
Terdengar bunyi sirine ambulance di rumah sakit terdekat. Dari ambulance itu, terlihat beberapa perawat tengah menurunkan dua orang pasien gawat darurat.
Perawat - perawat itu dengan cepat membawa dua orang pasien itu ke ruang ICU. Untuk segera mendapatkan penanganan.
Tak berapa lama sebuah mobil pun tiba. Dari mobil itu, terlihat Bram dan Papa Danu bergegas turun. Dengan wajah panik dan penuh kecemasan.
Beberapa saat yang lalu, Bram menerima telepon dari warga di sekitar tempat Dicko dan Aruna kecelakaan. Nomor ponsel Bram mereka dapat dari ponselnya Dicko. Setelah mendapatkan kabar itu, Bram pun bergegas ke rumah sakit yang di maksud oleh warga yang menolong Dicko dan Aruna.
Kabarnya, mereka kecelakaan karena berusaha menghindari truk. Tetapi sial, setelah berhasil menghindari truk yang sedang melaju kencang saat itu, mereka malah bertabrakan dengan mobil lain.
Mungkin inilah yang menjadi kecemasan Aruna. Yang kata orang, hubungan yang tidak direstui orang tua akan terkena sial. Dan inilah yang terjadi. Mereka mengalami kecelakaan hebat sepulangnya dari rumah Papa Danu.
Di depan ruang ICU itu, Bram dan Papa Danu tengah menunggu dengan penuh kecemasan. Seorang dokter datang dengan tergesa - gesa menuju ke ruang ICU.
"Dokter ... Bagaimana keadaan kakak saya dan calon istrinya Dok?" Tanya Bram panik.
"Bagaimana keadaan putra saya Dok?" Tanya Papa Danu panik.
"Jadi kalian keluarga pasien. Mereka luka parah dan kehilangan banyak darah. Kemungkinan hanya satu orang yang akan selamat. Tapi kami tetap akan berusaha sebaik mungkin menolong pasien. Permisi." Dokter itu bergegas masuk ke ruang ICU.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..." Tangis Bram pun pecah. Papa Danu hanya bisa menenangkan Bram dengan mengusap lembut punggungnya.
Kemungkinan hanya satu orang yang akan selamat. Dari kemungkinan itu, siapa orang yang diharapkan Bram akan selamat? Kalau Papa Danu jelas dia mengharapkan Dicko yang akan selamat.
Tetapi Bram?
Ini sungguh pilihan yang sulit untuk Bram. Di satu sisi dia ingin kakaknya yang selamat. Tapi di sisi lain, dia pun ingin Aruna selamat. Meski mereka telah berpisah, tapi masih ada cinta di hati Bram untuk wanita itu. Wanita yang sangat di cintainya. Bram tidak akan sanggup kehilangan Aruna. Hanya demi kakaknya lah Bram rela melepasnya.
Namun kini, keduanya tengah berjuang melawan maut.
Tuhan. Jangan ambil mereka dariku.
Bram hanya bisa menjerit dalam batinnya. Kenapa semua ini harus terjadi. Kenapa Tuhan tidak pernah membiarkan mereka hidup bahagia. Kenapa Tuhan selalu memberi mereka cobaan dan ujian seperti ini. Tidak cukupkah keikhlasan Bram menjadi kebahagiaan bagi mereka. Bram sudah mengikhlaskan wanita yang dicintainya, untuk hidup berbahagia dengan pria yang dicintainya. Sekali lagi, dua orang yang dicintainya berada dalam kubang derita.
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..." Bram hanya bisa menangis, dan menangis. Apa yang bisa Bram lakukan untuk menolong kakaknya dan mantan istrinya.
"Bram, tenanglah. Kakakmu pasti selamat." Ucap Papa Danu sembari mengelus punggung Bram.
"Semua ini gara - gara Papa. Ini semua terjadi gara - gara Papa."
"Kenapa kamu menyalahkan Papa? Semua ini terjadi gara - gara Aruna. Gara - gara perempuan itu, kakakmu dalam bahaya sekarang. Yang seharusnya kamu salahkan adalah perempuan itu. Kakakmu sampai kecelakaan seperti ini karena dia." Tandas Papa Danu geram.
"Kalau sampai terjadi apa - apa pada Aruna, aku tidak akan pernah memaafkan Papa. Dan jika kakakku tidak selamat, aku akan membenci Papa seumur hidupku."
"Bram?" Papa Danu tercengang mendengar ucapan putra bungsunya itu.
"Kakak memang bukan anak dari istri sah Papa. Tapi dia tetaplah Kakakku." Meski berkali - kali hubungan mereka merenggang, tapi Bram tetap menganggap Dicko kakaknya. Kakak tersayangnya, yang menyayanginya sejak kecil. Yang selalu mengalah untuknya. Tapi kini, biarlah Bram yang akan mengalah.
Tak berapa lama, Randa dan Sarah pun datang. Karena kebetulan, rumah sakit tempat mereka di rawat adalah rumah sakit tempat Randa dan Sarah bekerja.
"Bram ... Bagaimana keadaan Kakakmu?" Tanya Randa panik.
"Dokter sedang menanganinya."
"Maaf, aku datang terlambat."
__ADS_1
"Tidak apa - apa." Disertai anggukan kecil.
"Mudahan - mudahan mereka selamat." Ucap Sarah.
Beberapa menit kemudian, keluarga Aruna pun datang. Karena sebelumnya, Bram sudah memberikan nomor yang bisa di hubungi untuk keluarga Aruna pada resepsionis. Dan mereka pun datang dengan tergesa - gesa.
