Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 52 Bersama Papi


__ADS_3

Zidane kecewa karena yang menjemputnya adalah Papi dan istri barunya.


“Kenapa Papi yang menjemput? Mami mana?”


“Papi sudah minta ijin pada Mami untuk menjemput kamu. Papi ingin meluangkan waktu bersama kamu, Zidane. Papi sangat merindukan kamu.”


“Iya Zidane, Tante juga ingin dekat dengan kamu. Makanya kami berdua sengaja menjemput kamu.” Sahut Shella.


“Jadi hari ini mari kita bersenang-senang. Kamu mau kan?” tanya Arya.


“Baiklah kalau begitu,”jawab Zidane pasrah.


“Oh ya itu di kantong plastik apa?” Tanya Arya.


“Oh ini hadiah untuk teman Zidane, Pi. Tadinya Zidane ingin meminta Mami untuk menemani Zidane mngantar hadiah ini.”


“Baiklah kalau begitu biar Papi yang mengantar kamu nanti.”


“Iya Papi.” Arya dan Shella kemudian mengajak Zidane untuk segera naik ke mobil. Hari itu Arya mengajak Zidane belanja di mall. Setelah itu bermain di arena time zone dan mengajak Zidane makan siang di restoran fast food. Arya lega karena bisa mencairkan hati Zidane. Arya ingin menebus rasa bersalahnya karena telah melukai perasaan Zidane.


“Zidane, apa kamu senang?” tanya Arya.


“Zidane sangat senang Papi.”


“Zidane, sampai kapanpun Papi adalah milik kamu. Sedikitpun rasa sayang Papi pada Zidane tidak berkurang.”


“Tante juga sayang sama kamu, Zidane. Tante juga tidak akan merebut Papi kamu.”


“Tapi Tante sudah merebut Papi dari Mami.”


“Tante tidak merebutnya, Mami kamu yang sudah sayang pada Papi. Buktinya Mami kamu ingin berpisah dari Papi.”


“Oh ya, apa Tante punya benda atau mainan kesayangan?”


“Punya dong, memangnya kenapa?”


“Kalau mainan itu aku rebut, Tante marah tidak?”


“Ya jelas marahlah, Zidane. Tante akan berusaha menjaga mainan itu.”


“Tapi kalau aku diam-diam mengambilnya dan mencurinya dari Tante bagaimana? Tante akan merelakannya atau merebutnya kembali?”


“Ya, kalau seperti itu ya udahlah mending dikasih saja, kan kamu yang mengambilnya. Tante bisa membelinya lagi atau mengikhlaskannya saja.”


“Dan itulah yang Mami lakukan. Mami mengikhlaskan Papi diambil oleh Tante. Apalagi Tante dulu adalah pacar Papi kan? Karena sudah tahu siapa yang mengambil jadi Mami mengalah.” Kata Zidane dengan tatapan kesalnya. Shella tidak menyangka kalau Zidane sangat pandai berbicara.


“Zidane, jaga ucapan kamu. Kamu harus sopan pada Tante Shella ya. Papi tidak suka kamu bicara seperti itu.” Sahut Arya.


“Pasti Aruna yang mengajarinya, Mas. Seorang anak kecil seperti Zidane, mana bisa bicara seperti itu.”

__ADS_1


Arya hanya bisa menghela nafas panjang. Tidak mungkin Arya membela Shella karena itu pasti akan mmebuat Zidane semakin terluka. Apalagi suasana hati Zidane baru saja mencair. Arya merindukan saat-saat indahnya bersama Zidane.


“Zidane, kamu habiskan makanannya. Setelah ini kamu mau kemana lagi?”


“Antar Zidane ke kantor Mami.”


“Mami kan kerja, sayang. Nanti kamu hanya akan menyusahkan Mami.”


“Tidak Papi! Zidane mau ke kantor Mami.” Zidane terus memaksa.


“Oke baiklah.”


 


Sementara itu Aruna dan Daniel baru saja kembali rapat dari luar.


“Oh ya Aruna, kamu tidak menjemput Zidane?” tanya Daniel sambil keduanya berjalan menuju ruangan.


“Zidane di jemput oleh Papinya, Tuan.”


“Oh begitu.”


“Oh ya, bagaimana kondisi Tuan Hutama?”


“Aku belum menengok Papa.”


“Anda dan Tuan Hutama tidak tinggal satu rumah?”


“Baik Tuan.”


“Tega sekali sama orang tua sendiri. Aku akan menengok Tuan Hutama setelah pulang kantor.” Gumam Aruna dalam hati. Aruna lalu pergi menuju ruangannya dan segera menyelesaikan laporan hasil rapat hari ini.


