Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 84 Mandi di sungai


__ADS_3

Selesai pesta api anggun, semua peserta camping segera memasuki tenda masing-masing. Karena besok pagi acara outbond akan di mulai. Zidane masuk ke dalam tenda terlebih dahulu. Sementara Aruna dan Daniel merasa bingung, apakah mereka akan tidur bersama satu tenda?


''Kamu tidur di dalam saja Aruna. Aku akan berjaga di luar.'' Ucap Daniel.


''Tapi di luar dingin, Tuan. Tidak masalah jika kita tidur satu tenda, biar Zidane yang ada di tengah. Anda sudah menyenangkan hati Zidane jadi kalau anda kenapa-kenapa Zidane pasti akan sedih.''


''Kamu serius?'' Daniel tidak percaya mendengar ucapan Aruna.


''Iya serius. Tapi tuan jangan ge-er ya. Awas saja kalau macam-macam.'' Ancam Aruna sambil menyodorkan kepalan tangannya.


''Siapa juga yang ge-er? Biasa saja bagiku. Lagi pula siapa juga yang mau macam-macam sih. Aku bukan pria mesum?''


''Yakin bukan pria mesum? Anda sudah beberapa kali mencium bibirku.''


''Itu hanya kecelakaan dan tidak ada unsur kesengajaan.'' Bantah Daniel.


''Halah, alasan! Aku mengantuk mau tidur.'' Kesal Aruna. Aruna segera masuk ke dalam tenda, ia tidur disebelah kanan Zidane, sedangkan Daniel tidur di sebelah kiri Zidane. Aruna bahkan tidur dengan memunggungi keduanya. Sesekali Daniel melihat kearah Aruna dan Zidane. Zidane sendiri telah tertidur lelap. Tiba-tiba tangan Zidane memeluk dada bidang Daniel dan itu membuat Daniel terkejut. Namun perlahan Daniel mengusap lembut tangan Zidane. Dan tiba-tiba Daniel mulai merasakan gerah.


''Huft, kenapa panas sekali? Sempit lagi. Aku bisa mati kepanasan disini. Tapi Aruna kenapa bisa terlelap seperti itu.'' Gumam Daniel dalam hati. Daniel lalu menurunkan tangan Zidane dari tubuhnya. Daniel kemudian melucuti pakaian atasnya karena ia benar-benar merasa gerah.


''Huft, begini baru semriwing.'' Gumamnya. Kini Daniel pun tidur dengan bertelanjang dada. Ia kembali meletakkan tangan Zidane di tubuhnya dan akhirnya Daniel pun terlelap.


Keesokan harinya, Daniel perlahan terbangun. Saat Daniel membuka mata, ia sangat terkejut melihat Aruna sedang memeluk tubuhnya. Pandangan Daniel mengedar, Zidane sudah tidak ada di dalam tenda.


''Sekarang ketahuan siapa yang mesum, baiklah aku akan membiarkanmu terlelap di tubuh indahku sampai kamu terbangun.'' Gumam Daniel dalam hati. Akhirnya Daniel pura-pura tidur kembali sembari menikmati pelukan Aruna yang terlelap dalam dekapannya. Dan tak lama kemudian, Aruna pun terbangun. Perlahan, ia membuka matanya. Beberapa kali mengerjapkan matanya, meyakinkan apa yang ia lihat dan ia sentuh. Aruna kemudian mendongak dan melihat Daniel yang tampak terlelap. Sontak Aruna melepaskan tubuhnya dan menjauh dari Daniel.


''Tuan, apa yang anda lakukan? Dasar mesum.'' Marah Aruna sambil mengguncang tubuh Daniel. Dan Daniel pun membuka matanya.


''Ada apa Aruna?" tanya Daniel dengan suara malasnya.


"Apa yang tuan lakukan? Kenapa anda tidak memakai baju? Terus dimana Zidane? Anda tidak menodaiku kan?"


"Aruna, apa yang kamu bicarakan? Lihat saja pakaianmu masih utuh. Aku semalam merasa gerah jadi melepas bajuku. Aku juga tidak tahu kalau kamu memelukku karena semalam yang memelukku Zidane. Oh, apa jangan-jangan kamu sengaja ya melakukan itu? Kamu sendiri kan yang mendekat memelukku?"


""Idih, amit-amit!" Ucap Aruna sambil membasuh sendiri tubuhnya.


"Mami!" seru Zidane saat masuk ke dalam tenda.


"Zidane, kamu darimana saja sayang?" Aruna meraih Zidane lalu memeluknya.


"Zidane tadi subuh sudah bangun dan pergi ke sungai sekalian mandi bersama teman-teman."

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak membangunkan kami?"


"Mami dan Om Daniel masih terlelap jadi aku tidak tega membangunkan kalian.''


