
"Ya ampun Non ... kenapa dahinya bisa luka begitu Non." Cemas Bi Surti melihat dahi Aruna yang terluka dan berdarah. Saat Aruna ke dapur untuk meminta kotak obat pada Bi Surti.
"Jatuh di kamar mandi Bi." Kilah Aruna.
"Kalau Den Bram tau, bisa marah Den Bram nanti."
"Tidak apa - apa Bi. Oh ya, kotak obatnya dimana Bi?"
"Biar Bibi ambilkan. Non tunggu disini. Nanti biar Bibi juga yang obati. Tunggu sebentar ya Non." Kemudian Bi Surti bergegas mengambilkan kotak obat.
Tak berapa lama, wanita paruh baya itu kembali dengan kotak obat di tangannya.
Aruna menarik satu kursi untuk dia duduk. Dan Bi Surti mulai mengobati luka di dahi Aruna yang cukup besar.
Apa yang Bram lakukan padanya sudah cukup membuatnya shock. Ini pertama kalinya. Sangat wajar jika Bram marah. Apa yang dilakukannya sudah diluar batas. Tapi Aruna pun tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia sangat mencintai Dicko. Kalau saja dulu dia menyadarinya lebih awal, mungkin saat ini dia sudah bersama dengan Dicko. Tapi semuanya sudah terlambat. Tiada guna lagi Aruna menyesalinya.
"Aww ... pelan - pelan Bi. Sakit." Ringis Aruna kesakitan.
"Badan Non kok panas begini. Non sakit ya? Pantas saja Non bisa jatuh di kamar mandi. Non sudah minum obat?" tanya Bi Surti sambil mengobati luka Aruna.
"Sudah Bi."
"Kamu kenapa Aruna?" tanya Papa Danu saat melihat Aruna tengah di obati oleh Bi Surti.
"Ini Tuan ... Non jatuh di kamar mandi. Mana badan Non panas begini lagi." Malah Bi Surti yang menyahuti.
"Kamu sakit? Kita ke dokter ya? Bram sudah tau kamu sakit?"
"Tidak apa - apa Pa. Istrahat sebentar juga pasti sembuh."
"Benar kamu tidak apa - apa?"
"Iya Pa. Tidak apa - apa."
"Ya sudah. Kalau ada apa - apa, cepat kasih tau Papa."
"Iya Pa." Kemudian berlalu pergi ke kamarnya.
.
.
Satu hal yang kembali terulang dalam diri Bram.
Alkohol.
Ya. Bram saat ini sedang berada di sebuah Bar. Sementara malam semakin larut. Masalah yang menimpanya kali ini cukup pelik. Dan cukup menghilangkan akal sehatnya.
Entah sudah berapa banyak minuman keras yang ditenggaknya. Sampai - sampai dia terlihat mabuk berat. Bahkan untuk berdiri dengan benar saja dia tidak bisa. Dan malah memberanikan diri mau menyetir sendiri dalam keadaan mabuk.
Untungnya, malam itu Andre, asisten Dicko datang ke Bar yang sama. Dan tanpa sengaja melihat Bram dalam keadaan mabuk berat dan hendak mengemudikan mobilnya. Maka Andre pun bergegas menghampirinya dan menawarkan diri mengantarkannya pulang.
"Pak Bram, biar saya antar pulang. Bahaya kalau Pak Bram menyetir sendiri dalam keadaan mabuk seperti ini." Tawar Andre.
"Heh, aku bisa pulang sendiri. Kamu urus saja si Dicko. Dia pikir, dengan berpura - pura jadi Rama aku tidak akan mengenalinya." Racau Bram. Dan membuat Andre terkejut.
__ADS_1
"Hah? Jadi Pak Dicko masih hidup? Dan Rama itu adalah Pak Dicko? Wah, pantas saja, setiap kali melihat Bu Aruna ekspresinya selalu berbeda."
"Dasar sialan ... Aku tidak akan pernah memaafkannya." Bram masih meracau. Hingga Andre pun tetap memaksakan diri mengantarnya pulang.
Sesampainya di rumah, Bram langsung pergi ke kamarnya dengan berjalan sempoyongan.
Cklek ...
Saat pintu kamar terbuka. Dilihatnya Aruna terbaring dengan plester luka di kepalanya. Di nakas ada baskom yang berisi air dan handuk kecil bekas kompresan.
Bram pun perlahan menghampirinya dan duduk di tepi ranjang. Memandangi Aruna yang telah tertidur lelap. Tanpa disadarinya, air mata itu pun mulai menetes dari sudut matanya. Sambil terus menatap wajah Aruna. Yang terluka akibat ulahnya.
Perih. Hati Bram terasa perih.
Tapi sepertinya, Aruna mulai terbangun. Bau menyengat alkohol yang menguap di udara terasa menusuk dalam indera penciumannya.
Kelopak matanya mulai membuka perlahan. Menatap nanar Bram yang duduk di hadapannya. Sambil menatapnya dengan tetesan air mata. Namun buru - buru Bram menghapus air matanya begitu melihat Aruna terbangun.
"Bram ..." panggil Aruna lirih seraya bangun duduk. Setelah di kompres dan minum obat, Aruna sudah merasa sedikit membaik. Demamnya juga sudah mulai turun.
Bram langsung bangkit berdiri tak menghiraukan Aruna yang menatapnya dengan penyesalan.
Setelah mengganti pakaiannya, Bram lalu mengambil satu bantal kepala dan bergegas keluar kamar dengan sedikit sempoyongan.
Di sofa ruang tengah itu Bram membaringkan tubuhnya kini. Dalam hitungan detik saja dia sudah tertidur lelap.
Sementara Aruna hanya bisa memandanginya dari seberang dengan perasaan sedih. Dan rasa bersalah. Bram mungkin sudah membencinya saat ini.
