Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 72 Apa IYA?


__ADS_3

''Tuan, semuanya sudah selesai. Besok kita tinggal menuju lokasi pusat perbelanjaan. Toh mall-nya juga milik perusahaan Tuan juga. Jadi untuk ijin tentu sangat mudah. Sekarang aku mau pulang.''


''Oh ya besok usahakan berangkat lebih awal ya. Kita besok harus terjun langsung ke lokasi bazar.''


''Siap Tuan!''


''Mmmm bagaimana kalau temani aku makan malam? Anggap saja ini tugas lembur juga.''


Aruna melirik kearah jam tangannya dan sepertinya tidak terlalu malam untuk pulang. ''Baiklah tapi ku tidak mau ke tempat karaoke atau bar.''


''Iya-iya, kita ke restoran saja. Pakai mobilku saja, sekalian aku mengantarmu pulang.''


''Besok paginya bagaimana Tuan?''


''Biar supir yang mengantarnya. Kamu sudah seharian bekerja, kalau menyetir sendiri bisa kelelahan.''


''Hah? Sejak kapan Tuan menjadi perhatian denganku?'' seloroh Aruna dengan tawanya.


''Perhatian? Wah, rupanya semua kebaikanku tidak kamu ingat ya. Keterlaluan sekali.'' Kesal Daniel.


''Iya-iya aku ingat. Tuan memang selalu baik dengan wanita dan sepertinya memang sudah menjadi watak asli, Tuan.'' Ucap Aruna seraya berlalu meninggalkan ruangan Daniel.


''Hei, apa katamu tadi?'' tanya Daniel seraya mengejar Aruna.


''Aku lupa, Tuan. Aku lapar jadi aku lupa.'' Jawab Aruna dengan tawa kecilnya.


''Dasar ya, banyak sekali alasannya.'' Gerutu Daniel.


Kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju sebuah restoran. Sesampainya di restoran Daniel segera mencari tempat duduk dan memesan makanan.


''Kamu mau apa Aruna?''


''Terserah Tuan saja. Aku makan apa saja.'' Ucap Aruna. Daniel mengangguk sambil memesankan makanan untuk dirinya dan juga Aruna.


Suasana menjadi hening di antara keduanya dan menjadi canggung. Aruna sendiri tidak tahu harus membahas apa, begitu juga dengan Daniel. Biasanya Daniel begitu aktif dan pandai merayu namun kali ini ia tidak bisa berkutik di depan Aruna. Ia kembali merasakan jantungnya berdebar semakin kencang.


''Oh ya Tuan, bagaimana kabar Tuan Hutama? Apa Tuan Hutama tidak akan kembali ke kantor lagi?'' Aruna berusaha mengawali pembicaraan.


''Aku tidak tahu, Aruna. Aku belum menengok Papa.''


''Astaga! Tuan ini keterlaluan sekali. Masa iya dengan Ayah sendiri seperti itu, keterlaluan sekali.'' Kesal Aruna.


''Aku kan sibuk dan juga lelah, Aruna. Selama Pak Gino tidak meneleponku, berarti kondisi Papa baik-baik saja.''


''Memangnya anda ini keterlaluan sekali.''


''Ah sudahlah, jangan membahas Papa.''


Tak lama kemudian pesanan makanan mereka datang. Keduanya makan tanpa bersuara bahkan tidak ada obrolan.


Kebetulan sekali Dinda dan Gita juga ada direstoran yang sama. Saat hendak meninggalkan restoran, mereka kompak melihat Aruna.


''Eh-eh Din, itu kan Aruna.''


''Iya Git, itu beneran Aruna. Sama siapa ya? Masa si Mas Arya?'' kata Dinda.


''Kalau dari belakang, modelannya bukan kayak Mas Arya deh.'' Kata Gita.


''Wah, jangan-jangan dia sibuk pacaran nih. Pekerjaan dijadikan alasan saja. Setiap kita ajak ketemu, bilangnya kerja dan lembur.'' Ucap Dinda.


''Ya udah, kita samperin aja.'' Kata Gita.

__ADS_1


''ARUNA!" seru Dinda seraya melambaikan tangannya pada Aruna. Mendengar dan melihat suara sahabatnya, Aruna membalas lambaian tangan Dinda. Mereka berdua lalu mendekat ke arah Aruna.


''Wah-wah, udah punya calon bokap baru nih buat Zidane.'' Celetuk Dinda asal.


''Lho, Tuan Daniel?'' sahut Gita.


