
Di dalam kamar, Aruna dengan semua amarahnya, mengambil dan memasukkan semua pakaian Arya ke dalam koper. Aruna berencana memberikan semua pakaian Arya tanpa tertinggal satupun di almari. Tidak hanya itu, Aruna juga melepas foto pernikahan mereka yang masih tertempel di dinding. Bukan hanya di kamar saja tapi disetiap sudut ruangan, yang terdapat foto Arya, Aruna lepaskan semuanya. Sikap Arya benar-benar membuat hati Aruna tertutup. Jika kemarin Aruna masih berharap Arya bisa berubah tapi kali ini Aruna tidak ingin berharap lagi.
''Nyonya sedang apa malam-malam begini?'' tanya Bi Tuti yang melihat Aruna sibuk di ruang tengah.
''Kebetulan Bibi disini, panggil Mbak Lasmi sekalian ya, ambil semua foto yang ada Mas Arya di dalamnya.'' Perintah Aruna.
''Baik Nyonya.'' Hanya kata itu yang bisa Bi Tuti ucapkan. Karena Bi Tuti melihat mata Aruna tampak sembab dan basah seperti habis menangis. Apalagi tadi Arya juga sempat ke rumah. Dan malam itu Aruna di bantu dengan Bi Tuti dan juga Mbak Lasmi, membersihkan semua kenangannya bersama Arya. Aruna juga berencana ingin mengubah warna cat rumahnya. Semua itu ia lakukan untuk menghapus semua kenangannya bersama Arya.
Keesokan harinya, Aruna daj Zidane sedang sarapan pagi. Tiba-tiba terdengar suara bel pintu rumah Aruna.
''Biar saya saja Nyonya,'' sahut Mbak Lasmi. Mbak Lasmi lalu lari kedepan untuk membuka pintu.
''Pagi Mbak!" sapa Daniel dengan senyum termanisnya.
''Tu-tuan tampan!" Mbak Lasmi sampai tergagap karena terpesona dengan ketampanan Daniel.
''Silahkan masuk dan silahkan duduk, Tuan. Saya akan panggil Nyonya.'' Ucap Mbak Lasmi seraya berlalu menuju ruang makan.
''Nyonya, ada Tuan tampan.''
''Tuan tampan siapa Mbak?''
''Eh, itu Nyonya, Tuan Daniel.''
''Tuan Daniel? Oh mungkin dia mengantar mobil. Tolong buatkan minuman ya.''
''Iya Nyonya.''
''Zidane, Mami temui Tuan Daniel dulu ya.''
''Iya Mami.'' Jawab Zidane. Aruna lalu beranjak dari duduknya dan menuju ruang tamu.
''Tuan Daniel, pasti anda ingin mengantar mobil ya.''
''Iya Aruna. Oh ya ini kunci mobilmu.''
''Terima kasih, Tuan. Maaf kalau merepotkan.''
''Tidak apa-apa. Ini juga atas perintah Papa.''
''Oh ya bagaimana kondisi Tuan Hutama?''
''Sepertinya jauh lebih baik.''
''Tuan sudah sarapan?''
''Mmmm kebetulan belum.''
''Bagaimana kalau kita sarapan bersama?''
''Baiklah kalau kamu memaksa.'' Kata Daniel dengan gaya sok jual mahalnya. Aruna lalu mengajak Daniel menuju ruang makan.
''Nyonya ini minumnya.'' Kata Mbak Lasmi yang hendak menuju ruang tamu.
__ADS_1
''Letakkan saja di meja, Mbak. Tuan Daniel mau bergabung sarapan.''
''Iya Nyonya.'' Lasmi lalu meletakkan secangkir teh di hadapan Daniel.
''Terima kasih.''
''Sama-sama Tuan tampan.''
''Hai Zidane! Apa aku boleh bergabung sarapan bersama kamu dan Mami?''
''Tentu saja boleh. Aku kan tidak pelit.'' Celetuk Zidane.
''Wah, sepertinya kamu masih marah soal semalam ya. Aku kan sudah minta maaf.'' Kata Daniel.
''Iya, memang sudah aku maafkan tapi tetap saja masih kesal.''
