Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 63


__ADS_3

Seminggu telah berlalu.


Pagi hari yang cerah. Tapi tak secerah wajah Bram yang tampak muram. Entah kenapa. Bahkan langkahnya pun terlihat gontai saat berjalan menuju ke ruangannya.


"Pagi Pak?" Sapa sebuah suara nan lembut saat Bram memasuki ruangannya. Hingga membuat Bram terkaget. Darimana gerangan datangnya makhluk halus ini


Clara.


Dia tersenyum lebar begitu Bram menatapnya heran. Clara tidak peduli seperti apa raut wajah atasannya itu. Mau marah - marah, silahkan. Lagipula, Clara sudah memegang kartu AS atasannya itu. Kalau dia berulah, tinggal keluarkan kartu AS nya, beres deh.


"Gadis aneh. Sedang apa kamu di ruanganku?" Sembari berjalan ke mejanya. Lalu mendaratkan pantatnya di kursi kerjanya.


"Saya buatkan kopi untuk bapak pagi ini. Nih, kopinya. Silahkan di minum Pak, mumpung masih hangat." Clara kembali tersenyum lebar. Sembari menyorongkan secangkir kopi yang masih mengepul itu ke depan Bram.


Bram mengernyit memandangi kopi itu.


"Kamu taruh apa di kopi itu?"


"Gula. Memangnya apa lagi?"


"Benar? Tidak ada yang lain?"


"Maksud Bapak?" Clara pun mengernyit.


"Oh astaga. Jadi Bapak pikir, saya menaruh obat itu ke kopi Bapak?" Clara pun mulai usil.


"Obat? Obat apa?"


"Ish ... Bapak tega ya menuduh saya sembarangan. Buat apa saya menaruh obat penambah gairah di kopi Bapak. Model Bapak saja sudah cukup membosankan bagi saya." Clara memanyunkan bibir merahnya itu.


"Heh, sembarangan kamu. Maksudku itu racun. Bukan obat yang begituan. Enak saja. Model kamu saja sudah tidak menggairahkan bagiku. Mana ada pria yang akan tertarik dengan gadis aneh sepertimu."


Clara semakin memanyunkan bibirnya.


"Awas kamu, kalau sampai ada racun di kopi ini." Bram meraih cangkir kopi itu dan mulai menyesapnya. Tapi tiba - tiba saja.


Byurrrr


Kopi itu menyembur dari mulut Bram. Di sertai wajah penuh amarahnya. Clara pun berusaha menyembunyikan senyumnya dan menahan tawanya. Melihat tingkah Bram yang kepanasan itu.


"Kenapa kopinya panas? Sengaja kamu?" Hardik Bram dengan mata melotot.


"Siapa sengaja. Emang kopinya masih panas. Lagian, Bapak juga sih ... Tidak sabaran. "


"Dasar kamu. Skarang kamu tanggung jawab. Lihat nih, kemejaku jadi kotor."


"Yang itu tinggal di bersihkan saja. Udah, beres." Clara pun mengambil tissue di meja Bram. Lalu menghampiri Bram dan mulai membungkuk untuk membersihkan kemejanya.


"Sudah. Tidak perlu." Bram mengibas kasar tangan Clara yang tengah membersihkan kemejanya itu. Hingga membuat Clara hampir saja kehilangan keseimbangannya.


Beruntung dia terjatuh dalam dekapan Bram. Hingga seketika tatapan mereka pun bertemu. Paras manis Clara membuat Bram tertegun untuk beberapa saat. Dan anehnya, jantungnya malah berdegup tak karuan saat itu juga.


Dug Dug ... Dug Dug ... Dug Dug

__ADS_1


Aneh kan? Bram siapa, Clara siapa. Aneh rasanya kalau gadis cerewet yang selalu membuat pusing Bram itu, justru membuat jantungnya berdegup kencang saat menatap matanya.


Clara cukup manis. Hanya Bram saja yang tidak menyadarinya sejak awal. Sepasang bola mata indah Clara seakan menyihir Bram detik itu juga. Tanpa sadar Bram menatap lekat kedua bola mata itu. Untuk beberapa saat lamanya.