''Tu-tuan Daniel? Jadi ini Tuan tampan itu?'' kata Dinda tergagap. Karena yang baru melihat Daniel adalah Gita.


''Iya Dinda. Tuan Daniel atasanku.''


''Hehehe maaf Tuan. Aku pikir Aruna sedang mencari cinta lagi. Perkenalkan namaku Dinda. Aku adalah sahabat terbaiknya Aruna.'' Kata Dinda seraya mengulurkan tangannya pada Daniel.


''Daniel,'' singkat Daniel.


''Oh ya Tuan, sebaiknya aku pulang saja bersama Gita dan Dinda saja.''


''Oke, tidak apa-apa.'' Ucap Daniel. Disaat yang bersamaan ponsel Daniel berdering, panggilan masuk dari Tuan Hutama.


''Halo Pah, ada apa?''


''Kerumah sekarang ya. Papa mau bicara penting.''


''Baiklah, Pah. Daniel kesana.'' Panggilan berakhir.


''Ya sudah Aruna, kamu bersama teman-temanmu karena Papa menelepon dan memintaku kerumah.''


''Iya Tuan tidak apa-apa. Terima kasih untuk makan malamnya.''


''Iya sama-sama. Hati-hati ya. Aku pergi dulu.'' Pamit Daniel seraya berlalu.


''Sumpah demi apa Tuan Daniel ganteng dan keren banget.'' Kata Dinda yang terpesona dengan ketampanan Daniel.


''Huft, dia playboy kelas kakap. Jadi jangan berharap padanya.'' Ucap Aruna.


''Gita, please! Jangan aneh-aneh ya. Kita hanya sebatas atasan dan bawahan.''


''Kalau atasan dan bawahan kenapa dinner berdua?'' selidik Dinda.


''Ya, dia kan minta ditemenin makan. Dan kita tadi habis lembur. Ah, kebetulan juga nih, Dinda punya pelanggan salon yang banyak dan Gita punya pasien yang banyak, jadi elo bantu promosiin bazar ini deh. Sebentar, brosur onlinenya gue kirim ke nomor kalian.'' Ucap Aruna sembari mengotak-atik ponselnya.


''Tuh, kalian bantu promosi ya. Ada bazar furniture, jadi kalian datang dan bawa tuh pasien sama langganan kalian. Oke?'' kata Aruna dengan senyum sumringahnya.


''Okelah, ini urusan kecil. Tapi jinakkin Tuan Daniel seru juga lho, Run.'' Seloroh Dinda dengan tawanya.


''Mending kalian antar gue pulang, bosan bahas dia.''


''Bosan nanti jadi suka lho?'' goda Gita.


''Gita? Please.''


''Hehehe iya-iya.''


...****************...


''Ada apa Pah? Kenapa malam-malam begini memanggilku?'' kata Daniel begitu sampai di kamar Papanya.


''Kamu ini ya, orang tua menelepon saja protes. Sudah, duduk sana. Papa ingin membicarakan sesuatu sama kamu.''


''Apa Pah?''


''Ini tentang Aruna, Daniel.''

__ADS_1


''Aruna? Ada apa dengan Aruna, Pah?'' Daniel penasaran.


''Apa jangan-jangan Papa mau menikahi Aruna? Oh tidak, aku tidak mau punya mama lagi, '' gumam Daniel dalam hati dengan segala kesalahpahamannya.


''Makanya dengarkan Papa bicara dulu. Papa ingin kamu dan Aruna bersama.''


''Maksud Papa?'' Daniel menaikkan sebelah alisnya.


''Sebenarnya dulu saat Aruna masih bekerja dengan Papa, Papa ingin sekali menjodohkan kamu dengan Aruna. Tapi sayang sekali saat itu kamu masih sekolah dan Aruna tiba-tiba saja ingin menikah.''


Daniel benar-benar terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Papanya.


''Pah, jaman sekarang sudah bukan jamannya jodoh-jodohan. Lagi pula kenapa harus Aruna?''


''Memangnya kenapa? Kamu keberatan dengan status Aruna?''


''Ya bukan begitu juga, Pah. Tapi Daniel belum siap menikah. Usia juga baru 25 tahun.''


''Belum siap bagaimana? Papa ini keburu tua. Papa sudah ingin merasakan menggendong cucu. Kalau Mama mu masih ada pasti dia juga akan mendukung keputusan Papa. Apalagi sejak Aruna menjadi sekretarismu, kamu secara tidak langsung banyak berubah. Kamu lebih sering bekerja daripada bermain-main dengan banyak wanita di luar sana.''