''Sudah-sudah, kalian ini malah ribut. Tuan mau apa? Biar aku ambilkan.''
''Aku mau tumis sayur dan ayam goreng saja.'' Kata Daniel.
''Baiklah.'' Aruna lalu menuangkan nasi, sayur dan ayam ke dalam piring Daniel.
''Silahkan Tuan.''
''Terima kasih Aruna.''
''Bi Tuti-Mbak Lasmi, tolong masukkan semua barang yang sudah kita packing semalam ya. Masukkan semuanya ke dalam mobil.'' Perintah Aruna.
''Iya Nyonya.'' Sahut Bi Tuti.
''Iya sayang. Tidak apa-apa ya. Papi lebih membutuhkan daripada kita. Mami sekarang sudah kerja jadi nanti kita bisa membeli yang baru lagi.''
''Kenapa kita selalu saja mengalah Mi? Kita harus merelakan Papi pergi dan sekarang mobil juga.''
''Maaf Aruna, memangnya mau kamu kemanakan mobilmu? Lalu kardus-kardus itu?'' tanya Daniel yang melihat Bi Tuti dan Mbak Lasmi mengeluarkan kardus berisi semua barang milik Arya.
''Mas Arya meminta lagi mobil yang dia berikan padaku. Mobil Mas Arya dijual untuk membeli rumah baru. Jadi dia meminta kembali mobil yang dia berikan. Karena hari ini sidang putusan cerai, aku semalaman membereskan semua pakaian dan barang-barang milik Mas Arya. Sekalian saja aku bereskan supaya dia bisa membawanya dengan mobilnya sekalian.''
''Oh begitu. Ya sudah nanti aku akan mengajukan fasilitas mobil dari kantor untukmu.''
''Tidak usah Tuan. Kan ada taksi juga.''
''Sudahlah jangan menolak. Nanti aku akan mengurusnya. Setidaknya pikirkanlah Zidane. Daripada kamu naik taksi, pengeluaranmu akan semakin banyak untuk antar jemput Zidane setiap hari. Untuk biaya perawatan tetap kantor yang menanggungnya. Jadi tidak usah khawatirkan itu semua.''
''Om mau memberikan Mami mobil?'' tanya Zidane dengan mata berbinar.
''Iya. Tapi mobil dari kantor.''
''Apapun itu terima kasih ya, Om. Oh ya kalau Om kurang, Om boleh ambil semua ayam goreng itu.'' Kata Zidane sambil menyodorkan piring berisi ayam goreng pada Daniel.
''Oke baiklah, aku akan menerimanya. Aku akan membawanya sebagai bekal makan siang.''
''Tuan, terima kasih ya untuk semuanya. Untuk membalas kebaikan Tuan, aku akan menyiapkan sekalian bekal makan siang untuk Tuan. Karena hari ini aku kan cuti.''
__ADS_1
''Barter yang cukup menguntungkan,'' kata Daniel dengan senyum kecilnya. Sebenarnya Daniel semalam mendengar obrolan antara Arya dan Aruna. Dan apa yang Daniel lakukan kali ini karena kasihan pada Aruna dan Zidane.
Setelah selesai sarapan, Daniel memaksa Aruna dan Zidane untuk ikut bersamanya. Setelah mengantarkan Zidane ke sekolah, Daniel mengantarkan Aruna ke pengadilan.
''Tuan, seharusnya anda tidak usah mengantarku.''
''Sudahlah tidak apa-apa. Tapi jangan ge-er ya.''
Aruna tersenyum. ''Sedikitpun aku tidak ge-er pada perhatian anda Tuan. Karena aku tahu anda itu playboy jadi sudah pasti, anda sangat pintar merayu dan mengambil hati wanita. Jadi semua itu bagiku nothing.''
''Wah-wah, sombong sekali kamu, Aruna. Aku ini atasanmu lho. Seharusnya kamu bisa bicara dengan sopan padamu. Aku juga sudah baik padamu.'' Protes Daniel dengan kesal. Sementara Aruna hanya bisa terkekeh mendengar ucapan Daniel. Kalau soal berterima kasih, tentu saja Aruna sangat berterima kasih pada Daniel. Tapi tetap saja di mata Aruna, Daniel adalah seorang playboy yang pandai merayu.
