Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 58


__ADS_3

"Bram ..." pekik Dicko kaget.


Dicko menghampiri Bram yang sedang berdiri sambil memegang pisau yang menempel di pergelangan tangannya. Sementara Aruna sedang menangis.


"Bram, apa yang kamu lakukan? Tolong jangan jangan berpikiran bodoh." Pinta Dicko sembari perlahan - lahan menghampiri Bram.


"Please ... Kita bicara baik - baik. Kita pikirkan semuanya dengan kepala dingin." Pinta Dicko lagi.


Namun Bram, sama sekali tidak menghiraukan permintaan Dicko. Dia justru semakin nekat. Bram sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.


"Aku sudah kehilangan hidupku. Jadi untuk apalagi aku ada di dunia ini. Percuma aku hidup, jika aku sudah kehilangan segalanya. Jika kalian ingin aku tetap hidup, maka kembalikan apa yang seharusnya jadi milikku. Kembalikan semua itu padaku."


Di luar ruangan itu, Bimo dan Clara yang sempat mendengar teriakan Aruna pun ikut masuk ke ruangan itu. Dan terkejut saat melihat Bram mulai berbuat nekat.


"Pak Bram, apa yang anda lakukan. Sadarlah. Ini sangat berbahaya." Pinta Bimo.


"Kalian diam. Kalian tidak tau apa - apa."


"Pak ... Semua bisa dibicarakan baik - baik. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Tolong dong Pak. Jangan nekat begini. Jadi ngeri deh." Clara ikut - ikutan menasihati Bram dengan gaya nyelenehnya.


"Diam kamu." Hardik Bram yang semakin kehilangan akal.


"Cukup! Cukup!" Pekik Aruna tiba - tiba. Kemudian menghampiri Bram. Dan menatapnya tajam.


"Lakukan saja. Ayo lakukan. Kamu ingin mati kan? Ayo, tunggu apa lagi? Cepat lakukan." Aruna semakin mendesak Bram. Apalagi yang bisa mereka lakukan untuk menghentikan kebodohan Bram saat ini.


"Aruna ..." Bram menatap Aruna sayu. Padahal Bram hanya sekedar mengancamnya saja, tapi reaksi Aruna jauh dari apa yang diharapkannya. Dia berharap, Aruna menaruh iba padanya. Lalu timbul rasa bersalah dihatinya, hingga akhirnya Aruna pun akan kembali padanya.


Tiba - tiba saja, dengan cepat Aruna merampas pisau itu dari tangan Bram saat dia lengah. Kini giliran Aruna yang menempelkan pisau itu di pergelangan tangannya. Hingga membuat semua yang ada di ruangan itu panik seketika. Terlebih Dicko.


"Aruna, apa yang kamu lakukan?" Dicko menatap Aruna tajam. Cemas dan panik tergambar jelas dari ekspresi wajahnya.


"Kalau seperti ini jadinya, lebih baik aku saja yang mati." Ucap Aruna tanpa rasa takut sedikitpun.


"Aruna, lepaskan pisau itu. Aku mohon." Pinta Dicko.


"Tidak."


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah gila?" Akhirnya, Bram pun cemas. Tindakannya mengancam Aruna ternyata salah besar.


"Ini kan yang kamu inginkan? Kamu mau aku menyesali keputusanku. Apa kamu tau, dengan melihat kamu seperti ini saja, aku sudah sangat merasa bersalah. Lalu apalagi yang kamu inginkan dariku?" Aruna menatap tajam Bram. Tangannya sudah bersiap menggores pergelangan tangannya sendiri.


"Mungkin lebih baik, aku saja yang mati. Dengan begitu, kamu akan lebih mudah menerima kenyataan ini. Kenyataan bahwa hubungan kita sudah berakhir. Dengan begitu, aku tidak akan dihantui oleh rasa bersalah." Tambah Aruna.


Bram pun tertegun. Bukan. Bukan ini yang Bram inginkan. Bram hanya ingin Aruna kembali padanya. Hanya itu.


"Aruna, tolong jangan lakukan ini. Aku mohon ..." Pinta Dicko memelas.


"Maafkan aku. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku." Aruna mulai menitikkan air mata.


"Bukan seperti ini caranya Aruna. Kita masih bisa bicarakan ini baik - baik." Dicko masih berusaha mencegah Aruna dari pikiran konyolnya.


Sementara Bram, tatapannya terfokus pada Aruna. Bagaimana jika Aruna nekat. Jika itu terjadi, apa yang harus dilakukannya. Sejujurnya, bukan ini yang diinginkannya.