.
Keesokan paginya, Bram pun terbangun. Dengan keadaan yang kacau dan kepala begitu pening akibat minuman keras semalam.
Semalam Papa Danu tidak mengetahui Bram pulang dalam keadaan mabuk. Dan pagi ini dia begitu terkejut mendapati Bram tertidur di sofa ruang tengah. Melihat keadaan Bram yang seperti ini, Papa Danu hanya bisa menebak - nebak sendiri. Kalau bukan masalah kantor, kemungkinan besar, Bram sedang ada masalah dengan rumah tangganya. Karena Bram sudah tahu kakaknya masih hidup.
"Bram ..."
Bram tidak mengindahkan sapaan ayahnya. Dia berdiri dan bergegas ke kamarnya.
Di ruang makan, Bi Surti dan Aruna tengah menyiapkan sarapan. Papa Danu langsung mengambil duduk di meja makan itu dan menunggu sampai Bram selesai mandi dan berganti pakaian.
Beberapa menit kemudian, Bram pun datang dengan pakaian rapi. Namun begitu melihat Aruna yang sedang menyiapkan sarapannya, mendadak Bram menjadi tak begitu berselera. Tanpa menyentuh sarapannya sedikitpun, Bram pergi meninggalkan meja makan begitu saja. Bahkan tanpa memandang Aruna sedikitpun. Sejurus kemudian terdengar suara decitan ban mobil yang melaju kencang meninggalkan halaman rumah.
Papa Danu jadi mengerti, meski hanya dengan melihat sikap Bram terhadap Aruna.
Jika tidak ada Papa Danu di meja makan itu, mungkin air mata Aruna sudah jatuh berderai. Namun masih bisa dihalaunya. Meski hatinya kini terasa perih. Bram mulai menjauhinya. Salahnya jika Bram sudah seperti ini.
"Aruna ... Papa ingin bicara sebentar. Ikut Papa ke taman belakang." Pinta Papa Danu kemudian berjalan ke taman belakang dengan Aruna mengekor di belakangnya.
"Papa lihat, sepertinya diantara kalian sedang ada masalah. Boleh Papa tahu ada apa? Tidak biasanya Bram seperti ini. Semalam dia tidur di sofa. Papa tidak ingin melihat kalian seperti ini Aruna. Papa ingin melihat kalian hidup bahagia." Ucap Papa Danu begitu sampai di taman belakang.
Aruna menundukkan wajahnya. Harus menjawab apa atas kesalahannya ini. Bram seperti ini karena ulahnya yang tidak berpikir panjang. Dan terbawa ego menuruti kata hati.
"Bram sudah tau kalau Rama adalah Dicko."
"Soal itu Papa sudah tau. Dicko kehilangan ingatannya. Kamu juga pasti kaget kan?"
__ADS_1
"Ingatannya sudah kembali."
"Apa?" Papa Danu terkejut. Dan lebih terkejut lagi saat tiba - tiba terdengar sebuah sapaan lembut.
"Pagi Pa ..."
Serentak Papa Danu dan Aruna menoleh ke arah sumber suara.
Tampak Dicko tengah melangkah menghampiri. Dengan senyum merekah menghiasi wajahnya. Namun senyuman itu memudar seketika saat pandangan matanya tertuju pada Aruna. Dan berganti dengan wajah cemas. Matanya menatap lekat wajah Aruna yang terluka di dahinya. Inilah alasan Dicko datang sepagi ini. Dia begitu mencemaskan keadaan Aruna.
Papa Danu memperhatikan Dicko dan Aruna yang saling menatap secara bergantian dengan dahi mengerut. Pantas saja Bram tiba - tiba berubah.
Astaga. Bagaimana ini? Apa yang harus Papa Danu lakukan. Jika di minta berada di salah satu pihak, jelas dia akan berada di pihak Bram.
"Rama?" Papa Danu masih saja berpura - pura.
"Sudahlah Pa. Sejak awal Papa sudah tau siapa aku."
Papa Danu terlihat salah tingkah.
"Ada keperluan apa kamu datang sepagi ini?"
"Aku hanya ingin memberitahu Papa, besok aku akan pindah ke rumah ini."
"Apa?" Papa Danu sukses melotot sempurna. Bukannya Dicko tidak boleh tinggal di rumah itu. Tapi bagaimana bisa, Bram dan Dicko berada dalam satu atap. Sementara keduanya mencintai wanita yang sama.
"Aruna ... boleh tinggalkan kami sebentar?" pinta Papa Danu dan langsung di patuhi oleh Aruna.
Aruna mulai melangkahkan kakinya meninggalkan taman belakang. Namun baru beberapa langkah, tiba - tiba tangan kekar Dicko menahan pergelangan tangannya. Hingga langkahnya terhenti. Lalu memutar tubuhnya menghadap Dicko.
"Astaga ... Apa yang terjadi? Aku bisa gila kalau seperti ini." Papa Danu hanya bisa menggerutu.
"Muka kamu kenapa?" tanya Dicko cemas.
"Jatuh di kamar mandi. Hanya luka kecil. Tidak apa - apa."
Aruna mungkin kurang pandai berbohong di depan Dicko. Hingga membuat Dicko tidak bisa menerima alasannya begitu saja.
"Maaf Pa ... Aku pinjam menantu Papa sebentar." Seru Dicko kemudian membawa Aruna ikut dengannya. Dan membawanya keluar dari rumah itu.
Papa Danu hanya bisa tercengang tak percaya. Dicko semakin berani dan senekat ini sekarang.
Ya Tuhan. Bagaimana ini?
.......
.......
.......
...-Bersambung-...
Tetap semangat ya readers 🤗
Saranghae ❤️
__ADS_1
Salam hangat
Otor Kawe