
Aruna mengerutkan dahinya sambil tersenyum menatap anak perempuan itu.
"Tuh dia Om ganteng ..." anak perempuan itu kemudian menunjuk seorang pria yang berdiri tidak jauh dari tempat Aruna duduk. Pria itu tersenyum manis memandanginya.
Dicko.
Perlahan, Dicko pun mulai melangkahkan kakinya. Datang menghampiri Aruna. Aruna bangun dari duduknya, bersamaan dengan perginya anak perempuan itu.
"Trima kasih untuk bunganya." Ucap Aruna sembari mengulum senyum begitu Dicko berdiri di hadapannya.
"Aku pikir, aku tidak akan bisa menemukanmu. Aku lumayan capek loh, mutar - mutar di daerah sini hanya untuk mencarimu. Rupanya kamu ada disini."
"Aku hanya mencari udara segar. Oh ya, kamu kok bisa ada disini? Memangnya kamu tidak sibuk di kantor?"
"Lumayan sibuk sih ..." sembari mengambil duduk di bangku itu. Kemudian menarik pergelangan tangan Aruna. Mengajaknya duduk kembali.
"Trus kenapa kamu malah kesini?" sambil mendudukkan dirinya disamping Dicko.
"Menurut kamu kenapa?" kemudian menatap mata Aruna lekat.
Aruna terdiam. Sambil menatap Dicko yang masih menatapnya lekat dan semakin dalam.
"Aku merindukanmu." Ucap Dicko lirih.
Rasanya Aruna telah berhenti bernapas saat ini. Sejak Dicko mengantarnya pulang malam itu, terhitung sudah tiga hari mereka tidak saling bertemu. Sebab dalam waktu tiga hari itu Aruna di sibukkan dengan urusannya di Pengadilan Agama.
Bukan hanya Dicko saja, Aruna pun merindukannya. Akan tetapi rasanya tidak pantas, jika dia mengatakan itu di saat - saat seperti ini. Di tengah - tengah kemelut rumah tangganya dengan Bram. Sangat tidak pantas Aruna merindukan pria lain, sementara rumah tangganya dengan Bram sedang berada di ambang kehancuran.
"Sebaiknya kamu kembali ke kantor. Pekerjaanmu lebih penting." Usul Aruna.
Dicko lalu mengambil ponselnya dari saku celana. Kemudian mulai berselancar di dunia maya. Beberapa detik kemudian dia memperlihatkan pada Aruna video tentang pengakuan Gerry.
"Kamu sudah melihat ini?" sembari menunjukkan video itu.
Memang Aruna belum melihatnya. Karena beberapa hari ini Aruna bahkan enggan menyentuh ponselnya. Dan video itu tampaknya baru saja viral.
Dengan sangat jelas Aruna bisa melihat dan mendengar isi video itu. Yang mengatakan bahwa Gerry adalah ayah dari bayi yang dikandung Mona, dan bukan Bram.
"Sampai detik ini aku masih percaya pada adikku. Meskipun hubungan kami tidak sebaik dulu, tapi dia masih tetap adikku." Kemudian Dicko menyimpan kembali ponselnya.
"Kamu juga percaya kan? Bram tidak mungkin seperti itu." Kembali menatap Aruna lekat.
"Sebenarnya apa tujuan kamu datang menemuiku?"
"Aku tidak akan memintamu mempertimbangkan kembali keputusanmu. Setidaknya, kamu harus tau Bram tidak salah."
Bram memang tidak bersalah. Tapi keputusan Aruna sudah final. Tidak bisa lagi di ganggu gugat. Rasanya tidak adil jika Aruna terus menyalahkan Bram jika hanya karena video mesumnya dengan Mona. Sebab dia pun telah melakukan hal yang sama dengan Dicko. Yaitu hubungan tanpa ikatan pernikahan.
"Sepertinya kalian harus bicara. Aku datang kemari untuk itu. Bram tidak berani untuk menemui kamu." Ucap Dicko sembari mengarahkan pandangannya ke mobil yang terparkir di seberang jalan. Dari mobil itu, Bram turun dan mulai berjalan ke arah Aruna dan Dicko sedang duduk.
