
Pagi hari di kota MA. Pukul 09.00 waktu setempat.
Seorang pria dengan tampilan rapi dan kacamata hitam yang membingkai wajahnya. Terlihat menyeruak dari kerumunan penumpang di bagian kedatangan di bandara kota itu.
Dicko Adiguna.
Dia berjalan keluar dari bandara itu sambil menerima panggilan telepon dan satu tangannya sambil menggeret koper.
"Nanti salah satu pegawai kita akan menjemput Kakak. Dan nanti Kakak akan menginap di hotel yang tidak jauh dari pusat perbelanjaan itu." Kata sang adik dari seberang.
"Oke. Terserah kamu."
"Berapa lama Kakak akan berada disana?"
"Entahlah. Mungkin, satu atau dua hari. Tergantung. Tapi, jika aku menemukan sesuatu yang menarik di kota ini ... mungkin aku akan sedikit lebih lama." Ucap Dicko sembari tertawa kecil.
Jika Dicko menemukan sesuatu yang menarik, dia bukan hanya akan berlama - lama di kota ini. Tapi mungkin juga, dia tidak akan kembali lagi ke kota asalnya.
Tak berapa lama, sebuah mobil hitam baru saja tiba tepat di depan Dicko yang tengah berdiri menunggu jemputan. Dicko pun memutuskan sambungan teleponnya.
Dari mobil itu turun seorang pemuda.
"Dengan Pak Dicko?" tanya pemuda itu.
"Iya."
"Saya Bimo yang akan mengantar dan menjemput Bapak selama di sini ... Mari Pak." Kata Bimo kemudian membukakan pintu penumpang. Dicko pun langsung naik ke mobil itu. Sedangkan Bimo mengangkat koper Dicko dan memasukkannya ke bagasi. Kemudian kembali naik ke mobil. Mobil itu pun kemudian mulai melaju meninggalkan Bandara.
"Mau langsung ke hotel saja Pak?" tanya Bimo dalam perjalanan.
"Kita langsung ke Mall ..." Dicko menyebutkan salah satu pusat perbelanjaan di kota itu, "setelah itu kita ke hotel."
"Baik, Pak."
Tidak butuh waktu lama, kini mereka telah sampai di pusat perbelanjaan yang dimaksud Dicko.
Bimo bergegas turun dari mobil itu dan membukakan pintu untuk Dicko. Dicko pun lantas turun dari mobil itu. Di ikuti oleh Bimo yang kemudian mensejajarkan diri dan berjalan bersama Dicko.
Tidak jauh dari tempatnya, Dicko melihat ada seorang wanita tua tengah mengangkat sebuah kotak kardus. Wanita itu terlihat kesulitan karena memang usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Di lantai berapa?" tanya Dicko singkat.
"Di lantai empat Pak." Jawab Bimo yang mengerti maksud Dicko.
"Kamu duluan saja. Saya masih ada urusan sebentar."
"Tapi, Pak ..."
"Duluan saja. Saya tidak akan lama."
"Baik, Pak." Kemudian bergegas meninggalkan Dicko.
Seperginya Bimo, Dicko pun mulai berjalan menghampiri wanita tua itu.
"Bisa saya bantu?" tawar Dicko.
Wanita tua itu tersenyum menatap Dicko. Dahinya mengerut seakan tengah mencoba mengenali seseorang.
Melihat gelagat wanita tua itu, Dicko pun melepas kacamata hitamnya. Wanita itu kembali tersenyum.
"Pemuda yang tampan." Gumam wanita tua itu.
"Maaf jika saya lancang. Saya perhatikan, sepertinya anda kesulitan membawa kotak kardus itu. Saya hanya ingin menawarkan bantuan."
"Boleh. Tapi terima kasih sebelumnya."
Dicko langsung meraih kotak kardus dari tangan wanita tua itu.
"Kita ke lantai tiga ya ..."
Wanita tua itu, yang tidak lain adalah Oma Windi itu mulai berjalan dan diikuti oleh Dicko. Mereka berjalan bersama menuju lantai tiga.
Kini mereka telah sampai di depan Windi collection.
"Silahkan letakkan saja di situ." Kata Oma Windi sambil menunjuk meja di pojokan toko itu.
Dicko lalu menaruh kotak kardus itu di meja yang di tunjuk Oma Windi.
__ADS_1
Seorang karyawan Oma Windi bahkan sampai tidak berkedip melihat Dicko. Dia begitu tercengang melihat pria yang baru pertama kali ini dilihatnya itu.
"Trima kasih banyak ya?" ucap Oma Windi.
"Sama - sama."
Dicko hendak melangkah pergi. Tetapi tiba - tiba saja Oma Windi menghentikannya.