"Bapak kasar sekali sih?" Desis Clara sembari menarik diri dari dekapan Bram. Lalu kembali berdiri dengan benar.


"Maaf." Ucap Bram singkat namun sukses membuat Clara melongo.


"Apa? Maaf Pak, saya kurang mendengarnya. Soalnya belakangan ini pendengaran saya agak sedikit terganggu." Clara berbohong demi untuk mendengarkan kembali kata maaf dari mulut atasan stress itu.


"Keluar kamu. Selesaikan pekerjaan kamu."


Clara pun kembali manyun. Kemudian bergegas keluar dari ruangan Bram.


"Dasar gadis aneh." Desis Bram. Yang tanpa sadar senyuman tipis terbit di wajahnya.


.


.


Sementara itu, minimarketnya Tante Novi siang ini ramai dikunjungi pembeli. Di meja kasir, tampak Shanti sibuk melayani pembeli yang hendak membayar belanjaannya.


Sejak berhenti dari TRF, Shanti dan Teddy memutuskan bantu - bantu di minimarket itu. Lumayan, untuk mengisi waktu luang. Sembari mencari - cari pekerjaan baru di tempat lain.


Antrian sudah lumayan berkurang. Hanya tinggal seorang pembeli saja.


"Trima kasih. Jangan lupa kem__" ucapan Shanti terhenti saat kedua matanya menangkap sesosok familiar tengah berdiri di depan pintu masuk mini market itu.


"Ruuuuuuun ..." Pekik Shanti kegirangan sembari berlari ke arah Aruna lalu dengan cepat menghambur ke dalam pelukannya.


"Aku rindu kalian semua. Makanya aku datang berkunjung."


"Taaaan ... Tante Novi, Kak Teddy, Om Heru, Alika ... Lihat nih, siapa yang datang." Shanti berteriak. Hingga keempat orang yang di panggilnya itu pun bergegas datang menghampiri. Dan begitu tercengang saat melihat Aruna.


"Kakak?" Seru Alika sembari menghambur ke pelukan kakaknya.


"Aruna, ya ampun. Tante kangen banget sama kamu." Tante Novi pun memeluk Aruna setelah Alika melepaskan pelukannya.


"Apa kabarmu Run? Kenapa tidak memberi kabar kalau kamu akan datang. Kan Om bisa menjemput kamu di Bandara." Ucap Om Heru.


"Iya, Run. Kasih kabar kek. Biar kita - kita bisa menyiapkan sesuatu buat kamu." Teddy ikut menimpali.


"Makasih Kak. Kabarku baik - baik saja. Aku tidak akan lama kok. Mungkin hanya beberapa hari saja."


"Oh ya, masuk dulu yuk. Kita ngobrol di dalam aja. Ayo Run." Ajak Tante Novi. Bersama - sama mereka masuk kembali ke minimarket itu.


Kedatangan Aruna tiba - tiba membuat mereka terkejut. Sekaligus senang. Sekian lama mereka tidak bertemu. Hanya bisa mengobrol lewat video call saja.


.


.


Di sisi lain, di ruangannya, Dicko tampak di sibukkan dengan beberapa laporan mingguan saat itu. Saat tiba - tiba terdengar bunyi denting ponselnya yang tergeletak di mejanya.

__ADS_1


Sebuah pesan singkat. Beserta foto sebuah taman.


I miss you.


Seperti itu isi pesan singkat dari Aruna siang itu. Dicko pun mengerutkan dahinya. Berusaha memahami isi pesan itu.


Sontak, dia bangkit dari duduknya dan bergegas keluar dari ruangannya begitu dia mengerti maksud dari isi pesan singkat itu. Dengan langkah cepat bahkan setengah berlari Dicko menuju ke tempat parkir. Buru - buru Dicko naik ke mobilnya kemudian memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibukota yang siang itu mulai di padati oleh berbagai jenis kendaraan.


.