Lagi - lagi hal seperti ini harus terjadi. Dicko harus menjadi penengah diantara adik dan wanita yang dicintainya.
"Baiklah ..." Dicko bangkit dari duduknya. Lalu mengajak Bram menggantikannya duduk disamping Aruna.
"Kalian bicaralah. Aku harus kembali ke kantor." Kemudian Dicko pun pergi setelah menepuk lembut pundak Bram. Seakan tengah menyemangatinya.
Di dalam mobilnya, Dicko sempat memperhatikan mereka dari balik kaca jendela mobil. Ada perasaan sedih dan ada perasaan bahagia saat itu.
Sedih karena lagi - lagi takdir tidak akan berpihak padanya. Tidak akan mungkin harapannya untuk bisa memiliki wanita yang dicintainya itu bisa terwujud.
__ADS_1
Dan bahagia karena sekali lagi dia bisa membantu adiknya untuk bisa kembali bersama wanita yang dicintainya. Meski hal itu masih menjadi tanda tanya besar. Sebab semua keputusannya tergantung pada Aruna.
Akhirnya, Dicko pun mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu. Seiring dengan setitik air mata yang jatuh tanpa sadar dari pelupuk matanya.
.
.
"Maafkan aku." Ucap Bram lirih memecah hening diantara mereka. Keduanya tertunduk.
"Aku juga minta maaf. Aku sudah tau yang sebenarnya. Maaf, aku sudah salah menilaimu." Ucap Aruna masih dengan wajah tertunduk.
"Aku sudah terima suratnya."
"Maaf."
"Tidak bisakah kamu mempertimbangkannya lagi?"
"Sekali lagi maafkan aku."
Kini Bram merubah posisi duduknya menyamping. Agar bisa berhadapan dengan Aruna. Perlahan Bram meraih jemari Aruna ke dalam genggamannya.
Aruna pun mengangkat wajahnya dan menatap Bram kemudian.
"Aku mencintaimu. Mari kita mulai lagi semuanya dari awal. Mari sama - sama kita lupakan apa yang telah terjadi. Aku tidak ingin berpisah darimu." Pinta Bram sungguh - sungguh.
"Bram ... keputusanku sudah bulat. Kita memang harus melupakan apa yang telah terjadi. Agar kita bisa memulai lembaran baru, masing - masing. Mulailah hidup yang baru. Aku yakin, kamu pasti akan menemukan wanita yang lebih baik dariku. Hm?"
"Kamu masih membenciku?" Bram tidak bisa menahan air matanya lagi.
"Tidak. Aku tidak membencimu. Aku menyayangimu. Tapi maaf, aku tidak bisa berada di sisimu lagi. Carilah orang yang lebih pantas mendampingimu."
"Kamu pasti bisa melupakan aku. Dan aku yakin, kamu juga pasti bisa__" kalimat Aruna terpotong karena tiba - tiba saja Bram merengkuhnya. Memeluknya begitu erat seakan tak ingin melepasnya lagi. Hingga bunga mawar dalam genggamannya pun terlepas begitu saja.
Perlahan Aruna pun mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan Bram. Dan mengusap - usap lembut punggung Bram saat isak tangis Bram mulai terdengar.
"Aku sangat mencintaimu. Aku mohon jangan tinggalkan aku." Pinta Bram disela isak tangis pilunya.
"Maafkan aku ... Maafkan aku ..." hanya kalimat itu yang terucap dari mulut Aruna berulang - ulang kali. Tekadnya sudah bulat. Ingin memulai hidup yang baru. Dan sebisa mungkin melupakan semuanya dan pergi jauh dari kenangan itu.
.
.
.
Setelah melalui proses yang memakan waktu hingga tiga bulan lamanya. Akhirnya ketukan palu terakhir dari hakim pun terdengar. Aruna dan Bram kini telah resmi bercerai.
Sungguh sangat di sayangkan. Banyak hati yang terluka. Banyak hati yang tersakiti akan perpisahan mereka. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin ini yang terbaik. Meski menyakitkan.
Dan untuk yang terakhir kalinya, mereka saling berpelukan erat. Melepas seluruh rasa yang ada. Entah itu amarah, entah itu benci, dan entah itu cinta. Cinta yang sudah tidak ada lagi di antara mereka.
