Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 Bab - 29


__ADS_3

Bram sudah berdiri di depan pintu apartemen Dicko. Dengan raut wajah yang sulit diutarakan.


Bukannya Bram tidak senang kakaknya masih hidup. Hanya saja, kenapa harus sekarang dia kembali. Disaat dia dan Aruna sudah berbahagia. Kehadirannya saat ini sungguh bukan diwaktu yang tepat.


"Bram?" sapa Dicko canggung, kemudian keluar dan menutup rapat pintu itu.


"Ada perlu apa datang kemari? Aku sedang tidak ingin menerima tamu." Ucap Dicko bersikap layaknya Rama.


Bram tersenyum kecut. Bram tahu, saat ini Dicko amnesia.


"Apa istriku datang kemari?" tanya Bram tanpa canggung.


Dicko hanya diam menatap Bram. Dalam hatinya, Dicko sangat merindukan Bram, adiknya. Andai saja keadaan bisa kembali berjalan seperti semula. Dicko rindu kebersamaan mereka.


Tanpa menunggu jawaban Dicko, Bram langsung mendorong daun pintu itu dan masuk tanpa seijin Dicko.


Betapa kagetnya Bram saat melihat Aruna tengah terbaring di ranjang, dibawah selimut yang menutupi tubuhnya. Pemandangan itu memantik api amarahnya seketika.


"Aruna ..." panggil Bram lirih seraya mengambil duduk di sisi ranjang. Di depan Aruna yang sedang tertidur.


Mendengar suara Bram, Aruna pun terbangun. Dan melihat Bram sudah berada di depannya. Menatapnya tajam dengan raut wajah penuh amarah yang tertahan.


"Bram ..." seraya bangun perlahan. Aruna mengira dengan berbaring sebentar, demamnya akan turun. Tapi nyatanya malah bertambah parah. Dan tubuhnya terasa lemah saat ini.


"Apa yang kamu lakukan ditempat ini, bersama pria lain? Cepat jawab!"


"Dia sedang sakit. Jangan terlalu keras padanya." Jawab Dicko sembari berjalan menghampiri.


"Sakit?" seraya mengerutkan dahinya. Kemudian bangkit lalu menghadap Dicko. Dan menatapnya tajam.


"Kakak ... Aku tau kamu kakakku. Kak Dicko."


Dicko tersenyum tipis. Baguslah jika Bram sudah tahu.


"Apa kamu juga sudah tau siapa dia?" tanya Bram beralih pada Aruna yang menatap lesu.


"Aku rasa kamu juga sudah tahu. Makanya kamu datang kesini karna kamu sudah tau kalau dia itu Dicko. Apa kalian juga sudah tidur bersama?"


"Jaga ucapan kamu." Sela Dicko.


Bram menarik napas panjang. Menghembuskannya perlahan kemudian. Berusaha menguasai amarah yang terasa mulai menyesakkan.


"Kalau kamu sakit, kenapa tidak memberitahuku? Aku suamimu."


"Dia kehujanan."


"Aku tidak bertanya padamu." Bram perlahan menghampiri kakaknya. Ada rasa rindu dihatinya untuk kakak tersayangnya. Tapi kehadirannya kini justru membawa luka. Pria mana yang takkan terluka, mendapati istri tercintanya berduaan di apartemen dengan pria lain. Terlebih pria itu adalah kakaknya sendiri.


Terkadang Bram merasa takdir sedang mempermainkannya. Hal yang seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Tapi bagi Bram ini lebih parah. Mengingat status Aruna masih menjadi istrinya.


Mereka bukan anak kecil lagi. Mereka sudah sama - sama dewasa. Apalagi yang bisa dilakukan oleh dua orang dewasa di kamar apartemen seperti ini kalau bukan ...


Hah! Bram tidak akan bisa membendung amarahnya lagi. Membayangkannya saja sudah membuatnya jijik.


"Selama ini, aku selalu berterima kasih pada Kakak. Karna Kakak sudah memberiku kebahagiaan. Tapi skarang, disaat aku sedang berbahagia ... Kakak malah ingin merebut kebahagiaanku.

__ADS_1


Aku sangat sedih saat aku kehilangan Kakakku. Dan skarang Kakakku kembali dalam keadaan amnesia. Tapi sayangnya, aku tidak percaya." tutur Bram panjang lebar.


"Bram, dengarkan dulu__" kalimat Dicko terpotong


"Kalian yang harus mendengarkan aku. Perbuatan kalian berdua ini benar - benar menjijikkan. Kalian berdua membuatku muak. Aku tidak menyangka, kehilangan ingatan juga menghilangkan moralmu. Sejak kapan Kakak suka meniduri istri orang."


"Jaga ucapan kamu Bram."


Bram sudah tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya. Secepat kilat dia melayangkan satu pukulan keras di wajah Dicko hingga membuat Dicko terhuyung kebelakang.


Melihat hal itu, Aruna tidak bisa diam saja. Dengan keadaan lemah, dia berusaha turun dari ranjang dan menghentikan Bram yang ingin melayangkan kembali pukulan kedua.


"Bram, cukup." Pekik Aruna sembari berusaha menahan lengan Bram. Namun yang terjadi ...


Plakkk ...


Sebuah tamparan keras melayang di pipi Aruna. Hingga meninggalkan bekas memerah. Aruna meringis kesakitan sambil memegang pipinya. Ini pertama kalinya Bram menamparnya. Namun sukses membuatnya shock.


Aruna mulai menitikkan air mata. Sementara Bram, memandangi tangannya yang sudah berani memukuli istrinya. Ada rasa menyesal, namun hatinya pun begitu sakit menerima pengkhianatan untuk yang kedua kalinya.


