Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
BAB 29 Siuman


__ADS_3

Setelah pemakaman selesai, Arya kembali ke rumah sakit. Arya meminta kedua orang tuanya untuk menggelar doa bersama di rumah. Untuk mendoakan Zio dan juga mendoakan untuk kesembuhan Aruna. Malam itu Arya menginap di rumah sakit untuk menemani Aruna yang masih terbaring di atas ranjang pesakitan. Ia menggenggam erat tangan istrinya sambil sesekali mengecupnya. Namun suara dering ponselnya, mengalihkan perhatian Arya. Apalagi ada nama Shella di layar ponselnya.


''Iya Shel, ada apa?'' kata Arya dengan suara lemasnya.


''Mas, aku turut berduka cita atas meninggalnya putramu. Lalu bagaimana keadaan Aruna?'' tanya Shella di seberang sana.


''Iya terima kasih. Aruna masih belum sadar pasca operasi. Apalagi ada gegar otak. Aku harap kita jangan bertemu dulu ya, setidaknya sampai Aruna sadar. Semua ini salahku.''


''Mas, jangan salahkan dirimu. Semua ini musibah dan tidak ada yang tahu. Kata kamu dan menurut keterangan polisi, itu murni kelalaian Aruna sendirikan? Jadi ya itu salah Aruna juga.''


''Tapi seharusnya kamu tadi tidak mencegahku untuk menyusul Aruna.''


''Oh jadi kamu sekarang nyalahin aku ya, Mas. Kamu mau limpahin semua kesalahan ini sama aku? Aku sudah sabar dan mau mengalah dengan membiarkan kamu mengurus Aruna. Seharusnya kamu hargai dong perasaan aku, Mas.''


''Sudah-sudah, aku tidak mau kita berdebat. Yang jelas untuk sementara waktu aku akan bersama Aruna dulu ya.''


''Mas tapi aku kan istri kamu juga. Kamu harusnya bisa adil, Mas. Ya setidaknya kamu jengukin aku walaupun sebentar.'' Protes Shella dengan nada kesal.


''Iya-iya nanti aku usahakan. Kamu juga tolong mengerti ya karena aku sendiri sedang berduka. Aku mohon, Shella.''


''Oke Mas kalau begitu. Kamu jangan lupa istirahat dan makan yang teratur ya. Aku akan menunggu kamu pulang.''


''Iya sayang. Sekali lagi maafkan aku ya.''


''Iya Mas. I love you.''


''I love you too, sayang.'' Panggilan pun berakhir.


Lima hari sudah Aruna terbaring tak sadarkan diri di ranjang pesakitan. Selama empat hari itu pula, setiap selesai jam makan siang, Arya selalu menyempatkan pergi ke apartemen Shella. Disaat keadaan seperti itupun, Arya masih bisa untuk membagi waktunya bersama Shella. Selama lima hari itu pula, Zidane melihat sendiri Papinya selalu pamit untuk pergi dengan alasan ke kantor. Dan selalu kembali saat jam 5 sore. Jadi Arya mengajak Zidane untuk bergantian menjaga Aruna. Tentu saja Zidane di temani oleh Oma-Opa nya secara bergantian, Mbak Lasmi pun selalu bersama Zidane.


Namun kali ini, tepat di hari ke lima Aruna di rawat, Zidane pergi kerumah sakit di temani oleh Gita dan Dinda.


''Papi, mau pergi lagi?'' tanya Zidane begitu ia sampai di ruangan Aruna.

__ADS_1


''Iya sayang. Seperti biasa Papi ngantor sebentar. Papi juga pulang tepat waktu kok.'' Kata Arya.


''Memangnya tidak bisa cuti ya, Mas? Harus ke kantor gitu?'' tanya Dinda.


''Iya lah, Din. Setidaknya aku harus menunjukkan tanggung jawabku sebagai wakil direktur. Titip Aruna ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku.'' Jelas Arya.


''Oke.'' Singkat Dinda dengan raut wajah malas.


''Zidane, tolong jaga Mami ya. Papa pergi dulu.''


''Iya Papi, hati-hati ya.''


''Iya sayang.'' Arya lalu memeluk Zidane dan mengecup pucuk kepala putranya itu. Setelah itu Arya berlalu begitu saja.


''Sumpah keterlaluan banget Mas Arya. Udah tahu istri kayak gini masih bisa gitu di tinggalin buat menemui madunya. Di pikir kita nggak tahu apa? Aku sudah bisa membaca gelagat Mas Arya. Kasihan Aruna, psikisnya pasti sangat terguncang.'' Gumam Gita dalam hati.


Zidane kemudian mendekat ke arah Aruna. Tangan kecil itu menggenggam erat tangan sosok wanita yang begitu ia cintai.


