Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 55


__ADS_3

"Aku Clara Cecilia, sekretaris baru kamu." Ucap Clara penuh percaya diri. Dan Bram hanya tercengang.


Clara mengulas senyum manisnya sembari menatap Bram dengan tatapan berbeda.


Walaupun dia orang stress tapi dia lumayan juga. Gumam Clara membatin.


"Aku mau ke ruanganku, kira - kira di sebelah mana ya? Yang itu bukan?" tanya Clara sambil menunjuk ruangannya Bram.


"Bukan. Di sebelahnya. Yang itu ruanganku." Sahut Bram ketus.


"Ooh ... berarti tadi aku salah dong. Pantesan bisa nabrak. He he he ..." Clara nyengir sambil menggaruk tengkuknya. Bram justru menatapnya aneh.


"Oh ya, Bapak mau kemana? Hari ini adalah hari pertama aku bekerja, kira - kira apa ada tugas untukku?" tanya Clara lagi.


"Ada. Tugasmu adalah menutup mulutmu. Jangan cerewet di depanku. Aku tidak suka gadis cerewet sepertimu. Dan satu lagi ... aku bukan bapakmu." Kemudian berlalu meninggalkan Clara sembari bergumam,


"Dasar aneh." Gumam Bram sembari menggelengkan kepalanya pelan.


Sementara Clara memasang muka cemberut dikatai Bram seperti itu.


"Benar - benar stress tuh orang. Gila, baru kali ini aku dapat atasan stress begitu. Haaah ... mudah - mudahan aku bisa betah bekerja dengan Boss stress dan aneh seperti itu. Semangat Clara." Clara menyemangati dirinya sendiri kemudian bergegas masuk ke ruangannya yang berada di sebelah ruangan Bram.


.


.


Untuk sekedar mencari udara segar, Bram memilih pergi ke taman yang biasa dia datangi dengan Aruna dulu. Bram duduk seorang diri dengan tatapan kosong. Sejak berpisah dari Aruna, seperti inilah keadaan Bram. Jadi suka merenung, suka menyendiri, suka melamun, bahkan terkadang suka menangis sendiri.


Sejak dulu, Bram sudah tahu. Aruna mulai mencintai Dicko. Tapi Bram tidak peduli soal itu. Tidak ada juga yang menyangka kalau ternyata Dicko masih hidup. Dan kini Aruna memilih kembali ke pelukan Dicko, Bram masih sulit menerimanya.


Sementara itu, di lain kota. Dicko dan Aruna memilih menghabiskan waktu bersama. Setelah dari taman bunga, mereka pergi ke pantai. Berjalan - jalan di pinggir pantai sambil bergandengan tangan. Menikmati indahnya panorama pantai yang menghadirkan suasana yang berbeda.


Banyak momen kebersamaan mereka yang berhasil mereka abadikan lewat kamera ponsel. Dan Bimo, masih setia menjadi satpam cinta untuk mereka berdua. Siap melayani mereka kapan saja.


Bermain ombak di pinggir pantai, kejar - kejaran seperti anak kecil, bahkan kadang pula Aruna sering meminta Dicko mendukungnya. Mereka benar - benar terlihat bahagia menikmati momen - momen kebersamaan mereka.


Setelah puas bermain dan berlarian di pinggir pantai, kini saatnya mengisi perut yang sejak tadi sudah meronta - ronta meminta jatahnya. Mereka memilih makan di restoran di pinggiran pantai yang letaknya tidak terlalu jauh dari pantai itu.


Bahkan saat makan pun mereka terlihat begitu romantis. Saling suap - suapan. Dan lagi - lagi, Bimo yang duduk di meja sebelahnya hanya bisa gigit jari melihat kemesraan mereka. Pasangan itu benar - benar sedang di mabuk asmara.


"Kapan kamu pulang?" tanya Aruna saat mereka telah selesai makan.


"Mungkin lusa. Kenapa? Kamu ingin aku cepat - cepat pulang, atau aku tidak usah pulang sekalian?" goda Dicko.

__ADS_1


"Kalau bisa sih, tidak usah pulang." Aruna tersipu malu mengatakan itu.


"Baiklah. Kalau itu yang kamu mau."


"Hah?" Aruna tercengang, "aku hanya bercanda kali." Aruna terlihat salah tingkah.


Dicko mengulum senyum manisnya melihat tingkah Aruna. Bahkan kalau Aruna mau, Dicko pun akan menetap di kota ini. Asalkan dia bisa tetap bersama Aruna. Dicko tidak ingin terpisah lagi dengan wanita yang dicintainya itu.


Bahkan jika ditanya, Dicko sangat - sangat tidak rela berpisah lagi dari Aruna. Jika Dicko kembali ke kotanya, otomatis mereka akan terpisah jarak dan waktu. Bahkan terpisah dalam jarak yang cukup jauh.


Setelah makan, mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka. Dengan menjelajahi setiap sudut kota. Mengunjungi tempat - tempat wisata di kota itu. Mengabadikan setiap momen bersama, baik dalam bentuk foto maupun video.


Menjelang malam, jalan - jalannya telah usai. Dalam perjalanan pulang, Aruna bahkan tertidur sambil menyandarkan kepalanya di pundak Dicko. Jari jemari keduanya saling bertaut, saling menggenggam satu sama lain. Sesekali Dicko mengecup puncak kepala Aruna yang tampak tertidur pulas.


"Pak, kita sudah sampai." Kata Bimo saat menghentikan mobilnya di depan rumah Oma Windi.


Dicko menoleh. Tak tega rasanya membangunkan Aruna dari tidur lelapnya. Pelan Dicko menyandarkan kepala Aruna ke sandaran kursi. Lalu bergegas turun dari mobil itu. Dengan pelan dan hati - hati digendongnya tubuh ramping Aruna ala bridal dan membawanya masuk ke dalam rumah. Beruntung Cika telah lebih dulu membukakan pintu untuk mereka.