"Maafkan aku ..." sekali lagi kata itu terucap dari mulut Aruna saat melepaskan pelukannya.
Tidak bisa di pungkiri. Bram tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Cintanya dan Aruna harus berakhir sampai disini. Kenyataan yang teramat pahit. Kenyataan yang sangat ditakutkan Bram selama ini. Yaitu kehilangan cintanya. Dan akhirnya hal itu terjadi juga. Mungkin jodoh mereka hanya sampai disini.
"Aku masih mencintaimu." Ucap Bram lirih.
Aruna pun tersenyum di iringi air mata yang mulai bercucuran.
__ADS_1
"Meski aku tidak ada lagi di sisimu. Berjanjilah, kamu akan menjalani hidupmu dengan baik. Temukan wanita yang pantas mendampingimu. Wanita yang lebih baik dariku. Karna kamu pantas mendapatkannya. Kamu pantas hidup bahagia."
"Kebahagiaanku hanya kamu." Entah Bram harus bilang apalagi. Jika boleh jujur, dia belum siap kehilangan Aruna.
"Bram, sudahlah. Mulailah hidup yang baru." Aruna menghela napas sejenak. Kemudian kembali berkata,
"Selamat tinggal, Bram." Kemudian Aruna pun berlalu meninggalkan Bram. Bahkan melewati Dicko yang berdiri tidak jauh dari Bram begitu saja.
Di luar gedung itu, keluarga Aruna sudah menunggu. Bersama taksi yang sudah mereka pesan. Ada Om dan Tantenya, serta Alika, adiknya. Dan Aruna pun langsung naik ke taksi itu. Aruna sempat melayangkan pandangannya sekilas ke gedung itu sebelum akhirnya taksi itu mulai melaju membawanya meninggalkan tempat berakhirnya hubungannya dengan Bram.
Sementara di dalam gedung itu, Bram dan Dicko saling berpelukan. Saling menguatkan hati masing - masing. Hubungan Bram dan Aruna sudah berakhir. Tapi bukan berarti Aruna akan pergi ke pelukan Dicko. Karena saat ini, Aruna sudah menentukan jalannya sendiri.
.
.
"Hati - hati ya Run. Jangan lupa kabari Om dan Tantemu ini. Walau bagaimanapun, kami harus tahu keadaan kamu disana." Ucap Tante Novi saat melepaskan pelukannya dari Aruna.
Dari pengadilan, mereka langsung menuju ke Bandara. Karena tiket penerbangan Aruna ke kota MA terjadwal hari ini. Aruna sudah mantap ingin meninggalkan kota JA. Kota yang penuh kenangan baginya.
"Iya, Tante. Pasti aku akan mengabari kalian."
"Om sudah mengabari Oma Windi. Dia akan menjemput kamu di Bandara." Kata Om Heru.
"Hati - hati ya Kak. Jangan lupa terus kabari aku ya Kak." Pinta Alika sembari menghambur ke pelukan kakaknya
"Pasti. Kakak akan mengabari kalian."
Alika pun melepas pelukannya.
"Oh ya, titip salam ya untuk Kak Teddy dan Shanti."
"Iya, akan Tante sampaikan."
"Dan satu lagi. Aku minta tolong sama kalian semua. Tolong jangan katakan pada siapapun kemana aku pergi."
"Iya. Kami tidak akan mengatakannya pada siapapun."
Aruna sudah yakin ingin memulai hidup yang baru di kota yang baru pula. Sebuah kota kecil yang sedang berkembang pesat. Semoga saja di kota itu Aruna akan kembali menemukan semangat hidupnya.
Keputusannya berpisah dari Bram meninggalkan luka dan kekecewaan yang teramat dalam bagi banyak orang.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, semua pasti akan baik - baik saja. Keadaan akan kembali seperti semula.
Keep fighting Aruna. Temukan hidupmu yang baru dengan semangat yang baru. Semoga kebahagiaan akan kembali menyapa hidupmu.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
Saranghae readers ❤️❤️
Salam hangat 🤗
🌺Otor Kawe🌺
__ADS_1