Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 32 Dia atau Diriku?


__ADS_3

''Dimana ya gadis pemilik jepit kupu-kupu itu? Dia menghilang begitu saja.'' Gumam Daniel. Daniel lalu menoleh kearah Aruna duduk tapi ternyata Aruna sudah tidak ada disana. Setelah cukup lama berada disana, Daniel lalu pergi ke tempat wahana yang mempertemukannya dengan gadis itu.


''Sudah banyak yang berubah disini. Wahananya lebih banyak dan lebih modern.'' Gumamnya sambil terus berjalan menyibak kerumunan. Daniel tersenyum melihat keseruan pengunjung yang menikmati baling-baling tersebut.


''Sepertinya seru kalau aku naik kesana.'' Gumamnya. Akhirnya setelah baling-baling itu berhenti, Daniel memutuskan untuk naik. Yang lebih mengejutkan, Daniel melihat Aruna juga ikut antre di belakangnya. Daniel menyembunyikan wajahnya, suapaya Aruna tidak melihatnya.


''Kenapa Nyonya Aruna datang kemari sendiri? Dimana suami dan anaknya? Wajahnya masih pucat dan sepertinya dia masih terpukul. Ah, tapi sudahlah untuk apa aku memikirkannya. Yang penting Zidane tidak kehilangan Ibunya.'' Gumam Daniel. Daniel sangat senang menaiki wahana itu, ia seperti seorang bocah. Setidaknya rasa rindu Daniel akan kenangan bersama Mamanya sedikit terobati. Setelah puas bermain, Daniel segera turun. Karena haus, ia membeli milk shake coklat kesukaannya saat masih kecil dulu. Namun lagi-lagi pandangannya tertuju pada Aruna yang berjalan seorang diri ke arah pintu keluar. Pandangan Aruna terlihat kosong. Setelah mendapatkan minuman kesukaannya, Daniel memutuskan untuk mengikuti Aruna. Hingga akhirnya Aruna sampai di pelataran depan wahana. Aruna lalu berjalan menuju arah jalanan.


''Mau apa sih? Jangan-jangan mau bunuh diri lagi. Suaminya selingkuh, anaknya meninggal, aduh bahaya nih.'' Gumam Daniel dengan segala overthinkingnya. Daniel mempercepat langkahnya untuk mengikuti Aruna yang sudah ada berada di bibir jalan.


''Zio, maafkan Mami.'' Gumam Aruna dengan tetesan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Aruna lalu melangkahkan kakinya hendak menyeberang. Daniel melihat sebuah mobil melaju kencang. Daniel lalu berlari dan menarik Aruna ke tepi, sampai keduanya terguling ke tanah. Nafas Daniel terengah, Aruna yang berada di bawahnya terlihat menutup erat matanya. Aruna merasakan hembusan nafas Daniel. Perlahan Aruna membuka matanya. Mata Aruna membulat melihat Daniel. Reflek, Aruna mendorong Daniel dengan kuat.


''Mau apa kamu?'' kata Aruna seraya berdiri.


''Nyonya, aku hanya menyelamatkanmu. Apa anda gila? Hampir saja anda kecelakaan lagi. Tidak kasihan pada putramu apa? Dia pasti sedang menunggumu dirumah. Untuk apa disini sendirian?'' Daniel menjadi kesal dengan sikap Aruna.


''Bukan urusanmu!" bantah Aruna. Daniel yang khawatir jika Aruna berbuat nekat lagi, akhirnya dengan paksa ia menggendong Aruna lalu membawanya masuk ke dalam mobil.


''Lepaskan aku! Jangan kurang ajar ya.'' Aruna terus meronta berusaha turun dari gendongan Daniel. Namun Daniel tidak peduli. Daniel lalu memasukkan paksa Aruna ke dalam mobil. Setelah itu Daniel melajukan mobilnya kearah jalan pulang Aruna.


''Seharusnya tidak usah ikut campur urusanku.'' Ketus Aruna.


''Aku hanya berusaha supaya putramu tidak kehilangan Ibunya.''


''Lagi pula aku juga tidak mau bunuh diri.''


''Iya tapi anda hampir saja tertabrak, Nyonya.''


Aruna lalu menghela nafas panjang. ''Terima kasih sudah menyelamatkan ku.''


''Oh itu, aku hanya kebetulan lewat saja. Aku akan melakukan hal yang sama jika korban itu adalah kenalanku.''


''Tidak usah memanggilku Nyonya. Aku tidak setua itu.''


''Oke, kalau begitu aku akan memanggil namamu saja, Aruna. Bagaimana kalau kita berteman?''

__ADS_1


Aruna tersenyum kecil mendengar ajakan konyol Daniel. ''Berteman? Aku bisa di buru oleh kekasihmu. Kekasihmu sangat banyak jadi kita tidak usah berteman. Cukup saling kenal seperti ini saja. Aku tidak mau terlibat dalam masalahmu.''


''Oke, fine. Aku akan mengantarmu pulang. Lagi pula ini sudah sore juga. Kamu tidak membawa ponselmu?''


''Tidak! Ponselku ketinggalan di rumah.''


''Turunkan saja aku disini. Aku tidak mau orang salah paham karena kamu mengantarku sampai rumah.''


''Bukankah aku sudah pernah mengantarmu pulang? Sudahlah tenang saja. Aku juga tidak akan mampir.''


''Oh ya apa kamu tidak bertemu suamiku saat di rumah sakit?''