Aruna masih menatap tajam Bram. Berharap Bram akan berubah pikiran. Berharap Bram ikhlas menerima kenyataan pahit diantara mereka. Berharap Bram bisa melupakan masa lalu. Tetapi, apa yang diharapkannya sia - sia saja. Akhirnya Aruna pun nekat. Sudah bersiap menggores pergelangan tangannya sendiri.


"Maafkan aku ..." Tangannya mulai bergerak. Sangat cepat tanpa terduga. Dan ...


Srettt ...

__ADS_1


"Aruna ..." Pekik Bram kencang. Dengan gerakan cepat tangannya merampas pisau di tangan Aruna yang sudah berhasil membuat sayatan kecil di pergelangan tangannya. Hingga mengeluarkan darah. Bram melempar pisau itu ke sembarang tempat.


"Apa yang kamu lakukan? Hah?" Hardik Bram sambil menghentak pundak Aruna.


Seluruh persendiannya kini terasa lemas. Hingga akhirnya Aruna pun terduduk lesu dengan pergelangan tangan yang berdarah. Melihat hal itu, Dicko panik luar biasa. Dan langsung menghampiri Aruna.


Sementara Bimo dan Clara pun ikut pamit. Tanpa menunggu perintah, Bimo bergegas keluar dari ruangan itu untuk mencari pertolongan.


Perlahan, Bram mulai menurunkan tubuhnya. Bersimpuh di atas lututnya, menghadap Aruna yang berada dalam dekapan kakaknya. Bulir - bulir air mata pun mulai berjatuhan dari pelupuk matanya. Meski hatinya masih terasa sakit menerima kenyataan ini, tapi dia pun tak tega melihat Aruna seperti ini.


"Baiklah ..." Bram mengangguk - anggukkan kepalanya diiringi linangan air mata.


"Aku ... Aku ..." Bram menahan isak tangisnya. Kemudian meraih tangan Aruna yang terluka. Memandangi luka itu dengan kucuran air mata.


"Aku akan merelakanmu." Ucap Bram kemudian.


"Maaf, aku tidak pernah bisa membahagiakan kamu. Maaf, jika selama ini aku selalu menyakitimu. Jika dengan merelakanmu itu bisa membuatmu bahagia, akan aku lakukan. Aku harap, kamu bisa hidup bahagia bersama kakakku."


Tak tega, Aruna pun menghambur ke dalam pelukan Bram. Memeluknya erat sebagai ungkapan rasa terima kasihnya. Bram membalas pelukan itu.


"Trima kasih." Ucap Aruna singkat dalam pelukan Bram.


Aruna dan Bram saling menumpahkan tangisnya. Dalam pelukan masing - masing. Dicko yang ikut terharu, hanya bisa mengusap lembut punggung Bram. Akhirnya Bram berhati besar, mau menerima semuanya. Mau mengikhlaskan semuanya. Dan merelakan Aruna berbahagia dengan kakaknya sendiri.


Perlahan Bram melepaskan pelukannya. Lalu mendekap wajah mungil Aruna. Meski terasa berat dan menyakitkan, Bram akan mencoba.


"Aku akan merelakanmu. Tapi berjanjilah, kamu akan hidup dengan baik. Jika kakakku ini tidak bisa membuatmu bahagia, kamu bisa kembali padaku kapanpun kamu mau. Hm?" Celoteh Bram untuk menutupi lara dihatinya.


Aruna tertawa kecil. Lalu mengangguk. Masih dengan air mata yang terus berderai dari pelupuk matanya. Dia begitu terharu dengan sikap bijak Bram. Yang mengikhlaskan semua yang terjadi.


"Trima kasih Bram. Trima kasih ... Aku tidak tau harus bilang apa lagi. Aku hanya bisa mengucapkan beribu - ribu terima kasih. Aku yakin, Tuhan akan mengirim seseorang untukmu. Seseorang yang akan mencintai kamu sepenuh hatinya. Seseorang yang akan memberimu kebahagiaan. Karna kamu pantas mendapatkan itu."


"Semoga kalian bahagia." Ucap Bram setelah itu.


"Kakakku ini adalah pria yang baik. Jadi, jangan buat dia kecewa." Sambung Bram sambil menepuk pundak Dicko.


Sebagai rasa terimakasihnya, Dicko pun memeluk Bram. Dan kembali menitikkan air mata dalam pelukan kakaknya.


"Trima kasih Bram."


"Aku titip Aruna. Tolong jagalah dia untukku. Bahagiakan dia. Jangan pernah membuatnya menangis lagi." Kalimat seperti ini, pernah Dicko ucapkan dulu. Saat dia menyangka hidupnya tidak akan lama. Kini dia harus mendengar kembali kalimat serupa dari mulut adiknya sendiri.