Di taman yang tidak jauh dari rumahnya Tante Novi, Aruna sedang duduk seorang diri. Di seberang, dilihatnya Dicko baru saja tiba. Aruna pun berdiri. Menunggu Dicko datang menghampirinya.


Begitu turun dari mobil. Matanya langsung menangkap sosok Aruna yang tengah berdiri menunggunya dengan senyum merekah yang menghiasi wajahnya.


Dicko seakan kesulitan bernapas. Dadanya terasa begitu sesak karena rindu yang menyiksa. Bahkan matanya kini mulai berkaca - kaca.


Dicko pun semakin mempercepat langkahnya. Dan langsung memeluk Aruna erat saat sudah berada di hadapannya. Air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya itu pun jatuh tertumpah ruah.


"Trima kasih. Trima kasih karna kamu datang untukku." Ungkapan bahagia Dicko atas kedatangan Aruna. Sembari mempererat pelukannya.


"Aku rindu kamu. Sangat rindu." Sembari mengangkat kedua tangannya memeluk Dicko erat.


Kedatangan Aruna sungguh suatu kejutan bagi Dicko. Kejutan yang tak disangka - sangka. Saling mengobrol lewat video call nyatanya tidak dapat mengobati rindunya yang kian menyesakkan dada itu. Sehari saja tak bertemu, terasa bagai berabad - abad lamanya bagi keduanya.


Kini mereka tengah berada di apartemen Dicko. Yang telah lama tidak di tinggali. Sejak Aruna berpisah dengan Bram, Dicko pun memutuskan kembali ke rumahnya. Atas permintaan ayahnya sendiri. Tetapi sesekali dia datang ke apartemen itu di saat merasa bosan.


Hanya di tempat ini mereka bisa memadu kasih. Saling mengobati rindu. Saling meluapkan hasrat cinta yang begitu menggelora.


Di balik selimut tebal itu, mereka saling berpelukan. Dicko tengah bersandar di sandaran tempat tidur, sementara Aruna menyandarkan kepalanya di dada bidang Dicko yang tampak polos. Sambil kedua tangannya merangkul erat pinggang Dicko.


"Hari ini aku akan membawamu menemui Papa. Meskipun dia tidak akan memberikan kita restu. Kita tetap harus menemui Papa." Ucap Dicko sembari mengusap lembut lengan Aruna dengan gerakan naik turun.


"Aku takut."


"Tidak usah takut. Kita akan menghadapi Papa bersama - sama. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."


"Kata orang, hubungan yang tidak direstui orang tua, itu tidak akan pernah bisa berbahagia. Hubungan itu tidak akan bertahan untuk waktu yang lama. Bahkan akan sering terkena sial."


"Dan kamu percaya? Hem?"


Aruna pun menadahkan pandangannya. Menatap Dicko yang juga menatapnya. Sejujurnya, Aruna merasa ragu. Tapi omongan orang itu biasanya ada benarnya. Hubungan tanpa restu orang tua itu sia - sia saja. Seperti kita menggali kuburan sendiri. Tapi semoga saja, itu hanya sekedar omongan belaka. Cinta yang tulus diantara mereka saja itu sudah cukup untuk mereka berbahagia.


Aruna menggeleng pelan. " Tidak. Aku tidak percaya."


Dicko pun tersenyum. Lalu dengan cepat kembali mendaratkan ciumannya. Memuaskan hasrat yang ada. Keduanya pun kembali saling memadu kasih.


Semoga saja jalan keduanya untuk bersatu semakin terbuka lebar. Semoga Papa Danu luluh melihat cinta mereka yang begitu tulus. Meski sejujurnya, kecemasan itu masih sering datang mengusik keyakinan Aruna.


Namun Dicko telah bertekad. Walau apapun yang terjadi, dia tidak akan pernah meninggalkan Aruna. Dia akan tetap pada pendiriannya. Meski seluruh dunia menentangnya, dia tidak akan pernah goyah. Cintanya hanya untuk Aruna. Hingga maut memisahkan.


.......


.......

__ADS_1


.......


...-Bersambung-...


__ADS_2