Akhirnya setelah dua puluh menit perjalanan, Aruna sampai juga di kantor pengadilan.
''Terima kasih Tuan sudah mengantarku. Tuan hati-hati.''
''Iya sama-sama. Semoga di berikan yang terbaik.'' Kata Daniel dengan nada malas. Itu karena ia masih kesal dengan ucapan Aruna.
''Iya, terima kasih.'' Daniel kemudian melajukan mobilnya. Aruna lalu masuk ke dalam ruang sidang, setelah mobil Daniel tidak terlihat lagi.
Rupanya disana sudah ada Gita, Dinda, kedua orang tua Aruna dan juga kedua orang tua Arya. Aruna bergantian menyapa mereka semua. Mereka semua hadir untuk memberi dukungan pada Aruna.
''Aruna, maafkan Papa dan Mama yang tidak bisa mendidik Arya dengan baik. Kami merasa gagal menjadi orang tua.'' Sesal Tuan Jodi sambil menggenggam tangan Aruna.
''Pah, mungkin jodoh Aruna dengan Mas Arya hanya sampai disini.'' Ucap Aruna lirih.
''Aruna, maafkan Mama ya Nak. Bahkan sejak hari itu, Arya sama sekali tidak pulang ke rumah. Bahkan menanyakan kabar Mama dan Papa saja tidak.'' Sahut Nyonya Ratih sambil memberikan pelukan pada Aruna.
''Bagaimana dengan Zidane, Aruna? Apa dia bisa menerima semuanya?'' sambung Nyonya Ratih.
''Mah, Zidane mendadak di dewasakan oleh keadaan. Dia sudah tahu mana yang terbaik untuk Maminya.''
''Kamu tenang saja Aruna, kami akan tetap membantu biaya pendidikan Zidane semampu kami.'' Kata Tuan Jodi.
''Papa dan Mama jangan khawatirkan itu. Aruna kan sudah bekerja juga.''
''Aruna, kami berdoa supaya kamu mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Arya. Kami juga ingin kamu bahagia, Nak. Tapi dimana Arya?'' Ucap Nyonya Ratih sambil membelai wajah Aruna yang tampak kurus itu.
''Bagi Aruna saat ini yang terpenting Zidane, Mah. Soal itu, biar Tuhan saja yang mengaturnya. Mas Arya tidak akan hadir Mah, supaya proses perceraian bisa segera di putuskan.''
''Keterlaluan sekali anak itu. Tega-teganya dia bersikap seperti itu. Mama malu punya anak seperti dia.'' Marah Nyonya Ratih.
''Sudah Mah, biarkan saja. Itu sudah kesepakatan kami berdua. Hubungan ini juga sudah tidak bisa di pertahankan lagi. Apalagi keputusan bulat Mas Arya yang tidak mau meninggalkan Shella.''
''Memang pengecut sekali, Arya. Papa tidak sudi punya anak seperti dia.'' Sahut Tuan Jodi.
''Aruna, Mama tahu kamu adalah wanita kuat. Kamu harus semangat dan bangkit demi Zidane ya. Anggap saja ini bagian dari proses pendewasaan kamu. Dan memang ini takdir yang harus kamu lalui.'' Sahut Nyonya Galuh, Mama Aruna.
''Iya Mah, Aruna mengerti semua itu.''
''Sabar ya Nak. Papa yakin kamu bisa melewati ini semua.'' Sahut Tuan Wira.
''Iya Pah.'' Nyonya Galuh dan Tuan Wira lalu memeluk putri semata wayang mereka. Sesungguhnya Nyonya Ratih dan Tuan Jodi sangat malu menampakkan batang hidungnya di hadapan orang tua Aruna. Apalagi yang membuat masalah adalah putra mereka. Namun demi memberikan dukungan pada Aruna dan untuk Zidane, mereka memberanikan diri untuk hadir. Sementara Aruna tetap berusaha tegar di hadapan kedua orang tuanya. Aruna tidak ingin sedikitpun menitikkan air mata dihadapan mereka semua. Cukup ia simpan sendiri air mata itu.
__ADS_1
...Bersambung.......