Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 86 Pengakuan Rasa


__ADS_3

"Ya sudah, kamu mandi ya sayang. Kamu memang penyemangat Mami nonor satu."


"Semangat ya Mi. I love you."


"I love you too, Zidane. Ya sudah, kamu cepetan mandi nanti terlambat dan Mami mau membangunkan Om Daniel dulu."


"Oke Mi." Aruna pun bergegas menuju kamar Daniel.


"Tuan, apa anda sudah bangun? Sarapan sudah siap?" panggil Aruna sambil mengetuk pintu kamar Daniel. Namun sama sekali tidak da jawaban dari Daniel.


"Tuan!" Aruna mencoba mengetuknya sekali lagi namun tetap saja tidak ada jawaban. Aruna kemudian mencoba membukanya dengan memutar gagang pintu. Dan pintu tidak terkunci. Alangkah terkejutnya Aruna melihat kamar Daniel seperti kapal pecah. Sepatu, kaos kaki, kemeja, celana, dasi, handuk bahkan bixer berserakan di sembarang tempat.


"Ampun, punya bos jorok banget. Ganteng sih tapi kenapa jorok begini? Punya uang kan bisa memakai jasa pembantu." Gumamnya sambil memunguti semua barang yang berserakan itu. Daniel sendiri masih tertidur dengan posisi terlentang tanpa mengenakan atasan dengan tubuh bagian bawahnya terbungkus selimut.


"Sepertinya manusia ini terbiasa mesum. Tidur saja tidak memakai baju, kemarin waktu camping juga begitu." Gerutu Aruna.


"Tuan bangun!" Aruna menepuk bahu Daniel pelan. Namun Daniel tak berekasi.


"Tuan, bangun. Katanya mau ke kantor pagi-pagi. Saya sudah menyiapkan sarapan." Aruna mengulang kembali ucapannya. Aruna sangat kesal karena Daniel sama sekali tidak bereaksi. Ia berkacak pinggang mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkan teriakan sekeras mungkin.

__ADS_1


"TUAN! CEPAT BANGUN!" Aruna mendengus karena teriakannya sama sekali tidak mempengaruhi Daniel yang masih terlelap.


"Budek atau mati sih?" gumammnya. Aruna menjulurkan telunjuknya ke lubang hidung Daniel dan masih terasa hembusan nafasnya. Oh, mungkin harus teriak pas telinga, pikir Aruna saat itu. Aruna naik keatas ranjang, Ia siap berteriak tepat ditelinga Daniel.


"Tuan Dan...." belum selesai berteriak. Daniel langsung merengkuh tubuh Aruna dalam pelukannya.


"Suaramu berisik sekali." Ucap Daniel lirih. Sebenarnya Daniel sudah bangun, saat hendak menuju kamar Zidane, ia melihat kamar Zidane terbuka dan mendengar obrolan Ibu dan anak itu. Akhirnya Daniel memilih kembali ke kamar dan pura-pura tidur untuk mengerjai Aruna.


"Tuan sudah bangun rupanya?" kata Aruna sembari berusaha melepaskan tubuhnya dari rengkuhan tangan berotot itu.


"Menurutmu? Sudah bangun dua-duanya malah." Ucapnya dengan senyum nakal.


"Aruna, aku menyukaimu." Ucap Daniel tiba-tiba. Aruna dibuat terkejut dengan ucapan Daniel.


"Menyukai ku? Tidak akan mempan rayuan anda, Tuan. Cepat lepaskan aku atau aku berteriak memanggil Zidane supaya Zidane membencimu." Mendendengar ancaman Aruna, Daniel langsung melepaskan tangannya. Aruna segera turun dari tempat tidur dan merapikan kembali pakaiannya.


"Aku serius Aruna." Ucapan Daniel mengehntikan langkah Aruna yang hendak meninggalkan kamar.


"Tuan, rayuan anda tidak akan mempan. Seribu satu rayuan dan kata cinta tidak dapat meluluhkan hatiku."

__ADS_1


"Tapi kali ini aku serius." Daniel turun dari tempat tidur dan tiba-tiba memeluk Aruna dari belakang. Aruna terkejut mendapat pelukan serapat dan sehangat itu. Daniel bahkan dengan nyaman menyandarkan dagunya di pundak Aruna. Dan entah kenapa Aruna tidak bisa menolaknya kali ini.


