Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 62 Ide Cemerlang


__ADS_3

Sesampainya di kantor, Aruna langsung mengerjakan tugasnya tanpa peduli jika Daniel baru saja tiba di ruangannya. Aruna bahkan tidak menyapa Daniel yang melintasi ruangannya.


''Apa aku sungguh mencium bibirnya? Tapi kenapa aku belum ingat semuanya ya?'' gumamnya dalam hati.


''Aruna, tolong buatkan kopi untukku.'' Perintah Daniel yang berusaha mencairkan suasana yang menegang itu.


''Baik Tuan.'' Jawab Aruna. Tanpa basa-basi Aruna dengan sikap dinginnya pergi menuju pantry membuatkan kopi untuk Daniel. Tak lama kemudian, Aruna kembali.


''Ini Tuan.'' Ucap Aruna seraya meletakkan kopi di hadapan Daniel.


''Terima kasih.Oh ya jadwal hari ini apa saja?''


''Satu jam lagi, anda harus menemui Mr. Jhon bermain golf sekaligus melanjutkan kontrak kerja sama untuk tahun ini di lanjut dengan makan siang bersama. Setelah makan siang, anda ada kunjungan ke pabrik produksi furniture perusahaan. Karena ada beberapa kendala yang harus anda selesaikan, salah satunya kerusakan mesin yang memperlambat proses produksi. Di tambah kualitas bahan yang kurang bagus menurut komentar konsumen akhir-akhir ini. Banyak komplain masuk karena kualitas bahan tidak sebagus yang dulu. Itu saja Tuan.'' Jelas Aruna dengan tegas dan tetap dengan sikap dinginnya.


''Oke. Segera siapkan semuanya.''


''Baik Tuan.''


''Huft, ibu-ibu kalau marah memang begitu ya? Aku sudah minta maaf tapi dia masih saja mengabaikan aku.'' Gumam Daniel dalam hati.


Begitu sampai di tempat golf, Daniel segera beranti pakaia begitu juga dengan Aruna. Saat melihat Aruna memakai pakain golf, Daniel terpesona untuk sesaat. Mengakui bahwa bentuk tubuh Aruna begitu sempurna, sekalipun Aruna sudah mempunyai anak.


''Hallo Mr Daniel? How are you?'' sapa Mr Jhon sambil menjabat tangan Daniel.


''Iam fine, Sir. Bagaimana dengan anda?''


''Aku juga baik. Bagaimana kabar Tuan Hutama? Sepertinya sekarang anda yang mengurus semuanya.''


''Ya begitulah, Papa sedang kurang sehat akhir-akhir ini.'' Kata Daniel. Pandangan Tuan Jhon lalu tertuju pada Aruna.


''Hai Nona. Anda sangat cantik. Siapa nama anda Nona?.'' Mr Jhon mengulurkan tangannya pada Aruna. Aruna dengan senyum ramahnya menerima uluran tangan Mr Jhon.


''Terima kasih Tuan. Saya Aruna. Senang sekali bertemu dengan anda.''


''Aku juga senang bertemu denganmu. Apa kamu sekretaris baru Tuan Daniel?''


''Iya Tuan. Baiklah, kalau begitu temani aku bermain golf.''


''Dengan senang hati, Tuan.'' Aruna kemudian pergi bersama Tuan Jhon. Daniel merasa diabaikan oleh Tuan Jhon, itulah kenapa Daniel lebih senang sekretarisnya itu seorang pria karena Daniel sudah tahu, orang-orang seperti mereka sangat menyukai wanita, meskipun Daniel sendiri begitu.


Saat sampai di lapangan golf, Mr Jhon mengajak Aruna bertanding. Daniel tidak menyangka Aruna sangat hebat bermain golf.


''Wah, anda hebat sekali Nona Aruna. Pukulan anda jauh sekali.''

__ADS_1


''Anda juga sangat hebat Tuan. Usia anda tidka menghalangi semangat anda.''


''Oh tentu saja, itu harus Nona.'' Kata Mr Jhon. Daniel merasa risih melihat cara menatap Aruna dari ujung kepala sampai ujung kaki.


''Bagaimana kalau kita bertanding Tuan?'' sahut Daniel.