Sama halnya seperti Bram. Mereka pun terlihat sangat cemas. Bram hanya bisa menatap mereka sendu. Tidak ada yang bisa Bram lakukan selain memberi mereka kekuatan. Agar bersabar menghadapi ujian ini.
Setelah hampir dua jam, dokter yang menangani pun keluar dari ruangan itu. Dan mereka pun menghambur, menghampiri dokter itu. Dan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
"Bagaimana keadaan mereka Dok."
"Bagaimana keadaan putraku Dok."
"Bagaimana keadaan ponakan kami Dok."
Seperti itulah pertanyaan mereka. Pertanyaan yang sama. Sama - sama panik dan mencemaskan keadaan kedua pasien.
Tampak raut wajah dokter itu, seakan menyiratkan kekecewaan.
"Seperti yang sudah saya katakan tadi. Kemungkinan hanya satu orang yang akan selamat. Saya sebagai dokter sudah berusaha keras dengan semampu saya. Tapi takdir berkata lain. Maaf, saya harus mengatakan ..."
Semua yang ada di tempat itu terperanjat mendengar penuturan dokter. Hingga ada yang menangis sambil berpelukan.
Hanya satu orang yang akan selamat.
Tidak.
Tuhan. Ijinkan sekali saja, mereka hidup bahagia.
.
.
Aku sangat takut. Aku takut tidak akan bisa berada disisimu slamanya. Bagaimana jika seandainya aku tiba - tiba pergi dari sisimu.
Kalimat itu terus menggema. Serasa bagai terdengar memenuhi ruangan itu. Seorang pasien terbaring tak berdaya dengan perban di kepala dan beberapa bagian tubuh yang lainnya. Kalimat itu seketika membangunkannya dari tidur panjangnya selama seminggu ini.
"Kakak?" Ucap Bram kaget begitu melihat kakaknya membuka matanya. Selama seminggu ini Bram selalu setia menjaga kakaknya.
"Aruna ..." Panggil Dicko lirih. Sembari menyapukan pandangannya ke seisi ruangan. Dan netra matanya pun menangkap kehadiran Bram yang setia berada di sisinya. Menungguinya siang dan malam.
"Kakak, kata dokter Kakak harus banyak istrahat. Kakak jangan bangun dulu." Larang Bram saat Dicko berusaha bangun dari ranjang itu.
"Kenapa aku bisa ada di rumah sakit?" Tanya Dicko kebingungan sekaligus panik.
"Kakak kecelakaan, seminggu yang lalu."
"Kecelakaan? Lalu Aruna? Di mana dia?"
"Kakak, Kakak sebaiknya istrahat dulu."
"Aku tanya dimana Aruna? Dimana dia? Malam itu aku sedang bersamanya. Saat kecelakaan aku sedang bersamanya. Lalu dimana dia skarang?" Dicko tampak panik luar biasa.
Kalimat yang pernah di ucapkan Aruna belum lama ini, di tambah lagi Dicko tidak melihat keberadaannya. Semakin membuatnya panik.
__ADS_1
Tuhan.
Jangan lagi Tuhan.
Jangan jadikan ini firasat buruk.
Bagaimana jika seandainya aku tiba - tiba pergi dari sisimu?
Ucapan Aruna itu jelas semakin membuat Dicko panik. Kenapa ucapan Aruna terus terngiang di telinganya.
"Kakak, tolong dengarkan kata dokter. Kakak jangan bangun dulu." Bram berusaha menahan kakaknya.
Tidak. Dicko harus tahu bagaimana keadaan Aruna. Dengan sekuat tenaga yang tersisa dia bangun dan turun dari ranjang itu. Tanpa mempedulikan Bram yang berusaha mencegahnya.
"Aku harus tau keadaan Aruna. Katakan padaku, dimana dia skarang? Katakan Bram dimana dia?" Desak Dicko.
"Kak ... Kakak harus kuat. Kakak harus tabah. Aruna__"
"Dia di rumah sakit ini kan? Dia disini kan?" Sela Dicko cepat.
"Aku akan mencarinya. Aku pasti akan menemukannya." Dicko pun bergegas keluar dari ruangannya dengan langkah terseok - seok. Dan Bram menyusul di belakangnya. Sekedar berjaga - jaga jika terjadi sesuatu pada kakaknya.
Dicko menyusuri setiap lorong, membuka setiap ruangan dengan panik. Hanya untuk mencari Aruna.
"Aku pasti akan menemukanmu. Tunggu aku, Aruna. Tunggu aku." Gumam Dicko sembari melangkahkan kakinya susah payah.
"Suster ... Suster." Dicko mencegat seorang suster yang baru saja keluar dari salah satu ruangan yang tampak kosong.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" Tanya suster itu.
"Dimana Aruna? Dimana dia?"
"Pasien yang bernama Aruna? Kemarin keluarganya sudah membawanya pulang. Keadaannya sangat kritis. Kecil kemungkinan pasien itu bisa selamat."
Ya Tuhan.
Apa lagi ini?
Belum cukupkah penderitaan yang mereka alami selama ini?
Kenapa ini harus terjadi lagi?
Akhirnya, Dicko pun terkulai lemas. Beruntung dengan sigap, Bram menopang tubuh kakaknya. Agar tak terjatuh menyentuh lantai.
"Kakak ..." Lirih Bram memanggil kakaknya.
"Aruna ..." Lirih Dicko memanggil Aruna di iringi air mata yang mulai bercucuran.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
__ADS_1