Dan Dicko, yang tidak bisa melihat Aruna kesakitan seperti itu. Dengan cepat menghampiri Bram dan mencengkeram kerahnya dengan kuat. Hingga membuat Bram kaget.


"Bahkan jika kamu membunuhku sekalipun aku tidak takut. Tapi kalau kamu menyakitinya seperti ini, aku tidak akan tinggal diam." Dicko kali ini mulai terpancing amarahnya.


Dan Bram cukup kaget. Satu perubahan yang cukup mengejutkan dari kakaknya. Bram sungguh tidak menyangka.


"Dulu, aku selalu mengalah untukmu. Aku selalu diam saja meski kamu memukuliku. Tapi kali ini, itu tidak akan terjadi lagi." Tambah Dicko.


"Dia istriku. Terserah aku mau berbuat apa padanya. Kakak tidak berhak ikut campur."


Bram tertegun mendengar permintaan kakaknya. Namun sedetik kemudian, Bram pun terkekeh. Sembari melepaskan cengkeraman tangan Dicko dari kerahnya.


"Tidak semudah itu aku melepasnya. Akan aku buat dia menderita." Sembari melirik Aruna.


"Jangan pernah sekalipun menyakitinya. Kalau sampai itu terjadi, jangan panggil aku kakakmu."


"Kakakku sudah mati." Kemudian mulai beranjak pergi.


"Bram ..." panggil Aruna sembari mengikutinya dari belakang.


Bram pun menghentikan langkahnya sebentar. Lalu berbalik menghadap Aruna yang menatapnya lesu. Tatapan Bram begitu tajam serasa bagai menghujam jantung. Kecewa, sakit hati, amarah, membaur jadi satu. Wanita yang begitu dicintainya terlalu tega menyakiti perasaannya tiada ampun. Begitu tega memberinya luka yang teramat dalam. Hingga mulai menumbuhkan benih - benih kebencian di hatinya.


Walau langit runtuh sekalipun, cintaku untukmu akan tetap ada.


Ucapan Bram kala itu. Tapi kini, apakah cinta itu masih ada? Atau justru telah berganti dengan kebencian.


Kakak yang dirindukannya, kini kembali. Namun kembali hanya untuk memberinya luka.


"Aku tunggu kamu di rumah. Kita harus bicara." Ucap Bram dengan penuh penekanan. Kemudian bergegas pergi. Berlalu begitu saja. Tanpa menunggu Aruna berkata apapun.


Ada rasa takut dihatinya melihat Bram seperti itu. Wajar jika Bram marah. Aruna sadar, apa yang dilakukannya kali ini benar - benar salah.


"Aku antar kamu pulang ya?" tawar Dicko saat menghampiri Aruna yang berdiri tak jauh dari pintu.


Aruna menggeleng, "aku bisa pulang sendiri."

__ADS_1


"Aku khawatir terjadi apa - apa sama kamu. Bram sangat marah."


"Aku minta maaf sudah membuat hubungan kalian jadi seperti ini."


"Tidak ada yang perlu dimaafkan." Seraya mengulum senyum lembut sambil mengelus pipi Aruna yang masih memerah akibat tamparan keras Bram.


Andai saja waktu itu Dicko tidak meninggalkan Aruna, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Tapi mungkin, dia pun harus sedikit berterima kasih. Berkat kebohongan ayahnya tentang kematiannya, Dicko akhirnya bisa mengetahui perasaan Aruna yang sebenarnya.


.


.


Cklek ...


Aruna melangkah masuk ke kamarnya perlahan. Dilihatnya Bram sedang berdiri di depan jendela. Memandang keluar sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Dengan perasaan takut Aruna menghampiri. Berdiri di belakangnya.


"Kali ini apa kesalahanku. Sampai kamu tega berbuat hal sejauh ini." Ucap Bram dengan posisi masih memunggungi Aruna.


Aruna hanya diam. Sebab tak tahu harus menjawab apa.


Bram pun berbalik setelah lima menit tidak ada tanggapan dari Aruna.


"Apa yang kamu lakukan kali ini, benar - benar membuatku sakit. Kamu sangat keterlaluan Aruna. Apa ini balasan untuk kesalahanku. Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku, dengan sepenuh hatiku. Tapi lihat, apa yang aku dapat darimu."


"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Bram, mungkin sebaiknya kita__aww ..." belum sempat Aruna menyelesaikan kalimatnya, Bram sudah lebih dulu menarik rambutnya dengan kuat. Hingga kepalanya menengadah. Aruna hanya bisa menahan sakit sambil memegangi kepalanya.


"Bram, sakit. Tolong lepaskan."


"Aku tidak akan pernah mengabulkan permintaanmu. Kamu ingin kita berpisah? Itu tidak akan pernah terjadi. Lebih baik aku membunuhmu." Sembari menarik kembali rambut Aruna hingga Aruna kembali meringis kesakitan.


"Aww ... Bram sakit. Tolong lepaskan."


Bram pun melepaskan Aruna. Namun dengan mendorongnya kuat. Hingga Aruna terhuyung dan terjatuh. Sampai dahinya membentur sisi ranjang dan terluka. Darah segar pun mulai mengalir.


Namu Bram sama sekali tidak peduli dan tidak menaruh rasa kasihan sedikitpun. Dia justru pergi meninggalkan Aruna yang terluka.


.......


.......


.......


...-Bersambung-...


Waduh ... 😱 Ini salah siapa kalau Bram tiba - tiba berubah jadi Psycho.


Ikh ... otor ngeri. Segitu drastisnya Bram berubah.


Saranghae readers ❤️


Tetap semangat yah 🤗


Salam hangat

__ADS_1


Otor Kawe


__ADS_2