"Iya, aku janji akan selalu menjaganya dan akan selalu membahagiakannya."


Mungkin memang sudah suratan takdir. Nasib rumah tangganya harus berakhir seperti ini. Bram harus ikhlas.


Tak berapa lama, seorang perawat datang dengan perlengkapan P3K. Yang akan membantu Aruna mengobati lukanya.


"Maaf, susternya sudah datang. Lukanya harus segera di obati." Kata Clara memberitahu kedatangan suster.


Bram dan Dicko pun saling melepaskan pelukannya. Dicko membantu Aruna berdiri dan menuntunnya duduk di tepian ranjang. Kemudian suster itu mulai membersihkan luka sayatan di pergelangan tangan Aruna dengan alkohol. Kemudian memberinya obat dan langkah terakhir terakhir adalah membalutnya dengan kain kasa.


.


.


Setelah kejadian yang menegangkan tadi, Bram pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat di hotel. Bimo membawanya ke hotel yang sama dengan tempat Dicko menginap.


Cklek ...

__ADS_1


Bimo membuka pintu kamar hotel untuk Bram. Dengan langkah lunglai, Bram melangkah masuk. Kemudian merebahkan dirinya di ranjang.


Setelah meletakkan koper Bram, Bimo pun pamit pulang.


"Saya pamit pulang dulu Pak Bram. Kalau Pak Bram butuh sesuatu, Pak Bram bisa menghubungi saya. Saya akan selalu siap membantu."


"Makasih ya Bim."


"Oh ya, wanita yang datang bersama Pak Bram, kamarnya di sebelah."


"Buat apa kamu memberitahuku?"


"Dia orang yang dipercayakan Pak Danu untuk menjaga anda. Jadi saya pikir__"


"Sudahlah. Gadis aneh itu bukan urusanku. Cepat sana, keluar." Potong Bram sebelum Bimo menyelesaikan kalimatnya. Bram mulai memejamkan matanya.


Bimo pun menuruti perintah Bram. Dan bergegas keluar dari kamar itu. Namun belum sempat Bimo menutup kembali pintunya, tiba - tiba Clara datang. Dan langsung masuk ke kamar Bram.


"Hai ..." Sapa Clara. Sontak Bram membuka matanya. Lalu bangun dari berbaringnya. Dan mendapati Clara sudah berdiri di depan ranjangnya.


Di seberang, Bimo hanya bisa menepuk jidatnya. Sembari menggeleng - gelengkan kepalanya atas kelakuan Clara.


"Kamu__" pekik Bram tertahan. Bram terkejut plus kesal melihat gadis aneh itu berani masuk ke kamarnya.


Sedangkan Clara malah memperlihatkan cengiran lebarnya. Sambil menggaruk tengkuknya.


"Aku lapar."


"Hah?" Bram sukses melotot.


"Aku belum pernah datang ke kota ini. Jadi aku tidak tau restoran yang makanannya enak. Sebenarnya aku bisa pergi sendiri. Hanya saja ... Aku takut kesasar. Belum lagi, aku ini adalah gadis yang cantik. Gimana kalau tiba - tiba ada penjahat yang menculikku. Lalu penjahat itu__" Clara beralasan agar Bram mau menemaninya makan malam.


"Mana ada penjahat yang mau menculik gadis aneh dan cerewet seperti kamu ini." Potong Bram cepat.


"Jangan gitu dong Pak. Apa aku kasih tau Pak Danu saja ya, kalau anak kesayangannya ini melakukan percobaan bunuh diri. Pasti aku akan mendapatkan imbalan yang banyak." Sambil melirik - lirik Bram dengan ekor matanya.


"Ya sudah, aku tau apa maksud kamu. Tidak perlu menyindir seperti itu." Kemudian Bram bangkit dan mengambil kopernya. Lalu mulai membuka koper itu dan mengeluarkan beberapa lembar pakaian.


"Aku mau ganti baju. Kamu masih mau disini? Mau melihatku lagi gan__"


"Iya, iya, iya. Maaf." Clara pun keluar dari kamar itu.


"Dasar stress." Gerutu Clara. Namun sedetik kemudian, Clara tersenyum puas.


.......


.......


.......


...-Bersambung-...


Sebelum sadar harus kesurupan dulu. Syukurlah Bram bisa ikhlas 🤧


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys. Biar otor makin semangat nulisnya.


Saranghae ❤️


Salam hangat by ...

__ADS_1


Otor Kawe


__ADS_2