"Aruna, aku tidak tahu kapan perasaan ini muncul. Yang jelas, aku mulai merasakan sedih dan sakit saat pertama kali aku tahu kenyataan bahwa suami mu menghianatimu. Aku biasanya tidak peduli dengan perasaan orang lain. Bahkan aku dengan mudahnya menyakiti hati wanita. Tapi saat itu aku sungguh ikut merasakan kesedihanmu tapi aku tidak tahu itu perasaan apa. Aku berpikir itu hanya sebagai rasa kemanusaiaan saja. Dan sejak saat itu, aku perlahan berhenti bermain wanita. Karena di hianti itu sakit. Aku banyak belajar dari kisah hidupmu Aruna. Tentang arti cinta, keluarga dan kesetiaan. Aku meminta maaf dengan para wanita bahkan rela mendapat pukulan dari mereka semua karena mu. Aku ingin menjadi wanita yang lebih baik lagi. Dan perasaan itu semakin dalam saat aku tahu bahwa kamu adalah gadis yang membantuku mencari Mama ku di taman hiburan itu. Itulah yang aku rasakan Aruna dan aku pun sudah sangat menyayangi Zidane. Meskipun banyak wanita yang aku kencani, aku tidak pernah memiliki rasa sejauh dan sedalam ini." Akhirnya Daniel melepaskan semua perasaannya pada Aruna. Meskipun ia tahu kalau Aruna tidak akan menerimanya.


"Aku tahu mungkin ini bukan saat yang tepat tapi itulah yang aku rasakan saat ini, Aruna. Perceraianmu pasti menyisakan luka bahkan trauma yang amat dalam tapi aku siap menunggu sampai kamu siap. Dan aku akan memperbaiki diri supaya lebih pantas bersamamu. Aku juga tidak peduli dengan statusmu saat ini." Lanjut Daniel. Jujur saja Aruna terkejut dan tersentuh dengan ucapan Daniel. Aruna juga merasakan perubahan sikap Daniel. Apalagi sejak mendengar cerita dari Reza kalau Daniel benar-benar berniat ingin insyaf. Melihat Daniel babak belur di pukuli para mantannya juga membuat Aruna tidak tega. Meskipun Daniel playboy tapi hati kecil Aruna mengakui bahwa Daniel adalah sosok pria yang baik. Apalagi saat Zidane begitu mudahnya dekat dengan Daniel. Namun Aruna rasanya masih trauma dan takut untuk disakiti lagi.


"Tuan, sebaiknya anda segera mandi. Aku harus membantu Zidane menyiapkan perlengkapan sekolahnya." Ucap Aruna seraya melepasakn tangan Daniel yang sedari tadi masih memeluknya. Daniel menatap kecewa kearah Aruna namun Daniel berusaha untuk tetap mengerti perasaan Aruna saat ini.


Suasana sarapan pagi terasa hening. Aruna bisa melihat Daniel tidak seceria biasanya. Wajahnya tampak murung.


"Om Daniel kenapa? Sakit ya? Kok lemes." Tanya Zidane.


"Iya. Om sedang sakit."


"Sakit apa?"


"Dada Om rasanya sakit dan sesak, seperti kesulitan bernafas." Ucapnya sambil melirik kearah Aruna.


"Playboy bisa sakit juga rupanya?" sindir Aruna.

__ADS_1


"Playboy kan juga manusia. Wajarlah menyeleksi supaya saat menikah tidak salah pilih. Terkadang sesuatu yang diawali manis-manis akan berakhir pahit. Seseorang yang tampak lugu dan innocent tidak menjamin setia juga kan? Don't judge a book by its cover." Ya, ucapan Daniel sangat menohok. Menohok perasaan Aruna. Seperti yang ia alami saat ini. Hbungannya dengan Arya yang begitu manis akhirnya kandas juga. Ucapan Daniel benar-benar membungkam mulut Aruna. Ia tidak bisa mengelak bahwa memang itu kenyataan yang ia rasakan saat ini.


__ADS_2