Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 69


__ADS_3

Sejatinya, hidup ibarat roller coaster. Terkadang berada di atas dan terkadang berada di bawah. Setiap perjalanan hidup seseorang akan selalu diwarnai suka cita. Kadang bahagia, kadang bersedih. Kadang suka kadang duka. Badai gelombang yang siap menerjang di setiap fase perjalanan hidup, sejatinya menempa pribadi seseorang menjadi lebih tangguh. Lebih dewasa, dan lebih bisa menghargai hidup.


Tidak terkecuali dalam perjalanan cinta. Seperti perjalan cinta Aruna dan Dicko. Yang selalu diwarnai suka cita, luka dan air mata, hingga pengorbanan. Mereka yang awalnya berada dalam jarak yang sulit untuk dijangkau. Mereka yang awalnya terpisah oleh jarak, bahkan status yang melekat, akhirnya dipertemukan kembali. Melalui takdir yang bahkan terdengar konyol.


Tetapi mau bilang apa lagi? Itulah takdir. Yang terkadang selalu menjadi misteri. Bahkan terasa sulit untuk dimengerti.


Terkadang, menemukan seseorang yang tepat, kita akan dipertemukan dengan orang yang salah. Hanya agar kita bisa lebih menghargai seseorang yang hadir dalam hidup kita.


Jika saja sejak awal, Aruna menyadari kehadiran Dicko, mungkin perjalanan cinta mereka akan jauh berbeda.


Namun. Terlepas dari semua itu, takdir siapa yang tahu. Siapa yang menyangka jika Aruna dan Dicko akan bersatu atas nama cinta. Itulah yang namanya jodoh. Dan jodoh adalah misteri.


Akhirnya, setelah melewati proses yang teramat panjang dan melelahkan. Yang menyatukan cinta keduanya dalam ikatan yang paling sakral. Yaitu ikatan pernikahan. Dicko dan Aruna pun harus melewati berbagai rangkaian acara. Mulai dari akad nikah yang di gelar di sebuah Masjid. Dan berlanjut dengan acara resepsi pernikahan.


Tiada kata yang dapat melukiskan kebahagiaan mereka saat ini. Resepsi pernikahan yang diadakan di sebuah Ballroom itu pun berlangsung meriah. Dengan dihadiri para tamu undangan mulai dari kerabat terdekat, sahabat, rekan bisnis, hingga seluruh karyawan dan karyawati TRF. Untuk kedua mempelai, jangan ditanya lagi. Terlihat begitu menawan bak raja dan ratu sehari. Yang mampu menyihir mata setiap tamu yang hadir. Hingga menuai decakan kagum.


"Ayo, lempar saja Run." Seru Shanti saat dia dan para undangan lain tengah berkerumun di belakang Aruna. Yang sudah bersiap melempar buket bunga yang ada di tangannya. Saat serangkaian acara telah usai.


"Siap - siap ya?" Dalam hitungan ketiga, Aruna pun melempar buket bunga itu sekuat tenaga.


Ajaib, buket bunga itu malah jatuh ke tangan Bram yang berdiri agak jauh dari kerumunan para wanita yang tengah menanti buket bunga itu.


Sontak hal itu pun membuat semua yang hadir terbelalak. Sementara Bram tampak kebingungan. Aish, bukankah hal seperti ini harusnya hanya untuk para wanita lajang? Sedangkan dia hanyalah seorang, ehem .. ehem ... Duda. Duda dari wanita yang melempar buket bunga itu. Apa artinya ini?


Melihat Bram kebingungan, Aruna pun melempar senyum manisnya. Yang dibalas Bram dengan senyum yang tak kalah manisnya. Kemudian mata Aruna pun melirik ke arah Clara. Seolah tengah meminta Bram untuk mendekati Clara.


Seakan tahu maksud Aruna. Perlahan Bram pun mulai melangkahkan kakinya menghampiri Clara. Yang semakin deg - degan tatkala melihat Boss stress nya itu datang menghampiri dengan buket bunga di tangannya.


Bram kini berdiri di hadapan Clara dengan penuh percaya diri. Sembari tersenyum manis, tangannya menyerahkan buket bunga itu pada Clara. Yang di sambut Clara dengan wajah kebingungan.


"Clara ... Maaf jika aku lancang. Maukah kamu jadi pacarku?" Bram begitu percaya diri dan tanpa ragu - ragu lagi bertanya.


Clara pun tercengang. Wow, Boss stress itu sungguh berani. Dan penuh kejutan. Clara bahkan hampir tidak menyangka. Hingga membuat Clara tersipu malu.


"Terima ... Terima ... Terima ..." Serempak tamu undangan yang tersisa menyahuti permintaan Bram.


Masih dengan wajah malu - malu bahkan mulai bersemu merah. Akhirnya Clara pun menjawab pertanyaan Bram.


"Iya, aku mau jadi pacar kamu." Sembari meraih buket bunga itu dari tangan Bram.

__ADS_1


"Aciye ... Ciye ... Selamat ya ..." Goda Sheila sambil menyenggol Clara.


Sontak jawaban Clara membuat semua yang hadir bertepuk tangan riuh. Hingga membuat keduanya semakin tersipu malu.


Dicko dan Aruna yang menyaksikan itu pun turut berbahagia. Atas resminya hubungan Bram dan Clara.


Akhirnya, Bram pun bisa menemukan tambatan hatinya. Akhirnya ada seseorang yang mampu menggantikan posisi Aruna. Semoga saja kisah cintanya kali ini akan berjalan mulus. Semulus paras tampannya.


.


.


Setelah serangkaian prosesi acara pernikahan yang cukup menguras tenaga itu. Aruna dan Dicko pun akhirnya bisa mengistirahatkan raganya.


