
Sebulan setelah pernikahan, akhirnya Dicko dan Aruna telah menemukan hunian yang pas dan cocok untuk mereka tempati. Hunian mewah yang letaknya tidak jauh - jauh dari kediaman Papa Danu.
Dan kini, dengan di bantu kerabat dekat, ada Bram dan Clara, Shanti, Tante Novi dan Om Heru, Teddy dan Alika, serta Papa Danu sendiri. Mereka tengah berbenah di hunian mewah itu. Sebuah hunian bergaya Eropa sesuai dengan selera Dicko.
"Sayang, kamu jangan terlalu capek. Sini, biar aku saja." Ucap Dicko sembari meraih pakaian yang hendak di susun rapi oleh Aruna ke dalam lemari pakaian di kamar utama. Sementara yang lain tengah bersih - bersih di ruang tamu, di halaman rumah, mereka sudah membagi tugasnya masing - masing.
"Hanya melakukan pekerjaan seperti ini tidak akan membuatku capek kok."
"Iya, tapi tetap saja. Aku tidak mau kamu kecapean." Sembari menyusun setumpuk pakaian itu ke dalam lemari.
"Kamu terlalu berlebihan, sayang." Aruna mulai berjalan ke arah tumpukan kardus yang berisi barang - barang yang harus mereka rapikan.
Namun, baru beberapa langkah saja. Sepasang tangan kekar telah melingkar erat di pinggangnya dari belakang.
"Paling tidak, sisakan sedikit tenagamu itu untuk malam nanti." Bisik Dicko dengan bibirnya menempel di telinga Aruna. Hingga membuat bulu roma Aruna meremang. Aruna pun tak bisa menahan senyumnya. Sebab tahu apa maksud ucapan itu.
"Sayang, kamu mau kita bulan madu kemana? Hem? Kita terlalu sibuk mencari rumah, sampai kita lupa dengan bulan madu kita sendiri." Tanya Dicko sembari mulai membenamkan wajahnya di ceruk leher Aruna. Sambil bibirnya mulai memberikan kecupan demi kecupan. Membuat Aruna kegelian. Ish Ish Ish ... Mulai nakal ya? Mentang - mentang sudah halal. Aciye, panggilannya sudah berubah ya. Udah sayang - sayangan.
Aruna pun memutar tubuhnya menghadap Dicko. Sembari mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Dicko. Sambil tersenyum manis. Membuat Dicko semakin tergila - gila dan tak bisa menahan hasratnya lagi.
"Aku tidak ingin kemana - mana. Dengan berada disisimu selalu. Itu sudah cukup membuatku bahagia."
Cup
Sebuah kecupan singkat dengan cepat mendarat di bibir Dicko. Aruna pun tersipu malu setelah mendaratkan kecupan itu. Kemudian melepaskan kedua tangannya yang mengalung di leher kokoh itu. Dan hendak beranjak.
Namun dengan cepat, sepasang tangan kekar Dicko tiba - tiba mengangkat tubuhnya dan membawanya ke tempat tidur. Membuat Aruna terperanjat.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? Kita sedang beres - beres loh." Meski panik tapi Aruna sedikit gugup.
"Aku tidak ingin menunggu sampai malam. Terlalu lama. Salahmu sendiri sering menggodaku."
"Tap__" Hem ... Terpotong lagi kalimatnya. Tahu kan apa yang terjadi?
Dua bibir telah saling menyatu. Saling memagut lembut dan penuh perasaan. Tubuh Dicko sudah berada diatas tubuh Aruna. Sembari bibirnya sibuk mengobrak abrik bibir Aruna, tangannya mulai mengembara. Mulai masuk melalui celah t-shirt yang dikenakan Aruna siang itu. Dan berhenti di gundukan kenyal yang selalu menggodanya.
Tangan Dicko sudah bersiap hendak menanggalkan t-shirt yang dikenakan Aruna. Saat tiba - tiba ...