''Tentu saja Tuan Daniel. Aku ingin melihat kemampuan tuan muda Daniel. Apakah akan bisa sehebat Tuan Hutama?'' ucapnya dengan tawa mengejek. Ya, begitula reaksi rekan-rekan bisnis Tuan Hutama yang selalu meremehkan Daniel. Karena mereka tahu kalau Daniel itu tidak becus mengurus perusahaan. Aruna merasa kasihan juga pada Daniel karena berkali-kali ia melihat Daniel direndahkan. Aruna lalu mberikan stik golfnya pada Daniel.


''Ini Tuan! Semoga berhasil.''


''Sebaiknya saat bermain golf, kamu memakai celana saja.'' Bisik Daniel.


''I-iya.'' Aruna bingung kenapa Daniel seperti itu.


''Apa rok ini kependekan? Aku lupa tidak membawa leging,'' gumamnya dalam hati. Padahal sebenarnya Aruna sendiri merasa tidak nyaman karena rok itu pendek sekali. Namun ia berusaha tetap tenang menghadapi klien.


Akhirnya Daniel bisa mengalahkan Mr Jhon.


''Apa aku jauh lebih hebat dari Papaku, Mr?'' tanya Daniel dengan senyum simpulnya.


''Ya, ya, ya, sepertinya tuan muda yang sekarang lebih bisa diandalkan.'' Kata Mr Jhon.


Setelah makan siang dengan Mr Jhon, Daniel menuju pabrik pembuatan furniturenya. Ia langyng mengecek semua bahan yang ternyata kualitasnya tidak sebagus biasanya. Tak lupa Aruna mencatat dan memotret semua bahan-bahan itu.


''Maaf Tuan, sepertinya kayu-kayu ini di oplos.'' Sahut Aruna.


''Lihat saja Tuan, kayu yang ini bagus, sedangkan yang ini tidak. Sepertinya kayunya memang berbeda. Yang ini sepertinya mudah lapuk.''


''Iya juga ya, benar katamu. Pantas saja omset beberapa bulan ini turun. Mana hampir 50% bahan sudah di olah menjadi meja, rak dan kursi. Aku merasa ditipu. Mereka seharusnya bisa jujur.'' Kata Daniel. Daniel lalu mengumpulkan para mandor dan tukangnya.


''Kenapa kalian tidak bicara dari awal dan diam saja? Mesin ada kendala kenapa tidak bicara? Hah? Pantas saja penjualan beberapa bulan turun drastis. Apa saja yang kalian lakukan? Kalau memang bahannya beda, kenapa terus kalian kerjakan? Ini bisa menjatuhkan kulitas produk kita.'' Marah Daniel sambil berkacak pinggang.


''Maaf Tuan tapi sudah lama kami mengadu pada manager produksi tentang semua dan kata manger, kita di perintahkan untuk tetap membuat dan memasarkannya.'' Jawab salah satu pegawai disana dengan tergagap.


''Bahkan kami pikir, Tuan Hutama sudah mengetahui ini.'' Sambungnya lagi.


Daniel mendengus kesal. ''Bisa-bisanya mereka melakukan ini dan mengambil untung sendiri. Bahkan menggunakan nama Papa.'' Gumam Daniel dalam hati.


''Dan banyak toko-toko yang mengembalikan barang-barang kita Tuan. Di gudang banyak sekali sampai overload. Kami juga bingung harus bagaimana.'' Ucap si mandor.


''Sebaiknya hentikan dulu produksinya. Sampai aku mendapatakn barang yang bagus.'' Ucap Daniel.


''Kalau berhenti, lalu kami kerja apa Tuan?'' ucap pegawai yang lain.

__ADS_1


Daniel terdiam, pikirannya buntu sesaat. Aruna juga merasa kasihan pada para pegawai itu.


''Tuan, sebaiknya kita melihat ke gudang dulu saja.'' Usul Aruna.


''Baiklah.'' Daniel dengan mudah menerima usul Aruna. Daniel, Aruna dan juga para pegawai melihat gudang. Dan benar saja barang-barang mereka menumpuk. Mulai dari kursi, meja makan, meja ruang tamu, rak rias, almari bahkan sampai buffet pun menumpuk.


''Mereka tidak mau menerima harga dari kita dan mereka menganggap kita ini curang.'' Ucap si mandor.