''Tidak. Aku pulang setelah membantu Zidane menandatangani berkas operasi.''


''Operasi?''


''Iya. Saat itu kamu harus segera di operasi. Dokter memberi pilihan menyelamatkanmu atau anak dalam kandunganmu. Zidane lah yang mengambil keputusan berani itu, Aruna. Kemudian Zidane memintaku tanda tangan sebagai penanggung jawab. Karena saat itu suamimu tidak bisa di hubungi. Zidane menangis dan memintaku untuk melakukannya. Jadi maaf kalau aku harus melakukan itu. Tapi aku bangga pada Zidane, dia berani mengambil sikap untuk keselamatan Ibunya. Karena saat itu Zidane bilang suamimu sedang di luar kota.'' Jelas Daniel.


''Sudah pasti Mas Arya saat itu tidak bisa di hubungi karena dia sedang bersama wanita itu.'' Gumam Aruna dalam hati.


''I-iya. Maafkan aku, aku tidak bermaksud lancang. Karena kata Zidane suamimu berada di luar kota jadi sekalian saja aku mengurusnya.''


''Terima kasih untuk semua bantuanmu. Aku janji akan megganti biaya rumah sakit yang kamu keluarkan untukku. Aku tidak menyangka kamu biasa sebaik itu, padahal kita baru saja mengenal. Tapi tipe laki-laki playboy sepertimu, mengeluarkan uang banyak sudah bukan menjadi masalah ya.''


''Ya begitulah. Memang semua wanita sangat mencintai uang.'' Celetuk Daniel. Aruna hanya menjawabnya dengan senyum tipisnya.


Setelah perjalanan tiga puluh menit lamanya, akhirnya Aruna sampai juga di rumah. Namun Aruna memilih turun agak jauh dari rumahnya, supaya tidak menimbulkan masalah baru.


''Sayang, kamu darimana saja? Aku baru saja keluar mau mencari kamu lagi.'' Kata Arya yang baru saja keluar dari rumahnya.


''Aku capek mau istirahat.'' Sinis Aruna. Aruna lalu masuk ke dalam rumah.


''Mami!" seru Zidane seraya berlari memeluk Maminya.


''Mami darimana saja? Aku sangat khawatir.''

__ADS_1


''Mami mau istirahat dulu, Zidane. Mami ke kamar dulu ya.'' Kata Aruna seraya melepaskan pelukannya.


''Iya Mami.'' Zidane menatap sedih Ibunya yang tidak seceria biasanya.


Sesampainya di kamar, Aruna segera mandi. Tubuhnya terasa sangat segar tersiram oleh guyuran dari shower.


''Aku akan mengembalikan uang Daniel, setelah aku mendapatkan pekerjaan. Aku tidak mau meminta pada Mas Arya. Sepertinya aku harus segera mencari pekerjaan. Aruna, semangat! Kamu harus bangkit untuk Zidane. Zidane sangat membutuhkanmu.'' Ucap Aruna dalam hati. Selesai mandi, Aruna sangat terkejut melihat Arya sudah berada di kamar.


''Sayang, kamu darimana saja? Kamu bahkan meninggalkan ponselmu.''


''Aku sedang mencari ketenangan saja, Mas.'' Jawab Aruna dengan sikap dinginnya. Arya bisa merasakan betul, sikap dingin Aruna. Arya lalu beranjak mendekat dan memeluk Aruna dari belakang.


''Sayang, tidak bisakah kita perbaiki semuanya?''


''Bisa Mas. Tapi kamu harus meninggalkan wanita itu.'' Ucap Aruna dengan tegas.


''Tapi aku tidak bisa meninggalkan dia. Aku akan bersikap adil padamu dan padanya.'' Arya berusaha membujuk Aruna supaya setuju dengan pilihan poligaminya. Seketika Aruna menghempas pelukan Arya.


''Kamu tidak akan bisa adil, Mas. Kejadian kemarin sudah menjadi jawaban untuk semuanya. Sebaiknya mulai malam ini, kita tidak usah tidur satu ranjang. Aku akan tidur di kamar tamu.''


''Aruna tapi aku tidak mau kehilangan kamu. Aku mencintai kamu, Aruna.''


''Tapi kamu juga mencintai dia, Mas?'' Ucap Aruna dengan suara meninggi.


''Kamu tidak bisa memiliki keduanya, Mas.'' Sambung Aruna.


''Tapi Shella sudah siap menjadi istri kedua ku. Bahkan dia tidak masalah dengan statusnya.''


''Iya dia tidak masalah karena dia menjadi yang kedua. Justru menjadi yang kedua-lah yang selalu di utamakan, Mas. Sedangkan yang pertama sudah pasti dijadikan yang kedua. Itu rumus mutlak orang selingkuh ataupun poligami. Aku tidak akan menghalangi cinta kamu dengan Shella, Mas. Kembali saja dengan cinta pertama mu.''


''Tapi aku tidak mau kita berpisah. TITIK!" Ucp Arya dengan suara meninggi.


''TERSERAH!" bantah Aruna. Kepergian Zio, justru dengan mudah membuat Aruna mati rasa pada Arya. Meskipun tak di pungkiri rasa cinta itu ada. Kini yang ada dalam benak Aruna, ia harus bisa bangkit untuk Zidane dan bisa lepas dari Arya secepat mungkin. Karena setiap kali melihat Arya, seperti melihat luka.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2