
“Apa yang terjadi pada Aruna, Gino? Apa yang membuatnya membatalkan hari pertamanya masuk kerja?” tanya Tuan Hutama.
“Tuan bisa mendengar sendiri dari kamera yang telah kami pasang dirumah Nona Aruna.” Gino lalu memberikan hasil penyadapan dirumah Aruna. Tuan Hutama menggunakan earphone untuk mendengarkan semua yang terekam dalam layar tablet milik Gino. Tuan Hutama tidak menyangka bahwa suami Aruna tega melakukan itu pada Aruna. Berkali-kali Tuan Hutama menghela nafas panjang melihat dan mendengar apa yang terjadi disana.
“Benar-benar keterlaluan!” Tuan Hutama merutuk dengan kesalnya.
“Tuan, sebelumnya maafkan saya. Apa ini tidak terlalu berlebihan jika kita mencampuri urusan orang lain? Dan sebenarnya apa hubungan anda dengan Nona Aruna? Maaf jika pertanyaan saya ini lancang.”
“Mungkin aku belum menceritakan ini padamu, Gino. Dulu Aruna adalah sekretarisku, dia adalah sekrtearis termuda yang pernah ada. Dia menjadi sekretaris saat usianya masih 18 tahun. Dulu, aku sudah berencana ingin menjodohkannya dengan Daniel. Karena aku rasa dia cocok dan bisa menjinakkan Daniel, namun sayang saat itu Daniel juga masih sekolah. Usia Aruna terpaut tiga tahun lebih tua jika dibandingkan Daniel. Dan dua tahun kemudian, tiba-tiba Aruna memberi kabar ingin menikah. Jujur saja aku sangat menyayangkan keputusannya itu karena saat itu karirnya sedang bagus-bagusnya. Tapi apa boleh buat, aku juga tidak punya hak untuk melarangnya. Sampai pada akhirnya kemarin aku bertemu dengannya dan dia sedang mencari pekerjaan. Aku merasa ada yang tidak beres saja karena melihat posisi suaminya yang menjabat sebagai wakil direktur, tentu tidak mungkin Aruna sibuk mencari pekerjaan. Dan dugaan ku benar kalau dia sedang ada dalam masalah. Lalu setelah Aruna resign, aku menemukanmu sebagai pengganti Aruna.”
“Kasihan sekali Nona Aruna. Lalu apa yang harus saya lakukan Tuan? Apakah saya harus memberi tahu Tuan muda?”
“Jangan Gino! Aku justru ingin mendekatkan keduanya. Aku ingin Aruna menjadi sekretaris Daniel. Selain untuk mendekatkan mereka, aku berharap Aruna bisa membuat Daniel berubah. Untuk sementara cukup sampai disini Gino, biarkan Aruna menyelesaikannya sendiri. Setidaknya sekarang aku tahu, kalau Aruna sedang tidak baik-baik saja.”
“Baik Tuan, kalau begitu saya permisi.”
“Tunggu sebentar, dimana Daniel?”
“Informasi yang saya dapat, setelah selesai rapat, Tuan muda pergi ke tempat karaoke bersama Fero.”
“Anak itu, kapan bisa berubah? Ya sudah kamu boleh pergi.”
“Permisi Tuan.” Gino kemudian pamit undur diri dari ruangan Tuan Hutama.
Di tempat karaoke, Daniel menyanyi dengan riangnya ditemani dengan para gadis yang bergelayut manja di tubuhnya. Fero juga ikut bersenang-senang bersama Daniel.
-
__ADS_1
“Aruna!” seru Dinda dan Gita saat mereka sampai di kamar Aruna. Mereka melihat Aruna berdiri didekat jendela, menatap kearah luar namun tatapannya kosong. Dinda dan Gita lalu memeluk Aruna dengan erat.
“Gue udah denger semuanya dari cerita Bibi. Elo harus kuat ya.” Dinda tidak bisa menahan tangisnya begitu pula dengan Gita.
“Oh ya Zidane mana?”
“Zidane udah kita jemput dan sekarang sudah sama Mbak Lasmi.” Kata Gita.
“Gita, Dinda, terima kasih untuk semua bantuan kalian.” Lagi-lagi bulir air mata itu jatuh membasahi wajah Aruna.
“Gue nggak nyangka semua akan berakhir seperti, Run. Apalagi Mas Arya bener-bener tega tinggalin elo dan milih wanita itu.” Ucap Gita.
“Shella pasti merasa senang dan menang. Elo nggak mau merebut Mas Arya lagi?” tanya Dinda.
