Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 57


__ADS_3

Mobil itu melaju pesat. Hingga akhirnya menyambar Bram yang hendak menyeberang jalan. Beruntung, Bram hanya mengalami luka ringan.


Bimo dan Clara pun bergegas menolong Bram yang terlentang di aspal dengan dahi yang terluka karena menyentuh aspal.


"Pak Bram, anda tidak apa - apa?" tanya Bimo panik. Kemudian bergegas membantu Bram berdiri dan memapahnya sampai ke mobil.


Bimo dan Clara pun bergegas membawa Bram ke rumah sakit terdekat. Dicko yang sempat melihat kecelakaan itu dari jauh, tidak bisa berbuat apa - apa. Bahkan tidak sempat ikut mengantarkan Bram ke rumah sakit. Untung saja Bram tidak terluka parah. Kalau tidak, bisa panjang urusannya nanti.


.


.


Di rumah sakit terdekat, Bram kini telah di tangani. Sebenarnya Bram sudah di perbolehkan pulang, karena hanya mengalami luka ringan dan bisa dilakukan perawatan di rumah saja. Akan tetapi, entah kenapa Bram malah meminta dirawat di rumah sakit walau hanya untuk beberapa hari saja.


Dan kini, Bram sedang berbaring dengan kepala di perban. Di temani oleh Bimo dan Clara yang menungguinya di ruangannya.


"Yang luka kan hanya kepala, sedangkan tangan dan kaki masih utuh. Kenapa harus dirawat inap sih?" tanya Clara heran dan malah mendapat pelototan dari Bram.


"Saya sudah menghubungi Pak Dicko. Sebentar lagi dia akan datang." Ucap Bimo.


Bram hanya menatap datar Bimo. Kemudian mulai memejamkan matanya. Sekelebat bayangan saat Aruna menggenggam tangan Dicko dan mengaku mereka akan menikah, membuat hati Bram kembali terasa sakit.


Apakah Bram benar - benar harus merelakan Aruna berbahagia dengan kakaknya? Lalu bagaimana dengan perasaannya? Dua tahun waktu yang berlalu tidak bisa membuat Bram dengan mudah melupakan masa lalunya.


Beberapa menit kemudian, Dicko datang bersama Aruna. Awalnya, Aruna enggan masuk ke ruangan itu. Namun berkat Dicko yang selalu meyakinkannya, Aruna pun akhirnya memberanikan diri. Walau bagaimanapun Bram seperti ini juga karenanya.


Melihat Dicko dan Aruna datang, Bimo dan Clara pun keluar dari ruangan itu.


Bram masih memejamkan matanya. Indera pendengarannya bisa menangkap suara Aruna dan Dicko . Meski mereka bicara setengah berbisik.


"Tidak apa - apa. Ini bukan salah kamu." Hibur Dicko. Sebab Aruna masih saja merasa bersalah atas musibah yang menimpa Bram.


Mereka tengah berdiri di sisi ranjang itu. Saling bergandengan tangan. Memandangi Bram yang terbaring dengan mata terpejam.


"Bram ..." panggil Dicko dengan nada pelan membangunkan Bram.


Bram membuka matanya. Lalu menoleh, memandangi Dicko dan Aruna yang berdiri di sisi ranjang itu sambil bergandengan tangan. Menyaksikan hal itu, membuat Bram kembali memalingkan wajahnya. Seakan enggan melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya kini.


"Jadi ini alasan kenapa Kakak batal pulang? Aku sudah menduganya." Ucap Bram tiba - tiba tanpa menoleh sedikitpun.


Entah seperti apa perasaan Bram saat ini. Entah Bram sudah memaafkannya, atau bahkan masih membencinya sekalipun. Tapi Dicko tetap bersyukur. Sebab Bram masih mau memanggilnya kakak.


"Jadi kedatangan kamu kemari hanya untuk memastikan itu?" Dicko malah bertanya. Dan Bram masih enggan memalingkan wajahnya.