''Kamu dengar kan apa yang di katakan Zidane? Aku tidak melakukan hal aneh.'' Kesal Daniel seraya memakai kembali pakaiannya.


''Memang apa yang terjadi Om? Mami marah lagi?''


''Iya, Mami mu marah dan menuduh Om yang tidak-tidak. Padahal Mami mu sendiri yang memeluk Om.'' Jelas Daniel.


''Aku malas berdebat denganmu, Tuan.'' Kesal Aruna.


''Mami dan Om sebaiknya segera mandi karena setelah inu outbond akan di mulai.''


''Kamu sudah sarapan?''


''Belum Mi.''


''Ya ampun, Mami buatkan sarapan dulu ya.''


''Cukup susu dan roti saja Mi. Masih ada waktu satu jam kok, Mi.''


''Tapi mandinya di sungai, Mi. Airnya jernih sekali.''


''Apa? Di sungai?''


''Iya Mi. Orang tua yang lain juga mandi disungai kok.''


''Maksud kamu mereka semua mandi masal telanjang, Zidane?'' tanya Daniel.


''Tidak lah Om. Mereka masih pakai baju semua. Ada bilik untuk ganti baju kok. Sebaiknya Mami dan Om pergi bersama karena jalananya licin dan bebatuan. Aku akan menunggu disini.''


''Baiklah, ayo Aruna.'' Ajao Daniel.


''Aku pergi sendiri saja.'' Kata Aruna. Aruna dengan kesal segera mengambil handuk dan pakaiannya, kemudian berlalu menuju arah sungai.


''Om sebaiknya susul kami. Aku khawatir kalau Mami terjatuh.''


''Oke baiklah, aku akan menyusul Mami mu yang hobi marah itu.'' Ucap Daniel sambil mengelus kepala Zidane.


''Hehehe rencanaku berhasil untuk mendekatkan mereka. Semoga Mami dan Om Daniel bisa bersama.'' Ucap Zidane dalam hati.

__ADS_1


Ternyata apa yang di katakan oleh Zidane benar. Jalanannya licin dan penuh bebatuan. Aruna kesulitan sekali untuk melewatinya dan beberapa kali Aruna hampir terpleset. Langkah panjang Daniel berhasil menyusul Aruna ke sungai.


''Aruna, hati-hati!" teriak Daniel.


''Ihhh untuk apa sih dia menyusul. Oke dia atasan ku di kantor, tapi disini dia bukan siapa-siapa. Aku akan memanggil namanya.'' Gerutu Aruna dalam hati.


''Hei Daniel, pergi sana! Jangan ikuti aku.'' Kesal Aruna.


''Apa? Kamu memanggil namaku? Aku ini atasanmu.''


''Tapi itu di kantor. Selama dua hari disini anda bukan lagi atasanku.'' Ketus Aruna.


''Oke, baiklah aku setuju. Berarti aku seorang pria yang bebas melakukan apa saja.'' Ucap Daniel.


''Apa yang mau dia lakukan?'' Gumam Aruna. Akhirnya Aruna sampai juga di tepian sungai. Aruna dengan kaos pendek dan celana hotpantsnya segera menceburkan diri ke air yang jernih dan segar itu. Daniel lalu melepas bajunya dan celananya. Daniel hanya meninggalkan boxernya saja.


''Kamu mau apa?'' ketus Aruna.


''Mau mandi lah. Memang mau apa?'' ucapnya seraya menceburkan diri ke sungai. Daniel cuek saja dan beberapi mencelupkan kepalanya ke dalam air.


''Oh ini segar sekali.'' Ucapnya. Aruna merasa risih sekali karena hanya ada mereka berdua di sungai.


''Aruna, aku minta sabun dan shamponya.'' Kata Daniel.


''Itu ambil saja.'' Ketusnya.


''Masih saja ketus.'' Gumam Daniel.


''Karena kamu sangat menyebalkan.''


''Ah sudahlah aku malas berdebat denganmu. Sebaiknya selesaikan mandimu. Kasihan Zidane kalau dia terlalu lama menunggu.''


Setelah keduanya selesai mandi. Daniel dan Aruna pergi ke bilik ruang ganti yang terbuat dari anyaman bambu itu.


''Aku akan menjaga pintunya. Kamu mandi saja.'' Ucap Daniel. Aruna kali ini hanya mengangguk. Aruna dengan buru-buru ganti baju. Setelah selesai, kini gantian Daniel yang ganti baju.


Setelah keduanya selesai ganti baju, Daniel dan Aruna kembali ke tenda. Aruna bersyukur karena Daniel tiak melakukan hal aneh padanya. Sementara Daniel merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama Aruna.


''Sabar Daniel. Sepertinya perjuangan meluluhkan hati Aruna sangatlah sulit.'' Ucapnya dalam hati.


Bersambung.... Yukkk, like, komen dan votenya ya, makasih

__ADS_1


__ADS_2