''Mami, bangun. Zidane masih butuh Mami. Zidane sayang banget sama Mami. Ayolah Mami bangun. Zidane kangen Mami. Zidane kangen bercanda dengan Mami, kangen masakan Mami, kangen di peluk Mami dan kangen semua tentang Mami. Mami, bangunlah.'' Ucap Zidane, seorang bocah yang mendadak di dewasakan oleh sebuah keadaan.


''Tapi Tante, kenapa Mami tidurnya lama sekali? Aku kangen Mami, Tante.'' Ucap Zidane sambil menahan tangisnya. Tangan kecil Zidane membelai lembut wajah Aruna. Hati Dinda dan Gita ikut teriris melihat nasib Aruna dan Zidane. Ingin rasanya mereka berdua mengumpat dan memaki Arya sampai puas. Namun saat ini mereka hanya bisa diam dan pura-pura tidak tahu.


''Mami.'' Hiks... hiks... hiks. Zidane sesenggukan sembari memeluk erat Aruna. Dan perlahan jemari Aruna bergerak, setelah itu dengan perlahan Aruna membuka matanya.


''Zidane,'' ucap Aruna lirih. Zidane seketika melepas pelukannya. Dinda dan Gita terkejut mendengar suara Aruna.


''Mami! Mami sudah bangun?'' Zidane kembali memeluk Aruna dengan sangat.


''Aruna, syukurlah elo udah sadar.'' Kata Dinda yang juga tidak bisa menahan air matanya.


''Alhamdulillah Aruna, akhirnya elo sadar juga. Aruna, kita sayang banget sama elo.'' Ucap Gita. Dinda dan Gita bersama Zidane kompak memberikan pelukan erat untuk Aruna. Setelah mendapat pelukan itu, Aruna menyentuh perutnya.


''Zidane, perut mami?'' kata Aruna dengan segala kepanikannya.

__ADS_1


''Din, gue panggil dokter dulu dan kabari Mas Arya dulu ya.'' Bisik Gita.


''Iya Git.''


''Dinda, perut gue? Anak gue mana? Zio mana?'' kata Aruna dengan histeris.


''Aruna, elo tenang ya.'' Dinda segera mendekat memeluk, menenangkan Aruna.


''Aruna, elo harus kuat, tenang dan sabar.''


''Din, mana Zio? Dia selamat kan?'' tangis Aruna.


''Mami, Zio sudah bersama Tuhan.'' Kata Zidane dengan lirih. Mendengar ucapan Zidane, Aruna menangis histeris sejadinya.


''Tidak mungkin!'' teriak Aruja memekik memenuhi ruangan. Arya yang masih dalam perjalanan, segera putar balik dan kembali ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari Gita.


''Mami, jangan sedih Mami. Ada Zidane disini.'' Zidane pun menangis melihat reaksi histeris Aruna.


''Tuhan, kenapa kau ambil anakku? Dia tidak berdosa. Seharusnya aku saja yang mati.'' Ucap Aruna memekik. Dinda sekuat tenaga memeluk Aruna supaya Aruna tidak menyakiti dirinya. Tak lama kemudian dokter pun datang. Melihat dokter, Aruna mencengkeram erat tangan dokter.


''Dokter, dimana anak saya? Anak saya selamat kan dokter?''


''Maafkan saya Nyonya, kami sudah berusaha untuk menyelematkannta tapi kecelakaan yang menimpa anda, sangat berpengaruh dengan kondisi anak anda. Jadi kami harus menyelamatkan salah satunya.'' Jelas Dokter.


''Seharusnya dokter membiarkan kami berdua mati saja. Kenapa harus Zio yang menjadi korban? Kenapa harus Zio? Maafkan Mami, Zio. Maafkan Mami yang tidak bisa menjaga kamu. Semua ini karena Mami.''


''Aruna, jangan bicara seperti itu. Lihatlah Zidane, dia masih membutuhkan kamu.'' Sahut Gita yang tengah mendekap erat Zidane. Aruna lalu mengarahkan pandangannya pada Zidane.


''Zidane, kemari sayang.'' Ucap Aruna lirih. Zidane mendekat, Aruna lalu memeluknya.


''Maafkan Mami, sayang. Maafkan Mami tidak bisa menjaga adik. Semua ini karena Mami.''


''Tidak Mami. Mami tidak salah. Tuhan lebih sayang adik, Mami.'' Suasana ruangan pun menjadi haru, ketika Ibu dan anak itu saling berpelukan dan saling menguatkan. Dari balik celah pintu, Daniel diam-diam melijat itu semua. Tadinya Daniel berniat untuk menjenguk dan melihat keadaan Aruna. Namun apa yang ia lihat sekarang sudah cukup menjelaskan semuanya. Bukan saat yang tepat baginya untuk muncul. Daniel lalu meletakkan buket bunga di kursi deret yang berada di samping ruangan tersebut. Setelah itu Daniel pergi. Setidaknya ia merasa lega karena Aruna telah sadar, meskipun Aruna harus kehilangan buah hatinya.

__ADS_1


Bersambung... Yukkkk dukung author terus ya,makasih 🙏❤️


__ADS_2