"Bram. Sebagai kakakmu, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya ing__"


"Aku mau bicara empat mata dengannya." Potong Bram cepat.

__ADS_1


Dicko dan Aruna saling pandang. Aruna menggeleng pelan. Dicko mengulum senyumnya, meyakinkan Aruna bahwa semua akan baik - baik saja. Dicko pun keluar dari ruangan itu kemudian.


Kini Bram memalingkan wajahnya. Memandangi Aruna yang masih berdiri di sisi ranjang itu. Bram bangun dan duduk di ranjang itu. Kemudian menepuk - nepuk tempat kosong di depannya. Aruna mengerti, lalu mengambil duduk di depan Bram. Dengan wajah tertunduk. Bram menatapnya sendu. Namun Aruna masih saja tertunduk. Seakan enggan menatap Bram.


"Sejak kita berpisah, sejak itu pula hidupku tidak pernah tenang." Ucap Bram memulai. Aruna pun mengangkat wajahnya. Menatap pria yang dulu pernah hadir dalam hidupnya itu.


"Setiap waktu aku habiskan dengan merindukanmu. Bahkan aku selalu memikirkan, apa kesalahanku hingga kamu berbuat seperti ini padaku." Tambah Bram sambil menatap sendu.


"Maafkan aku." Lagi - lagi kata itu terucap dari bibirnya. Aruna bahkan bingung harus bersikap bagaimana terhadap Bram. Mantan suaminya sekaligus calon adik iparnya. Canggung yang pasti. Karena situasi ini begitu sulit dipahami. Sungguh lucu kenyataan diantara mereka saat ini. Terlepas dari pelukan sang adik dan jatuh ke pelukan sang kakak.


"Rasanya semua ini seperti mimpi. Orang yang aku cintai, dalam sekejap melupakanku. Begitu cepat perasaannya berubah. Aku jadi tidak mengerti, dimana letak kesalahanku. Hingga aku harus kehilangan dia."


Aruna masih terdiam sambil terus menatap Bram. Yang juga menatapnya.


"Rasa kehilangan ini sungguh menyiksaku. Dalam sekejap, aku kehilangan dua orang yang paling berharga dalam hidupku. Aku kehilangan bayiku ... Dan skarang, aku kehilangan istriku. Hiks ..." Bram tidak bisa membendung air matanya lagi. Bahkan isak tangis pilunya pun mulai terdengar menyayat hati. Hingga membuat Aruna ikut menitikkan air mata.


"Terkadang aku merasa ini semua tidak adil. Kenapa hanya aku yang menderita seperti ini. Kenapa hanya aku yang tersiksa seperti ini."


Kini, Aruna memberanikan diri meraih jemari kekar Bram dan menggenggamnya erat. Berharap bisa sedikit meluruhkan beban di hatinya. Meskipun dia tahu, apa yang dilakukannya ini sia - sia. Tapi setidaknya, ini bisa sedikit memberi ketenangan di hatinya.


Ya. Sedikit. Hanya sedikit. Tidak sebanding dengan luka yang ditanggungnya selama dua tahun ini. Dua tahun yang kelam baginya.


"Bram ... Bukalah hatimu sedikit demi sedikit. Cobalah untuk memahami keadaan ini. Yang harus kamu lakukan skarang, adalah menerima semua ini dengan lapang dada. Aku yakin, Tuhan punya rencana lain untuk kita berdua. Aku yakin, kebahagiaan itu akan ada. Meski kita tidak harus bersama." Ucap Aruna lirih dengan rintikan air mata. Hatinya trenyuh melihat keadaan Bram saat ini. Yang begitu sulit berpaling dari masa lalu. Apa Aruna sudah salah mengambil keputusan? Kenapa keputusan yang dianggapnya benar, justru semakin menyiksa hidup orang lain?


"Bagaimana caranya? Katakan padaku bagaimana caranya agar aku bisa melupakanmu."


