Ucap Bi Surti tak enak hati.
"Tidak apa - apa Bi. Dari pada aku bosan. Seharian hanya berdiam diri saja di rumah. Tidak ada kegiatan apa pun." Sambil mencuci wortel di wastafel. Kemudian mulai memotong kecil - kecil wortel itu.
"Ya sudah. Tapi hati - hati Non. Nanti tangannya keiris lagi."
"Aku sudah biasa mengerjakan hal seperti ini di rumah Bi."
"Tapi tetap saja, Non harus hati - hati."
Baru saja Bi Surti mengingatkan. Dan hal itupun terjadi.
"Aww ..." ringis Aruna sambil memegangi telunjuknya yang mulai berdarah.
"Ya ampun Non. Baru aja Bibi bilangin, eh udah kejadian. Non, tidak apa - apa Non? Tunggu sebentar, Bibi ambilkan ples__"
Tiba - tiba saja Rama datang dan langsung meraih tangan Aruna dan menghisap darah yang keluar dari jari telunjuknya yang teriris pisau. Hingga membuat Bi Surti tercengang.
"Plester." Bi Surti tetap menyelesaikan kalimatnya. Kemudian beranjak keluar dari dapur. Meninggalkan Rama dan Aruna berdua.
Entah apa yang terjadi saat ini. Aruna hanya bisa terpaku menerima perlakuan Rama yang begitu peduli padanya. Lagi - lagi, hal kecil yang di lakukan Rama itu mengingatkannya pada Dicko. Yang selalu ada dan selalu sigap membantunya.
"Ceroboh." Rama menatap Aruna lekat dengan tangan yang masih menggenggam tangan Aruna.
Seketika jantungnya berdetak kencang. Perasaan Aruna tak menentu. Seakan dia melihat sosok Dicko dalam diri Rama.
Tidak.
Tidak mungkin.
__ADS_1
Aruna membantah kata hati kecilnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Aruna gugup.
"Apa yang seharusnya aku lakukan. Sejak dulu."
Astaga. Apa Rama sudah gila?
"Kenapa kamu melakukan ini?"
"Aku rela melakukan apa pun. Aku rela jadi apa pun. Asalkan aku bisa bersamamu."
Aruna terdiam mendengar kalimat itu. Seketika ingatannya kembali ke masa dimana Dicko pernah mengucapkan hal serupa saat itu.
Apa mungkin apa yang dikatakan Bi Surti benar?
Tapi bagaimana bisa?
"Aruna!"
Terdengar suara bentakan dari seseorang yang tiba - tiba saja datang. Dan mengagetkan mereka.
Detik itu juga tangan Aruna dalam genggaman Rama terlepas. Serentak mereka menoleh ke arah suara.
Bram.
Dengan amarahnya yang berapi - api datang menghampiri. Menatap tajam Aruna dan Rama bergantian.
Tidak seperti Bram yang semakin di liputi amarah. Rama justru terlihat tenang. Seakan tidak ada hal apapun yang terjadi.
"Berani sekali kamu datang ke rumah ini dan mengganggu istri orang." Hardik Bram dengan suara meninggi.
"Bram. Tenang dulu. Kamu salah paham." Aruna berusaha menenangkan Bram dari emosi yang kian menguasainya.
"Aruna, aku tidak menyangka kamu bisa serendah ini?"
Aruna tertegun.
"Rendah?" lirih Aruna dengan mata mulai berkaca - kaca.
"Jaga ucapan kamu." Rama tidak bisa melihat Aruna di rendahkan seperti itu.
Terulang kembali. Seperti setahun yang lalu. Begitu mudahnya Bram berkata Aruna rendah. Bram masih sama saja. Tidak bisa mengontrol emosinya.
Dengan cepat Bram mencengkeram kerah Rama. Dan menatapnya penuh amarah. Namun Rama terlihat tenang. Dan membalas tatapan Bram dengan tatapan lembut. Bahkan Rama tersenyum tipis. Membuat Bram melepaskan cengkeramannya seketika.
Kakak?
Hati kecil Bram berkata.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
Kabar baik kan readers 🤗
Duh, kue lebaran Otor ampe gosong gegara keasikan nulis 🤧🤧
But, it's okey. Yang penting bisa update.
Thankyou so much udah nunggu update nya. Dan maaciiiih buat like nya 🤗🤗
Saranghae ❤️
Salam hangat
__ADS_1
Otor Kawe