Cinta Untuk Aruna

Cinta Untuk Aruna
CUA S2 - Bab 32


__ADS_3

Dicko kembali ke kantor setelah mengantarkan Aruna pulang.


Kini Dicko tengah melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Bram. Dia merasa perlu bicara dengan Bram. Meski kini hubungan mereka tidak seperti dulu lagi.


Tangan Dicko sudah bersiap membuka pintu ruangan itu. Saat Teddy tiba - tiba memanggilnya.


"Pak, Pak ..." panggil Teddy seraya menghampiri.


"Ada apa?"


"Saya boleh minta tolong ke Pak Rama?"


"Boleh."


"Ini, ada berkas yang harus Boss Bram tanda tangani. Tapi Boss Bram melarang siapapun masuk ke ruangannya. Saya titip ke Pak Rama saja ya?"


Dicko mengulurkan tangannya, dan Teddy pun menaruh berkas itu ke tangan Dicko.


"Makasih Pak."


"Jangan panggil saya Rama. Saya bukan Rama." Kemudian langsung masuk ke ruangan Bram tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Teddy terbengong - bengong mendengar ucapan Dicko. Apa maksudnya jangan panggil saya Rama. Lalu tiba - tiba saja matanya terbelalak.


"Astaga ... jangan - jangan benar dia Boss Dicko? Itu artinya Boss Dicko masih hidup? Apa Aruna sudah tau tentang ini?"


Di ruangan itu, Dicko mendapati Bram tengah mengobrol dengan seorang wanita muda. Siapa lagi kalau bukan Mona. Mereka sedang duduk di sofa. Dan Mona duduk sambil menyandarkan kepalanya di pundak Bram. Apa yang Bram lakukan saat ini membuat Dicko sedikit kesal. Padahal mereka baru saja bertemu di apartemen.


"Jadi ini alasannya kenapa kamu tidak bisa di ganggu?" seru Dicko sambil menatap sinis ke arah Bram dan Mona.


Bram terlihat santai dengan kehadiran Dicko. Dan Mona memilih keluar dari ruangan itu.


"Nanti kita ketemu lagi ya Beb?" ucap Mona genit sambil melambaikan tangannya dan memberikan kiss bye.


Bram membalasnya dengan tatapan datar. Sementara Dicko jengah melihat tingkah Mona.


"Ini berkas yang harus kamu tanda tangani." Dicko melempar berkas itu ke meja di depan Bram.


"Keluar." Titah Bram dengan angkuhnya.


Namun Dicko tidak menghiraukannya.


"Dengan cara ini kamu ingin membalas Aruna?"


"Bukan urusanmu." sahut Bram ketus.


"Ya sudah, terserah kamu. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan."


Bram kemudian bangun dari duduknya. Dan menghampiri Dicko. Berhadapan dengannya dan menatapnya tajam.


"Kamu bukan siapa - siapa lagi bagiku. Jadi jangan pernah ikut campur urusanku." Ucap Bram dengan penuh penekanan. Dan amarah yang tertahan.


Dicko pun tersenyum tipis.

__ADS_1


"Bram, aku minta maaf. Andai saja Papa tidak memalsukan kematianku, semua ini tidak akan terjadi."


"Sayangnya, aku tidak akan pernah memaafkan perbuatan kalian."


"Kamu boleh membenciku. Tapi tolong jangan pernah menyakiti Aruna. Apalagi kalau sampai dia terluka dan lecet. Sedikitpun, aku tidak akan tinggal diam."


"Apa hakmu melarang aku melakukan apa yang aku inginkan pada istriku."


Dicko terkekeh seraya menepuk - nepuk lembut pundak Bram.


"Aku memang tidak punya hak. Tapi dia adalah wanita yang aku cintai."


"Sungguh tidak tau malu. Mencintai istri orang. Apa kehilangan ingatan juga membuatmu kehilangan harga diri sebagai laki - laki?" Amarah Bram mulai tersulut. Sungguh lancang kakaknya berkata seperti itu.


"Terserah apa katamu. Aku mencintainya. Aku mencintainya lebih dari kamu mencintainya. Aku tidak akan merebutnya darimu. Tapi akan aku tunggu, sampai dia sendiri yang akan datang padaku."


Tatapan Bram semakin menajam. Kilatan amarah semakin terlihat jelas dari sorot mata itu. Sampai tiba - tiba ...


Bugh ...


Satu pukulan keras mendarat cepat di wajah Dicko. Kemudian di ikuti pukulan kedua, ketiga, hingga Dicko terhuyung ke belakang.


Untuk pukulan ke empat, dengan cepat Dicko menahannya. Tangan kekarnya secepat kilat menangkap tangan Bram lalu membalas pukulan Bram tanpa ampun. Dan adu jotos pun terjadi tanpa bisa dihindari. Saling membalas satu sama lain.


Hingga keduanya lebam bahkan hidung dan bibir pun berdarah. Belum ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya keduanya pun kelelahan. Dan di saat yang sama pula seseorang datang. Dan begitu terkejut saat melihat keadaan keduanya.


Papa Danu.


"Apa yang terjadi? kenapa kalian berdua seperti ini?" tanya Papa Danu cemas sambil menatap keduanya secara bergantian.


"Kalian tidak menjawab pun, Papa tau apa penyebab kalian jadi seperti ini."


"Dicko, Papa minta tolong sama kamu. Tolong jangan ganggu kebahagiaan adik kamu."