"Mari, sebelah sini, ..." kata Cika menuntun Dicko menuju kamar Aruna.


"Ini dia kamarnya ..." kata Cika lagi sembari membukakan pintu kamar Aruna. Oma Windi yang hendak ke dapur pun tanpa sengaja melihat Dicko yang tengah menggendong Aruna dan membawanya masuk ke dalam kamarnya itu, hanya bisa tersenyum.


"Pria itu benar - benar mencintai cucuku." Gumam Oma Windi.


Karena kecapean Aruna bahkan tidak terbangun saat Dicko membaringkannya bahkan mengecup keningnya.


"Maaf sudah membuatmu capek hari ini." Gumam Dicko lirih setelah mengecup kening Aruna.


"Istirahatlah. Mimpi yang indah, calon istriku." Kemudian berdiri dari duduknya dari tepian ranjang itu.


Dicko pun berbalik dan hendak keluar dari kamar itu. Namun tiba - tiba saja Aruna menahan pergelangan tangannya. Dicko memutar kembali tubuhnya, menghadap Aruna yang kini telah terbangun dari tidurnya.


"Jadi, sejak tadi kamu pura - pura tidur?" Dicko gugup. Jika Aruna sejak tadi sudah terbangun, itu berarti Aruna mendengar apa yang dikatakannya tadi. Aissh ... Dicko jadi malu sudah menyebut Aruna Calon Istriku.


Aruna hanya tersenyum. Kemudian bangun. Dicko lalu mengambil duduk kembali di tepian ranjang itu, berhadapan dengan Aruna.


"Kamu sebut aku tadi apa?" goda Aruna demi melihat wajah malu - malu prianya itu. Sungguh menggemaskan melihat Dicko seperti itu. Wajah putih mulusnya akan bersemu merah.


Aruna menaikkan alisnya mendesak Dicko segera mengatakannya. Sementara Dicko terlihat semakin gugup.


"Ehem ... Ehem ..." Dicko berdehem sebentar sebelum kembali mengatakan kalimat itu. Aruna masih menanti kalimat itu sambil tersenyum manis menatap Dicko.


"Calon ist__" kalimat Dicko terpotong karena tiba - tiba saja Aruna mendaratkan bibirnya dan mengecup lembut bibir Dicko. Akh, Aruna semakin berani saja. Dan Dicko sedikit terperanjat dengan hal itu.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Aruna pun melepaskan ciumannya. Sambil terus menatap Dicko yang terlihat menegang akibat ulah nakalnya. Dicko bahkan sudah kesulitan bernapas menahan gejolak di dadanya. Ya ampun, kenapa Aruna jadi seagresif ini. Membuat Dicko tak sanggup menahan diri lagi.


"Aku mencintaimu." Ucap Aruna lirih.


Dicko tersenyum. Di iringi air mata bahagia yang mulai berjatuhan dari pelupuk matanya tanpa sadar. Sontak Dicko pun langsung memeluk Aruna erat dengan cucuran air mata bahagianya. Bertahun - tahun dia bersabar menanti cinta Aruna untuknya. Menanti wanita itu mencintainya dengan sepenuh hati.


"Terima kasih sudah memberikan cintamu untukku. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan pernah sanggup kehilanganmu lagi." Ucap Dicko dengan penuh rasa haru. Dan semakin mempererat pelukannya.


Di luar kamar itu, dari balik pintu, Oma Windi mendengar pembicaraan mereka. Bahkan sedikit mengintip ke dalam kamar itu. Sambil tersenyum haru melihat cinta di antara mereka.


"Aku akan segera menikahi kamu. Rasanya aku tidak sanggup lagi jauh darimu." Ucap Dicko setelah melepaskan pelukannya.


Namun senyum di wajah Aruna mendadak memudar. Bukannya dia tidak ingin menikah dengan Dicko. Akan tetapi, tidak bisa di pungkiri, dia masih belum yakin akan mudah mendapatkan restu dari Papa Danu dan Bram.


"Aku sudah bilang kan? Aku akan memperjuangkan cinta kita. Aku akan berusaha meyakinkan Papa dan akan mendapatkan restu dari Papa." Dicko berusaha meyakinkan Aruna.


"Aku tidak mau kamu berkorban lagi untukku. Sudah cukup."


"Apa pun akan aku lakukan untuk kamu. Untuk cinta kita."


Aruna begitu tersentuh melihat kesungguhan hati Dicko yang memperjuangkan cintanya. Aruna hanya bisa berharap semoga saja akan ada keajaiban yang akan mempermudah jalan mereka untuk bersatu selamanya.


Aruna pun menghambur ke dalam pelukan Dicko. Menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu.


"Kita akan berjuang sama - sama. Aku tidak akan membiarkan kamu berjuang sendiri."


Mungkinkah, semudah itu mereka mendapatkan restu Papa Danu dan Bram? Sementara Bram sendiri masih belum bisa menerima kenyataan pahit cintanya. Mungkin Aruna lupa, di saat satu janjinya terpenuhi, satu janjinya yang lain terabaikan.


Aruna pernah berjanji, jika Dicko kembali, Aruna akan mencintainya dengan sepenuh hati. Kini janji itu telah terpenuhi. Lalu bagaiman dengan janjinya yang lain? Janjinya pada Bram, bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Bram, apapun yang terjadi. Tetapi kenyataannya, janji itu kini terabaikan. Semoga saja akan ada kemudahan untuk hubungan mereka.


.......


.......


.......


...-Bersambung-...


sorry baru bisa update 🙏🙏


jujur banyak pekerjaan RT yang harus diselesaikan.


Saranghae ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2