“Apa yang mau direbut, Din? Shella juga sekarang sudah mengandung. Mas Arya juga sudah sepakat untuk bercerai. Dia bahkan lebih memilih meninggalkan rumah ini, gue dan Zidane. Ini bukan masalah menang atau kalah tapi ini masalah kehormatan dan harga diri. Gue bisa kok bertahan tanpa Mas Arya. Lagi pula besok gue juga udah kerja.” Ucap Aruna dengan bibirnya yang bergetar mencoba untuk tegar di hadapan sahabatnya. Gita dan Dinda hanya bisa memberikan pelukan pada sahabatnya yang benar-benar rapuh itu.
“Kuat ya, Run. Elo hebat! Akan ada pelangi setelah hujan.” Ucap Dinda.
“Elo tenang ya, di lihat dari permasalahannya, elo pasti akan menang kok, Run. Pengacara gue ini the best.”
“Thanks ya. Karena saat ini yang gue butuhin cuma Zidane.”
“Sama-sama Aruna.”
Malam harinya, suasana makan malam di rumah sangat sepi. Suasana tampak lengang. Aruna terbayang setiap aktivitas dan kenangan yang sudah terukir selama 8 tahun di rumah itu. Aruna hanya bisa tenggelam dalam lamunannya. Makanan yang ada dihadapannya hanya ia aduk-aduk saja.
“Mami, kenapa makanannya tidak dimakan? Apa Mami sedih karena Papi tidak pulang malam ini?” ucapan Zidane memecah lamunan Aruna.
__ADS_1
“Maafkan Mami, Zidane. Papi sepertinya tidak akan pulang karena Papi dan Mami sudah memutuskan untuk berpisah.” Aruna langsung berterus terang pada Zidane.
“Jadi Papi sudah tidak bersama Mami lagi? Tidak satu rumah dengan kita juga, Mi?”
“Iya sayang. Papi sudah punya kehidupan baru bersama Tante Shella. Apalagi Tante Shella sekarang sedang mengandung. Jadi kamu akan punya adik.”
“Aku tidak mau adik, Mami! Dia sudah merebut Papi dariku dan juga Mami. Aku juga benci Papi. Papi jahat!”
“Zidane, walau bagaimanapun dia adalah Ayah kamu, sayang. Kamu tidak boleh membencinya.”
“Kenapa aku tidak boleh membenci Papi? Sementara Papi tega meninggalkan Zidane dan Mami. Aku benci Papi! TITIK!” Zidane sangat marah dan kecewa dengan sikap Papinya. Zidane kemudian berlari meninggalkan ruang makan dan pergi menuju kamarnya.
“Maafkan Mami, Zidane. Maafkan Mami yang tidak bisa mempertahankan Papi.” Gumam Aruna dalam hati. Aruna lalu beranjak dari duduknya dan segera menyusul Zidane ke kamar.
Di dalam kamar, Zidane menangis sambil melempar sebuah bingkai kecil foto Arya. Aruna terkejut mendengar suara benda jatuh di kamar Zidane. Saat masuk ke kamar Zidane, Aruna lebih terkejut karena foto Arya sudah tergeletak di lantai bersama piguranya yang pecah dan rusak.
“Zidane benci Papi! Papi jahat!” Zidane berteriak histeris. Aruna lalu memeluk Zidane dan menenangkannya.
“Zidane tidak boleh begini sayang?”
“Mami jangan membela Papi. Papi itu jahat! Papi tidak sayang kita. Mulai sekarang, Zidane tidak punya papi lagi. Dan Mami berhenti membela Papi dan Tante jahat itu.” Zidane sangat marah dan kecewa dengan sikap Arya. Dalam benak Zidane, Arya adalah sosok Ayah yang jahat. Tidak ada lagi sosok Ayah kebanggaan dalam benak Zidane.
Sejatinya seorang Ayah adalah pelindung bagi keluarganya bukan malah menjadi perusak mental keluarga. Zidane yang biasanya lucu dan menggemaskan, kini berubah menjadi anak yang pemarah.
“Maafkan Mami, Zidane. Jangan marah lagi ya, Nak. Mami rindu Zidane yang ceria seperti biasanya.”
“Maafkan Zidane, Mi. Zidane hanya tidak ingin Mami semakin sedih. Jangan paksa Zidane untuk menerima kesalahan Papi, Mi.”
__ADS_1
“Iya sayang, Mami tidak akan melakukan itu.” Ibu dan anak itu pun saling berpelukan dan saling menguatkan batin yang sudah terluka terlalu dalam akibat keegoisan sang Ayah.
Bersambung... Yukkkk like, komen dan votenya ya yang bangak, makasih🥰