Aruna tengah duduk berselonjoran di atas tempat tidur sambil asyik bermain ponsel. Aruna dan Dicko memilih tinggal di apartemen untuk sementara waktu. Setelah mereka menemukan hunian yang cocok untuk mereka tempati nantinya.


"Kenapa belum tidur juga?" Tanya Dicko begitu mendapati Aruna belum juga berbaring. Dan malah asyik dengan ponselnya. Dicko pun naik ke tempat tidur dan duduk di samping Aruna.


Dicko baru saja mengantar Andre sampai ke depan pintu. Dari Ballroom tempat berlangsungnya resepsi pernikahan mereka, Andre yang mengantar mereka pulang ke apartemen itu.


"Belum ngantuk." Sahut Aruna singkat.


"Coba lihat." Dicko merampas ponsel dari tangan Aruna. Kemudian menonaktifkan ponsel itu.


"Ini sudah waktunya tidur. Bukannya malah bermain henfon."


Dengan wajah cemberut, Aruna pun menghempaskan tubuhnya kesal. Membuat Dicko jadi gemas melihat tingkahnya. Kemudian merubah posisi tidurnya dengan membelakangi Dicko yang kini berbaring di sampingnya.


"Kok malah ngambek seperti anak kecil sih?" Dicko tidak tahu kalau Aruna sengaja mengerjainya. Sementara Dicko keheranan, Aruna justru tersenyum - senyum sendiri.


"Jujur, aku tidak tau kalau kamu orangnya gampang merajuk." Dicko tidak bisa melihat Aruna seperti itu. Apalagi kalau sampai menyakitinya. Dicko tidak bisa.


"Aruna ..." Dicko mendekatkan wajahnya. Hendak mengintip Aruna apakah sang istri sudah tidur apa belum. Tetapi Aruna, malah pura - pura memejamkan matanya. Membuat Dicko harus berusaha keras membujuknya.


"Aruna ... Eum ... Istriku ..." Panggil Dicko lirih.


Mendengar panggilan baru Dicko untuknya, Aruna pun jadi tak bisa menahan diri. Sontak Aruna pun berbalik. Dengan cepat tangannya telah melingkar di leher kokoh Dicko. Sambil tersenyum manja.


"Kamu panggil aku tadi apa?" Goda Aruna usil.

__ADS_1


"Jadi kamu pura - pura tidur? Kamu skarang mulai usil ya?" Dicko gemes dengan tingkah Aruna.


"Ulangi lagi. Aku ingin mendengarnya." Goda Aruna lagi.


"Istriku. Sekarang kamu adalah milikku. Hal yang paling aku impikan selama ini."


"Trima kasih, sayang. Trima kasih atas semua cinta yang kamu berikan untukku. Kamu tau, aku adalah wanita yang paling beruntung di dunia ini. Karena bisa memilikimu ... Aku mencintaimu." Ucap Aruna penuh rasa haru.


"Aku juga mencintaimu. Sekarang, berikan hak ku sebagai suami mu."


"Lakukanlah semau mu. Aku adalah milikmu seutuhnya."


Kecupan hangat pun mendarat di kening Aruna. Perlahan - lahan mulai turun ke bibir. Dicko memagut lembut dan penuh perasaan bibir merah jambu sang istri yang selalu membuatnya tergila - gila. Tak ingin kesempatan terlewat begitu saja, Dicko pun semakin beringas menciumi sang istri.


Meski mereka sudah pernah melakukannya, tetapi kali ini terasa sangat berbeda. Begitu mendebarkan. Sebab status keduanya yang telah berganti. Menjadi Suami dan Istri. Isshh, hal yang paling di inginkan Dicko. Dalam sekejap mata keadaan keduanya pun polos. Pakaian yang mereka kenakan telah berserakan tak karuan di lantai kamar itu.


Seakan tahu keinginan suaminya, Aruna membuka mulutnya, memberi akses Dicko untuk masuk dan mulai bermain - main dengan lidahnya. Dicko pun membenamkan ciumannya semakin dalam. Menyerangnya tanpa ampun. Sementara bibirnya sibuk mencium, tangannya mulai bergerilya. Berkelana di sekujur tubuh Aruna. Ikh, Dicko mulai nakal. But it's okey. Dah muhrim kok. Lanjut Beb.


Bibirnya yang semula hanya bermain - main di bibir istrinya, perlahan mulai turun. Menyusuri leher jenjang Aruna. Mengecupnya, menghirup aroma wangi tubuhnya, hingga meninggalkan tanda merah di sana.


Semakin lama semakin turun ke bawah. Bermain - main diantara dua gundukan kenyal. Sementara tangannya masih bebas berkeliaran. Membuat tubuh Aruna semakin bergetar hebat. Aruna pun hanya bisa memejamkan matanya. Menikmati permainan lidah nakal Dicko.


Suara lenguhan lembut pun meluncur bebas dari mulut Aruna. Terdengar merdu, hingga membuat Dicko semakin bersemangat. Dalam sekali hentakan, Dicko sudah bisa memasuki sang istri. Lalu mulai memacu tubuhnya dengan gerakan lembut. Aruna pun berusaha mengimbangi permainan sang suami yang sudah begitu lihai.


Suara erangan, *******, terdengar saling bersahutan dalam ruangan dengan cahaya temaram itu. Semakin menambah kehangatan bagi dua insan yang tengah memadu kasih. Mengarungi bahtera cinta yang kian menggelora.


Aish ... Semoga cocok tanamnya membuahkan hasil ya?


.......


.......


.......


...Bersambung...


Gimana ... gimana 🙄 Masih kurang 🤭


Salam hangat

__ADS_1


**Otor Kawe


Saranghae ❤️❤️❤️**


__ADS_2