''Bagaimna bisa kita curang? Sedangkan kita membeli bahan harganya sama tapi kualitasnya bahan bakunya tidak sama. Justru kita yang di rugikan.'' Kesal Daniel. Aruna lalu melihat dan memperhatikan beberapa produksi itu. Menurut Aruna itu tidak masalah, perbedannya hanya diberat kayunya saja. Apalagi untuk kayu jati asli, sudah pasti beratnya pun berbeda.


''Tuan, sepertinya ini tidak terlalu buruk.'' Sahut Aruna.


''Tidak terlalu buruk bagaimana maksudmu Aruna?''


''Ya, kita bisa menjualnya dengan harga lebih rendah.''


''Lebih rendah? Tentu saja kita akan merugi. Apalagi bahannya campuran. Memang akar permasalahan ini ada pada manajer produksi dan pemasaran. Awas saja mereka.'' Kata Daniel.


''Sepertinya untuk saat ini, bukan waktunya mencari kesalahan, Tuan. Sebaiknya kita harus memutar otak supaya produk kita segera terjual.''


''Lalu bagaimana caranya? Mereka saja mengembalikan dan menuduh kita curang.''


''Dari pengecatan dan desainnya, ini sangat bagus. Hanya bahannya saja kan yang tidak seperti biasanya. Kenapa kita tidak membuka bazar furniture saja Tuan? Kita buka bazar dengan harga yang lebih murah. Menurutku ini sangat bagus, hasil pekerjaan mereka bagus semua, Tuan. Pewarnaan catnya juga sangat halus, desainnya pun bagus. Modelnya juga bervariasi, ada yang modern, klasik bahkan yang unik dan estetik juga ada. Klien anda hanya melihat dari satu sisi saja tanpa melihat sisi yang lain. Kita buka bazar dan kita tuliskan juga deskripsi bahan produk kita. Kita katakan saja ini produk terbaru sky furniture. Produk mix dengan harga yang lebih terjangkau. Apalagi dengan nama besar perusahaan, tentu saja mereka akan tertarik apalagi kita menjualnya dengan harga murah. Terutama untuk kaum ibu-ibu yang suka dengan harga miring. Apalagi untuk pasangan muda yang baru memiliki rumah, pasti mereka butuh semua ini untuk mengisi rumah baru mereka. Bisa disebut ini low budget. Jadi para pembeli pun bisa memutuskan pilihannya dengan kita jelaskan deskripsinya. Toh kita juga masih dapat untung. Daripada kita harus menghentikan produksi, stok menumpuk, barang juga akan pasti rusak dan itu akan membuat kerugian kita akan semakin besar. Bagaimana Tuan? Itu solusi dari saya Tuan.'' Jelas Aruna panjang lebar.


''Sepertinya itu ide yang bagus, Nona. Apalagi saya juga sudah lama bekerja disini. Saya juga bingung, kalau berhenti harus cari kerja dimana.'' Usul si mandor. Daniel terdiam, ide Aruna memang sangat brilian.


''Baiklah, aku setuju dengan usulmu Aruna. Untuk mesin yang rusak, aku sudah mengubungi teknisi. Dan kalian, cek semua stok barang kita disini, jika ada yang kurang, kalian bisa mengecat ulang.'' Ucap Daniel.


''Baik Tuan.'' Jawab mereka semua dengan kompak. Mereka sangat lega karena mereka tidak jadi menganggur.


Setelah meninjau pabrik, mereka pun kembali ke kantor.


''Terima kasih untuk ide brilianmu itu Aruna.''


''Sama-sama Tuan.''


''Kalau begitu sesampainya di kantoe, segera siapkan acara untuk bazar itu. Kamu bisa meminta Fero untuk membantumu. Setidaknya, kerugian kita bisa tertutup.''


''Baik Tuan. Saya akan segera mengerjakannya.''


''Dan aku akan mengurus dua perusuh di perusahaanku. Dan soal semalam, aku minta maaf. Aku tidak sengaja melakukannya, apalagi aku sedang mabuk. Maklum, terlalu banyak wanita yang aku kencani. Mungkin aku pikir, kamu salah satu di antara mereka. Jadi aku harap kamu tidak marah lagi padaku.''


"Pantas saja Papa meminta Aruna kembali ke perusahaan, dia memang sangat hebat dan idenya sangat cemerlang." Gumam Daniel dalam hati.

__ADS_1


Menanggapi ucapan Daniel, Aruna hanya mengangguk dengan senyum tipisnya.


Bersambung...


__ADS_2