Cklek
Bunyi decitan pintu terbuka membuat aksinya terhenti saat itu juga.
"Ups! Maaf Kak." Bram sudah berdiri di ambang pintu sambil menutup kedua matanya.
Dicko pun mendengus kesal. Kemudian turun dari tempat tidur. Dan di susul oleh Aruna sembari merapikan pakaiannya.
"Mengganggu saja." Keluh Dicko sambil menatap kesal Bram.
Bram pun terkekeh. "Salah sendiri, kenapa pintunya tidak dikunci."
"Ada apa?"
"Aku sudah pesan makanan. Kita makan dulu. Semua sudah berkumpul di halaman belakang. Ayo Kak, nanti saja dilanjutkan. Sekarang waktunya makan. Ayo." Kemudian berbalik dan bergegas pergi.
Di belakangnya menyusul Dicko dan Aruna.
.
__ADS_1
.
Canda tawa terdengar riuh di meja makan itu. Celotehan - celotehan nyeleneh terdengar mewarnai obrolan mereka siang itu. Sambil menikmati hidangan yang sudah di pesan Bram dari sebuah resto via online.
"Oh ya, Dicko ... Apa kalian sudah menentukan kemana kalian akan berbulan madu?" Tanya Papa Danu.
"Aruna tidak ingin kemana - mana. Aku ikuti saja kemauannya. Terserah dia." Sahut Dicko sambil memandangi Aruna yang duduk disampingnya.
"Makasih sayang." Sembari mengulas senyum manisnya.
"Lalu kamu Bram?" Papa Danu balik bertanya pada Bram yang tengah asik menikmati makanannya.
"Hem? Maksud Papa apa?"
"Kapan kamu akan melamar Clara."
"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..." Bram tersedak makanan. Dengan sigap, Clara yang duduk di sampingnya langsung menyambar segelas air minum. Dan memberikannya pada Bram.
"Ini, diminum dulu."
"Makasih. Uhuk ... Uhuk ..." Kemudian meneguk air minum itu hingga habis.
"Masa depanmu tergantung keputusanmu sendiri, Bram. Lebih cepat kamu memutuskan, itu lebih baik." Terang Papa Danu.
"Benar, Boss. Lebih cepat lebih baik. Sebelum keburu diambil orang. Nanti Boss sendiri yang kesusahan. Iya kan?" Celoteh Teddy.
"Benar, Bram. Lagian, Clara sudah siap lahir dan Batin, kok. Iya kan Cla?" Canda Sheila ikut menimpali. Membuat Clara tersipu malu.
"Benar itu, Bram." Randa pun ikut menimpali.
"Kalau kita sih, tinggal tunggu undangannya saja Nak Bram. Iya kan?" Celoteh Tante Novi.
"Baiklah. Kalau begitu, sekarang saja aku melamarnya."
Semua terkejut mendengar keputusan Bram.
"Clara." Bram bangkit dari duduknya. Lalu disusul Clara. Kini, di meja makan itu, Bram akan memberanikan diri di depan semua orang.
"Maaf, jika ini terlalu cepat bagimu. Clara, aku tau, aku hanyalah seorang pria yang jauh dari kata sempurna. Tapi dengan cintaku, aku akan menyempurnakan hidupmu. Clara, maukah kamu menikah denganku?"
Clara tersipu malu. Wajahnya pun mulai bersemu merah.
"Terima dong Cla. Kalian kan sudah sebulan pacaran." Desak Sheila, sepupu Clara yang paling usil. Biar dikata model terkenal, tapi Sheila orangnya suka iseng.
"Terima ... Terima ..." Seruan serempak itu pun kembali terdengar.
Clara masih terlihat malu - malu. Sementara Bram masih setia menunggu jawaban Clara. Hingga akhirnya ...
"Iya, aku mau."
"YES!" Tanpa sadar Bram bersorak. Hingga membuat semua yang ada tergelak. Bercampur dengan perasaan bahagia.