 


Satu jam pun berlalu, Aruna berhasil menyelesaikan tsemua tugasnya.


“Ah, akhirnya. Aku tinggal memberikannya pada Tuan Daniel.” Gumam Aruna sembari meregangkan otot-ototonya. Aruna kemudian beranjak dari duduknya dan segera menuju keruangan Daniel yang tepat berada disebelahnya.


Tok tok tok tok! Aruna mengetuk pintu ruangan Daniel.


“Masuk!”


“Tuan, semuanya sudah selesai.”


“Wah, kerjamu cepat juga ya. Fero mana bisa melakukan secepat ini. Pantas saja Papa membuka lebar perusahaan ini untukmu.”


“Aku selalu sungguh-sungguh kalau untuk urusan pekerjaan, Tuan. Oh ya aku boleh meminta alamat rumah Tuan Hutama?”


“Untuk apa kamu memintanya?”

__ADS_1


“Aku ingin menjenguk beliau.”


“Papa masih tinggal di rumah yang dulu. Kamu tidak usah repot-repot Aruna.”


“Tidak apa-apa Tuan. Tuan Hutama sangat baik terhadap ku.”


“Baiklah kalau begitu. Kamu bisa kembali.”


“Oh ya, apa aku boleh ijin keluar sebentar?”


“Mau kemana?”


“Ke minimarket depan kantor, Tuan. Ada sesuatu yang ingin aku beli. Tuan mau sesuatu?”


“Tidak ada.”


“Baik Tuan, permisi.” Aruna kemudian pergi meninggalkan ruangan Daniel. Aruna kemudian keluar untuk pergi ke mini market untuk membeli stok susu coklat kesukaan Zidane yang sudah habis. Namun baru juga sampai di pelataran kantor, langkah Aruna di hentikan oleh suara teriakan Zidane.


“Mami!” panggil Zidan yang baru saja turun dari mobil Arya.


“Zidane,” gumam Aruna. Senyum Aruna berubah saat melihat ada Shella juga bersama dengan Arya dan Zidane. Zidane berlari kecil memeluk Maminya.


“Hai sayang, kenapa kamu kemari dan tidak langsung pulang? Apa kamu senang bersama Papi?”


“Aku merindukan Mami. Aku lebih bahagia jika ada Mami ikut bersama kami.”


“Aruna, maafkan aku. Zidane sendiri yang memaksa untuk datang kemari. Kamu mau kemana?”


“Aku mau ke mini market depan Mas, soalnya susu coklat kesukaan Zidane habis.”


“Aku sudah membelinya, Aruna.” Kata Arya.


“Mas Arya sudah memenuhi kebutuhan Zidane untuk satu bulan kedepan, Aruna. Jadi kamu tidak usah khawatir. Ini menunjukkan bahwa aku tidak merasa iri denganmu.” Sahut Shella.


“Iya Shella, terima kasih.” Jawab Aruna dengan senyum penuh paksaan.


“Oh ya Mami sudah janji akan membantuku memberikan hadiah ini jadinya aku datang kemari.”


“Iya, Mami ingat kok dengan janji Mami.”


“Zidane, sebaiknya hadiahnya kamu berikan pada Mami biar Mami saja yang memberikannya. Zidane ikut pulang dengan Papi ya.”


“Maaf ya Papi, Zidane sekarang harus menjaga Mami. Zidane tidak bisa meninggalkan Mami sendiri.” Arya merasa tertampar dengan ucapan putranya itu. Arya merasa malu dengan putranya namun tetap saja Arya tidak bisa meninggalkan Shella.


“Baiklah kalau begitu. Kamu jaga Mami baik-baik ya. Kalau ada apa-apa hubungi Papi. Papi akan menurunkan belanjaan kamu sebentar.” Tak butuh waktu lama bagi Arya mengeluarkan semua belanjaan dari dalam mobilnya. Sebelum pergi Arya memberikan pelukannya pada Zidane. Saat Arya ingin memeluk Aruna, Shella tiba-tiba menarik lengan Arya dan memeluknya.


“Ayo Mas, kepalaku mendadak pusing.” Ucap Shella.


“Hati-hati Mas dan terima kasih untuk belanjaannya yang sebanyak ini.” Ucap Aruna dengan sorot mata kecewanya.

__ADS_1


Aruna lalu membawa paperbag dan  mengajak Zidane untuk masuk. Arya hanya mengangguk dengan senyum tipisnya. Arya dan Shella kemudian segera pergi meninggalkan pelataran kantor itu.


__ADS_2