"Aku yakin kamu pasti bisa."


"Hiks ... Hiks ..." kini Aruna yang terisak.


Astaga. Apa yang sudah Aruna lakukan. Tanpa disadarinya, dia sudah menghancurkan hidup orang lain.


"Mantan istriku akan menikah dengan Kakakku ... Katakan, bagaimana caranya agar aku bisa menerima itu?" Kini tatapan Bram yang semula sayu menjadi garang.


"Tidakkah kamu berpikir, ini sungguh sulit bagiku?" Bram mulai tampak dikuasai perasaan dan amarahnya.


"Jika kalian menikah nanti, aku harus memanggilmu apa? Kakak ipar?" tambah Bram lagi.


Aruna semakin terisak. Sementara Bram terkekeh sambil berlinang air mata. Sungguh lucu. Benar - benar kenyataan yang gila. Sama seperti Bram. Yang mungkin sebentar lagi menjadi gila.


"Bram ... Aku mohon, ikhlaskan semuanya." Pinta Aruna.


"Ikhlas?" Bram pun turun dari ranjang itu.


"Baiklah. Mari kita permudah semuanya." Bram mulai mencari - cari sesuatu di ruangan itu. Berharap bisa menemukan satu benda yang akan mempermudah segalanya.


Entah sejak kapan ada sebuah pisau bedah tergeletak di meja kecil di sudut ruangan itu. Bram pun meraih pisau itu lalu menunjukkannya pada Aruna.

__ADS_1


"Ikhlas kamu bilang?" Bram menatap tajam Aruna dengan pisau di tangannya. Sementara Aruna panik melihat pisau di tangan Bram.


Astaga. Apa yang ada dalam pikiran Bram saat ini. Tolong, seseorang, hentikan Bram dari pikiran bodohnya saat ini.


"Bram ... Tolong letakkan kembali pisau itu." Aruna berdiri dan mulai menghampiri Bram perlahan.


"Mari kita permudah semuanya." Bram mulai menempelkan pisau itu pada pergelangan tangannya. Dan Aruna semakin panik dibuatnya.


"Bram ... Sadarlah. Tolong jangan lakukan ini." Pekik Aruna panik. Sembari berusaha menghampiri Bram.


Namun Bram, tidak menghiraukan Aruna yang semakin panik dan ketakutan.


"Aku akan mengikhlaskanmu tapi setelah aku mati." Bram mulai mengancam.


"Bram tolong, pikirkan ini baik - baik.


"Jika aku memikirkan ini baik - baik. Apa kamu mau kembali padaku?"


Aruna menggeleng pelan.


"Sudah aku duga. Jadi percuma saja aku hidup." Bram semakin kehilangan akal sehatnya.


"Aku mohon Bram ... sadarlah." Aruna semakin mendekat.


Ini yang Papa Danu takutkan. Bram masih terbawa perasaannya. Jika seperti ini jadinya, apakah Papa Danu bisa merestui hubungan Dicko dan Aruna? Jika dia memberikan restu, hal itu hanya akan menyakiti puteranya yang lain.


Lalu bagaimana cara Dicko dan Aruna meyakinkan Papa Danu dan Bram? Akankah mereka memberikan restu?


Di luar ruangan itu, Dicko masih berdiri. Menunggu Aruna selesai bicara dengan Bram. Entah apa yang mereka bicarakan. Hingga kini malah terdengar suara teriakan kencang Aruna dari dalam ruangan itu.


"Tolong ... Tolong ..."


Sontak, Dicko pun dengan cepat memasuki ruangan itu. Dan terbelalak kaget melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya saat ini.


"Bram ..." pekik Dicko kaget.


.......


.......


.......


...-Bersambung-...


Semoga tidak terjadi apa - apa pada Bram.


Dan jalan Dicko dan Aruna untuk bersatu, semakin di permudah 🤧

__ADS_1


Saranghae ❤️


Otor Kawe 🤗


__ADS_2