Dicko tersenyum sinis. Lalu tertawa sumbang. Dan menatap dingin Papa Danu kemudian. Terasa lucu dan menyakitkan. Aneh memang. Tapi ini kenyataan. Kenyataan yang sulit dimengerti. Mencintai isteri adiknya sendiri. Adakah yang bisa memahami perasaannya saat ini?


"Aku tau kenapa Papa melakukan ini. Dengan memanfaatkan keadaanku yang amnesia, lalu memalsukan kematianku. Papa melakukan semua itu untuk Bram. Papa lebih menyayangi Bram. Karna dia anak dari istri sah Papa. Sedangkan aku hanya anak dari wanita yang Papa nikahi secara siri."


Hati Papa Danu mencelos mendengar ucapan Dicko. Benarkah dia seperti itu? Benarkah dia adalah seorang ayah yang pilih kasih?


Sejak mereka kecil, Papa Danu tidak pernah membedakan keduanya. Dia memperlakukan mereka sama. Akan tetapi apa yang Dicko katakan tadi, sungguh membuatnya merasa terpukul. Kasih sayangnya terhadap kedua puteranya pun kini dipertanyakan kembali.


"Dicko, maafkan Papa. Papa tidak bermaksud seperti itu."


"Sudahlah Pa. Apa yang Papa lakukan kali ini, cukup memperjelas semuanya." Kemudian berlalu, keluar dari ruangan itu.


.


.


Sore itu, Aruna sedang membantu Bi Surti menyiapkan makan malam. Saat Bram pulang dalam keadaan lebam hampir keseluruhan wajahnya. Melihat hal itu, Aruna pun jadi cemas seketika. Lalu mengekorinya sampai ke kamar.


"Bram ... muka kamu kenapa? Kenapa bisa benjol begini?" cemas Aruna sembari menghampiri Bram dan mendekap wajah Bram dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Namun Bram menghempaskan kasar tangan Aruna dari wajahnya. Kemudian berjalan ke lemari pakaian dan mengambil pakaian ganti.


"Bram ... aku tanya, muka kamu kenapa?" tanya Aruna lagi sebab Bram tidak menggubrisnya sama sekali. Bahkan enggan menatap Aruna.


"Apa pedulimu padaku." Sahut Bram ketus sembari mulai mengganti pakaiannya. Setelah selesai mengganti pakaiannya, Bram lalu melenggang keluar tanpa mempedulikan isterinya yang begitu mencemaskan keadaannya.


Aruna tidak menyerah begitu saja. Dia terus mengikuti Bram hingga sampai ke ruang tengah.


"Bram ... Aku minta maaf." Ucap Aruna cepat demi menghentikan langkah Bram.


Dan Bram pun akhirnya menghentikan langkahnya. Kemudian berbalik, menatap Aruna dengan kebencian.


"Apa kamu bilang? Maaf? Untuk apa?"


"Maafkan aku atas semua yang aku lakukan. Aku mohon, biarkan aku mengobati lukamu."


"Luka yang mana? Luka mana yang ingin kamu obati? Semudah itu kamu meminta maaf setelah apa yang kamu lakukan? Jangan pernah berharap aku akan memaafkan kamu." Kemudian kembali memutar tubuhnya dan mulai berjalan keluar rumah.


Bersamaan dengan itu, tiba - tiba saja Aruna merasa sangat pusing. Kepalanya terasa bagai berputar. Hampir saja dia terjatuh. Beruntung Bi Surti yang sempat melihatnya, dengan cepat menahan tubuhnya.


"Non, Non tidak apa - apa? Apa Non sakit? Mau Bibi ambilkan obat?" tanya Bi Surti cemas.


Mendengar itu, Bram pun menghentikan langkahnya. Lalu menoleh ke belakang, memandangi Aruna yang sedang di bantu Bi Surti duduk di sofa ruang tengah itu.


Bram hendak keluar rumah. Akan tetapi, saat melihat keadaan Aruna, hatinya pun cemas seketika. Meski saat ini Bram sedang diliputi amarah, tapi dia pun cemas melihat Aruna seperti itu. Apalagi saat melihat luka di dahinya. Sejujurnya, Bram sedih dan merasa bersalah. Tetapi sakit hatinya akan perbuatan Aruna, jauh lebih sakit dari luka itu.


"Akhir - akhir ini, kenapa aku jadi sering pusing ya Bi?" tanya Aruna. Dan terdengar jelas di telinga Bram yang masih berdiri di ambang pintu ruang tamu.


"Sebaiknya Non ke dokter dulu. Mau Bibi temani? Biar nanti diantar sama Bambang. Den Bram mungkin lagi sibuk. Baru saja pulang, eh sudah mau pergi lagi. Kasihan Non nya kan? Di tinggal sendiri terus."


Aruna hanya tersenyum, tapi hati tetap saja perih. Bram sudah sangat berubah, karena ulahnya. Aruna sadar, apa yang dilakukannya saat ini adalah kesalahan besar.


"Non, mau Bibi anterin ke kamar?"


"Tidak usah Bi. Aku bisa sendiri. Makasih ya Bi, sudah mencemaskan aku."


"Kalau Non perlu apa - apa, panggil Bibi saja."


"Terima kasih ya Bi." Kemudian bangkit dan mulai melangkahkan kakinya. Baru beberapa langkah saja, tiba - tiba Aruna jatuh pingsan.


"Ya ampun Non ... Non Aruna, bangun Non." Cemas Bi Surti langsung menghampiri Aruna dan menepuk - nepuk lembut pipi Aruna.


"Tolong ... Tolong ..."


.......


.......


.......


...-Bersambung-...


Saranghae readers ❤️

__ADS_1


Otor Kawe


__ADS_2