''Memangnya Aruna tahu rencana Papa ini? Terus, Aruna bakalan mau gitu sama Daniel? Secara Aruna baru saja bercerai dengan mantan suaminya yang tukang selingkuh itu. Pasti butuh waktu yang lama bagi Aruna untuk menyembuhkan lukanya. Papa ini ada-ada saja.''


''Justru itu, itu tugas kamu untuk menyembuhkan luka Aruna. Dan kamu juga taubat jangan main wanita terus. Sampai kapan mau seperti itu kamu? Kamu harus mulai memikirkan dan menata masa depan. Stop bermain-main dan saatnya menjalin hubungan yang serius. Jangan main-main terus. Pikirkan itu Daniel! ''


''Ucapan Papa menambah bebanku saja. Dia kan usianya terpaut tiga tahun lebih tua dariku, Pah. Dia juga seorang janda.''


''Memangnya kenapa dengan janda? Dia itu wanita baik-baik dan terhormat. Pahala besar bagi kamu kalau kamu menikahi dan menjaganya. Apalagi dia itu tersakiti, Daniel. Tanya saja sama Pak Ustadz.''


''Hah? Pak Ustadz? Kenapa Pak ustadz diikut-ikutkan segala sih? Nggak ada hubungannya.''


''Pokoknya harus Aruna! Papa tidak akan menerima siapapun wanita yang kamu bawa selain Aruna. Siap-siap, kamu Papa miskinkan kalau tidak menurut pada Papa. Wanita yang kamu kencani tidak ada yang benar. Yang ada mereka menghabiskan banyak uang. Tagihan kartu kreditmu saja membengkak tidak karuan, membuat Papa pusing dan bikin pingsan saja. Kerjaannya habisin duit, main wanita dan melakukan hal tidak berguna. Lebih baik Papa sumbangkan semua kekayaan Papa pada seluruh panti sosial yang ada di dunia, daripada sama kamu. Setidaknya bisa menjadi bekal Papa mati nanti, daripada Papa berikan pada kamu si anak durhaka.''


''Astaga! Papa ini tega sekali bicara begitu. Daniel anak kandung Papa lho. Masa satu sen pun tidak akan Papa tinggalkan untuk Daniel?''


''Tidak akan! Kamu tahu kan Papa ini seperti apa? Punya anak satu sama sekali tidak bisa diandalkan. Pokoknya kamu harus bisa mendekati Aruna dan ambil hatinya. Papa kasihan kalau melihat dia menderita seperti itu. Apalagi Zidane, Papa sudah mulai menyayanginya.''


''Sebenarnya, Daniel akhir-akhir ini merasa ada yang aneh dengan diri Daniel, Pah.''


''Aneh bagaimana? Kamu memang aneh kan?''


''Ya-ya-ya, aku memang tidak pernah ada baik-baiknya di mata Papa. Aku akhir-akhir ini merasa ada yang aneh dengan jantungku saat berdekatan dengan Aruna.'' Cerita Daniel. Mendengar apa yang dikatakan putranya, wajah Tuan Hutama seketika berseri.


''Nah, itu sudah ada tanda-tanda Daniel. Bagus, lanjutkan!'' ucapnya seraya tertawa.


''Tanda-tanda apa sih Pah?''


''Dasar bodoh! Katanya casanova, masa iya tanda-tanda seperti itu tidak tahu.''


''Ya habis, Daniel saat bersama wanita-wanita itu tidak pernah merasa ada yang aneh. Semuanya terasa flat.''


Tuan Hutama lalu beranjak dari duduknya. Ia mencubit kedua pipi putranya dengan senyum lebarnya. ''Itu artinya, kamu mulai jatuh cinta dengan Aruna.''


''Sakit Pah!'' kesal Daniel, seraya menepis tangan Papanya.


''Jatuh cinta apanya? Pasti Daniel terlalu banyak kerja, kecapekan jadi jantung ku tidak stabil. Papa sengaja mengirim Aruna untuk memata-mataiku dan memaksaku bekerja. Sudahlah, aku mau pulang.''


''Tidak mau menginap?''


''Tidak! Yang ada aku pusing mendengar Papa ceramah.'' Ucapnya seraya berlalu meninggalkan kamar Papanya.


Tuan Hutama tersenyum kecil melihat tingkah putranya itu. ''Kamu nanti juga akan sadar, kalau sebenarnya kamu mulai jatuh cinta dengan Aruna.''

__ADS_1


''Hmmmm apa iya aku mulai jatuh cinta dengan Aruna?'' gumam Daniel dalam hati.


__ADS_2