"Oh ya, Nak ..." seru Oma Windi. Dicko pun menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap Oma Windi.
"Sebenarnya, saya punya seorang cucu perempuan. Dan besok adalah hari ulang tahunnya. Biasanya, kami merayakannya hanya bertiga saja. Karena dia tidak punya banyak teman ..."
Dicko meninggikan kedua alisnya. Belum mengerti maksud ucapan Oma Windi.
"Oh iya ... Panggil saja saya Oma Windi."
Kini Dicko tersenyum.
"Kalau kamu bersedia, saya mau mengundang kamu menghadiri ulang tahun cucu saya. Tidak akan ada banyak orang. Mungkin hanya kita berempat, itupun kalau kamu mau."
"Kenapa saya?"
"Sepertinya kamu orang yang baik. Saya hanya ingin memberikan seorang teman untuk cucu saya. Sejak dia tiba di kota ini, sampai sekarang, dia tidak punya teman selain saya, Cika, dan pegawai toko saya."
Dicko mengangguk pelan.
"Gimana ... kamu mau kan?"
"Akan saya pikirkan dulu. Tapi saya tidak janji."
"Trima kasih ya Nak ... Oh iya, tunggu sebentar ..." Oma Windi kemudian berjalan ke mejanya dan mengambil sebuah kartu nama dari laci meja itu. Kemudian memberikannya pada Dicko. Dan disambut Dicko dengan senang hati.
Setelah menerima kartu nama itu, kemudian Dicko pamit dan bergegas hendak ke lantai empat.
Bersamaan dengan itu, hanya berselang beberapa detik, Aruna pun datang.
"Oma ..." panggil Aruna sembari memeluk Oma Windi.
Dicko yang kebetulan belum jauh dari tokonya Oma Windi, samar bisa mendengar suara Aruna. Seketika Dicko menghentikan langkahnya. Sebuah suara yang sangat familiar itu, meski samar namun sempat mampir di telinganya.
"Habis beli bahan Oma. Buat pesanan pelanggan yang kemarin."
"Ooh ... kamu sudah makan belum?"
"Sudah dong Oma."
Di tempatnya, Dicko berdiri terpaku.
Deg ... Deg ... Deg ...
Detak jantungnya mendadak tak karuan. Darahnya berdesir saat mendengar suara itu. Akhirnya Dicko pun memutar tubuhnya. Memusatkan pandangannya ke toko Oma Windi. Yang pertama kali terlihat oleh pandangan matanya adalah punggung seorang wanita berambut sebahu. Sedang berbincang dengan Oma Windi. Setahu Dicko, Aruna berambut panjang. Tapi wanita itu berambut sebahu.
Memang Aruna sekarang berambut sebahu. Sengaja dia merubah penampilannya. Lagipula sudah dua tahun berlalu, apa salahnya merubah penampilan.
Dicko hendak melangkahkan kakinya kembali ke toko Oma Windi. Sampai tiba - tiba, Bimo memanggilnya.
"Pak Dicko ..."
Langkah Dicko menggantung di udara. Terpaksa Dicko mengurungkan niatnya.
"Maaf Pak. Saya pikir Bapak kesasar. Soalnya dari tadi ditungguin, belum nongol - nongol juga. Ternyata Bapak ada disini."
Dicko mendesah. Sembari menatap dingin Bimo. Bimo nyengir lebar sambil menggaruk tengkuknya.
"Mari Pak ... lewat sini." Ajak Bimo sembari mengambil langkah lebih dulu menuju tangga eskalator. Dicko pun mulai menyusul langkah Bimo.
.
.
Dicko tengah memperhatikan Bimo yang sedang menjelaskan tentang penjualan di outlet mereka saat ini yang mulai merosot.
Sementara para karyawati tengah memperhatikan Dicko dengan mata berbinar - binar.
"Kok bisa ya?" gumam Dicko lirih.
"Bapak tau tidak, toko yang di lantai tiga itu?" tanya Bimo.
__ADS_1
Dicko mengerutkan dahinya.
"Awalnya sih, itu cuma toko pakaian biasa. Tapi semenjak, cucu dari pemilik toko itu datang, dan merubah cara penjualan mereka, toko itu mendadak ramai. Setiap hari pelanggan berbondong - bondong datang ke toko itu. Katanya sih, mereka bisa menentukan gaya mereka sendiri. Cucu pemilik toko itu jago mendesain pakaian. Desainnya banyak diminati kalangan remaja." Terang Bimo panjang lebar.
"Oh ya?" kini Dicko meninggikan alisnya tak percaya.
"Kira - kita toko yang mana?"