Akhirnya Bram menentukan masa depannya sendiri. Menemukan seseorang yang akan mencintainya di sisa hidupnya. Selalu setia mendampinginya. Wah ... Selamat ya Bram, Clara. Semoga Bram junior bisa cepat dapat service. Maklum, dah lama menduda. Jiaaah ... Malu - maluin.
Perasaan bahagia itu tak mampu terlukiskan oleh kata - kata. Sejatinya setiap perjalanan hidup, akan selalu ada pasang surutnya. Tidak selamanya hidup selalu berkubang duka. Akan ada saatnya kita berbahagia. Selalu tanamkan keyakinan. Semua akan indah pada waktunya.
Seperti saat ini. Mereka akhirnya menemukan kebahagiaannya masing - masing.
__ADS_1
.
.
Seminggu kemudian.
Ada satu tempat yang sangat ingin di kunjungi Aruna. Setelah sekian lama, dia tidak pernah lagi mengunjungi tempat itu. Yaitu makam ayah dan ibundanya tercinta. Di depan makam kedua orang tuanya yang bersebelahan, Aruna bersimpuh. Meminta restu, meski orangtuanya tidak mungkin mendengarkan permintaannya.
Dengan penuh kasih sayang Dicko mengusap lembut punggung Aruna. Yang tengah menangis di depan makam kedua orang tuanya.
Aruna hanya ingin menunjukkan, meski mereka tidak bisa menyaksikannya. Bahwa kini dia sudah berbahagia. Dengan lelaki pilihan hatinya. Lelaki yang akan selalu menjaganya. Mencintainya di sisa akhir hidupnya.
Aruna akan hidup bahagia, seperti yang diinginkan kedua orang tuanya.
Setelah dari makam, mereka langsung pulang ke rumah.
Dicko tengah bersantai di sofa di ruang tengah sambil menonton TV. Di tengah keasikannya menonton sebuah acara TV, tiba - tiba saja Aruna datang dan langsung memeluknya erat. Di rumah itu, hanya ada mereka berdua. Setiap hari mereka habiskan berdua di rumah itu.
"Sayang, aku punya kejutan." Ucap Aruna setelah melepaskan pelukannya.
"Oh ya? Kejutan apa?"
"Tutup mata dulu."
"Kenapa harus tutup mata segala?" Protes Dicko.
"Jangan protes, tutup mata, cepetan."
"Ya sudah." Dicko pun mulai menutup matanya.
Hening.
Satu detik ... Dua detik ... Tiga detik ...
"Skarang, buka matamu."
Dicko membuka matanya. Kini, di depan matanya, Aruna menunjukkan sebuah alat testpack yang memperlihatkan dua garis merah. Sambil tersenyum sumringah, Aruna menunjukkannya pada Dicko.
"Tadaaaa ... Ini dia kejutannya."
"Apa maksudnya ini? Sayang ... Apa ini artinya kamu ..." Dicko sebenarnya sudah bisa menebak. Alat seperti itu, semua orang dewasa sudah pasti mengetahuinya.
"Iya, aku hamil sayang."
Dicko tercengang. Saking bahagianya, saking terharunya, sampai tak bisa berkata - kata lagi. Hanya kecupan demi kecupan yang mendarat cepat di setiap bagian wajah Aruna, sebagai tanda betapa bahagianya Dicko hari ini. Seakan dialah pria paling beruntung di dunia ini.
"Makasih ya sayang. Kamu sudah membuat hidupku sempurna. Kalian sudah melengkapi hidupku." Sembari merengkuh Aruna ke dalam pelukannya. Dicko pun tidak bisa menutupi perasaan bahagianya. Tampak bulir - bulir air mata mulai berjatuhan dari sudut matanya.
.......
.......
.......
...Bersambung...
Selamat ya ...
__ADS_1
Bakal ada calon Papah Baru nih 🤗