"Windi Collection Pak."
Kini Dicko terdiam. Pikirannya kembali ke saat dia melihat seorang wanita di toko Oma Windi. Yang suaranya sangat mirip dengan suara orang yang sangat dikenalnya.
Sementara itu, Aruna tengah sibuk menerangkan pada Bu Titin, penjahit di toko Oma Windi, tentang detail mode yang akan di jahitnya hari itu. Tapi tiba - tiba saja, dia teringat sesuatu.
"Ya ampun ..." sambil menepuk jidatnya.
"Kenapa Run?"
"Aku lupa membeli kancing untuk desain baju yang ini."
"Kenapa tadi tidak sekalian aja di beli, pas kamu beli kain."
"Di tempat aku beli kain tadi, tidak ada kancing yang cocok. Toko langganan aku biasanya buka jam sepuluh."
"Ya sudah, sana di beli dulu kancingnya. Besok ini sudah harus selesai kan?"
"Ya udah deh. Aku tinggal dulu ya Bu Titin ..."
Kemudian mengambil tas kecilnya dan mulai melenggang pergi.
"Oma, aku pergi beli kancing sebentar ya?" ijin Aruna sebelum benar - benar melenggang pergi.
"Cepat kembali ya Run ..."
"Iya Oma ..."
Akan tetapi, sebelum Aruna pergi ke toko langganannya, Aruna menyempatkan diri naik ke lantai empat. Seperti biasa, dia akan membeli minuman dingin dulu di tempat langganannya.
Saat melewati outlet TRF, setelah membeli minuman dingin, tanpa sengaja mata Aruna menangkap sesosok pria yang tengah berdiri membelakangi. Aruna pun menghentikan langkahnya sebentar. Aruna memicingkan matanya memperhatikan sosok pria yang nampak tidak asing baginya. Dari punggungnya, terlihat sangat mirip seseorang yang dikenalnya. Aruna melangkah lebih mendekat agar bisa melihat sosok itu dengan jelas. Tapi para karyawati malah menghalangi pandangannya. Karena mereka berdiri berkerumun di belakang sosok pria itu sambil bergosip.
Akhirnya Aruna pun mengurungkan niatnya untuk melihat sosok itu dari dekat. Kini, Aruna memutar tubuhnya hendak pergi. Seiring dengan Dicko yang juga memutar tubuhnya disaat yang bersamaan. Yang semula membelakangi pintu masuk menjadi menghadap pintu masuk.
Dan disaat yang bersamaan pula, tanpa sengaja pandangan mata Dicko menangkap sesosok wanita yang mirip dengan wanita yang dilihatnya di toko Oma Windi. Wanita berambut sebahu. Dari punggung dan pakaian yang dia kenakan, Dicko masih ingat betul.
Entah kenapa, Dicko melangkahkan kakinya. Dicko ingin melihat wanita itu dari dekat. Namun pandangannya terhalangi oleh pengunjung Mall yang mulai ramai. Sosok wanita itu menghilang dibalik ramainya pengunjung Mall.
Merasa penasaran, Dicko pun memilih keluar dari outlet itu dan mulai menyapukan pandangannya. Mencari sosok wanita berambut sebahu itu.
Sampai akhirnya, tiba - tiba matanya tertumbuk pada sosok wanita yang dicarinya itu. Terlihat tengah berdiri di tangga eskalator yang membawanya turun ke lantai tiga. Dicko pun semakin memusatkan pandangannya. Dan sekilas wanita itu memalingkan wajahnya.
Detik itu juga, Dicko seakan telah berhenti bernapas.
"Aruna ..."
Spontan Dicko pun melangkahkan kakinya cepat. Hendak menyusul Aruna. Akan tetapi Aruna telah lebih dulu sampai di lantai tiga.
Dicko masih berusaha menyusulnya. Sampai di lantai tiga, tiba - tiba Aruna menghilang lagi dari pandangannya. Sampai tiba - tiba, Dicko kembali melihatnya tengah berdiri di tangga eskalator yang membawanya turun ke lantai dua. Dicko pun tidak menyerah.
Sampai di lantai dua, hal yang sama pun terjadi. Begitu seterusnya, sampai di lantai satu. Sampai akhirnya, Dicko tidak bisa menemukannya lagi. Menghilang tanpa jejak.
"Aruna ... apa aku tidak salah lihat? Akh, ya ampun. Apa aku terlalu merindukannya, sampai - sampai aku berhalusinasi." Gumam Dicko seraya memijit keningnya.
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
Hadeeeeh ... bakalan ketemu gak ya ๐๐
Saranghae readers ๐ค
Salam hangat
๐บOtor Kawe๐บ
__ADS_1